IkhlasKu TetanggaKu MaduKu

IkhlasKu TetanggaKu MaduKu
Argument


__ADS_3

Sebuah mata mulai tersadar. Kiana menatap langit-langit yang masih terlihat buram. Ia memegangi kepalanya yang masih terasa berat dan sedikit pusing.


"Kamu sudah bangun?" tanya Rey yang sedari tadi setia duduk disamping Kiana untuk menunggunya sadar.


Kiana sadar jika dirinya telah diberi sebuah obat, ia mengerutkan keningnya dan mulai bertanya,"Apa yang kamu lakukan padaku?"


"Aku hanya ingin melakukan apa yang harus aku lakukan!" tegas Rey.


Dari sini, Kiana mulai menyadari jika berbadan yang menutupi luka palsunya telah tiada. Kiana mengigit bibirnya dan mencengkram seprei dengan kuat. "Apakah ini akhir dari segalanya," batin Kiana merasa putus asa.


"Apa yang sedang kamu fikirkan, Kiana Yun!?" ujar Rey membuat Kiana tambah merasa tidak karuan.


Kiana menatap tajam kearah Rey yang sedang duduk di sofa sembari menaikan salah satu kakinya.


"Seberapa banyak kamu tahu tentang kami!?" tanya Kiana dengan nada bergetar.


"Semua!" jawab Rey dengan tegas.


Tidak diduga, tiba-tiba Kiana mengambil pistol di bawah dipan dan mengarahkannya kearah Rey. Rey sedikit terkejut namun ia tidak bergeming.


"Lalu, apakah kamu akan membunuhku atau memasukan aku kedalam penjara!?" tukas Kiana dengan posisi siap siaga.


Rey dengan santai berkata," jelaskan padaku, segalanya?"


Mendengar itu, Kiana tidak percaya.


"Apakah kamu tidak marah?"


"Aku tidak tahu, jelaskan saja padaku. Marah atau tidak kita liat nanti," jawab Rey dengan tatapan yang tak dapat Kiana artikan. Namun, Kiana sadar sepertinya Rey sangat mencintai dirinya.


Kiana tersungkur dan melepaskan pistol ditangannya.

__ADS_1


"Hik ... Hik... Hiks... Sungguh aku sangat mencintai kamu, Rey. Aku tidak sanggup harus membunuhmu," ujar Kiana yang tidak tahan untuk mengeluarkan air matanya.


"Apa salahku, Kiana?" tanya Rey yang masih setia duduk ditempatnya.


"Salahmu adalah karena kamu lahir dari keluarga kaya itu," tukas Kiana.


"Apa kamu tahu, orang yang telah menyelamatkan kamu dan keluarga kamu adalah papahku. Dia yang telah memberikan kalian uang untuk melanjutkan hidup."


Mendengar itu, entah mengapa Kiana ingin tertawa terbahak-bahak." Ha ha Hahahaaa ... Apa kamu sedang membuat lelucon Rey?"


"Apa kamu pikir pekerja itu dengan sia-sia memberikan uang begitu banyak kepada kalian begitu saja!?"


"CUKUP !!! HENTIKAN!!!" teriak Kiana sembari bangkit dan mengarahkan pistol itu kerah Rey kembali.


"Kamu ..!! Kalian, kalian adalah orang-orang kaya yang tidak berprikemanusiaan!! Aku akan tetap meratakan rumah sakit itu dengan tanah!! Aku, aku selama ini telah menjalani hidup dengan berat dan semakin berat hanya karena memikirkan bagaimana caranya untuk membalaskan dendam ini. Sekarang, sekarang aku sudah memiliki kesempatan itu. Yah, aku telah memiliki itu, hahahhaaa bersiap-siaplah kalian untuk mati !!!" hardik Kiana membuat gertakan.


"Lalu, tunggu apa lagi? Cepat tembak aku dan bunuh aku sekarang juga. Aku tidak akan lari dari tempatku saat ini. Tembakkan dimana saja kamu inginkan!"


Mendengar itu, hati Kiana merasa langsung menciut. Bagaimana dia bisa membunuh pria yang duduk didepannya saat ini, dia adalah pria sangat ia cintai.


Semakin lama semakin dekat, kini Kiana sudah tidak tahan lagi.


"Huaaa...aaaa..aaa.aaaaa... bagaimana, bagaimana aku bisa membunuh mu, aku sungguh sangat mencintaimu!!" ucapan tulus dari bibir Kiana. Rey melihat keputusasaan istrinya yang sangat ia cintai, langsung meraih tangannya dan memeluknya.


Kiana sangat terkejut dengan respon Rey yang tiba-tiba.


"Aku tahu, aku tahu kamu sangat mencintai aku. Itulah alasan aku meminta aku meminta penjelasan kepadamu. Aku tahu semua ceritanya, sungguh maafkan aku dan keluargaku. Jika memang kamu ingin, maka bunuhlah aku, aku siap menerima semua beban yang selama ini kamu bawa." ucap Rey yang semakin dalam memeluk Kiana.


Mendengar Kiana semakin tak berdaya. Ia melepaskan pistol dan membalas pelukan suaminya.


"Bagaimana aku bisa membunuhmu Rey. Aku sangat mencintaimu sampai rasanya ku tak ingin berbagi dengan siapapun. Maafkan aku yang telah melibatkan Aya. Aku sungguh sangat cemburu dengannya, Rey. Hiks... Hiks.. maafkan aku ...."

__ADS_1


Rey menatap Kiana dengan lekat-lekat. Kini dia sudah mengerti mengapa Kiana menjebak Aya dan membuatnya seperti itu. Namun, Rey harus juga harus memikirkan Aya yang selama ini telah merasakan banyak penderitaan karena dirinya.


"Kiana, apakah kamu bersedia mengakui kesalahanmu?" tanya Rey dengan tatapan tajamnya.


Kiana menggelengkan kepalanya merasa tidak percaya.


"Bagaimana bisa kamu berkata seperti itu, Rey!! Apakah kamu ingin aku masuk penjara dan mati disana!!? Apakah kini kamu ingin menukarkan aku dengan Aya!? Rey, sungguh maafkan aku, aku mohon!! Aku sungguh sangat mencintai kamu. Karena cinta ini aku aku harus menahan rasa cemburu!!"


Rey memijat kepalanya dengan kasar. Kini, Rey sangat bingung harus berkata apa. "Ya tuhan,, siapa yang harus ku lindungi? Sungguh aku sangat mencintai Kiana, tapi aku juga tidak bisa membiarkan Aya menderita dengan sesuatu yang bukan kesalahannya," batin Rey penuh dengan delima.


"Rey, aku mohon. Aku tidak mau masuk penjara. Aku akan menghentikan balas dendam ini dan hidup damai bersamamu. Aku mohon Rey, hanya aku dan kamu" ucap Kiana memohon.


"Dimana saudara kembar kamu!?" tanya Rey tiba-tiba.


Karena sibuk berargumen, Kiana sampai lupa jika kini Yunhi sedang merencanakan untuk meruntuhkan rumah sakit itu. Hari ini, Yunhi akan memasang peralatan bom untuk menghancurkan rumah sakit.


"Apa !!! Jadi kalian akan merobohkan rumah sakit itu !!!" hentak Rey dengan panik.


"Aku akan menelfon Yunhi untuk menghentikan aksinya."


Namun setelah beberapa kali menelvon, Yunhi tidak juga lekas mengangkat telfon Kiana membuat Kiana merasa sangat panik.


"Kita pergi sekarang!!" ucap Rey yang tidak ingin membuang-buang waktu.


Disaat akan menyetir, Kiana menawarkan diri untuk membawa mobil mereka.


"Rey, biar aku saja. Percayalah!?"


Entah mengapa kini Rey sangat percaya dengan Kiana.


Kiana benar-benar tidak diragukan dalam mengemudi. Sedangkan Rey mencoba untuk menelfon Paman Tri dan juga Wisnu untuk meminta bantuan.

__ADS_1


..


Suara sirine polisi bersuat-sautan mendatangi Rumah sakit. Bahkan helikopter ikut bekerja untuk melumpuhkan lawan dari atas, jika diperlukan.


__ADS_2