
Pagi itu, apartemen Aya disibukan dengan kedatangan beberapa orang yang mengantarkan alat-alat medis kekamar Aya.
Aya sangat antusias untuk membantu semuanya. Sedangkan Wisnu, dia hanya pasrah dengan semua kemauan Aya dan Rey.
Seorang dokter datang dan mencoba untuk mengecek keadaan Wisnu. Seperti biasa, dokter hanya akan tersenyum berkata," keadaanya setabil. Kita banyak-banyak berdoa saja semoga Allah segera mengangkat penyakitnya."
Meski Aya merasa seperti ada yang ditutup-tutupi, tetapi dia berharap jika apa yang dikatakan dokter adalah kebenaran.
Ketika ingin bertanya lebih lanjut. Hanifah memanggil sehingga terpaksa Aya harus permisi.
Hanya tinggal Wisnu dan dokter yang selama ini menangani kasusnya.
"Terima kasih, dok" ucap Wisnu dengan lemas.
"Sangat disayangkan, mengapa anda tidak ingin mengatakan yang sebenarnya," ucap dokter.
"Apa yang harus saya katakan. Apakah saya harus mengatakan jika penyakit saya sangat parah, bahkan sudah tidak ada kemungkinan untuk sembuh 99% dan kesembuhan hanya 1%. Apakah kamu ingin, sebelum kematian ku, aku melihat orang orang aku cintai bersedih. Begini saja sudah cukup, aku ingin selalu melihat mereka tersenyum."
"Hmm, baiklah. Tetapi jangan putus asa. Semua diagnosa dokter bisa saja kalah dengan keajaiban tuhan."
"Aku mohon. Jangan beri tahu mereka tentang penyakit ku yang sudah parah ini. Biarkan saja seperti ini," ucap Wisnu memohon.
"Akan aku usahakan. Tetapi aku tidak berjanji jika situasunya mendesak," jawab dokter yang mengemasi barang-barangnya.
Ketika akan mengatakan sesuatu, Rey datang.
"Bagaimana, apakah ada yang kurang?" tanya Rey.
"Tidak Tuan. Syukur, keadaan pasien Wisnu mulai membaik," jawab Dokter.
"Wajah dia seperti zombie hidup anda masih berkata jika dia sudah membaik!" ucap Rey dengan menekankan suaranya.
"Kita membutuhkan waktu untuk pemulihan, Tuan," jawab dokter.
"Hmm, baiklah. Berikan kami perawat yang benar-benar handal," ucap Rey.
"Baik, Tuan. Jika begitu, saya permisi dulu."
"Hmm,," jawab Rey.
"Daddy, kak vino mana?" tanya Hani yang menghampiri Wisnu dan Rey.
"Kak vino sedang sekolah bersama dengan nenek. Nanti siang dia akan datang kemari. Em, gembulnya Daddy sudah sarapan?" tanya Rey.
"Belum, dad. Hani ingin sarapan dengan Abi. Umi sedang memasak bubur ayam. Daddy mau?"
"Em,," Rey melihat jam tangan, lalu berkata," Maaf sayang, Daddy harus segera berangkat kekantor. Daddy ada meeting penting pagi ini," jawab Rey.
"Oh, begitu. Ya sudah, Hani mau disini menemani dan memijat Abi," ucap Hani.
"Anak pintar. Ya sudah, Daddy berangkat dulu ya. Assalamualaikum ..."
"Walaikum salam .."
Setelah Rey keluar, Hani dengan manja naik ke kasur dan memeluk Wisnu.
"Abi, mana yang sakit. Sini Hani pijatin," ucap Hani.
"Emm, tangan Abi," jawab Wisnu yang langsung meluruskan tangannya.
Hani dengan antusias langsung memijat tangan Abinya.
"Abi, lekas sembuh ya. Supaya kita bisa jalan-jalan lagi. Meski umi dulu selalu sibuk dan jarang ikut kita jalan-jalan, tetapi Hani lebih suka begitu. Dari pada begini, meski umi selalu dirumah tetapi Hani tidak dapat bermain dengan Abi," ucap Hani sambil memijat Wisnu.
Wisnu hanya bisa menahan air matanya. Didepan Hani, dia harus menjadi Abi yang kuat.
"Sayang, dengarkan Abi. Jika suatu saat Abi menjadi bintang. Abi minta, Hani selalu menuruti kata Daddy dan umi. Karena mereka adalah kedua orang Hani," ucap Wisnu.
"Memang Abi bisa menjadi bintang?" tanya Hani dengan polosnya.
"Ketika Allah sudah memanggil Abi. Berarti Abi akan menjadi bintang."
"Apa maksud, Abi. Apakah maksud abi, Abi akan meninggal?" tanya Hani.
"Semua manusia yang hidup akan meninggalkan sayang. Maka dari itu, kita harus selalu berbuat baik supaya Allah mengharamkan neraka untuk kita. Jika Abi tidak sudah tidak ada, apakah Hani mau mendoakan Abi,?"
"Iya Abi. Hani akan selalu mendoakan Abi supaya Abi supaya Abi masuk surga," jawab Hani dengan polosnya. Meski Hani banyak mengerti, tetapi sejatinya dia tetaplah anak kecil yang belum sampai memahami apa yang sebenarnya dia ucapkan.
...
Disisi lain, Rey yang keluar dari apartemen Aya tidak sengaja berpapasan dengan Axelin.
"Hay, kak?" sapa Axelin.
"Kamu mau kemana?"
"Mau daftar kerja di perusahaan kak, Rey. Kita kak Rey aku harus mendaftar diri di perusahaan kakak?"
__ADS_1
"Iya, semoga berhasil ya?"
"Iya kak, Terima kasih," ucap Axelin tersenyum. Sesekali ia membenarkan hijabnya takut terlihat berantakan Dimata Rey.
"Jika begitu, kita bareng saja," ucap Rey.
"Ah, tidak usah kak. Aku naik taksi saja," jawab Axelin menolak.
"Tidak papa. Lagian kita satu tujuan." Paksa Rey.
"Baiklah, jika kak Rey memaksa," jawab Axelin tersipu-sipu.
Rey mencoba untuk selalu memasang wajah datar ke Axelin. Rey sangat tahu perasaan Axelin. Tetapi, Rey tidak bisa memberi harapan palsu kepada Axelin karena dirinya masih sangat mencintai Aya dalam diamnya.
Ketika akan pergi, suara Aya mengehentikan langkah kaki mereka.
"A'ak!?"
"Ia, Aya. Ada apa?"
"Em, ini aku siapakan bekal untuk Aak. Kebetulan aku membuat sarapan lebih," ucap Aya.
"Terima kasih, ya?" ucap Rey.
Axelin menatap bagaimana Rey menatap Aya. Axelin sedikit menaruh curiga, tetapi dia mencoba untuk menepisnya. Mau bagaimana pun. Rey dan Aya adalah adik kakak,"batin Axelin.
"Sama-sama, Ak. Oya, apakah mama nanti kesini?"
"Katanya sih iya, setelah menjemput Vino," jawab Rey.
"Jika begitu aku akan buatkan cemilan untuk mereka," ucap Aya antusias.
"Sisakan untukku ya?"
"Hehe, siap Ak! Ya sudah, sana berangkat nanti terlambat. Axelin, semangat!" Ucap Aya menyemangati Axelin.
"Eh, iya kak. Terimakasih," jawab Axelin dengan senyum kakunya.
Setelah Rey dan Axelin menjauh, Aya membantin," Sungguh malang nasib mu Axelin. Semoga Allah memberikan mu kekuatan dan jodoh yang baik, amiin."
......
Mobil Rey telah sampai diparkiran di perusahaan raksasa Rey.
Axelin sedikit ragu. Dia sangat takut jika dirinya tidak sesuai kriteria dalam perusahaan itu.
"Ayo turun?" ucap Rey.
"Siapapun yang memiliki talenta dan kemampuan bekerja sangat pantas bekerja disini. Maka dari itu, berusahalah supaya kamu pantas bekerja disini," jelas Rey.
"Iya kak, pasti aku akan berusaha yang terbaik!"
"Bagus, aku duluan ya?"
"Iya kak, terima kasih banyak tumpangannya."
Rey tersenyum dan meninggalkan Axelin sendiri.
Ketika Axelin berbenah dan menyiapkan diri, dia berjalan untuk keluar parkiran. Tapi tanpa diduga sepatunya patah membuatnya terkesleo.
"Ahk!" teriak Axelin terkejut.
Entah datang dari mana sebuah tangan dengan cepat menangkap tubuh Axelin.
Kini, kedua mata saling memandang. Tatapan saling mengintimidasi.
"Kamu !" pekik Axelin terkejut.
"Apa anda tidak papa, nona?" tanya Tuan Qodir yang telah menyelamatkan Axelin.
"Ah, saya tidak papa. Terima kasih banyak," ucap Axelin gugup.
"Sepatu anda," ucap tuan Qodir memberi tahu Axelin.
Axelin menatap sepatunya yang patah.
"Aduh, patah lagi! Ah, mana sudah jam segini," gerutu Axelin dengan panik.
Qodir menyuruh anak buahnya untuk mengambil sesuatu didalam mobil.
"Nona, pakailah ini. Saya membelinya untuk kado ulangtahun ibu saya. Mungkin sedikit terkesan tua, tetapi menurut aku masih lumayan layak dipakai untuk anak muda," ucap Tuan Qodir dengan baik menawarkan.
Axelin terkejut.
"Ah, hehe.. tidak usah kak, itu kado untuk ibu anda," ucap Axelin merasa tidak enak.
"Tidak papa. Nanti bisa saya belikan yang lain," ucap Tuan Qodir.
__ADS_1
"Ah, saya beli saja ya?" ucap Axelin yang langsung mengeluarkan beberapa lembar uang yang dijumlahkan hanya seratus ribu.
"Ini uangnya dan aku ambil barangnya. Terima kasih banyak ya," ucap Axelin yang langsung lari membawa kotak sepatu itu karena dia sudah sangat terlambat.
Qodir hanya mengerutkan keningnya sambil tersenyum tipis.
..
Axelin dengan buru-buru langsung membuka kotak sepatu itu berniat untuk memakainya. Namun alangkah terkejutnya Axelin ketika melihat sepatu itu.
"Oh, ya tuhan! Inikan? Harga sepatu ini bahkan tidak cukup aku cicil selama 1 tahun jika aku diterima bekerja disini. Ya tuhan, mana ada seorang anak yang menghadiahkan sepatu semahal ini untuk ibu-ibu. Ah, kembalikan atau tidak ya,!" Axelin benar-benar dilema dengan semua keadaan saat ini.
"Emm, aku pinjam dulu kali ya. Nanti, jika sudah selesai interview baru akan aku kembalikan," batin Axelin dengan terpaksa.
....
Setelah interview, beberapa saat pengumuman telah di keluarkan. Seorang sekretaris cantik dan seksi datang menghampiri Axelin.
"Perkenalkan, nama Lucita. Saya adalah sekertaris CEO kita. Kamu," tidak tunjuk Axelin."bisa langsung berkerja. Tuan Rey telah memberi kamu posisi. Kamu beruntung, baru pertama kali CEO kami memberikan rekomendasi pekerjaan untuk anak baru," ucap Sekertaris itu dengan tatapan sinis kearah Axelin.
"Terima kasih kak," ucap Axelin merasa sangat senang.
Semua itu juga jelas membuat anak baru disana merasa iri. Tetapi mereka tidak bisa berbuat banyak. Diterima kerja saja mereka sudah sangat bersyukur.
Ketika akan menuju ruangannya. Axelin tidak sengaja bertemu dengan Tuan Qodir yang baru juga keluar dari ruang rapat.
"Eh, kak!" sapa Axelin.
"Hay,!" sapa Tuan Qodir kembali.
"Kalian saling kenal?" sapa Rey yang juga akan keluar.
"Ah, kak Rey. Eh, maksud saya Tuan Rey. Dia adalah Tuan baik hati yang meminjamkan saya sepatu. Karena tadi sepatu saya sempat patah," jawab Axelin antusias.
"Oh, begitu. Terima kasih banyak Tuan Qodir, anda telah membantu adik saya," ucap Rey dengan hormat.
"Oh, nona ini ternyata adik anda Tuan, Rey?" tanya Qodir.
"Ah, sudah saya anggap adik sendiri. Seperti itu," jelas Rey.
Axelin hanya tersenyum kecut setiap mendengar Rey hanya mengakui dirinya sebagai adiknya saja.
"Ah, Tuan. Saya kembalikan sepatunya ya. Maaf, karena telah lancang membawanya lari," ucap Axelin dengan perasaan malu luar biasa.
"Ah, tidak papa nona. Saya memang berniat untuk memberikannya kepada anda. Oya, apakah sebenarnya anda ini Putri dari Tuan Ruslan?" tanya Qodir.
"Anda kenal papah saya!?" tanya Axelin terkejut.
"Saya mengambil alih rumah tuan Ruslan karena hutangnya tak bisa dia bayar," jelas Qodir.
Axelin menggigit bibirnya dengan keras. Sungguh ia benar-benar sangat malu dengan prilaku kedua orang tuanya.
"Maaf, Tuan." Hanya itu yang dapat Axelin ucapkan.
Qodir tersenyum canggung melihat ekspresi Axelin yang nampak sendu.
"Tidak papa nona. Ini bukan salah anda," ucap Qodir.
"Ya sudah. Axelin, selamat bekerja ya," ucap Rey yang lalu menatap Qodir dan berkata," Mari, tuan!"
Qodir membungkukkan badannya untuk memberi hormat kepada Axelin.
Axelin merasa canggung hanya bisa membalas dengan membungkukkan badannya juga.
Setelah Bos pergi Lucita mendekati Axelin.
"Saya harap kemampuan kinerja kamu sesuai dengan bagaimana CEO kita memperlakukan kamu!" ucap Lucita memperingati Axelin.
Axelin hanya bisa menunduk dan menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
....
Didalam mobil. Rey dan Qodir sedang dalam melakukan perjalanan kelapangan proyek baru mereka.
"Em, tuan Rey. Dapatkah saya bertanya sesuatu tentang Axelin?" ucap Qodir ragu.
"Ah, iya Tuan Qodir?"
"Sebenarnya, siapa dia itu?"
Rey menghela nafas panjang lalu menatap Qodir. Rey menatap jika Qodir sepertinya pria yang sangat baik. Rey lalu menceritakan bagaimana dirinya bertemu dengan Axelin disebuah pondok, sampai akhirnya ternyata mereka telah dijodohkan.
"Tetapi saya menolak perjodohan itu karena saya memiliki wanita lain dihati saya. Jadi, saya sudah menganggap dia seperti adik saya sendiri. Kedua orang tuanya memang bermasalah, tetapi aku yakin Axelin adalah anak yang baik," jelas Rey.
Qodir mengangguk mengerti.
"Emm, jika begitu. Jika saya mencoba untuk mengenali dia, anda tidak keberatan tuan Rey?" tanya Qodir dengan ragu.
__ADS_1
"Hahaha, tentu saya boleh Tuan. Anda tidak perlu khawatir tentang hubungan kami. Malah, saya akan mendukung jika memang anda tertarik dengan dia," jawab Rey.
Qodir memberanikan diri untuk meminta nomor telfon Axelin dan dengan senang hati Rey memberinya. Rey berharap, dengan kebaikan Qodir, Axelin dapat melupakan calon suaminya yang telah meninggal.