
Kini, sebuah mobil sudah terparkir disebuah apartemen.
Hani dan Vino turun dan langsung berlari duluan. Sedangkan Rey dan Axelin berjalan santai sambil mengobrol.
"Axelin, apakah selama ini Tuan Ruslan tak pernah memberi kamu kabar?" tanya Rey yang mulai ingin mengetahui banyak tentang papahnya Axelin.
"Sudah dua bulan yang lalu, mereka tak dapat aku hubungi setelah mengambil semua uang aku. Kata mereka, sudah dua tahun terkahir kak Rey tak memberikan dana pada perusahaan papah. Sehingga papa memohon untuk meminjam uang dariku. Aku juga tidak tahu, kenapa selama ini perusahaan papa selalu saja diambang kebangkrutan. Bahkan setelah mendapatkan bantuan dari kak Rey, dia masih saja kurang. Aku tidak tahu, kemana sebenarnya uang papa larinya. Aku sangat lelah menghadapi dia. Setelah mamah pergi, kesejahteraan keluarga kami hilang ketika papa memilih menikah dengan wanita siluman itu," jelas Axelin.
Langkah kaki Rey terhenti. Dia mengambil nafas dan membuangnya dengan berat.
"Maafkan aku Axelin, bukan tanpa alasan aku tidak lagi membantu Tuan Ruslan. Sebenarnya, maaf aku mengatakan ini. Dia telah berkhianat kepadaku. Sehingga aku terpaksa menarik kembali saham ku, aku tidak tahu jika tindakanku ini mengundang para pejabat lain untuk ikut mencabut semua saham mereka. Aku tidak tahu jika ternyata kamu belum mengetahui hal ini. Aku pikir, papah kamu sudah menceritakan kepada kamu soal apa yang terjadi. Karena, dua tahun terkahir kamu sangat jarang memberi kabar aku. Aku pikir kamu marah kepadaku," jelas Rey.
Axelin benar-benar tidak menyangka jika papahnya berani berkhianat dengan Rey. Padahal Rey telah cuma-cuma membantu mereka. Kini Axelin benar-benar merasa sangat malu untuk mendekati Rey. Bahkan, untuk mencintainya saja rasanya ia tak berani.
"Kak, Rey. Em, atas nama papah, aku sungguh meminta maaf. Aku janji, setelah mendapatkan pekerjaan, aku akan mengganti semua kerugian yang telah kak Rey keluarkan untuk papah dan juga yang telah membiayai aku kuliah. Maaf, dua tahun terkahir aku sangat sibuk kerja untuk mencari uang untuk membantu papah. Aku juga gak tahu, jika selama ini papah telah menipu anaknya sendiri," ucap Axelin dengan perasaan yang sangat tidak enak hati.
Rey tersenyum dan memegang pundak Axelin membuat Axelin terkejut.
"Kamu tenang saja, tidak perlu di pikirkan. Kamu sudah aku anggap adikku sendiri. Jika kamu mau, aku akan bantu untuk mencari kedua orang tuamu," ucap Rey.
"Ah, tidak usah kak. Orang seperti mereka tidak perlu dicari. Nanti, jika mereka sudah kelaparan, mereka akan muncul dengan sendirinya," jawab Axelin menahan amarah dihatinya.
"Baiklah. Oya, kamu akan tinggal dimana? Jika kamu mau, kamu bisa tinggal di apartemen Mora yang berada di depan Aya," ucap Rey menawarkan.
"Tapi, kak?" Axelin ragu. Dia merasa tidak enak terus-terusan merepotkan Rey.
"Sudah tidak papa. Yuk, kita masuk?"
Axelin hanya diam dan mengikuti Rey. Entah perbuatan baik apa yang sudah dia lakukan sehingga dirinya selalu bertemu dengan orang-orang baik yang membantunya.
...
Ting.. Tong.. Rey menekan bel.
Aya membuka pintu.
"Assalamualaikum," sapa Rey.
"Walaikum salam. Loh, Axelin!?" ucap Aya terkejut melihat tamu yang datang.
"Ustadzah!" Axelin masuk dan memeluk Aya. Entah mengapa, Axelin sangat nyaman berada disisi Aya.
"Hay, kamu kenapa?" tanya Aya yang melihat Axelin sesegukan di pelukannya. Sudah 5 tahun tak bertemu dan kini Axelin seperti ini.
Kini, Aya duduk bersama dengan Axelin di balkon apartemennya. Sedangkan Rey, dia menemani anak-anak bermain dengan kucing baru mereka.
"Axelin, ada apa ini? Bukankah katanya kamu menikah?" tanya Aya.
Dengan ragu, Axelin mencoba untuk menjelaskan.
"Em, ustadzah."
"Oh, iya. Sebelumnya tolong jangan aku seperti itu lagi ya? Aku sekarang bukan lagi gurumu. Panggil aku, teteh, mbk, atau kakak saja," jawab Aya sambil memegang tangan Axelin.
__ADS_1
"Ah, iya kak. Aku panggil kakak saja ya?"
"Begitu lebih baik."
Axelin menceritakan segalanya kepada Aya. Bagaimana kedua orang tuanya telah merampas uangnya dan sekarang hilang entah kemana. Dengan kematian calon suaminya dihari pernikahan mereka.
"Sekarang, aku tidak tahu harus bagaimana, kak," jelas Axelin dengan sendu.
"Astaghfirullah halazim. Kamu yang sabar Axelin. Insyaallah, kamu akan mendapatkan jalan keluarnya. Anak Solehah pasti akan selalu berada di lindungan Allah SWT. Satu pesan aku, jangan sesekali kamu berniat untuk membenci kedua orang tuamu. Biarkan Allah yang membalasnya. Tugas kita adalah, mendoakan kedua orang tua supaya mendapatkan hidayah dari Allah SWT."
"Iya, kak. Insyaallah. Hmm, tapi mereka sudah benar-benar keterlaluan, kak. Hiks..hiks.."
"Yang sabar Axelin. Aku yakin kamu pasti bisa untuk melewati semua ini."
Axelin memeluk Aya dengan sangat erat. Axelin benar-benar merasa sangat nyaman berada disisi Aya. Sejak pertama bertemu, Aya adalah orang yang langsung dapat mengambil hati Axelin.
Rey datang dan tersenyum melihat dua wanita saling mendukung.
"Hay," sapa Rey.
"Oh, kak Rey!" Axelin langsung menghapus air matanya.
"Ada apa, Ak?"
"Ini kunci apartemen milik Mora. Axelin, kamu dapat tinggal disana, sampai kapanpun," ucap Rey menyerahkan kuncinya.
Axelin dengan ragu-ragu mengambilnya.
"Terima kasih banyak, kak."
"Iya kak."
"Ah, alhamdulillah, akhirnya aku memiliki tetangga lagi. Hehehe," ucap Aya merasa senang.
Axelin tersenyum. Dia sangat senang karena di sisa-sisa keputusasaannya, masih ada orang baik yang mau menolongnya.
Axelin diarahkan untuk masuk kedalam apartemen milik Mora dengan Rey. Sedangkan Aya, bukannya dia membenci Mora. Hanya saja, dia masih sangat trauma dengan apartemen milik Mora.
Axelin masih belum tahu tentang masa lalu Aya sangat rumit. Bahkan pria yang dia cintai saat ini adalah mantan suami dari Aya.
Axelin benar-benar belum mengetahui apa-apa tentang hubungan rumit antara Mora dan Aya dahulu. Tidak tahu apa yang akan dipikirkan Axelin, jika sampai dia tahu rantai kerumitan orang-orang dia kenal saat ini.
"Axelin, kamu dapat menempati rumah ini sampai kapanpun. Kamu tidak perlu memikirkan yang lain. Oya, kamu bisa mendaftar diri untuk bekerja di perusahaanku. Maaf karena aku tidak bisa langsung memasukan mu. Karena peraturannya memang sangat ketat. Hanya orang-orang yang terpilih berprestasi dan berpotensi yang dapat masuk. Saya harap, kamu bisa melakukan yang terbaik," ucap Rey.
Axelin hanya memandang Rey dengan tatapan kosong tanpa memikirkan yang lain. Seolah-olah, menatap Rey adalah candu baginya.
"Axelin!"
"Ah, iya kak. Em, iya aku pasti akan menjadi calon ibu yang baik," jawab Axelin dengan ngawur.
"Calon ibu!" Rey mengerutkan keningnya heran.
"Ah, maksud aku. Itu tadi, yang kak Rey katakan. Emm, kakak tadi mengatakan apa? Hehehe," jawab Axelin dengan wajah yang memerah karena malu.
__ADS_1
"Siapkan data kamu dan mendaftar lah bekerja di perusahaan ku!" tegas Rey.
"Ah, iya itu. Siap kak, aku akan mempersiapkan yang terbaik untuk kakak," jawab Aya memasang wajah semanis mungkin.
Rey hanya menggelengkan kepalanya.
"Baiklah, aku keluar dulu. Istirahatlah," ucap Rey.
"Baik kak, Terima kasih banyak atas segalanya ,kak?"
Rey hanya tersenyum dan kembali ke apartemen Aya.
Rey melihat vino dan Hanifah sedang tertidur di sofa. Rey langsung memindahkan mereka kekamar Hanifah, supaya lebih nyaman. Setelah itu, dia pergi kekamar Aya dan Wisnu.
Terlihat jika Aya sedang menuntun Wisnu untuk duduk.
Rey masuk dan membantu Aya.
"Sini, aku bantu," ucap Rey.
Wisnu menghela nafas lemas.
"Makasih, bro," ucap Wisnu dengan lemas.
"Besok suster dan alat medis akan datang. Jika kamu tidak ingin dirawat dirumah sakit, biarkan alatnya yang datang kesini," ucap Rey.
Aya hanya mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan Rey.
"Tidak! Aku tidak ingin dirawat. Biarkan saja," ucap Wisnu dengan raut wajah putus asa.
"Kenapa, Bi? Apakah Abi tidak ingin sembuh!?"ucap Aya dengan kesal.
"Umi, Abi hanya. Sepertinya ..."
"Sepertinya apa! Bagaimana Abi akan sembuh jika Abi sendiri tidak berusaha untuk sembuh! Jika Abi saja tidak berniat untuk sembuh! Apa Abi tidak memikirkan umi dan Hani, hiks...hiks..!" Aya tak dapat mengendalikan dirinya.
Wisnu hanya dapat bernafas dengan sangat lemas. Sungguh, untuk mengangkat tangan dan menghapus air mata Aya, Wisnu sudah tak sanggup.
"Aya, kamu keluarlah dulu. Tenangkan dirimu, biarkan aku yang berbicara dengan Wisnu," ucap Rey.
"Hiks..hiks...!" Dengan kesal, Aya berlari keluar kamar.
Rey menatap Wisnu dengan tajam.
"Wisnu, aku gak tahu apa sebenarnya yang ada dipikiran mu. Tetapi yang jelas, aku gak membiarkan Aya bersedih. Berusahalah meski takdir berkata lain," ucap Rey.
Wisnu tersenyum.
"Terima kasih banyak, bro. Sampai detik ini, loe masih memikirkan Aya. Aku akan pergi dengan tenang. Aku minta, tolong jaga anak dan istriku. Ketika aku pergi, aku mohon. Jagalah Aya. Aku tahu, selama ini kamu masih sangat mencintai dia. Mungkin kalian memang berjodoh. Setelah kepergian ku, nikahilah Aya dan hiduplah bahagia dengannya," ucap Wisnu.
Bukannya senang, Rey malah memasang api diwajahnya.
"Apa maksud loe bangs*t !! Loe pikir, Aya itu apa, hah!? Loe pikir dia boneka yang bisa dilempar sana dan dilempar kesini! Meski cintaku sebesar dunia untuk Aya, nyatanya orang yang dia cintai hanyalah kamu!"
__ADS_1
Wisnu lagi-lagi hanya tersenyum. Sepertinya, drama lama akan terulang. Dulu, Rey meminta Wisnu menikahi Aya dan Wisnu menolak, namun takdir akhirnya menyatukan mereka. Sekarang, malah Wisnu yang meminta Rey menikahi Aya ketika dirinya pergi. Wisnu hanya berdoa, semoga takdir pun menyatukan Rey dan Aya. Sungguh Wisnu tidak rela jika sampai Aya mendapatkan jodoh sekian Rey setelah dirinya meninggalkan dunia.