IkhlasKu TetanggaKu MaduKu

IkhlasKu TetanggaKu MaduKu
EXTRA PART. HAPPY


__ADS_3

EXTRA PART REY DAN AYA. HAPPY ENDING.


Senyum sepasang suami istri terpampang jelas dengan kagum melihat putra putri mereka melakukan pertunjukan yang luar biasa.


Vino dengan gayanya yang sedikit arogan memainkan piano dengan sangat baik. Sedangkan Hani menyanyi dengan suara emasnya.


Perpaduan yang sangat pas untuk kakak beradik diatas panggung yang di hias khas anak-anak.


Prok..PrOK... PrOK... Suara tepuk tangan memeriahkan aula sekolah setelah kedua anak itu menyelesaikan pertunjukannya.


"Daddy, Umi, forever we will love you. You are our best parents. we love you, forever.!"


(Daddy, umi selamanya kami akan mencintai kalian. Kalian adalah orang tua terbaik kami. kami mencintai kalian, selamanya.!)" ucap Vino sambil melambaikan tangan kepada Rey dan Aya.


Aya hanya bisa menangis haru melihat keromantisan kedua anak-anaknya yang sudah dia besarkan. Aya tidak menyangka, jika vino sangat mencintai dirinya meski dia tahu jika dirinya bukanlah ibu kandungnya.


...


Setelah acara selesai, kini mereka menaiki mobil mengarah ke kampung halaman.


"Umi, kita mau kemana?" tanya Hani.


"Kita akan berziarah ketempat Abi, sayang," jawab Aya.


"Asyik! Hani akan mengatakan kepada Abi jika hari ini Hani dan kak Vino telah tampil diatas panggung," jawab Hani antusias.


Disisi lain, vino hanya diam membisu membuat Aya mengerutkan keningnya.


"Kak Vino! Kak vino kenapa? Kok manyun begitu?" tanya Aya.


"Tidak apa, Umi. Vino hanya berfikir jika selama ini vino tidak pernah datang ke makam mommy! Dimana makam mommy? Mengapa kita tidak pernah menjenguknya?" tanya Vino.


Rey dan Aya saling melirik. Mereka tidak tahu harus berkata apa karena sejatinya makam Yunhi berada sangat jauh. Bahkan mereka juga tidak tahu pasti dimana letaknya.


"Em, sayang. Mommy tidak dikubur disini. Dia dikubur ditempat negara lain," jawab Rey.


"Bukankah kita bisa, Dad!?" tanya Vino.


"Emm... Daddy akan usahakan," jawab Rey tersenyum.


Melihat senyum Rey, Vino pun akhirnya kembali bersemangat dan ceria lagi.


Akhirnya setelah beberapa jam mereka sampai ke makam Wisnu.


Vino dan Hani dengan tidak sabarnya langsung berlari sambil mencangking bunga ditangan mereka.


"Pelan-pelan sayang!" teriak Aya memperingati anak-anak supaya tidak menginjak makam lainnya.


"Iya Umi...!" sahut anak-anak.

__ADS_1


Rey dan Aya berjalan santai sambil bergandengan menatap anak-anak mereka yang sangat bersemangat untuk berziarah ke makam Wisnu.


"Mereka sangat bersemangat," ucap Rey melepas kecanggungan.


"Iya l, Ak! Hani dan vino juga pasti sangat merindukan Abi mereka," sahut Aya.


"Kamu juga?" tanya Rey.


"Kita semua, Ak! Kita semua sangat merindukan a'ak Wisnu," jawab Aya yang mencoba untuk tidak terprovokasi dengan ucapan Rey.


"Kamu benar. Hmm, semoga dia tenang di alam sana," ucap Rey.


"Amiin. Aku sangat yakin jika A'ak Wisnu, Abi, dan umi sudah tenang di alam sana."


Hani dan vino dengan semangat mengadu pada nisan Wisnu bagaimana telah melakukan pertunjukan yang sangat sempurna.


"Abi, assalamualaikum. Abi, apa Abi tahu! Aku dan kakak vino tadi habis melakukan pertunjukan. Jika Abi melihat kami, Abi pasti bangga dengan kami," ucap Hani dengan antusias.


"Abi, apa Abi tidur dengan nyenyak disana? Abi, vino janji akan menjaga Hani dengan sangat baik. Abi, ini hanya Abi yang tahu. Kemarin, vino telah memberi pelajaran kepada anak-anak yang nakal kepada Hani. Meski Hani tidak mengadu kepada kami, tetapi vino tahu jika Hani sudah di nakali oleh anak-anak jahat itu!" batin Vino yang mengadu kepada nisan Wisnu.


"Kak vino, kenapa kamu tidak mengatakan apa-apa kepada Abi?" tanya Hani.


"Sudah!" jawab Vino singkat.


"Tetapi aku tidak mendengarnya."


"Emangnya jika kita bicara langsung, itu tidak sampai?"


"Sampai kok Hani!"


"Sampai ketempat Abi?"


"Sampai ketelinga aku. Hehee..!"


"Kak vino nakal!" ucap Hani kesal.


"Ada apa ini?" tanya Rey yang baru sampai menyusul.


"Daddy! Kak vino nakal," ucap Hani mengadu sambil memeluk Rey.


"Hani, tidak boleh selalu mengadu seperti itu. Memang kak vino kenapa?" tanya Aya.


Hani menunduk.


"Tidak papa, umi!" jawab Hani tertunduk.


"Ini salah Vino, umi! Vino yang selalu meledek Hani duluan," sahut Vino mencoba membela Hani.


"Vino, lain kali jangan begitu dengan adiknya!" ujar Rey menegur.

__ADS_1


"Iya, Daddy!" sahut Vino.


"Daddy, Umi! Sebenarnya ini salah Hani. Hani yang baperan. Sebenarnya tidak ada apa-apa. Kak vino hanya bercanda saja," ucap Hani.


Semua orang tersenyum mendengar pengakuan Hani yang menggemaskan. Anak kecil selalu bertingkah menggemaskan jika kita menanggapinya dengan lembut dan sabar.


"Sudah-sudah tidak papa. Tapi lain kali jangan begitu lagi ya. Tidak boleh mengadu dengan hal-hal kecil yang nantinya akan menimbulkan kesalah pahamanan dan malah akan menjadi masalah yang besar . Apa Hani mengerti?" tanya Aya.


"Iya, Umi. Hani mengerti!"


"Em.. Apa kalian sudah ngobrol dengan, Abi?" tanya Rey.


"Sudah Daddy!" sahut dua anak.


"Baiklah, sekarang kalian lihat kearah sana!" ucap Rey menunjuk seseorang.


"Kakek! Itu kakek Daddy!" ucap Hani antusias.


"Iya, ternyata kakek kalian juga habis dari sini. Daddy sudah menemuinya dan menyapanya. Sekarang kalian ikutlah dengan kakek untuk berkunjung kerumahnya. Nanti Daddy dan umi akan menyusul," ucap Rey.


"Baik, Daddy!" sahut anak-anak yang langsung berlari kearah kakek mereka yang sudah menunggu di parkiran.


Rey dan Aya hanya tersenyum melihat anak-anak mereka.


Kini, Rey dan Aya saling mengatur nafas untuk menghadap nisan Wisnu. Entah mengapa, meski hanya sebuah nisan tetapi mereka seperti merasakan sedang berhadapan dengan Wisnu secara langsung.


Aya yang tak tahan hanya bisa menetaskan air mata. Mereka berbicara lewat hati mereka masing-masing untuk menciptakan suasana yang tenang.


"A'ak. Aku datang ingin meminta restumu untuk menjalani ibadah bersama dengan A'ak Rey. Aku sudah menepati keinginan mu dan mengikuti jalan takdir. Tetapi satu yang aku minta, restuilah aku supaya dapat tenang menjalankan ibadah ini. A'ak, selamanya kamu akan selalu ada dalam doaku. Maafkan aku yang jika semasa hidupmu aku banyak salah kepada A'ak. Aku akan selalu mencintai a'ak dalam hati." Aya dengan khusyuk mencoba untuk berkomunikasi dengan almarhum Wisnu.


"Bro! Gua datang ingin meminta izin dan juga meminta restu. Gua akan menjalankan semua amanah dari loe untuk menjaga Aya dan anak-anak. Gua kesini untuk meminta restu lo supaya gua dapat menjalankan tanggung jawab ini dengan tenang. Gua janji, kali ini gua akan menjaga Aya dengan nyawa gua sendiri. Loe bisa merasuki jika sampai gua berbuat jahat lagi kepada Aya!" batin Rey berbicara dengan Wisnu.


Setelah sama-sama berdoa untuk Wisnu. Akhirnya mereka memutuskan untuk pergi. Kini, hati Aya seolah-olah terjawab karena ia bisa merasakan ketenangan dalam hatinya.


Ketika akan pergi, Rey sempat melihat kebelakang. Entah bayangan atau halusinasi, Rey melihat Wisnu yang berdiri diatas makamnya dan tersenyum kepadanya lalu menghilang.


"Ak! Kamu lihat apa?" tegur Aya yang melihat Rey terdiam.


"Ah, tidak papa Aya. Ayok kita menjemput anak-anak," jawab Rey tersenyum.


Akhirnya, Aya dan Rey dapat bernafas lega untuk menjalankan rumah tangga mereka dengan tenang.


Sambil berjalan Aya memegang lengan Rey dan meletakan kepalanya di bahu Rey. Mereka berjalan menjauh dari makam Wisnu.


Nampak Wisnu pun tersenyum melihat orang-orang yang dicintainya hidup dengan sangat bahagia.


Tidak hanya Wisnu. Bahkan kita juga diperlihatkan dengan kedatangan Abah dan juga ibunya Aya. Mereka bertiga saling merangkul tersenyum bahagia melihat kebahagiaan yang kini sedang Aya rasakan.


End....

__ADS_1


__ADS_2