
Sebuah tatapan nanar terpancar dalam mata bening Aya. Tak ada yang menyadarinya, karena semua sedang sibuk menatap punggung Wisnu yang telah meninggal rumah mereka.
"A'ak, Yunhi. Kalian istirahatlah, aku akan membersihkan meja makan terlebih dahulu," ucap Aya yang langsung mengambil tindakan gerak tangan menata piring-piring kosong.
Yunhi dan Rey, menatap Aya dan menaruh curiga padanya. Tak ingin ada kesalahan, Rey mencoba untuk mendekati Aya. Sedangkan Yunhi memilih untuk mengambil posisi duduk sedikit menjauh.
"Aya,?" panggil Rey lirih.
"Ah, iya Ak?" jawab Aya menghentikan pekerjaannya.
"Ada apa? Katakanlah?" tanya Rey dengan lembut.
Mendengar pernyataan suaminya. Hati Aya terasa sangat sakit, ia tidak mengerti dan tidak tahu harus menjawab apa. Wisnu adalah sahabat Rey, dan wanita yang disukai Wisnu adalah dirinya. Apa pendapat Rey jika mengetahui jika istrinya saat ini adalah seorang wanita yang diinginkan sahabatnya.
"Tidak apa Ak," jawab Aya semakin mendalam tundukannya. Melihat istrinya seperti memendam luka yang begitu sangat dalam, Rey mencoba memberikan perhatian lebih. Rey memegang tangan Aya untuk pertama kalinya. Aya yang mendapatkan respon lebih dari suaminya sangat terkejut sampai reflek menghindar. Bukan karena menolak disentuh sang suami, namun memang Aya tidak pernah mendapatkan prilaku itu sehingga membuatnya canggung.
"Ah, maaf Ak. Bukannya aku menolak, tadi aku hanya sedikit terkejut," jawab Aya dengan gugup.
Dengan sikap cepat tanggap, Rey langsung memeluk Aya dengan sangat lembut.
Seketika jantung Aya berdekup tidak karuan, ia sangat gugup namun tidak dapat menolaknya. Sikap Rey benar-benar sangat diluar pikirannya.
"Ak, aku tidak papa," ucap Aya lirih namun dapat terdengar oleh Rey.
"Baiklah, jika kamu tidak ingin bercerita. Malam ini, demi menghargai kalian. Aku akan tidur sendiri lagi," ucap Rey yang masih memeluk istrinya pertama dengan sangat lembut. Rey mengira jika Aya sedih karena dirinya akan tidur bersama dengan Yunhi malam ini.
"Ak, jangan begitu. Kalian adalah suami istri yang sah saat ini. Insyaallah aku ikhlas dan ridho," ucap Aya.
Mendengar tuturan Aya yang ikhlas dan ridho membuat Rey teringat ucapan Wisnu. "Meskipun bibir wanita mengatakan dirinya ikhlas, namun tidak dengan hatinya"
"Ini bukan masalah kamu ikhlas atau tidak. Aku hanya ingin menghargai kalian," ucap Rey sembari menatap mata indah Aya dengan lekat.
Hati Aya merasa luluh dengan kalimat-kalimat yang telah dilontarkan oleh suaminya. Ia tidak pernah menyangka jika ternyata suami yang awalnya sama sekali tidak ia kenal, ternyata ia pria sangat pengertian terhadap dirinya.
Disisi lain, Yunhi menatap Rey dan Aya dengan tatapan tajam. Jika diperhatikan, kuku tajamnya telah menancap ketelapak tangannya sampai beberapa mili darah menetes. Namun, seperti mati rasa Yunhi tak menunjukan ekspresi kesakitan.
Yunhi yang baru menyadari jika tangannya berdarah, mencoba untuk mencari cara supaya dirinya mendapatkan alasan yang tepat untuk luka yang telah ia dapatkan.
Tiba-tiba senyum sumringah Yunhi pancarkan ketika dirinya melihat sebuah pisau dan beberapa buah diatas meja tamu.
"Aaahhkk !!"teriak Yunhi membuat Rey dan Aya yang saling memandang teralihkan dengan teriakan Yunhi.
Rey yang mendengar teriak Yunhi mengambil gerakan cepat untuk melihat apa yang telah terjadi.
Mata Rey dan Aya terbelalak melihat tangan Yunhi yang telah bersimbah darah.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Rey merasa sangat kawatir.
"Aku akan ambilkan perban," ucap Aya yang langsung berlari untuk mengambil kotak obat.
"Aku tadi sedang mengupas apel kak. Mungkin karena kurang berhati-hati apelnya meleset dan pisaunya mengenai tanganku," jawab Yunhi mencoba menunjukan rasa sakit yang amat sangat pedih.
"Ya ampun sayang, kok bisa sih-,,,?"
"Ini obatnya Ak," ucap Aya memberikan obat itu pada Rey.
"Aku obati dulu ya,?" tanya Rey.
"Iya kak," jawab Yunhi.
__ADS_1
Sembari mengobati lukanya, Yunhi mencoba untuk menggoda suaminya.
"Ehm, kak?" panggil Yunhi.
"Iya?"
"Emm, malam ini bagaimana jika tidur bersama-sama?" ucap Yunhi membuat Aya dan Rey menatapnya tidak percaya.
"Malam ini akan menjadi malam kita bertiga?" ucap Yunhi kembali dengan senyumnya.
"Emm, tidak Yunhi. Kalian malam ini bisa menghabiskan malam bersama. Aku tidak papa," ucap Aya merasa tidak enak.
"Sudah aku putuskan jika malam ini akan menjadi malam kita bertiga," tukas Yunhi dengan tegas.
"Baiklah, tapi kita hanya akan tidur bersama. Tidak lebih," jawab Rey.
"Memang apa yang akan terjadi?" tanya Yunhi menggoda Rey.
Mendengar ejekan istrinya membuat Rey merasa gemas dan mencubit hidung mancung Yunhi.
"Ah... kak, Sakit!" pekik Yunhi.
"Lain kali jaga ya ucapannya, atau-..."
"Atau apa hayo ,,," goda Yunhi kembali.
"Jika begitu, aku akan membersihkan kamarnya terlebih dahulu," sahut Aya.
"Dikamar utama ya, mbk," ucap Yunhi sembari memberikan senyum indahnya.
"Baiklah," jawab Aya sembari berjalan menuju kamar utama mereka. Aya tidak dapat menolaknya, karena itu adalah hak madunya juga.
Setelah Aya pergi. Rey langsung memeluk istrinya dengan erat.
"Tidak sayang. Hal seperti tidak ada apa-apanya bagiku," jawab Yunhi sembari melingkari tangannya ke leher suaminya.
"Kenapa kita tidak tidur sendiri saja. Bukankah Aya telah merelakan kita," ucap Rey mencoba membuat suasana menjadi hangat.
"Aku masih tidak enak kak. Lagi pula kapan lagi kita bisa tidur bersama-sama seperti ini. Aku juga hanya ingin membuat kesan baik kepada mbk Aya supaya dia benar-benar ikhlas kita menikah," jawab Yunhi terlihat sangat dewasa.
"Aku sungguh sangat beruntung karena memiliki kalian. Pertemuan antara aku dan kalian sangatlah singkat. Namu entah mengapa aku seperti sudah mengenal kalian dari satu abad yang lalu," tukas Rey sembari menatap Yunhi dengan intens.
"Ah, kakak gombal deh," ucap Yunhi yang memancarkan wajahnya yang memerah merona.
"Kamu terlihat sangat cantik dengan hijab ini. Sangat anggun," puji Rey.
"Tapi maaf ya kak. Untuk kedepannya sepertinya aku belum siap."
"Tidak papa, pelan-pelan saja dulu."
Aya yang sudah mengganti seprei berniat untuk memanggil suaminya dan Yunhi. Namun tidak diduga, ia malah sesuatu yang tak pantas dilihat.
"Ah, maaf. Saya tidak tahu," ucap Aya yang terkejut melihat kemesraan Rey dan Yunhi. Aya mencoba untuk berjalan mundur dan menjauhi Rey dan Yunhi untuk bersama.
Namun Yunhi yang merasa tidak enak langsung mengejar Aya.
"Mbk Aya, tunggu.!"
"Emm, mbk Aya maaf ya, kami tadi tidak ngapa-ngapain kok," jelas Yunhi.
__ADS_1
"Ada apa-apa juga tidak papa kok, Yunhi," jawab Aya terlihat sangat tabah.
Kini, didalam kamar Yunhi sudah menata susunan tempat tidur mereka. Sudah diputuskan jika Rey akan tidur di tengah-tengah mereka.
Walaupun ragu, Aya mencoba untuk menerimanya. Entah mengapa, Aya dengan reflek mengambil posisi membelakangi suaminya. Rey tidak mempermasalahkan sikap Aya, karena Rey sendiri sejujurnya sangat kurang nyaman dengan posisi ini.
Dia adalah pria matang, tidur bersama dengan kedua istrinya, namun ia tidak dapat menyentuh salah satunya. Rey, tidak mungkin menyentuh Aya tanpa izin dan restunya. Dia juga tidak dapat menyentuh Yunhi didepan istri pertamanya. Keadaan benar-benar membuat Rey terasa kacau.
Yunhi mengambil inisiatif untuk memeluk semuanya yang mengambil posisi terlentang terlentang.
Selang 1 jam. Dirasa Aya sudah tertidur, Yunhi mencoba untuk membangunkan suaminya.
"Sayang," bisik Yunhi. Rey yang sepenuhnya belum kehilangan sadar, membuka matanya dan melirik Yunhi yang sudah mengambil posisi menatap wajahnya.
"Ada, apa?" tanya Rey berbisik-bisik.
"Berdiri yuk?"
"Ngapain?"
"Apa perlu aku jelasin?" ucap Yunhi sembari memainkan jarinya di wajah suaminya. Melihat inisiatif istrinya tentu Rey merasa sangat senang.
"Ke kamar sebelah saja, ya?"
"Disini saja," bisik Yunhi dengan suara beratnya. Entah apa yang difikirkan Rey, ia akhirnya memutuskan untuk turun ranjang perlahan dan membopong Yunhi untuk pindah ke sofa yang ada dikamar mereka.
Suara cekikikan mereka terdengar jelas ditelinga Aya yang sebenarnya belum tertidur. Aya meremas kuat selimut yang membalut tubuhnya.
Bukan karena tidak rela. Hanya saja, mengapa mereka melakukan itu hal itu didepannya. Jika memang ingin melakukannya, mengapa tidak sedari awal tidur dikamar yang terpisah.
Suara indah yang Yunhi pancarkan adalah gemuruh di hati istri yang menyaksikan suaminya bercinta dengan istri lainya.
Rasa sakit menyelimuti setiap darah yang menjalar dalam tubuhnya.
"Bagaimana bisa mereka melakukan itu,?" batin Aya yang memilih untuk terus memejamkan matanya dan mengalirkan buih-buih air mata yang menjadi saksi, betapa sakitnya hatinya pada saat ini. Ingin sekali ia beranjak dan meninggalkannya kamar itu, tetapi serasa mati rasa, Aya pun tak memiliki keberanian.
Setelah beberapa menit, kini Rey Yunhi kembali keatas kasur bersama dengan Aya yang masih terjaga.
Rey memeluk Yunhi dan membelakangi Aya. Setelah dirasa Yunhi terlelap dengan nyenyak, Rey mencoba membalikan tubuhnya untuk memeluk Aya dan menenggelamkan kepalanya ke bahu Aya.
Tentu Aya yang masih setia dengan rasa sakitnya sangat terkejut dengan sikap suaminya yang tiba-tiba memeluknya dari belakang.
"Aku tahu kamu belum tidur, maafkan aku," bisik Rey dengan sangat lirih namun masih mampu Aya dengar.
Mendengar bisikan sang suami, kini hati Aya semakin sakit. Suaminya tahu jika dirinya masih terjaga, namun ia tetap melakukan hal itu. Aya tak dapat bergeming, ia masih terpaku, terdiam membisu. Sangat sulit baginya untuk mengeluarkan suara, meski hanya sekedar mengatakan "Iya" atau "tidak".
Disisi lain, terlihat wajah Yunhi mengembangkan senyum samar-samar dibalik mimpi indahnya.
...
...
...
...
Cerita ini hanyalah fiksi belakang. Tidak untuk menyingung siapapun dan agama apapun. (Bijaklah dalam berpendapat.)
Mohon maaf jika terdapat beberapa kata yang kurang berkenan. 🙏🙏
__ADS_1
..
Jangan lupa dukungnya dan menangkan hadiahnya 💓💓