IkhlasKu TetanggaKu MaduKu

IkhlasKu TetanggaKu MaduKu
Siap dengan segala keputusan


__ADS_3

Setelah Mora menjelaskan apa yang terjadi diantara dirinya dan Wisnu, kini Keluarga dapat lebih mengerti. Namun, tetap ini adalah sebuah kesalahan yang sudah membuat Aya tersakiti.


"Nak, Mora. Kami selaku Keluarga mengerti dengan kondisi dan keadaan nak Mora. Namun, tetap saja hal seperti tidak dapat dibenarkan," ucap Abah.


"Saya mengerti pak. Saya akan bertanggung jawab atas retaknya rumah tangga Wisnu dan Aya. Saya sungguh sangat menyesal karena telah berlaku ceroboh dan merugikan banyak orang. Izinkan saya untuk berbicara dengan Aya, saya akan berusaha untuk meyakinkan Aya bahwa antara saya dan Wisnu tidaklah seserius yang dia pikirkan," ucap Mora.


"Kami akan izinkan nak Mora berbicara dengan Aya. Namun kami mohon, jika ia menolak, jangan memaksanya untuk mendengarkan. Kami hanya takut jika ia tertekan dan berpengaruh pada janinnya."


"Baik, pak."


..


Mora dengan perlahan masuk kedalam kamar Aya. Terlihat Aya sedang membaca sebuah buku untuk dijadikannya sebuah hiburan.


Aya tak bergerak dan tak juga bergeming. Ia tak perduli siapa yang masuk kedalam kamarnya. Seolah mati rasa, kini Aya benar-benar enggan untuk berbicara dengan siapapun. Namun, ketika wangi parfum yang menyengat hidungnya, Aya menaikan tatapannya dan melihat Mora dengan berdiri di samping pintu yang tertutup.


"Mau apa anda kesini?" tanya Aya


"Aya, sungguh maafkan aku. Aku dapat menjelaskan semua," ucap Mora memohon.


"Tidak perlu. Semua sudah jelas. Lebih baik anda sekarang keluar dari kamar saya. Saya mohon, jangan ganggu saya dalu."


"Aya, saya mohon."


"KELUAR ..!!" teriak Aya membuat Mora tersentak. Mora tak menyangka jika wanita selembut Aya dapat berkata keras.


"Aya ,,,,?"


"Aku tidak butuh penjelasan apapun," ucap Aya lalu merebahkan tubuhnya dan menutupnya dengan selimut.


"Aku dan Rey adalah saudara kandung !!" ucap Mora dengan cepat berharap Aya akan tertarik untuk berbicara dengannya.

__ADS_1


Dan benar saja..


Setelah mengatakan itu, Aya membuka selimutnya dan menatap Mora tidak percaya.


Kini, Akhirnya Aya bersedia mendengarkan ulasan dari Mora. Namun dengan tatapan saling membelakangi. Sungguh Aya belum sanggup jika harus bertatap dengan Mora. Tetangga yang ia kira baik, teman yang ia kira biak, namun kini diam-diam telah menjadi madunya.


Mora terlebih dahulu menceritakan tentang bagiamana ia dan ayahnya dapat bertemu, dan mendapatkan kenyataan jika Rey adalah saudara kandungnya.


"Sungguh semua ini berkat Wisnu, Aya. Jika saja saat itu dia tidak berjanji, aku pasti akan mengakhiri hidupku dan tidak akan pernah tahu jika ayah dan saudara aku masih hidup. Disini sungguh aku yang sangat bersalah. Wisnu sudah mengatakan jika dia sudah menikah, dia juga mengatakan jika dia tidak akan bisa adil karena dia sangat mencintai kamu, tetapi aku tetap menuntut ucapannya dan memaksanya untuk menikahi aku. Sungguh Wisnu sama sekali tidak berniat untuk melukai hatimu, namun akulah dalang dari kekacauan ini. Andai aku dapat mengendalikan diri pada waktu itu. Pas hal ini tidak akan terjadi. Maafkan aku Aya, sungguh maafkan aku."


Membelakangi Mora, Aya terus mengalirkan air mata jernihnya. Merasa bingung, tentu Aya rasakan. Bagiamana tidak?


"Satu sisi, a'ak telah menyelamatkan hidup seseorang dan berkat dia kini orang itu dapat kembali berkumpul dengan keluarganya. Tapi semua itu dia lakukan dengan mengorbankan kepercayaan dan janji suci pernikahan kita. Mengapa dia tak jujur padaku, mengapa ia tak mengatakan kebenarannya. Ahhh,, aku sungguh tidak tahu harus bagaimana." Aya berjalan untuk mengambil air susu dan meminumnya sampai habis.


Mora masih menunggu jawaban dari Aya. Namun setelah minum susu, suara adzan magrib berkumandang.


Aya menatap Mora dan berkata," Teh, sebaiknya kita sholat dulu. Insyaallah, setelah sholat saya akan memberikan jawaban. Saya turut senang mendengar akhirnya teh Mora bisa berkumpul kembali dengan keluarga yang sudah lama terpisah."


Aya dengan lemas tersenyum dan berkata," Izinkan aku memikirkan ini dahulu. Ini bukan lagi soal teh Mora. Namun ini tentang aku dan a'ak Wisnu. Aku ingin sholat dulu dan menenangkan pikiranku," ucap Aya sembari membuka pintu untuk Mora keluar.


Dengan berat hati Mora keluar dari kamar tanpa jawaban yang pasti dari Aya.


..


Di mushola, Wisnu dan Rey ikut sholat berjamaah. Mereka berdua sama-sama mengadahkan tangan ke atas dan berdoa dengan khusyuk berharap apa yang mereka inginkan terkabul.


Di perjalanan pulang. Wisnu mencoba membuka suara.


"Bro, apa loe tau. Mora menceritakan padaku bahwa ibu kalian telah meninggal.


Dan apakah loe tahu siapa ibu kandung, loe?"

__ADS_1


"Siapa ?" tanya Rey penasaran, bahkan Rey mengentikan langkah kakinya untuk mendengarkan.


"Jika memang loe adalah saudara kembar Mora, berarti ibu kandung loe adalah Bibik Gia. Pelayan dirumahnya Kiana, dan yang membunuh Bibik Gia adalah Yunhi," ucap Wisnu.


Seolah dunia runtuh, sungguh Rey merasakan sakit yang amat sangat luar biasa. Rasa sakit ini tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Bahkan kehilangan Aya pun tidak sesakit ini.


Deru nafas Rey mulai memburu. Gejolak api membara pada tubuhnya.


Sungguh rasanya dia ingin menggali kuburan Yunhi dan Kiana untuk mencekik dan menginjak-injak tengkorak mereka.


Wisnu yang melihat sahabatnya terlihat sangat syok, mencoba untuk merangkulnya.


"HAAAAAAAAAAAAAAAAAAA !!!!!!!!!!!"raungan Rey. " HIKS..HIKS.... mengapa, mengapa ini harus terjadi kepada gua Wiiiisss..... Selama ini ibu kandung gua udah ada didepan mata gua dan gua tidak menyadarinya... Hiks..hiks... Anak macam aku ini Wiiiiss.... Haaaaaa aaaa aaaa..." teriak histeris Rey di pelukan Wisnu. Bahkan mereka tidak malu ketika ada orang lain menatap mereka dengan aneh.


"Sabar bro.. ini sudah jalannya. Setidaknya, loe udah pernah lihat wajah ibu loe secara langsung meskipun kini semua telah terlambat. Bro, sebaiknya kita pulang dan dengarkan penjelasan dari bokap loe. Sepertinya dia adalah pria yang baik," ucap Wisnu menenangkan.


Rey terisak.


"Bro, bagaimana loe bisa setenang ini membujuk gua. Bukankah nasib loe sendiri kini sangat menyedihkan?"


Wisnu tersenyum." Gua bakal terima semua keputusan Aya. Namun gua gak akan menyerah. Gua akan terus Pepet dia sampai dia benar-benar sadar kalo gua ini memiliki cinta yang besar. Gua salah Rey, dan gua akan menebusnya meski dengan darahku sendiri," ucap Wisnu dengan tabah. Meski dalam hati, ia sangat berharap jika Aya tidak mempersulitkannya dan menerimanya kembali.


Rey memeluk erat sahabat dengan haru.


"Bro, sampai Aya meminta cerai dari loe. Maka kita akan bersaing," ucap Rey bergurau.


"Hahaha,, Sungguh menyedihkannya diriku. Sudah kehilangan cinta, dan masih harus bersaing dengan sahabat kampr**t kayak loe!!" ucap Wisnu yang langsung berjalan meninggalkan Rey


"Kurang di ajar emang tu mulut ngatain gua kampr**t .." ucap Rey sambil melemparkan sendal ke arah Wisnu.


Kini dua Sabahat berlari bersama untuk menghadapi badai, karena Rey belum menceritakan jika Kiana dan Yunhi telah mati. Bahkan Wisnu sendiri belum jelas nasibnya akan bagaimana.

__ADS_1


__ADS_2