IkhlasKu TetanggaKu MaduKu

IkhlasKu TetanggaKu MaduKu
Rencana


__ADS_3

2 Bulan Berlalu.


Wisnu resmi telah mengundurkan diri dari kepolisian. Selain ia merasa tidak pantas, Wisnu juga merasa tidak sanggup untuk bangkit dari kamarnya.


Setiap hari hanya mengirimkan doa sebanyak-banyaknya supaya Aya dapat merasakan dan mau menerimanya kembali.


Suara handphone berdiring membuat Wisnu tidak merasa khusyuk berdoa.


Wisnu mencoba untuk melihat siapa yang menelvon.


Vidio call


Rey ..


"Hmm, kenapa?" tanya Wisnu dengan malas.


"Wiiiihh, kenapa tuh jidat !!? Apa sepanjang malam loe cuma bersujud," gurau Rey yang sebulan tidak melihat sahabat dan kini terlihat kurus dengan jidat yang menghitam.


"Jangan jidat gua yang menghitam. Seluruh tubuh gua menghitam juga gak masalah asalkan Aya mau menerima gua lagi," sahut Wisnu.


"Eh, loe tau gak. Nyokap baru aja pulang jenguk Aya. Katanya Aya makin kurus, tapi Alhamdulillah katanya janinnya sehat. Katanya perutnya udah mulai buncit. Loe gak pingin apa melihat perkembangan calon anak loe?"


"Ngelucu loe ya !!? Loe kan tahu sendiri, Aya gak mau lihat muka gua sebelum anak kita lahir," ucap Wisnu terlihat kesal.


"Bro, gua punya rencana. Gua bakal jemput Lo!!"


"Rencana apa sih? Gak usah lah, gua mau melanjutin bersemedi supaya Aya mau memaafkan gua."


"Eh ustadz kopl*k, doa aja gak akan mumpan kalo gak usaha !!"


"Ya gua harus berusaha kayak mana lagi kampr*t !! Loe kan tahu Aya gak mau gua deketin.!?"


"Makanya udah diem aja. Gua bakal kerumah loe. Tunggu gua dan jangan ke surga dulu!!"


"Eh kunyuk emang anak ini. Loe doain gua mati !!!?"


"Siapa tahu, namanya ajal kagak ada yang tahu bro .. !"


"Ya udah cepatan. Kalo dalam 20 menit ngk sampe, gak bakal gua bukain pintu kamar gua!"


Bergegas Rey keluar dari kamarnya.


"Kamu mau kemana Rey?" tanya mama Salamah.


" Ada hal penting mah. Rey pergi dulu ya?"


"Rey, kata papa kamu itu jangan terus-terusan mengandalkan Sekertaris kamu. Kamu juga harus turun tangan untuk bekerja dan melihat langsung kelapangan."


"Emm, setelah misi ini selesai Rey janji akan sering-sering masuk kantor."


"Misi apa sih ??"


"Emm, Rey akan kabari mamah lagi," ucap Rey yang langsung lari ke mobilnya.


Mama Salamah hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Kini ia kembali sibuk dengan handphonenya. Ada seorang teman yang ingin menjodohkan putrinya kepada Rey membuat Mama Salamah bersemangat.

__ADS_1


"Hay vino, apakah kamu ingin punya ibu baru??" tanya mama Salamah sambil menatap cucunya yang sedang tidur di ranjang bayi yang ada di sampingnya.


...


Di pondok, terlihat Aya sedang memilih-milih sebuah buku untuk dibaca.


Aya yang melihat Mora juga datang, mencoba untuk mengurungkan niatnya untuk membaca buku. Dia beralih ingin mengambil pakaikan yang sudah mengering di jemuran.


Mora yang melihat Aya menjauh hanya bisa bernafas kasar.


Bukannya Aya membenci Mora. Hanya saja setiap bertemu dengan Mora. Mora hanya akan membujuknya untuk kembali kepada Wisnu. Hanya itu yang selalu Mora ucapkan.


Bukannya Aya tidak memikirkan saran Mora, hanya saja Aya ingin keputusan yang dia buat murni dari hatinya dan pemikirannya. Bukan karena hasutan dari siapapun.


namun Aya juga senang melihat Mora tidak hanya obral ucapan. Dia juga bersungguh-sungguh belajar dan itu membuat kesan baik di mata Aya.


..


Ketika sedang mengambil baju kering, Aya melihat seorang gadis remaja bersama dengan mama dan papahnya. Terlihat jika kedua orang tua itu ingin mendaftarkan anaknya untuk menuntun ilmu di pondok itu.


Aya yang sudah di beri tanggung jawab di pondok itu langsung mencoba untuk menemui tamu yang ingin mendaftarkan anaknya.


Pemilik pondok itu sebenarnya adalah sahabat dari Abah Aya, membuat Aya sangat di hargai disana.


..


"Assalamualaikum, ustadzah?" sapa Orang Tua anak.


"Walaikum salam. Ada yang kami bantu bapak, ibu?" jawab Aya ramah.


"Begini ustadzah. Saya ingin menitipkan putri saya yang nakal ini untuk menuntun ilmu di pesantren ini, ustadzah."


"Ah, iya ustadzah begitulah maksud kami. Dia sudah di keluarkan beberapa kali dari pondok modern yang ada di kota, mungkin di pondok ini dia dapat lebih disiplin dalam mengikuti aturan dengan benar. Saya serahkan semua kepada ustadzah. Saya tidak keberatan jika putri saya harus di hukum karena melanggar aturan. Jangan pedulikan dia yang berasal dari kelurga kaya. Sungguh saya sangat tidak papa jika dia dihukum karena telah melanggar aturan. Kami sungguh sudah telat membimbing dia untuk berada dijalan yang benar. Kami sangat kualahan dengan sikapnya yang semena-mena, suka keluyuran malam, suka mabuk-mabukan, sungguh saya sangat berharap jika putri saya dapat berubah dan menjadi wanita yang Solehah," ujar si bapak panjang lebar.


"Insyaallah bapak ibu, kami akan berusaha untuk membimbing saudari kita. Yang terpenting adalah doa dari kedua orang tuanya. Jika kedua orang tuanya ikut berdoa untuk anaknya, insya Allah.. insyaallah akan di ijabah oleh Allah SWT. Doa paling ampuh untuk anak di seluruh dunia adalah doa dari ibu dan bapaknya."


Singkat cerita, kini kedua orang remaja yang berusia 18 itu pulang meninggalkan putrinya yang terlihat sangat cuek dan angkuh.


Sedari tadi dia hanya duduk menggunakan earphone dan menatap ponselnya.


Aya dengan senyum menghampiri gadis yang bernama Axelin.


"Assalamualaikum ..?" sapa Aya.


Namun gadis itu tidak mendengar.


Aya mengulangi lagi.


"Assalamualaikum ....!


Lagi lagi tidak ada jawaban.


"ASSALAMUALAIKUM !!" suara Aya sedikit keras dan baru anak itu menatap Aya.


Ia melepaskan earphone yang ia gunakan.


"Anda memanggil saya?" tanya gadis itu tanpa merasa bersalah.

__ADS_1


"Assalamualaikum saudariku. Mari saya akan mengantar dek Axelin ke kamar yang sudah kami siapkan," ucap Aya.


Tanpa berkata Aexlin langsung berdiri dan menarik kopernya. Dengan angkuh, ia berjalan duluan tanpa arahan Aya.


"Maaf Axelin, ke arah sini," tegur Aya membuat Axelin dengan malas berputar arah.


"Kenapa tidak bilang dari tadi !" cetusnya.


Aya hanya bisa menggelengkan kepalanya. Walaupun akan sedikit susah, namun ia akan berusaha untuk mengajak Axelin untuk menuju jalan yang benar.


Semua mata memandang Axelin. Bagaimana tidak, ia datang ke pondok menggunakan lepis yang sobek-sobek dan tengtop tipis yang ditutupi dengan jaket Levis.


Meski para pria mengucapkan istighfar, namun pandangan mereka tetap tertuju pada Axelin yang terlihat seksi.


"Hay!! Jaga pandangan kalian!!" tegur Aya.


"Ah, hehehe iya ustadzah, maaf," ucap para santri pria.


Aya hanya menggelengkan kepala.


Setelah sampai kamar, Axelin ternganga tidak percaya.


"Whaaaat !! You oke !? Saya akan tidur di kamar ini, di kasur lantai ini... Dan apa ini, kenapa ada beberapa kasur lantai !! Apakah saya akan satu kamar dengan yang lain!!?"


"Iya Axelin. Semua santri disini tidur bersama-sama. Wanita dan wanita, pria dan pria. Satu kamar di isi 3 sampai 4 santri," jelas Aya.


"No !! Saya akan beli kamar ini. Saya akan merenovasinya!!" tegas Axelin tidak terima.


"Membelinya ? Dengan apa ?" tanya Aya.


"Apa kamu meremehkan saya !! Saya adalah seorang model terkenal. Ini, ini adalah kartu saya. Cepat gesek maka semua beres!" ucap Axelin dengan angkuhnya.


"Maaf Axelin, disini tidak menggunakan kartu. Sungguh kartu kamu ini tidak berguna dari pada recehan seratus perak," ucap Aya yang mulai ingin menegaskan Axelin.


Axelin tersenyum. Dia sudah menduga hal ini pasti akan terjadi. Jadi dia sudah menyiapkan uang kes sejumlah 100jt didalam kopernya untuk berjaga-jaga.


Namun, sampai kedasar bumi Axelin tidak dapat juga menemukan uangnya.


Aya tersenyum.


"Bagaimana?"


"Saya akan telfon papah saya dan meminta untuk mengirimkan uang," ucap Axelin yang masih menyombong diri.


"Yah, silahkan .."


Namun, sampai handphone Axelin mati, nomor kedua orang tuanya tidak aktif sehingga tidak dapat di hubungi.


"Shhhiiiitt !!! Oke, gini. Orang tua saya pasti memberikan uang yang sangat banyak di pondok ini. Saya menggunakan uang itu dulu," ucap Axelin tidak ingin kalah.


Namun Aya tersenyum. Dia mengeluarkan amplop yang hanya berisi uang berjumlah 600rb.


"Orang tua kamu hanya memberikan uang segini. Kami tidak menerima uang lebih. Ini adalah uang untuk makan anda selama satu bulan. Hmmm,,, begini saja. Uang 600rb ini cukup untuk menyewa kamar selama satu bulan, tapi dengan satu syarat. Kamu tidak dapat jatah makan selama satu bulan juga," ucap Aya mencoba itung-itungan dengan Axelin.


Dengan raut wajah yang sangat mematikan. Axelin dengan terpaksa harus terima untuk satu kamar dengan santri yang lain.


Aya sendiri keluar dengan senang. Akhirnya dia dapat melumpuhkan anak manja itu.

__ADS_1


Itulah sebabnya Aya tidak menerima uang lebih dari kedua orang Axelin. Aya sangat yakin, selama ini Axelin berani berulah karena dia merasa kedua orang tuanya telah menyumbangkan uang yang begitu banyak.


__ADS_2