
Pagi hari seperti biasa Aya akan kerumah sakit untuk mengelap tubuh suaminya.
Dia juga membawa Hanifa digendongnya.
Berharap sang suami akan segera sadar.
"Aku akan mengantarkan mu," ucap Rey.
"Tidak usah, Ak. Saya akan di antar sama supir saja," tolak Aya halus.
"Aku juga ingin menjenguk sahabatku. Sudah lama aku tidak menjenguknya," ucap Rey.
"Baiklah." Aya duduk di kursi bagian belakang, seolah-olah Rey adalah supirnya. Tapi Aya tidak bermaksud begitu, Memeng begitu cara Aya. Meski Rey sudah dianggap Kakak sendiri, tidak di pungkiri jika dia adalah mantan suaminya. Hubungan pernah di terjadi diantara mereka. Rasa canggung hanya berdua pasti masih dirasakan.
Rey tidak mempermasalahkan sikap Aya. Dia sangat mengerti apa yang Aya rasakan.
Entah mengapa, Rey masih tak dapat menghilangkan rasa cintanya untuk Aya. Rasa sesal masih menyelimuti hatinya.
"Sepertinya, akan butuh waktu seumur hidupku untuk menghilangkan rasa cinta ini"
Rey termenung dalam lamunannya.
Mobil sudah terparkir dirumah sakit. Rumah sakit penuh dengan segala drama untuk Aya dan Rey. Aya meminta izin untuk masuk terlebih dahulu, sedangkan Rey masih terpaku menatap gedung rumah sakit miliknya.
Sebuah bayangan semu terlintas dalam pikirannya. Semua kejadian itu masih terasa sangat hangat dipikiran, Rey.
"Andai waktu dapat di putar?"
Rey memakai kaca matanya dan berjalan memasuki rumah sakit. Beberapa pengawas yang paham dengan Rey langsung menyambutnya dan mengawalnya sampai keruangan Wisnu.
Wisnu melihat Aya yang sedang mengelap tubuh sahabatnya dengan lembut. Rasa cemburu tentu ada. Namun Rey tak ingin selalu larut dalam prasangka itu.
Rey mendekati Hanifa yang terlihat haus karena terus membuka mulutnya. Rey inisiatif untuk membuatkan dot.
Aya masih tidak sadar jika Rey telah menggendong anaknya dan memberinya susu, karena dia masih fokus menatap suaminya yang terlihat sangat tampan ketika terlelap.
Ketika sudah selesai. Aya sangat terkejut melihat Rey terlihat sangat luwes menggendong sambil memberi susu Hanifa.
Aya mendekat.
"Hay, anak umi. Uuh, digendong sama Oom ya?"
"Apakah Hanifa rewel?"tanya Aya kepada Rey yang masih mengendong Hanifa.
Posisi mereka sangat dekat. Ketika Aya bertanya, ia menaikan pandangannya menatap Rey.
Rey terpaku sejenak. Menetralisir perasaan yang berkecamuk.
"Ah, tidak Aya. Dia tadi hanya membuka mulutnya, aku pikir dia haus. Jadi aku buatkan susu," jawab Rey.
"Emm, begitu."Aya mengangguk." Hmm, entah mengapa asi aku tidak mau keluar ya," lanjutnya dengan nada sendu.
"Tidak papa, Aya. Pakai susu formula jugakan bisa," jawab Rey.
"Ya tetap saja. Aku jadi merasa kurang."
"Jangan berkecil hati Aya. Tidak memberikan asi bukan berarti kamu bukan ibu yang baik. Kamu adalah ibu yang sangat baik. Aku yakin, anak dan suamimu akan sangat bangga padamu," ujar Rey.
Aya hanya tersenyum mendengar tuturan Rey. Ucapannya membuat hatinya sedikit berkurang beban.
"Terima kasih Ak. Oya, bukankah a'ak akan akan kekantor? Sini, biar Hanifa aku gendong."
"Ah, iya. Ini.." Rey menyerahkan Hanifa ke Aya. Tak sengaja sebuah tangan saling bersentuhan. Aya menunjukan ekspresi biasa saja. Namun, bagi Rey ini adalah sebuah bumerang dalam hatinya.
Rey dengan perasaan berkecamuk langsung pergi begitu saja.
__ADS_1
"Aahk !! Bugh..bugh.. " Rey memukul setir mobil dengan kesal.
"Apa yang aku pikirkan. Apakah sekarang aku berharap sahabatku pergi untuk selamanya. Aahh, apa yang terjadi denganku!?" umpat Rey dengan kesal.
4 bulan satu atap bersama Aya tanpa gangguan dari Wisnu membuat rasa itu tumbuh lagi, bahkan kini semakin lebat.
....
Aya mendekati suaminya sambil membawa anaknya. Aya menidurkan Hanifa didekat Abinya berharap Wisnu akan tersentuh dan sadar.
"Hay Abi, kakek memberi nama aku Hanifa. Dia juga yang telah mengadzani aku. Abi, bangunlah? Apakah Abi tak ingin menggendong aku? Abi, bangunlah. Kata umi, dia telah memaafkan Abi. Hiks...hiks.." Aya tak tahan untuk melanjutkan kata-katanya. Sungguh rasa sesal kini menyelimuti hatinya.
Hanifa menggeliat dan tak sengaja tangannya meninju ringan dada Wisnu.
Aya yang terkejut langsung mengambil anaknya. Takut suaminya kenapa-kenapa.
Namun hal tak terduga. Wisnu menunjukan sebuah kehidupan.
Aya yang melihat suaminya akan membuka mata sangat senang sekaligus terharu. Aya langsung menekan tombol supaya dokter segera datang.
Karena silau, Wisnu tak bisa membuka matanya.
Aya masih tak dapat berkata apa-apa. Sungguh dia sangat senang.
Dokter menyuruh Aya untuk menutup kain jendela.
Dengan cepat dia menutupnya.
Wisnu masih sangat sulit untuk membuka matanya. Dokter mencoba untuk membantu Wisnu dan mengarahkannya supaya perlahan-lahan saja.
Akhirnya, sebuah mata dengan sempurna terbuka.
Wisnu menatap sekelilingnya. Dia mengira jika dirinya sudah mati. Tapi, melihat disekitarnya, Wisnu merasa sangat bersyukur.
"Aya ?" panggil Wisnu dengan lirih.
"Apakah ini anak kita?" tanya Wisnu.
"Hiks..hiks.. iya Ak." jawab Aya yang masih tak dapat mengendalikan diri.
Wisnu ingin duduk dan memangku anaknya. Namun, tertahan karena kepalanya yang masih terasa berat.
"Auw!" pekik Wisnu.
"Pak Wisnu. Anda sedang berada dalam pemulihan. Sejauh ini semuanya normal. Tapi saya harap anda jangan terlalu berfikir keras,".jelas dokter.
"Terimakasih banyak, dok?" ujar Aya.
"Sama-sama, jika begitu saya permisi dulu," ujar dokter.
"Ak, apa masih sakit?" tanya Aya.
"Berapa lama aku tertidur?" tanya Wisnu dengan nada lemas.
"4 bulan 7 hari Ak. A'ak, maafkan aku ya? Gara-gara aku, a'ak jadi..?"
"Aya, aku tidak papa. Terima kasih, terima kasih karena kamu sudah mau memaafkan aku?"
"Hiks..hiks.." Tak kuat berkata-kata, Aya hanya bisa langsung memeluk suaminya dan meletakkan Hanifa di pangkuan Wisnu.
Tangis haru terdengar sangat syahdu di ruangan itu.
Rey yang mendengar kabar jika Wisnu sudah bangun langsung memutarkan mobilnya dan menuju rumah sakit kembali. Sampai dia melihat adegan yang sangat menyayat hati.
Rey masih memaku di depan pintu. Menunggu sampai kedua insan yang sedang dilanda rindu untuk melepaskan kerinduan mereka.
__ADS_1
Semakin lama, semakin tak sanggup Rey melihatnya. Ia memutuskan untuk pergi dari sana dan berkunjung nanti.
...
Prov Rey
Hidup tak akan memihak mu jika ego yang kita kendalikan. Hidup tak mengikuti ego yang menanjak. Namun hidup mengikuti alur yang akan mengalir begitu saja.
Kini, akan aku sesali segalanya sendiri.
Masih berpijak pada tanah yang aromanya basah
Meski halus rasanya tapi nyatanya benang itu membuatku terekat dan terikat
Masih lekat kuat dan basah dalam ingatan akan aku dan dia takan terlupa
Namun ku coba, kucoba berikan sedikit udara
Pada hatiku yang pengap dan sempat pekat
Kucoba untuk pancangkan sebentuk kepercayaan
Pada dirinya yang selama ini telah berusaha menyeka peluhku
Pada dirinya yang selama ini telah menyita sebagian perhatianku
Pada dirinya
Bukan lagi masalah waktu
Namun kali ini adalah bagaimana aku sanggup untuk mengatakan
Mengatakan padanya
Jujur dari hati yang tersembunyi
Bahwa aku, aku tak akan pernah lagi mencintai dirinya yang telah berlalu
Bahwa aku, aku akan selalu beriringan dengannya tanpa bayang-bayang masa lalu
Namun aku belum sanggup
Mungkin suatu saat aku bisa
Mengatakan padanya
Apa yang selama ini aku rasa
Apa yang selama ini aku jaga
Apa yang selama ini aku dekap
Rapat
Dan terhalang oleh takdir.
Sejauh ini, aku doakan. Semoga engkau bahagia dengannya.
...
BERSAMBUNG
.....
.....
__ADS_1
.....
.....