
Disebuah restoran Rey dengan fokus menatap ponselnya. Sedangkan Qodir merasa tidak sabar untuk bertemu dengan Axelin.
Terlihat Axelin memasuki restoran mewah sambil celingukan mencari sosok Rey.
Qodir yang melihat kedatangan Axelin langsung melambaikan tangannya.
Axelin yang melihat lambaian dari Qodir tersenyum dan langsung menghampiri mereka.
"Hay!" sapa Axelin.
Rey yang mendengar sapaan dari Axelin langsung mengalihkan ponselnya.
"Sudah datang?" tanya Rey.
"Iya, kak!" jawab Axelin antusias.
"Ya sudah, pesan saja apa yang ingin kalian makan. Oya tuan Qodir, sepertinya saya harus langsung karena panggilan penting. Silahkan nikmati makan siang kalian," ucap Rey yang langsung beranjak.
Axelin terpaku melihat Rey yang akan pergi.
"Loh! Kak Rey gak ikut makan?" tanya Axelin terlihat kecewa.
"Maaf Axelin, Aya tadi menelpon dan katanya penting," jawab Rey.
Axelin hanya tersenyum kecut mendengar itu.
"Tuan Qodir, saya permisi dulu ya?" ucap Rey.
"Ah, iya Tuan Rey. Hati-hati dijalan," jawab Qodir.
Setelah berpamitan. Rey langsung menancapkan gas untuk segera pulang ke apartemen Aya. Meski hari ini dia masih banyak jadwal, tetapi demi Aya bahkan Rey rela mengundur semua pekerjaannya demi Aya..
Axelin nampak kaku berduaan dengan pria yang tidak ia kenal. Apalagi beberapa kali Axelin bertemu dengan Qodir, dia selalu membuat Qodir rugi. Pertama, dia telah memecahkan Pot mahal dan sekarang bahkan dia telah memakai sepatu mahal yang bukan lain adalah kado untuk ibunya.
"Em, tuan?" panggil Axelin lirih.
Qodir yang sedang mantap menu makanan langsung mengalihkan pandangannya.
"Iya, Nona?" jawab Qodir.
"Em, maafkan saya. Kita baru kenal, tetapi saya sudah membuat anda rugi banyak," ucap Axelin terdengar sangat tulus.
Qodir tersenyum dan berkata," Tidak papa nona. Anggap saja kita adalah teman lama," jawab Qodir.
"Ah, hehe mana bisa seperti itu, tuan. Em, saya janji akan menggantikan dengan menyicil setelah saya mendapatkan gaji pertama saya," ucap Axelin.
"Baiklah, begitu juga tidak masalah" jawab Qodir tersenyum.
Axelin yang mendengar itu langsung tersenyum kecut."apakah dia bersungguh-sungguh ingin aku menggantikannya!" batin Axelin.
Qodir hanya tersenyum melihat ekspresi Axelin. Sejujurnya dia tidak mempermasalahkan kerugiannya. Hanya saja, Qodir berfikir ini adalah kesempatan untuk dirinya agar dapat selalu bertemu dengan Axelin.
*****
Di apartemen, Rey dengan gesit memakirkan mobilnya. Dia sedikit berlari menuju apartemen Aya.
Rasa khawatir mendengar Aya menangis ditelpon membuat Rey tak dapat berfikir jernih.
__ADS_1
Ceklek
Rey membuka pintu.
Terlihat semua orang sedang duduk santai sembari menonton tv dan sambil memakan cemilan.
"Hay Daddy! Daddy sudah pulang?" tanya Hani menyapa.
"Ah, iya sayang. Daddy pulang," jawab Rey dengan tampang bingung.
Rey menatap Wisnu dan Aya yang saling menghangatkan atau duduk bersama sembari berpelukan ringan.
Terlihat juga mama Salamah hanya fokus menatap drama India yang ia tonton.
Anak anak masih asyik bermain dengan kucing mereka.
"Apa ini, apakah aku sedang dikerjai?" batin Rey.
"Ah aak Rey sudah datang, duduk sini. Oya, cemilan a'ak aku simpan di atas meja, aku ambilkan dulu," ucap Aya yang bangkit dari duduknya.
Rey penasaran, langsung mengikuti Aya dari belakang. Tanpa Rey sadari, Wisnu juga selalu menatap geraknya.
Ketika Aya akan kembali, sungguh dia sangat terkejut melihat Rey sudah ada dibelakangnya.
"Astaghfirullah halazim, a'ak! Menganggetkan saja,!" ucap Aya.
"Tadi kamu menelpon sambil terisak-isak. Apa sebenarnya yang terjadi?" tanya Rey dengan serius.
Aya yang awalnya ikut serius langsung tersenyum.
Rey menghela nafas berat. Dia telah meninggal beberapa pekerjaan penting dan ternyata Aya hanya ingin meminta izin supaya Wisnu diperbolehkan untuk piknik.
"Ak, kamu kenapa?" tanya Aya.
"Tidak papa. Kita bicarakan ini nanti, aku akan kembali kekantor," ucap Rey yang langsung berniat untuk keluar.
"Ak, tunggu!" panggil Aya.
Namun ketika akan mengejar Rey, Aya tidak sengaja keserimpet bajunya sendiri yang panjang.
"Aahk!" pekik Aya.
Hap ! beruntung Rey dengan cepat tanggap langsung menangkap tubuh Aya.
Posisi dapur yang terlihat dari ruang tamu, jelas Wisnu dapat melihat dengan jelas semua kejadian itu.
Awalnya Wisnu yang khawatir jika Aya akan terjatuh, tetapi ketika Rey dengan cepat menangkapnya, Wisnu merasa lega. Tetapi, semakin semakin Wisnu perhatikan bagaimana pandangan mereka bertemu.
Ketika Aya dan Rey sama-sama tersadar, Wisnu langsung memalingkan wajahnya seolah-olah dia tak melihat apa-apa.
Aya terlihat sangat tidak enak dengan apa yang barusan saja terjadi.
"Lain kali hati-hati, Aya. Memang ada apa kamu mau mengejar aku?" tanya Rey mencoba mencairkan suasana canggung diantara mereka.
"Emm, nganu Ak. Ini cemilannya di bawa aja kekantor ya. Aku ambilkan kotaknya sebentar," ucap Aya yang langsung mencari kita kecil.
Rey melirik kearah Wisnu. Tetapi Wisnu terlihat sedang asyik menemani mama Salamah menonton drama India.
__ADS_1
Rey terlihat bernafas lega.
"Ak, ini kuenya. Maaf ya, tadi aku sempat membuat aak khawatir," ucap Aya merasa tidak enak.
"Iya tidak papa. Terima kasih ya, aku pergi dulu," ucap Rey yang ingin bergegas keluar.
Ketika akan keluar, mama Salamah akhirnya baru sadar jika anaknya sudah pulang.
"Rey!?" panggil mama Salamah.
"Iya mah?"
"Kamu sudah pulang?"tanya Mama Salamah.
"Iya mah. Aku pulang karena mau mengambil cemilan ini dan sekarang mau berangkat kekantor lagi," jawab Rey.
"Ya ampun! cuma mau mengambil cemilan? kenapa gak nyuruh orang saja yang mengambil,?" ucap mama Salamah.
"Tidak papa mah," jawab Rey.
"Em, kamu sudah makan siang?" tanya mama Salamah.
"Sudah mah."
"Ya sudah, mama juga mau pulang dulu. Vino, kamu mau pulang apa masih mau disini?" tanya mama Salamah.
"Vino disini dulu, nek!" jawab Vino.
"Ow, ya sudah. Nenek pulang dulu ya?"
"Iya nek."
"Aya, Wisnu. Mama pulang dulu ya?"
"Iya, mah. Hati-hati dijalan ya?" ucap Aya.
"Wisnu, lekas sembuh ya nak?"
"Iya mah, amiin."
Akhirnya mama Salamah dan Rey keluar bersama dan berpisah di parkiran.
Didalam mobil. Rey terdiam dan membayangkan bagaimana tatapannya degan Aya bertemu.
"Aaahkk!" pekik Rey frustasi dengan perasaannya sendiri.
Jelas sangat salah jika dia mencintai istri sahabatnya sendiri, tetapi Rey sendiri tidak dapat memungkiri jika dia masih sangat mencintai mantan istrinya itu.
...
...
...
.....
Jangan lupa dukung author. follow Author, like komen dan jangan lupa tekan favorit ❤️
__ADS_1