
Ei yang mendengar perdebatan antara Hesa dan tetangga kosnya cuma bisa melongo. Firasatnya jadi tidak enak karena suasana di luar semakin tak terkendali. Bisa-bisanya cowok bernama Hesa yang juga asdosnya itu mengaku-ngaku sebagai suami Ei sementara mereka baru saja bertemu dan tidak saling kenal. Itupun secara tak terduga dengan beberapa insiden yang tidak disengaja.
Namun, sepertinya pernyataan Hesa menjadi boomerang bagi Ei. Para tetangga kosnya Ei tak bisa menerima keberadaan mereka berdua di dalam kamar karena lingkungan ini lumayan masih masuk ruang lingkup religious juga. Wajar kalau orang-orang diluar sana salah paham akan apa yang terjadi pada pasangan muda mudi ini meski mereka tidak melakukan apapun yang melanggar norma moral maupun agama.
Ditambah lagi, penyataan Hesa semakin memperkeruh suasana dan tidak dapat membuktikan ucapannya. Sontak saja mereka murka dan membuat Ei terseret dalam masalah besar.
Nah loh … matilah aku sekarang. Cowok itu kagak bakalan bisa buktiin kalau kita adalah pasangan suami istri. Darimana bisa dapat surat nikahnya coba? Menikah aja kagak pernah! Lagian dia begok sih, ngapain juga pakai ngaku-ngaku sudah menikah segala! Dasar Codot Kukang, bikin masalah saja itu Kukang! batin Ei kesal setengah mati dengan kedatangan Hesa di dalam kosnya ini.
“Sepertinya aku harus cari tempat bunuh diri setelah ini. Tidak ada gunanya hidup dengan menanggung malu seumur hidup. Dosa apa yang sudah kulakukan sampai harus bernasib sial seperti ini,” gumam Ei.
Apa yang dikhawatirkan Ei tenyata benar. Karena Hesa tidak bisa membuktikan ucapannya yang katanya sudah menikah dengan Ei. Sang pemilik kos mengambil tindakan tegas dengan mengusir Ei agar meninggalkan kamar kos yang Ei sewa.
“Nggak bisa! Kok Anda ngusir dia!” protes Hesa marah pada sang pemilik kos. Padahal Ei diusir juga gara-gara dia.
“Heh, cowok nggak ada akhlak! Kami semua di sini itu lingkungan baik-baik. Kalian berdua sudah membawa malapetaka bagi kami semua dengan kumpul kebo di sini …”
“Siapa yang Anda bilang kum ….” Hesa emosi karena ia dan Ei dituduh yang bukan-bukan. Hesa tak terima dan hendak mengomel lagi tapi Ei datang setelah berkemas dan melerai perdebatan mereka. Ia tak ingin ada keributan hanya karena dirinya.
“Maaf atas sikap kami yang kurang sopan, Bu. Kami permisi,” ujar Ei tanpa semangat seolah hidup enggan matipun tak mau.
__ADS_1
Ia juga tak punya tenaga untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi karena sudah pasti percuma. Dari tatapan mereka saja, tampak terlihat kalau mereka takkan percaya kalau Ei bilang tak terjadi apa-apa antara dirinya dan Hesa.
Jalan satu-satunya adalah menuruti apa yang diinginkan orang-orang di sini. Yaitu pergi dari sini. Ei berjalan terhuyung meninggalkan kamar kosnya setelah menyerahkan kunci kamar pada pemiliknya. Ei juga tak mau melihat wajah Hesa karena gara-gara dia, kini gadis itu sudah tidak punya tempat tinggal lagi. Terpaksa ia menghubungi teman-temannya yang sialnya, tidak ada yang mengangkat panggilan teleponnya. Padahal gadis itu sangat membutuhkan pertolongan mereka.
“Sial, pada ke mana sih? Masa jam segini sudah molor,” gumam Ei semakin kesal. Mana baterei ponselnya sudah habis pula. Hari ini adalah hari sial untuk Ei. Ibarat kata sudah jatuh tertimpa tangga tertimpa pohon kelapa plus buahnya pula. Peket komplit lengkap sialnya.
“Tunggu! Ei …!” seru Hesa mengekor dari belakang tubuh Ei, tapi yang dipanggil bodo amat dan terus mencoba menghubungi teman-temannya. “Urusan kita belum selesai, lihat saja nanti! Kalian semua bakal dapat ganjarannya!” ancam Hesa pada orang-orang yang sudah mengusir Ei dan dirinya dari sini.
Tentu saja mereka semua tidak takut pada ancaman Hesa dan malah menyepelekan ucapan pangeran ningrat itu. Hesa pun pergi menyusul Ei yang sudah jauh meninggalkannya.
Untunglah barang bawaan Ei tidak terlalu banyak sehingga ia bisa berkemas dengan cepat setelah diusir atas tuduhan yang tidak berdasar. Gadis itu menenteng bekal makanan Hesa yang belum sempat di makan gara-gara insiden tak terduga ini.
“Tunggu! Kenapa pula aku bawa bekal ini? Kan ini bukan punyaku?” Ei berhenti berjalan dan menoleh ke belakang mencari-cari Hesa. Tapi yang dicari sudah tak tampak batang hidungnya. “Menyebalkan sekali orang itu.” Ei hampir ingin menangis, tapi ketika ia melihat bekal makanan yang katanya buatan ibu Hesa. Hati gadis itu jadi trenyuh juga.
Ei menatap bekal makanan itu lekat-lekat, “enaknya yang punya ibu, bisa makan enak setiap hari seperti ini. Aku jadi iri.” Lagi-lagi Ei tampak sangat sedih, tapi ia tak ingin menangis. Untuk mengalihkan perhatian, ia menatap suasana di sekelilingnya.
Kalau dilihat-lihat, pemandangan dari atas jembatan ini sangat indah karena bisa melihat banyaknya lampu malam dari semua rumah-rumah warga yang ada di seberang sungai. Belum lagi lampu-lampu gedung yang menjulang tinggi dan lampu penerang jalan lainnya. Meski polusi udara ada di mana-mana, setidaknya pemandangan indah di atas jembatan ini lumayan bikin tenang juga.
“Sekarang aku harus pergi ke mana? Teman-temanku tidak ada yang membalas pesanku. Ada apa dengan mereka semua? Masa iya aku harus tidur di jalan,” gumam Ei sedih.
__ADS_1
Menangispun juga percuma. Ei hanya bisa menerima apa yang terjadi pada hidupnya yang langsung berubah drastis gara-gara Hesa. Padahal sebelumnya baik-baik saja. Sekarang jadi kacau balau semua. Sudah bolos kuliah seminggu, diusir dari kosan pula. Benar-benar sial.
Ei bisa saja pulang ke rumah panti asuhan yang didirikannya, tapi jaraknya lumayan jauh dan gadis itu tidak punya ongkos untuk ke panti. Ei berniat mencari pekerjaan paruh waktu karena tabungan kuliahnya sudah habis. Sayangnya, ia sudah terkena masalah gara-gara Hesa.
“Ayo Ngel, cepat angkat teleponku!” ujar Ei sudah tidak bisa menahan sabar lagi. Ingin marah tapi bingung mau marah pada siapa.
Tiba-tiba saja, ada yang menarik tangan Hesa hingga ponsel Ei tak sengaja terjatuh ke dalam sungai. Mata Ei melotot melihat ponsel satu-satunya miliknya telah hilang tepat di depan matanya. Dan semua itu gara-gara Hesa lagi. Untuk kesekian kalinya, si pangeran kampus ini benar-benar membuat hidup Ei runtuh seketika tak berbekas sama sekali.
“Apa yang kau lakukan?” bentak Ei kesal sekesal-kesalnya.
“Eee … ponselmu jatuh, ya?” tanya Hesa polos tanpa dosa. Tatapan matanya kosong dan sengaja dibuat seimut mungkin kayak anak TK.
“Nggak, dia terjun bebas sambil menyelam! Puas!” bentak Ei sambil berkacak pinggang. Saking kesalnya, gadis itu sampai mendorong tubuh Hesa menjauh darinya. “Kenapa kau terus saja mengacaukan hidupku? Apa kau sengaja, ha? Kau balas dendam padaku karena aku mencuri burgermu dan menampar wajahmu, kan? Tak puas membuatku di bully satu kampus, kini kau membuatku kehilangan tempat tinggal. Ponselku juga kau jatuhkan ke dalam sana. Kau bahkan tidak tahu apa yang sudah kau lakukan padaku! Kau benar-benar membuatku hancur sekarang. Puas kau, ha?”
Kali ini Ei menangis, bukan karena sedih, tapi karena marah.
BERSAMBUNG
***
__ADS_1