
Siang itu mama Salamah berkunjung. Vino dengan tidak sabar ingin bermain dengan Hani dan kucing baru mereka.
"Assalamualaikum..." sapa Mama Salamah.
"Walaikum salam mah, masuk," jawab Aya antusias.
"Umi, dimana Hani?" tanya Vino.
"Ada dikamar sama Abi, sayang. Sana Vino masuk saja temani Abi," jawab Aya.
"Iya, umi."
Mama Salamah menghampiri Aya yang sedang menyiapkan cemilan.
"Aya?"
"Iya, mah?"
"Bagaimana dengan keadaan, Wisnu?"
"Alhamdulillah, mah. Kata dokter sudah membaik. A'ak juga sudah terlihat tidak menahan sakit lagi," jawab Aya dengan yakin bahwa suaminya sudah baik-baik saja.
Mama Salamah yang melihat penuh harapan dimata Aya tidak berani untuk lanjut membahas tentang Wisnu.
"Alhamdulillah, syukurlah jika begitu. Oya, ini kamu buat apa?"
"Buat bolu gulung mah. Anak-anak suka banget," jawab Aya.
"Rasa apa itu selainya?"
"Nanas sama setrowberi, mah. A'ak Rey katanya mau juga. Diakan suka yang nanas," jawab Aya.
Mama Salamah tersenyum. Sungguh dia sangat senang melihat kedamaian ini. Meski mama Salamah sedih karena Rey masih belum bisa move on dari Aya. Tetapi dengan sikap Aya yang dapat menerima kehadiran Rey diantara mereka, membuat Mama Salamah dapat bernafas lega. Meski mama Salamah tahu jika Aya hanya menganggap Rey sebagai kakaknya saja.
....
Vino yang melihat Hani sedang memijat Abi-nya langsung terdiam ketika Hani memberi kode supaya jangan berisik karena Wisnu sedang tertidur.
Hani menyelimuti abi-nya dengan perlahan supaya Wisnu tidak terganggu. Lalu, dengan hati-hati Hani turun dari kasur.
"Ayo, kita keluar," bisik Hani. Vino hanya mengangguk dan mengikuti Hani.
Di ruang TV Mama Salamah dan Aya sudah menunggu Hani dan Vino.
"Umi, Hani mau kuenya?"
"Vino juga, umi!?"
"Ia sayang, ini umi buatkan untuk kalian. Bagaimana dengan Abi?" tanya Aya.
"Setelah Hani pijat, Abi langsung tidur umi," jawab Hani sambil memakan Kue ditangannya.
"Emm, begitu. Biarkan Abi istirahat dulu ya.
Hani dan vino jika ingin bermain jangan teriak-teriak," ucap Mama Salamah.
"Iya, nek!"
"Oya umi. Kata Abi, abi akan jadi bintang," ucap Hani membicarakan obrolannya dengan Wisnu.
Aya yang sedang memakan potongan kue langsung terdiam dan mengunyah makanannya dengan sangat susah. Bahkan, untuk menelannya pun rasanya ia tak sanggup.
Mama Salamah yang melihat eskpresi Aya tidak setabil mencoba untuk mencairkan suasana.
"Em, Hani. Orang tua memang bintang untuk anak-anaknya. Maksudnya Abi adalah begitu," ucap Mama Salamah.
__ADS_1
"Em, begitu ya nek?"
"Iya sayang."
Vino yang mengerti arah pembicaraan mereka langsung mencoba untuk mengajak Hani bermain di kamarnya.
"Hani, kita main dikamar kamu saja yuk!" ajak Vino.
"Ayok, kak!" jawab Hani antusias.
Mama Salamah mengedipkan matanya kepada Vino dan tersenyum. Vino pun membalasnya dengan senyum manisnya.
Aya mengambil segelas air dan meminumnya dengan gemetar.
"Aya, yang sabar ya nak. Semua ini adalah ujian dari Allah. Kita berdoa sebanyak mungkin supaya Wisnu segera di angkat penyakitnya. Tidak ada yang tidak mungkin sayang," ucap Mama Salamah mencoba untuk menenangkan Aya.
"Hiks..hiks.. aku selalu meyakinkan dan menguatkan diriku sendiri, mah. Tapi, kenapa a'ak Wisnu tidak mau berusaha untuk bangkit dan sembuh," ucap Aya merasa putus asa.
"Sayang, Wisnu sudah melakukan kemoterapi beberapa kali. Semua sudah kita coba selama dua tahun terkahir ini. Nyatanya, tidak ada kemajuan yang signifikan sayang. Semua ini adalah kehendak Allah. Coba kamu buat dia lebih tenang, ajak dia jalan-jalan supaya pikirannya lebih fresh. Jangan malah kamu suruh dia beristirahat terus didalam kamar. Mama tahu kamu khawatir dia kenapa-kenapa, tetapi dengan kamu mengurung dia didalam kamar, maka dia tidak dapat berfikir luas untuk bangkit dari penyakitnya,!"
Aya hanya menundukkan kepalanya. Ia merenungi apa yang mama Salamah ucapkan. Memang Aya tidak mengizinkan Wisnu untuk keluar dari apartemen. Sungguh, Aya sangat takut jika Wisnu kenapa-kenapa.
"Iya mah. Aya akan coba menemui a'ak dulu," ucap Aya.
Aya membuka pintu kamarnya. Terlihat sang suami yang tergeletak tak berdaya. Aya masih diam memaku. Terlihat Wisnu bergerak, nampak dia menahan sakit di kepalanya. Suaranya tertahan dengan tangan yang mencengkram kepalanya dengan sangat kuat. Namun, ketika Wisnu sadar ada Aya disana, di tersenyum tak menunjukan ekspresi sakitnya.
Melihat itu, hati Aya merasa sangat sakit. Jadi, selama ini, inilah yang disembunyikan Wisnu darinya. Sudah beberapa bulan terakhir Wisnu tak pernah lagi menunjukkan rasa sakitnya. Aya mengira, itu adalah sebuah kemajuan meski tubuhnya selalu menurun. Aya mengira, bahwa Wisnu memanglah akan segera sembuh. Nyatanya, dibelakang diam-diam Wisnu menahannya seorang diri.
"A'ak, hiks...hiks..." Aya berlari dan memeluk suaminya.
"Ak, kenapa a'ak diam saja. Kenapa a'ak tidak mengatakan jika a'ak masih sering merasakan sakit!?"
Wisnu dengan lemas mencoba untuk membalas pelukan sang istri. Wisnu tersenyum dan seolah-olah tidak terjadi apa-apa dengannya.
"Abi tidak papa, sayang. Kenapa kamu menangis?"
Wisnu meraih tangan Istrinya dan memeluknya hangat. Wisnu hanya bisa menjawabnya dengan senyumannya.
"Umi, ingat pesan Abi, jadilah ibu yang baik untuk Hani dan Vino. Ajarkan mereka bagaimana mengenal Allah. maafkan Abi jika suatu saat Abi tidak dapat menemani umi membimbing mereka. Abi sangat yakin, umi dan Rey pasti dapat membimbing Hani dan Vino menjadi anak yang Soleh dan Solehah."
"Hiks..hiks.." mendengar itu, Aya hanya bisa menangis di pelukan sang suami. Aya memukul ringan dada Wisnu. Sungguh Aya sangat kesal dengan apa yang sudah Wisnu ucapkan. Namun, entah mengapa Aya tidak dapat mengelak nya kali ini.
"Umi, Abi ingin jalan-jalan," ucap Wisnu tiba-tiba.
Aya mengelap air matanya dan menatap tajam kearah suaminya.
"Jalan-jalan kemana, Abi? Abi-kan belum sembuh benar," ucap Aya merasa tak setuju.
"Em, bagaimana dengan piknik? Terakhir kita piknik dua tahun yang lalu, kini Abi sangat rindu. Abi ingin mengajak semuanya, termasuk Abah dan ibu," ucap Wisnu.
"Hmm, Abi ingin kumpul keluarga?" tanya Aya.
"Ya bisa dibilang seperti itu," ucap Wisnu.
"Tapi apa Abi yakin, Abi bisa melakukan perjalanan jauh?" tanya Aya.
"Abi sudah tidak papa, sungguh! Tadi itu hanya sakit kepala karena abi merasa bosan didalam kamar saja," ucap Wisnu.
Aya terlihat berfikir, lalu berkata," Umi akan bicara dulu dengan a'ak Rey boleh atau tidak," ucap Aya.
Wisnu hanya tersenyum. Wisnu merasa sangat senang melihat kedekatan Aya dan Rey. Meski Aya sudah mengaggap Rey sebagai kakak, tetap saja bagi Wisnu itu adalah sebuah peluang. Dengan begini, Wisnu tak perlu menjodohkan mereka. Wisnu sangat yakin, dengan ketulusan cinta Rey untuk Aya. Maka takdir akan dapat menjodohkan mereka kembali.
Meski hatinya sangat sakit semua takdir ini, tetapi Wisnu ikhlas dan Rhido jika Aya dan Rey berjodoh dan menikah. Sungguh, jika tidak memikirkan perasaan Aya, maka Wisnu akan menikahkan Aya dan Rey saat ini juga. Tetapi Wisnu tak ingin buru-buru, dia hanya berdoa semoga apa yang diinginkannya terkabulkan. Istri dan sahabatnya menikah kembali.
.....
__ADS_1
Disisi lain. Axelin yang memiliki pengalaman bekerja di luar negri tidak memiliki masalah dihari pertama berkerja nya meski Sekertaris Lucita selalu saja memberinya tugas-tugas yang bahkan bukan bagian dari pekerjanya.
Axelin tersenyum sinis kepada tumpukan kertas yang ada didepannya.
"Cih, dia sepertinya meremehkan kemampuan ku!" umpat Axelin kesal.
Ketika sedang sibuk mengolahragakan jari-jarinya di komputer, handphone Axelin berbunyi menunjukan notifikasi.
Ting!" satu pesan.
"Selamat siang, nona?" Isi pesan misterius.
Tidak ada nama, tidak ada foto, tidak ada identitas membuat Axelin merasa risih dengan pesan misterius itu. Ketika akan memblokir nomor itu, tiba-tiba nomor itu menelvon.
Awalnya Axelin sedikit ragu, namun dia sangat penasaran.
"Halo!" jawab Axelin dengan cetus.
"Apakah saya menganggu?" tanya Qodir.
Axelin mengerutkan keningnya. Dia masih belum paham siapa pemilik suara halus dan lembut seperti sutra. Terdengar sangat alami dan tak dibuat-buat.
"Maaf, anda siapa ya?" tanya Axelin.
"Ah, maaf lupa memberi tahu anda. Saya adalah Qodir," jawabnya.
Axelin menganga tidak percaya.
Ya tuhan, pria itu? Bagaimana dia bisa mendapatkan nomorku? Ah, pasti dari kak Rey! Kenapa dia menelvon aku ya. Apakah dia mau menagih uang sepatu ini?" batin Axelin merasa tidak karuan.
"Ah, Hay tuan. Maaf saya tidak mengenali suara anda, karena sangat berbeda asli dengan ditelpon," jawab Axelin gugup.
"Tidak papa, nona. Oya, sudah makan siang?" tanya Qodir.
"Em, belum Tuan. Mungkin, setelah menyelesaikan tugas ini baru saya akan beristirahat," jawab Axelin yang merasa kesal dengan dirinya sendiri yang sudah dikerjai oleh sekretaris Lucita.
Bagaimana tidak, disaat jam istirahat dia malah memberinya tugas yang sangat banyak dan harus di setor setelah jam istirahat. Jika Axelin menolak, pasti Lucita akan mengeluarkan jurusnya." Katanya anak yang berpotensi dan handal sehingga direkomendasikan oleh CEO!" Kata-kata itu mampu membuat Axelin tak berkutik.
"Saya dan Tuan Rey akan pergi makan siang disebuah restoran xxx. Saya harap nona mau makan siang bersama dengan Kami?"
Apa, ada kak Rey juga!" batin Axelin merasa senang.
"Ah, iya Tuan. Saya akan langsung otw kesana. Tunggu aku ya!?" jawab Axelin dengan semangat.
Setelah menutup telponnya, Axelin langsung bergegas. Ketika akan keluar, entah darimana datangnya Sekertaris Lucita.
"Hay, kamu mau kemana!" tegurnya.
"Em, saya mau makan siang dulu, kak!" jawab Axelin.
"Memang tugasnya sudah selesai?"
"Nanti setelah makan siang akan saya lanjutkan lagi, kak!"
"Tidak! Saya mau berkas itu selesai saat ini juga. Saya tunggu di ruangan saya!"
Axelin benar-benar kesal dengan sikap Lucita yang sesuka hati memerintah. Meski hal seperti ini sudah sering ia rasakan dulu, tetapi tidak separah ini sampai jam istirahat saja tidak boleh beristirahat.
"Saya diperintahkan oleh tuan Rey untuk segera menghampirinya di restoran xxxx, jika kakak tidak percaya, ayok ikut dengan saya," ucap Axelin dengan bangga membawa nama Rey. Axelin tahu, dengan membawa nama Rey pasti Lucita tidak dapat berkutik.
"Huh, ya sudah sana. Tapi awas kalo tugas itu tidak selesai hari ini juga!" ancam sekertaris Lucita.
"Kak, lagian itukan bukan tugas saya! Itu adalah tugas bagian tim A!" protes Axelin.
"Oh, jadi kamu mengeluh ya. Katanya, kamu adalah anak berpotensi yang handal dan dapat di diandalkan. Tapi, ini kok belum apa-apa sudah mengeluh!" ucap Lucita mengeluarkan jurusnya.
__ADS_1
Axelin yang kesal menghentakkan kakinya dengan kasar lalu pergi meninggalkan wanita itu. Lucita hanya bisa tersenyum puas.
"Cih, bagaimana kak Rey dapat memperkerjakan wanita seperti itu! Vino, pilihan pertama kamu sudah tepat ketika kamu meminta Daddy kamu memecat wanita itu! Tapi kenapa kamu malah memintanya kembali. Ah, tunggu! Apakah ini sudah diramalkan oleh Vino? Apakah vino dapat meramal juga. Apakah dia tahu jika kembali ke negara ini, aku akan berkerja di perusahaan daddy-nya. Dia sengaja menyuruh daddy-nya untuk memperkerjakan wanita itu supaya menjadi benalu di antara hubungan aku dan kak Rey. Heh, vino! Kamu salah jika memang semua ini adalah rencana kamu! Aku tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkan kak Rey! Dan kamu Vino, aku pasti akan menjadi ibu sambung kamu. Wkwkwkwkk!" didalam lift Axelin bergumam dan terkekeh sendiri membayangkan bagaimana jika dia dapat mengalahkan Vino.