IkhlasKu TetanggaKu MaduKu

IkhlasKu TetanggaKu MaduKu
Milikku 5


__ADS_3

Suster mulai melepaskan semua alat yang menyatu pada tubuh Wisnu.


Hani dan vino mendekati wajah Wisnu yang nampak berseri-seri. Mereka mencium Abi mereka untuk yang terakhir kalinya.


Hani sebenarnya ingin sekali menangis. Tetapi dia selalu mengingat ucapan Wisnu.


"Hani sayang. Jika suatu saat Abi akan menjadi bintang. Hani tidak boleh menangis. Karena, jika Hani menangis, Abi juga akan sedih dan tidak menjadi bintang terang di langit"


Kata-kata Wisnu sangat membekas dalam pikiran Hani. Demi dapat melihat abinya yang berubah menjadi bintang. Hani menahan kepiluan yang ia rasakan.


Ketika sedang dalam keadaan duka. Tiba-tiba Mora datang. Mora ternganga tidak percaya melihat apa yang dia lihat.


Wisnu terbujur kaku tak bernyawa.


"Wisnu...!!" teriak Mora membuat semua orang menoleh kearahnya.


Mora tak perduli dengan tatapan orang-orang kepadanya. Mora berlari kearah Wisnu dan menatapnya tidak percaya.


Air mata mengalir begitu saja.


"Wisnu, bangunlah. Aku disini! Bangunlah wisnu. Hiks...hiks...!" Mora mencoba untuk mengguncangkan tubuhnya Wisnu. Tetapi Wisnu sudah tak merespon.


"WISNUUU .... Huaaaa aaaaa aaaa..hikss..hiks...!" Mora Histeris dan memeluk Wisnu dengan sangat erat.


Namun tiba-tiba Aya menarik Mora dengan sangat kuat.


PLAK!


Aya menampar Mora dengan sangat kuat.


"Jangan sentuh suamiku! Meski dia sudah tak bernyawa, tetapi aku tidak Rhido kamu menyentuhnya!" ucap Aya yang terlihat sudah habis kesabaran kepada Mora. Meski air mata terus mengalir dan tubuh bergetar, kini Aya tidak ingin tinggal diam.


PLAK !

__ADS_1


Mora kini gantian menampar Aya.


"Mora!" teriak Rey. Namun tak didengar oleh Mora.


"Apa kamu masih tidak sadar! Dia seperti semua gara-gara kamu! Apa kamu ingat bagaimana dia celaka! Apa kamu lupa bagaimana dia koma sampai beberapa bulan! Semua adalah ulah kamu! Gara-gara kamu! Andai waktu itu kamu tidak pergi dan mau mendengarkan penjelasan aku dan Wisnu, maka semua ini tidak akan terjadi! Aku memang salah! Tetapi bukankah aku sudah menjelaskan dan meminta maaf! Sekarang, jika sudah seperti ini. Aku, maupun kamu tidak ada yang dapat memiliki Wisnu! SEMUA KARENA KAMU!" teriak Mora sambil mengguncangkan tubuh Aya.


Aya yang awalnya ingin melawan, akhirnya tak berdaya jika mengingat semua kesalahannya.


"Mora, lepaskan Aya. Sebaiknya kamu pulang lebih dulu!" ucap Tuan Maher menegur Mora.


Mora dengan mata yang memerah, akhirnya melepaskan cengkeramannya kepada Aya.


"Sampai kapanpun, aku tidak akan memaafkan mu!" ucap Mora dengan tegas.


"Aunty, lepaskan Umi. Dia adalah ibuku, sampai kapanpun dia adalah ibuku. Jangan coba-coba Aunty menyakiti umi. Karena Aunty akan berhadapan denganku!" ucap Vino yang langsung berdiri disamping Aya.


"Dia bukanlah ibu kamu Vino! Ibu adalah Kiana si wanita gi...-"


"Mora!" teriak Rey menghentikan Mora. Rey sangat takut jika Mora sampai mengatakan siapa sebenarnya ibunya Vino.


Situasi haru kini berubah menjadi situasi tegang gara-gara kehadiran Mora yang membuat keributan.


Bugh!


Rey melempar Mora dengan sangat kuat kelantai.


"Aku peringatkan kepadamu! Jangan berani lagi kamu menyentuh Aya! Atau aku..-"


"Aku apa, Rey! Hanya demi wanita pembawa sial itu, kamu melakukan ini kepadaku! Adik kandung kamu sendiri!" teriak Mora.


"Mora!" teriak Rey tertahan.


Ketika ingin menampar Mora, ayah datang sambil menggendong Mico.

__ADS_1


"Rey..Rey! Tunggu nak. Biarkan ayah membawa Mora pergi. Tenangkan dirimu, ayah akan membawa mora dulu," ucap Paman Yonoto mencoba untuk melarai kedua kakak beradik.


"Terima kasih Ayah. Aku mohon, jaga Mora dengan baik. Jangan biarkan dia hadir di pemakaman Wisnu," ucap Rey dengan pelan.


"Apa! nak, Wisnu meninggal?" tanya Paman Yonoto yang belum tahu.


"Iya, Ayah."


"Inalillahi wa innailaihi rojiun. Semoga Allah mengampuni dan menerima segala amal baiknya. Di anak yang baik," ucap Paman Yonoto.


"Amiin, Ayah."


"Ayah, dia tidak akan mati jika saja wanita itu..-"


"Mora, Sudah! Sebaiknya kita pulang!" bentak Paman Yonoto.


"Tapi, ayah!"


"Rey, kami pamit dulu. Salam untuk Aya dan keluarga yang ditinggalkan. Ayah akan mengurus anak manja ini!" ucap Paman Yonoto.


"Baik, Ayah. Terima kasih banyak," ucap Rey.


Paman Yonoto akhirnya dengan paksa menyeret Mora untuk pergi dari sana.


Kita diperlihatkan, ternyata Axelin masih dirumah sakit itu. Sedari awal Axelin sangat penasaran sehingga dia masih tertahan untuk memantau keadaan Wisnu suami dari Aya.


Axelin sangat terkejut ketika melihat Wisnu menjodohkan Rey dan Aya di saat-saat terkahir hayatnya.


Axelin juga tidak menyangka dengan pembelaan Rey terhadap Aya rela menyakiti adik kandungnya sendiri.


Axelin kini adalah orang paling bingung dan tak bisa mencerna semua apa yang terjadi. Dia sangat berduka dengan meninggalnya Wisnu. Tetapi, dia jadi serba salah ketika melihat Wisnu tiba-tiba menjodohkan Rey dengan Aya. Padahal Wisnu masih dalam keadaan sekarat dan juga masih sah menjadi Suami Aya. Tetapi disaat-saat terkahir, dia malah menjodohkan istrinya dengan sahabatnya.


Axelin ragu dan tak ingin kehilangan Rey. Selama ini dia berjuang untuk mendekati Rey. Axelin tiba-tiba termakan oleh ucapan Mora yang mengatakan jika Aya adalah wanita pembawa sial.

__ADS_1


Setan apa yang membisiki hati Axelin. Tiba-tiba dia tersenyum.


"Masih ada waktu 4 bulan untuk masa iddah. Selama itu, aku akan berusaha untuk mendekati Kak Rey. Tetapi, masak iya sih! Setelah suaminya meninggal, kak Aya mau menikahi mantan suaminya lagi. Iih..!" Kini Axelin benar-benar termakan oleh ucapan Mora, jika Aya bukanlah wanita baik-baik.


__ADS_2