IkhlasKu TetanggaKu MaduKu

IkhlasKu TetanggaKu MaduKu
Mawar Merah


__ADS_3

Pagi hari, seorang pelayan datang dengan membawakan baju yang layak untuk Rey dan Aya.


Pagi ini, Aya sudah menjadi dirinya yang menggunakan cadar.


Rey dan Aya turun dari tangga bersama. Wajah Rey selalu mengembangkan senyumnya yang tampan membuat Mama Salamah dan tuan Maher ikut merasa senang. Mama Salamah dan tuan Maher mengira jika rencana mereka berhasil. Namun nyatanya, Rey hari ini sedang berbunga-bunga karena dia telah berjanjian akan bertemu dengan Yunhi.


"Pagi sayang," sapa Mama Salamah.


"Assalamualaikum pagi mah, pah," jawab Aya.


"Ehm, mama jadi tidak sabar untuk mengendong cucu," sindir mama Salamah.


"Mah,,,,,," ucap Rey merajuk.


"Papah juga nak. Mumpung kami sehat dan kuat menggendong. Jadi segeralah berikan kami cucu," sahut Tuan Maher.


"Kami sedang dalam proses, mah, pah," jawab Rey.


"Bagus sekali jika begitu. Kabari mama papah jika kamu sudah positif ya, Aya?"


"Emm, iya mah," Jawab Aya dengan canggung.


"Rey, nanti siang kamu ikut dengan paman kamu. Paman kamu si Tri sudah menemukan petunjuk dimana anak dari orang yang telah tertembak itu berada."


"Dimana katanya anak itu berada pah?"


"Entahlah, belum jelas juga Paman kamu memberikan informasi kepada papah."


"Jika dilihat, dia seumuran dengan Rey ya pah," sahut mama Salamah.


"Iya mah, bisa jadi," jawab Tuan Maher.


"Apa dia sangat berbahaya?" tanya Aya yang ikut nimbrung.


"Sepertinya tidak nak. Katanya paman Tri, wanita itu sakit selama ini. Tetapi belum jelas sakit apa."


"Ya nanti biar jelas, Rey dan paman akan melihatnya," sahut Rey.


Semua akhirnya menikmati sarapan pagi dengan khusyuk. Hanya Aya yang sesekali melirik suaminya. Bukan karena kegenitan, tapi Aya merasa benar-benar tidak enak. Ada perasaan yang sepertinya, musuhnya sangatlah berbahaya.


..


"Mah, pah. Kami pamit dulu ya?" ucap Rey berpamitan.


"Loh, Aya kenapa gak di tinggal saja,?"


"Aya mau menemani Yunhi keluar, mah. Tidak enak jika menolaknya. Soalnya Yunhikan sudah membantu kita," sahut Rey.


"Owh begitu, ya sudah. Kalian hati-hati ya?"


"Iya mah, assalamualaikum," sahut Aya.


"Walaikum salam ..."


Dijalan. Rey terdiam membuat Aya merasa canggung. Sampai akhirnya, Rey menatap Aya.


"Aya ..?"


"Iya, ak?"


"Bisa kamu lepas cadarmu. Hanya didalam mobil saja. Kamu lebih cantik jika tidak menggunakan cadar," ucap Rey.


"Emm, iya Ak." Perlahan, Aya membuka cadarnya dan memperlihatkan wajah manisnya.


"Begini lebih enak dilihat. Oya, memang kenapa sih kamu harus pakai cadar. Memangnya wajib ya?" tanya Rey.


"Tidak juga sih kak. Yah, ada beberapa pendapat yang mengatakan wajib ada juga yang berpendapat tidak wajib. Hanya saja, terlepas dari wajib atau tidak. Aku lebih nyaman jika menggunakannya," jawab Aya.


Rey mengangguk mengerti. "Oya Aya, kita berhenti sebentar didepan sana ya?"


"Emm, iya Ak."


Rey ternyata berhenti disebuah toko bunga.


"Aya, kamu tunggu di mobil ya?"


"Iya, Ak."


..

__ADS_1


Rey memasuki toko bunga dan mencari bunga pesanan Yunhi. Yunhi memesan bunga mawar berwarna biru dengan buket yang cukup besar.


"Mbk, ada bunga mawar biru?" tanya Rey.


"Ada mas, Ini ..."


"Ada yang besar, mbk? Istri saya ingin buket mawar biru yang besar," ucap Rey.


"Yang besar tinggal buket mawar merah, mas. Kami sedang kehabisan stok untuk bunga mawar. Hanya tinggal satu buket mawar merah besar dan satu buket mawar biru sedang. Tapi jika mau bunga lain, ada banyak."


Rey berfikir. Selain ingin membelikan pesanan Yunhi. Rey juga ingin membelikan Aya. Jika Rey membeli bunga yang berbeda jenis, takutnya nanti malah terkesan tidak adil.


"Ya sudah mbk, aku ambil dua mawarnya."


"Baik, mas."


Akhirnya, Rey membawa satu buket mawar merah besar untuk Aya dan satu buket mawar biru untuk Yunhi.



(untuk Aya)



(untuk Yunhi)


Rey masuk kedalam mobil dan memberikan Buket mawar merah yang cukup besar untuk Aya.


"Aya, ini untuk kamu," ucap Rey sambil menyodorkan bunga itu.


Mata Aya berkaca-kaca ketika melihat buket yang cukup besar.


"Terima kasih ya, Ak? Tapi, apakah ini tidak terlalu besar. Yang itu untuk Yunhi?" tanya Aya heran, karena punya Yunhi cukup kecil dibandingkan dengan punyanya.


"Iya, ini untuk Yunhi. Dia ingin mawar biru, dan stok mawar biru hanya tinggal ini saja. Semua mawar sedang kosong. Tinggal yang kamu pegang sama dengan yang ini," jawab Rey.


Aya mengagguk mengerti. Walaupun Aya sedikit merasa kecewa dengan suaminyab karena hal semalam. Namun, hari ini Rey telah mengobati lukanya dengan memberikannya bunga yang cukup besar.


..


Mobil Rey memasuki gerbang utama kediaman Yunhi.


Disisi lain, Yunhi yang sedang menunggu kedatangan Rey. Di buat panas ketika melihat keromantisan Aya dan Rey.


.


"Aya, sini aku bantu pegang bunganya dulu," ucap Rey melihat Aya yang kesulitan turun karena bunga yang cukup besar.


"Terima kasih, Ak."


Melihat buket bunga besar yang Rey pegang. Yunhi langsung berlari dan merebut bunga itu dari tangan Rey. Membuat Rey sangat terkejut dengan kedatangan Yunhi yang tiba-tiba.


"Waw, bunganya cantik sekali sayaaang... Terima kasih banyak ya?" ucap Yunhi langsung memeluk Rey.


Rey ingin mencoba menjelaskan.


"Sayang, itu punya Aya. Punya kamu masih didalam mobil. Bukannya kamu pesan mawar biru?" ucap Rey mencoba mengambil bunga itu dari tangan Yunhi.


"Yang biru buat mbk Aya saja sayang. Aku lebih suka yang ini. Warna yang sangat cantik," ucap Yunhi sembari menggandeng tangan Rey untuk masuk kedalam.


"Emm, Aya. Kamu tidak papakan tukeran bunganya. Yang biru juga cantik kok," ucap Rey tanpa merasa berdosa.


"Iya, Ak. Tidak papa," jawab Aya sembari menggigit bibir bawahnya dibalik cadar. Aya mencoba untuk menahan dirinya.


"Terima kasih ya mbk, Aya. Mbk Aya baik Banget deh," ucap Yunhi dengan senyum manisnya.


"Iya Yunhi, tidak papa."


Aya mengambil sendiri bunga yang masih berada didalam mobil. Sedangkan Rey dan Yunhi sudah masuk kedalam dan melupakan Aya.


Aya hanya bisa menghela nafas berat dan memasuki rumah madunya yang sangat mengerikan baginya.


..


Rey dan Yunhi memilih untuk duduk dibelakang sembari menatap kolam renang yang jernih.


"Sayang, terima kasih banyak ya. Karena kamu telah memberikan aku bunga, aku janji tidak akan marah lagi denganmu," ucap Yunhi yang terus menempel di bahu Rey.


"Apakah kamu benar-benar marah? Bukankah kamu tidak hadir karena paman kamu berkunjung kemarin?" tanya Rey mengintimidasi.

__ADS_1


"Haha, pasti mbk Aya ya yang memberi tahu kakak. Hemm, lagian mana bisa sih aku marah sama kakak. Apalagi cemburu dengan wanita itu, dia bukan level aku," ujar Yunhi.


Mendengar tuturan istrinya benar-benar membuat Rey sangat gemas, sampai akhirnya dia mencubit hidung Yunhi.


"Iiihh, kamu ini nakal ya. Seharian aku memikirkan kamu, tapi kamu malah mengerjai aku."


"Aaw, haha.. maaf sayang. Yah, sesekali Kaka juga harus diberi peringatan. Supaya kedepannya tidak kegenitan lagi."


"Hemm," jawab Rey singkat sambil menyeret Yunhi supaya duduk dipangkuannya.


Disisi lain, Aya yang ingin menyusul Yunhi dan Rey tertahan ketika melihat suami dan madunya saling bergurau.


Aya mengurungkan niatnya dan memilih untuk membuat jus segar untuk dirinya sendiri.


Ketika Aya ingin membuat jus. Terdengar suara langkah kaki mengarah kearahnya.


"Eh, mbk Aya. Mbk Aya sedang apa?" tanya Yunhi ramah.


"Em, Yunhi. Aku sedang membuat jus. Maaf ya, telah lancang memasuki dapur kamu," ucap Aya merasa tidak enak.


Yunhi tersenyum." Tidak papa mbk. Anggap saja rumah sendiri. Oya, sekalian buatkan untuk aku dan kak Rey, ya?"


Aya sedikit berfikir. " Baiklah, akan aku buatkan," jawab Aya ramah.


Yunhi tersenyum dan pergi meninggalkan Aya sendiri. Aya hanya bisa menghela nafas berat.


Disaat sedang membuat jus. Aya seperti mendengar sesuatu dari ruangan lain. Suara itu terdengar seperti seseorang yang sedang bertengkar di handphone.


Aya mencoba untuk melihat. Rasa penasaran menyelimuti hatinya.


Sampai akhirnya, kaki Aya terhenti didepan kamar Bibik Gia.


"Kenapa anda hanya mengganti nama Kiana. Kenapa usianya tidak diganti juga!! Hari ini dia akan pergi bersama dengan madunya. Aku harus bagaimana!!?" Suara Bibik Gia terdengar sangat takut. Bagaimana tidak, jika Yunhi tahu jika semua tidak beres. Maka nyawanya lah yang menjadi taruhannya.


Setelah mendengarkan ucapan Bibik Gia. Aya yang merasa sudah lancang langsung pergi meninggalkan kamar Bibik Gia.


Aya berniat ingin sesantai mungkin dan membawa nampan yang berisi tiga gelas jus ditangannya.


Namun, ketika Aya melihat Yunhi. Entah mengapa dia serasa telah melihat hantu yang sedang menyamar. Aya berjalan menghampiri Rey dan Yunhi yang sedang duduk bersantai dengan nikmat.


Sampai akhirnya, Rey dan Yunhi menatap aneh kearah Aya.


"Mbk Aya. Kamu kenapa?" tanya Yunhi yang melihat Aya terlihat aneh.


"Aya, hey .. kamu kenapa?" tanya Rey yang juga penasaran.


Rey mencoba untuk menghampiri Aya yang terlihat bergetar.


"Hey !!" Rey menepuk pundak Aya.


"Astaghfirullah !! Ah, maaf Ak. Emm sepertinya aku sedang tidak enak badan. Aku pulang duluan ya. Aku jalan saja tidak papa," jawab Aya yang terkejut.


"Apa aku perlu panggilkan dokter?" tanya Rey yang terlihat cemas jua.


"Emm, tidak usah Ak. Yunhi, maaf ya kayaknya aku tidak bisa menemani kamu hari ini," ucap Aya.


"Ah iya tidak papa, mbk. Mbk Aya istirahat saja," jawab Yunhi dengan senyumnya.


"A'ak,,, aku pulang dulu ya. Assalamualaikum.."


"Walaikum salam..."


Tanpa ragu, Aya langsung pergi meninggalkan rumah Yunhi. Ketika akan keluar, Aya dikejutkan dengan bibik Gia yang tiba-tiba muncul didepannya.


"Astaghfirullah !! Ya Allah teh. Sampean membuat aku kaget saja," ucap Aya sangat terkejut, karena Bibik Gia tiba-tiba muncul dari balik pintu utama.


"Mbk Aya Kenapa. Saya mau masuk kerumah, saya habis membeli rujak ini buat kalian," ucap Bibik Gia.


Kali ini, Aya benar-benar tidak dapat berfikir dengan jernih. Barusan dia mendengar jika Bibik Gia sedang telponan didalam kamarnya. Namun sekarang, tiba-tiba Bibik Gia muncul didepan rumah dengan membawa beberapa bungkus rujak.


"Ah, tidak usah teh. Itu buat yang lain saja. Saya sedang tidak enak badan. Emm saya mau pamit dulu ya, Teh?" ucap Aya.


"Oh, iya mbk."


Dengan buru-buru, Aya pergi meninggalkan rumah Yunhi. Didepan gerbang, Yunhi melihat seorang driver. Akhirnya, Aya dapat bernafas lega. Mungkin saja, driver itu yang telah membawa rujak itu.


Aya menghela nafas lega..


"Astaghfirullah, ampuni hamba yang telah berburuk sangka. Astaghfirullah halazim, apa yang terjadi denganku," gumam Aya dengan buru-buru masuk kedalam rumahnya.

__ADS_1


__ADS_2