
Ini adalah malam pertama Aya didalam penjara yang tak beralas apapun. Aya harus menahan dinginnya keramik tanpa ada selimut yang menghangatkan. Aya masih tidak berani untuk bergabung dengan para napi lainnya. Mereka selalu menunjukkan ekspresi tidak suka kepada Aya.
Ketika sedang menahan kantuk yang mendalam, Aya mendengar ada seseorang yang memanggilnya.
"Aya ,,, Aya ,,," bisik Wisnu.
Aya langsung menghampiri Wisnu.
"A'ak ngapain kesini?" tanya Aya takut jika Wisnu akan mendapatkan masalah jika terus-terusan menemui dirinya.
"Aku hanya ingin memberikan ini," ujar Wisnu memberikan satu bantal dan selimut.
Aya tersenyum." Terima kasih banyak ya Ak. Ini benar-benar sangat aku butuhkan saat ini."
"Jaga dirimu baik-baik ya. Selamat malam, assalamualaikum..."
"Walaikum salam ..."
Para napi hanya menatap sinis kearah Aya yang mendapatkan keenakan dihari pertama masuk penjara. Berbeda dengan mereka semua. Semua para napi harus merasakan bagaimana rasanya nyawa diujung tenggorokannya ketika baru masuk penjara.
Aya hanya bisa menundukkan kepalanya dalam-dalam karena rasa takut yang ia rasakan. Tatapan semua para napi benar benar membuatnya sangat sulit bernafas.
"Hay !!" panggil ketua napi.
Aya sangat kaget mendengar suara keras itu memanggilnya.
"Ah, i-iyaa teh?" tanya Aya dengan gugup.
"Kami kekurangan selimut dan bantal," ucap ketua napi.
Aya mengerti apa maksud mereka. Namun, Aya tidak bisa jika harus berada ditempat yang dingin. Aya akan merasakan penyakit biduran atau istilah medis disebut urtikaria.
"Hay, kenapa kamu diam saja.!!" tanya salah satu dari mereka.
__ADS_1
"Maaf teteh-teteh semuanya.. saya biasanya menggunakan baju syar'i dan cadar untuk menghangatkan tubuh saya, karena saya tidak bisa terkena dingin, dan sedangkan baju ini tidak cukup menghangatkan tubuh saya," ujar Aya menjelaskan. Aya kini menggunakan baju khusus untuk para napi seperti yang lain. Walaupun aya menggunakan hijab, tapi baju yang dipakai tidak cukup tebal untuk menghangatkan tubuhnya yang sudah bisa menggunakan baju syar'i.
"Halah, modus aja lu !!! Wanita teror*s kayak kamu sok-sokan mau jadi wanita alim. Sebentar lagi lu bakalan dihukum mati!! Jadi gak usah banyak gaya lu !!!"
"Iya tuh, sok-sokan alim padahal aslinya mah jahat tuh!! Heh, dasar wanita munafik.!!"
Ujar beberapa napi lain menghina Aya.
Aya hanya bisa terdiam mendengar segala hinaan yang dia dapatkan. Sampai akhirnya ketua napi mendekatinya dan mengambil paksa selimut dan juga bantalnya.
"Jangan melawan atau kamu tidak akan pernah melihat matahari lagi !!"ancam ketua napi membuat Aya tidak dapat melawan lagi.
....
Malam ini, mama Salamah Yunhi dan juga Rey sedang menikmati makan malam dengan nikmat. Mereka seperti tidak kehilangan sesuatu. Yunhi yang mengaku tangannya masih sakit dengan manja meminta disuapi oleh Rey.
"Rey, apakah kamu sudah mengirimkan surat perpisahan dengan wanita itu?" tanya mama Salamah tiba-tiba.
"Emmm, akan segera Rey urus mah," jawan Rey dengan ragu.
"Bagaimana dengan papa, mah?"
"Papa kamu lagi sibuk ngurus ini ngurus itu. Biarkan saja dia, lagi pula mama Sangat yakin jika papa kamu pasti setuju dengan keputusan kita."
"Iya mah, akan Rey fikirkan lagi."
"Loh, kamu ini berfikir apa lagi sih sayang. Sekarang ini lebih baik kamu memberikan perhatian lebih kepada Yunhi. Kasihan dia."
"Yunhi tidak papa kok mah. Yunhi ikut saja keputusan Kak Rey," sahut Yunhi dengan senyum manisnya.
"Kamu terlalu baik untuk menjadi istri kedua sayang. Mama berharap jika kamu bisa menjadi istri satu-satunya anak mamak, Rey."
"Yunhi juga inginnya seperti itu mah," jawab Yunhi dengan tatapan penuh harapan.
__ADS_1
"Sudah jangan difikirkan sayang. Pulihkan dulu luka-luka kamu. Masalah Aya biar aku yang urus," ujar Rey yang tidak ingin membahas tentang masalah rumah tangganya.
"Iya sayang .."
Ditengah malam ketika semua orang sudah tertidur, sepasang kaki berjalan berjinjit untuk menghindari suara yang akan timbul dari hentakan kakinya.
Kiana menatap wajah kembaranya secara intens membuat Yunhi merasa tidak nyaman. Yunhi mencoba untuk membuka mata karena ia merasa ada sesuatu yang memperhatikannya.
"Ah !!" pekik Yunhi terkejut.
"Huuusstt!!" Kiana menutup mulut Yunhi dengan lembut.
Kini, dua saudara kembar dengan wajah yang sama-sama diperban saling menghadap. Di taman belakang, mereka saling melempar senyum untuk merayakan kemenangan mereka.
"Yunhi, aku akan kembali bersama dengan suamiku. Ide konyolmu benar-benar aku aku ajungi jempol. Meskipun kamu harus mempertaruhkan nyawa kamu untuk menjebak wanita ****** itu. Terima kasih banyak karena kamu mau mengampuni Rey untuk aku," ujar Kiana.
"Apapun demi kamu saudariku. Kita telah melalui banyak hal-hal sulit dan aku hanya ingin melihat kami bahagia. Tapi, kita harus lebih hati-hati lagi. Aya belum belum mati, kita masih belum aman," ucap Yunhi memperingati Kiana.
"Kamu tenang saja. Oya, apakah kamu akan menyusul paman?"
"Tidak. Misi kita belum selesai. Rumah sakit itu masih berdiri kokoh. Kita harus meratakan rumah sakit itu secepat mungkin."
"Emm, apakah kita tidak bisa melupakan semua ini," ujar Kiana yang sudah tidak ingin bertindak lebih jauh.
"Kiana, aku harap kamu tidak melupakan apa tujuan kita. Aku mengizinkan kamu mencintai pria itu tapi tidak dengan membiarkan rumah sakit tetap berdiri," ucap Yunhi memperingati Kiana.
Kiana hanya menunduk pasrah sambil menatap pundak saudarinya menjauh. Kini, Kiana telah ngambil alih kembali posisinya sebagai istri dari Rey Maher.
..
..
..
__ADS_1
FOLLOW AUTHOR, LIKE, KOMEN DAN VOTE 💞