
Dua mata saling menatap sinis. Sebelum akhirnya Wisnu mengikuti Aya, Wisnu memberikan peringatan kepada Rey supaya memilih tindakan yang tepat, tindakan yang tidak akan membuatnya menyesal dikemudian hari.
Setelah Wisnu pergi menyusul Aya. Rey mengusap wajahnya dengan kasar. Merasa tindakan yang ia pilih benar, kini Rey berjalan keluar untuk kembali menemui Yunhi.
...
Sedangkan Tuan Maher dan para rekan kerjanya. Mereka bersepakat akan menyelidiki kasus ini secara diam-diam. Mereka tidak ingin aib masa lalu tantang berdirinya rumah sakit terpublikasikan.
Setelah semua rekan kerja pergi, tuan Maher menyuruh adiknya Tri untuk menghadap dirinya.
"Kak ?"
"Kakak harap kita dapat menemukan pelaku aslinya. Sebelum pelaku aslinya tertangkap, kakak minta Aya tetap terjadi tersangka untuk saat ini. Biarkan Aya mengikuti segala proses penyelidikan," ujar Tuan Maher.
"Tapi kak, membiarkan Aya mengikuti proses itu akan sangat menyakitkan bagi dia. Semua penyiksaan didalam penjara akan Aya rasakan," jelas Paman Tri.
"Ini hanya untuk sementara waktu," tukas Tuan Maherndra yang tidak ada pilihan lain.
"Tapi kak !!?" Paman tri sangat ragu dengan keputusan kakaknya.
"Sebentar lagi Tri, sebentar lagi kita akan menemukan musuh yang selama ini kita cari. Kakak juga terpaksa mengorbankan Aya. Tapi, semua ini demi nama baik keluarga kita," jelas Tuan Maher.
Paman Tri sejujurnya sangat berat. Mereka semua tahu jika Aya bukanlah pelaku yang sesungguhnya. Tetapi mereka semua harus diam, bahkan didepan Rey mereka semua harus diam.
__ADS_1
..
Disisi lain, Kiana Yun tertawa terbahak-bahak didalam vila'nya yang berada di tengah hutan.
Kiana sangat senang, walaupun Aya tidak mati karena bom, tapi setidaknya Aya akan dihukum mati oleh negara. Bagaimanapun cara Aya mati Kiana tidak perduli, yang penting Aya akan tetap mati juga.
Kiana sangat yakin jika Aya tidak akan membocorkan tentang dirinya. Karena dia telah mengancam Aya, jika sampai Aya membocorkan perihal tentang dirinya. Maka semua keluarga tuan Maherndra dan juga keluarganya didesa akan mati.
Kiana sangat yakin. Aya yang polos itu akan menuruti semua perkataannya.
Sebuah kaki terdengar di gendang telinga Kiana membuat tawanya memudar.
"Paman!!" gumam Kiana yang kini merasa tidak percaya.
"Apa kamu tidak bisa mengerjakan tugas kamu dengan benar," tukas Paman, yang bernama Sam.
"Paman, apa yang paman lakukan!!!?" teriak Kiana yang tidak terima.
"Cepat pergi tinggalkan kota ini dan bawa bersama kembaran bodohmu itu. Buat apa dia mengorbankan dirinya hanya untuk menjebak wanita itu. Kamu tinggal meletakkan bom di sekitar rumah sakit dan ledakan ketika acara sedang berlangsung. Kenapa harus membawa bawa wanita itu. Dia sudah dibawa kekantor polisi, dan kini pasti dia sudah membocorkan tentang kalian," ujar paman Sam yang tidak mengerti dengan jalan pikir kedua ponakannya.
Mendengar ucapan pamannya, Kiana malah tertawa terbahak bahak.
"HAHAHHAHAAAA !!! apa paman bodoh, jika aku meledakan bom itu begitu saja, maka suamiku akan mati didalamnya," ujar Kiana sembari melebarkan matanya.
__ADS_1
"Bodoh !!! Dasar wanita bodoh !! Aku mengirim kamu untuk mendekati Rey dan untuk membunuhnya, bukan untuk malah dijadikan suami dan sekarang apa ini !!? Kalian telah jatuh cinta dengan pria dari anak yang telah membunuh nenek dan orang tuamu !!"
"Bukankah keluarga Maherndra tidak ada sangkut pautnya dengan kejadian 20 tahun yang lalu. Kita sudah membunuh semua pekerja itu dan juga keluarganya. Jadi, untuk apa aku harus membunuh suamiku. Kita hanya tinggal merobohkan rumah sakit itu saja !!"
"Heh, sejak kapan otak kamu menjadi dangkal seperti ini. Dengar Kia, paman sudah peringatan kepadamu. Ayo kita pergi sekarang juga, kita pikirkan lain kali untuk menghancurkan rumah sakit itu."
"Maaf paman, Kia tidak bisa. Kia hanya ingin berada didekat suamiku saja. Kia akan pastikan sendiri jika wanita itu tidak akan membuka mulutnya."
Paman Sam tidak lagi ingin berdebat dengan ponakannya yang begitu sangat keras kepala.
Ketika Paman Sam akan pergi, Kiana menghentikannya.
"Paman!?"
"Ada apa lagi?"
"Apakah ketua bandar narkoba yang membunuh Ayah dan ibu telah ditemukan?" tanya Kia dengan serius.
Sejujurnya, Kiana dan Yunhi dan juga Paman Sam sudah tahu jika bukanlah jendral Tri yang membunuh kedua orang Kiana. Tapi, karena dendam yang begitu mendalam kepada pemilik rumah sakit besar itu. Membuat mereka tidak ingin melepaskannya begitu saja.
"Kamu tenang saja. Saya berkerja menggunakan otak. Bukan hati, sepertimu," tukas Paman Sam menyindir Kiana. Setelah mengatakan itu, Paman Sam memutuskan untuk pergi dari negara itu.
Kiana yang kesal dengan ejekan Pamannya langsung melemparkan vas bunga kecil di atas meja. Namun, vas bunga itu membentur ke pintu, karena paman Sam telah keluar dan menutup pintunya.
__ADS_1