
Didalam kamarnya, beberapa polisi duduk untuk mengintrogasi Rey.
Dengan tampang aroganya, Rey duduk seolah-olah ia adalah si penguasa.
Rey hampir tidak menjawab semua pernyataan yang di ajukan untuknya membuat para polisi kualahan.
"Pak Rey, kami mohon kerjasamanya. Tolong jawab semua pertanyaan kami, mengapa anda diam saja. Sejak kapan anda berhubungan dengan tersangka Kiana dan kembaranya. Apakah anda tahu niat busuk mereka, atau apakah anda tahu dimana mereka sekarang?" Pak polisi terlihat putus asa.
"Apa yang kalian harapkan dari jawaban saya!?" tanya Rey.
"Apapun yang anda jawab tuan, yang penting anda jawab saja."
"Ini adalah surat yang dia tinggalkan untuk saya. Saya tidak tahu dimana mereka, saya juga tidak tahu niatan mereka!" tegas Rey.
"Emm, apakah anda yakin tidak mengetahui apa-apa dengan niatan mereka dengan semua rencana besar yang telah mereka lakukan?"
"Tidak !"
"Huuufft!!" polisi mendengus berat.
"Cih, jika kalian merasa mereka itu wanita berbahaya, mengapa tidak kalian penjara saja waktu itu," tukas Rey.
"Maaf pak, sesuai data dan bukti yang ada. Tersangka Yunhi tidak dapat dipenjara karena gangguan mental."
"Hahaha,, kerja itu pakai ini!" Tunjuk Rey keotak.
"Bukan hanya mengandalkan data yang ada, cih.." lanjutnya.
Tersinggung dengan ucapan Rey, polisi pun menjawab," pak! Mencintai wanita juga pakai ini" tunjuk keotak. "Bukan hanya mengandalkan cinta dan perasaan," sindir pak polisi.
Mendengar ujaran sang polisi, bukan hanya tersinggung, bahkan sepertinya gunung Merapi akan meledak sebentar lagi. Rey mengepalkan tangan dengan sangat kuat.
"A..p..a y..ang anda ucap? KATAKAN !!!!!" urat nadi sampai seperti akan putus.
Polisi yang melihat kemarahan Rey langsung menciut tak berdaya.
Mendengar anaknya berteriak, mama Salamah dan tuan Maher yang berada di luar kamar langsung masuk untuk melihat keadaan.
"Sayang, ada nak?" tanya mama Salamah yang langsung menghampiri anaknya dan memegang wajahnya supaya mereda.
"Keluarkan mereka dari sini atau aku akan membuat mereka menyesal !!" geram Rey dengan mata merah menyala.
"Ah, pak polisi, sebaiknya kita bicarakan ini di luar saja. Mari, pak," ujar Tuan Maher..
"I..iya pak,," ujar polisi yang langsung membereskan peralatannya.
__ADS_1
Dengan gerak cepat, mereka semua keluar dari kamar Rey.
"Sayang, kendalikan dirimu nak." Mama Salamah merasa sedih melihat anaknya yang kacau.
"Mah, Rey akan ke Amerika. Berada disini membuat Rey semakin gila," ujar Rey tertunduk sambil tangan mengusap wajah dengan kasar.
"Lalu bagaimana dengan anak kamu sayang. Kamu bahkan tidak pernah melihatnya dan menyapanya. Dia sangat butuh kasih dan sayang dari kamu, Rey."
"Rey tidak perduli, mah. Jika mama tidak mau mengurusnya letakan saja di panti asuhan," jawab Rey dengan tanpa beban.
PLAAAKK !!!
Dengan geram Mama Salamah Rey yang menurutnya sudah sangat keterlaluan.
"Mama tidak menyangka, tinggal dengan wanita gila kini kamu pun menjadi gila. Jika kamu memang mau pergi, pergilah! Tidak perlu mama menjelaskan apa yang katakan itu baik atau tidak. Kamu sangat mengerti apa yang telah kamu katakan. Sudah cukup mama mendidik dan membesarkan kamu, walaupun kamu bukan darah daging aku." Mama Salamah langsung menutup mulutnya setelah kata terakhir ia ucapan.
Rey menatap tajam kearah mama Salamah yang sudah berderai air mata.
"Rey, maksud mamah ..."
"Maksud mama adalah Rey bukan keturunan dari keluarga ini? Rey bukan anak mama dan papa!? Rey bukan... KATAKAN MAH !!!!!!" Nada Rey turun naik.
"Hiks... Hiks.. sayang, maafkan mama nak. Tadi mama hanya bercanda. Kamu adalah anak mama dan papah, selamanya akan begitu sayang..," ujar Mama Salamah yang ingin memegang wajah anaknya, namun Rey menepisnya.
"Katakan mah, siapa orang tua asli Rey!?" tanya Rey dengan tatapan yang begitu sangat tajam.
Tuan Maher yang mendengar anaknya berteriak kembali langsung bergegas untuk melihat.
Tuan Maher terkejut melihat Rey yang sudah memasang wajah tidak baik kearah istrinya yang tertunduk menangis.
"Rey !!! Ada apa ini!?" tanya Tuan Maher yang langsung memeluk istrinya yang sesegukan.
"Pah, oh bukan, maaf. Emm,, Tuan Maher yang terhormat, dapat anda jelaskan apa maksud dari kata istri anda ini. Ah, maksudnya sudah sangat jelas, baik.. saya ralat kembali pertanyaan saya, siapa orang tua kandung saya?" ucap Rey yang semakin kacau.
PLAAAK !!!" Itu adalah jawaban dari Tuan Maher.
"Tenangkan dirimu didalam kamar ini. Kita keluar mah." Tuan Maher menuntun istrinya keluar dan mengunci Rey didalam kamarnya.
"PAAAAAH .... BUKA PINTUNYA !!!!" teriak Rey.
BRUKK ... BRUK ... Rey mendobrak pintu namun percuma.
"AAAAAAAHHHHKKKKKKKK !!!!!! BRAAAKKKKK....!!!" Rey meraung dan membalikan meja kaca yang ada di kamarnya.
Mama Salamah yang mendengar anaknya meraung ingin kembali masuk kekamar dan memeluknya.
__ADS_1
"Mah, biarkan dia sendiri dulu. Dia butuh waktu," ucap Tuan Maher.
"Hikss.. hikss... Ini salah mamah, pah. Mama tidak menjaga lisan mama, hiikss.."
"Tidak mah, mungkin memang ini sudah waktunya," ujar Tuan Maher.
"Ini adalah rahasia besar, cepat atau lambat akan tercium juga baunya," lanjutnya.
Seorang baby sister datang dengan wajah gelisah.
"Tuan.. Nyonya.. Den Vino badanya tiba-tiba panas sekali," ujar pelayan itu.
"Apa.. Pah, ayok kita lihat cucu kita," ujar Mama Salamah yang ikut panik. Dia menyeka air matanya dan berlari kecil.
Melihat cucunya memang sangat panas, mama Salamah langsung membawanya kerumah sakit. Ia tidak ingin mengambil resiko.
..
Didalam kamarnya, Rey terpojok dan meratapi nasibnya. Dalam jangka waktu yang hanya berjarak seujung kuku, ia harus merasakan musibah yang bertubi-tubi.
Merasa tidak pantas berada didalam rumah itu berlama-lama. Rey memutuskan untuk pergi dengan cara turun dari balkon.
Namun, sudah 3 kali ia berusaha untuk keluar dari rumah itu. Dia selalu dihalangi oleh pengawas dan berujung akan dikurung di ruangan bawah tanah.
"Lepaskan Rey, Paaah ....!! Biarkan Rey pergiiii!!"
BRUKK!! Dengan kasar pengawas menjatuhkan tubuh Rey keruangan bawah tanah.
"Renungkan segalanya Rey. Keluarga ini sangat mencintai kamu. Papa tidak ingin kamu pergi dalam keadaan marah dan tak tentu arah. Tenangkan pikiranmu didalam sini," ucap Tuan Maher dan langsung menutup pintunya.
"PAAAAAAAAAAHHHH !!!!!" teriak Rey memilukan.
Kini ia benar-benar berada di ruangan yang gelap. Sebenarnya ada saklar jika Rey ingin ruangan terang. Namun itu adalah pilihannya, berada di ruangan gelap bersama dengan kegelapan hatinya.
Rey mengambil dompet dan mengeluarkan sebuah foto. Hanya Aya kini yang ada dipikirannya. Walaupun ruangan itu gelap, Rey dapat jelas melihat wajah Aya dengan bayang-bayang di kepalanya.
"Hikss...hikss... Maafkan aku...."
..
..
..
πJANGAN LUPA FOLLOW AUTHOR
__ADS_1
LIKE, KOMENAN DAN VOTE π₯π
πππππππππππ