
Bagaimana Ei tidak terkejut melihat hal menakjubkan di depan matanya. Saking terkejutnya, ia sampai tidak bisa berkata-kata. Diluar dugaannya, Hesa membawanya pulang ke rumah di mana rumah tersebut sudah ia ubah menjadi panti asuhan yang menampung anak-anak terlantar yang Ei temukan di pinggir jalan.
Sebagian besar dari mereka adalah anak-anak yang sengaja dibuang orangtuanya dengan berbagai macam alasan. Sebagian lagi ada yang yatim piatu dan tidak punya siapa-siapa. Dan sebagian lagi, anak yang melarikan dari dari korban penculikan. Total jumlah anak panti asuhan ini berjumlah 10 orang dan Ei mempercayakannya pada wanita paruh baya sebagai bibi pengasuh mereka.
Tentu saja, Ei lah yang membiayai mereka semua agar bisa hidup layak dan mendapatkan pendidikan layaknya anak-anak normal lainnya.
“Kak Eii!” seru salah satu anak panti asuhan dan langsung berlari memeluk Ei ketika gadis itu keluar dari dalam mobil Ei.
Ei balas memeluk anak itu karena dialah yang paling kecil di sini. anak-anak panti yang lain ikutan keluar dan juga langsung menyerbu Ei bersamaan. Suasana haru menyelimuti mereka semua sehingga tangis istri Hesa itupun langsung pecah.
Sudah lama, Ei tidak bisa menjenguk anak-anak di sini karena ia sibuk kuliah dan bekerja paruh waktu supaya uangnya bisa ia kirimkan untuk biaya hidup mereka semua. Alasan ia tidak pernah pulang juga karena terbentur biaya. Biasanya, Ei hanya bisa pulang setahun sekali, itupun pas tahun baru saja dan tidak pernah lama karena ia harus kembali bekerja dan sibuk kuliah.
“Jangan menangis, Kak. Kami sedang akhirnya kaka pulang,” ujar anak yang bernama Putra sambil membantu mengusap air mata Ei.
“Maafkan Kakak, karena baru bisa menjenguk kalian semua.” Ei merengkuh semua anak-anak itu ke dalam pelukannya sambil menangis sekaligus tertawa bahagia. Ia juga melihat Hesa yang terus menatapnya.
Gadis itu sangat penasaran kenapa Hesa membawanya kemari. Sejauh inikah pria tampan yang menjadi suami palsunya menyelidiki seperti apa kehidupan Ei di luar kampus.
“Kak Mahesa!” ujar anak kecil tadi sambil masih dipeluk Ei.
“Kau kenal dia?” tanya Ei terkejut. Tak hanya tahu lokasi panti asuhan milik Ei, rupanya anak-anak di sini juga mengenal baik Hesa dan tampak sangat akrab.
“Tentu saja, Kak Hesa sudah ke mari beberapa kali. Dia bilang, dia ….”
“Halo, aku datang lagi,” sela Hesa sebelum Putra memberitahu Ei apa yang terjadi sebenarnya. Ia mengedipkan satu matanya pada Putra agar tidak memberitahu Ei tentang apa yang ia katakan pada anak-anak di sini soal hubungannya dengan Ei.“Bagaimana kabar kalian semua?” tanya Hesa pada yang lainnya juga, seolah mereka sudah saling kenal lama.
“Baik Kaka! Jauh lebih baik apalagi Kakak sudah merenovasi rumah kami sedemikian indahnya. Kami semua punya kamar masing-masing meski lebih suka tidur bersama-sama. Tapi tetap saja, terimakasih banyak Kak, dan kami sangat berterimakasih lagi karena membawa Kak Ei kembali.” anak kecil itupun langsung memeluk Hesa dan Hesa juga balas memeluknya.
Ei hanya bisa tertegun mendengar semua fakta mengejutkan itu keluar dari mulut Putra. Gadis itu juga baru sadar kalau rumahnya memang jauh lebih indah dari terakhir kali ia tinggalkan.
Dari kejauhan, bibi pengasuh Ei yang ia panggil Mbok Tarmi, keluar dengan langkah pelan dan langsung memeluk Ei dengan sangat erat. Wanita paruh baya yang sempat ditolong Ei beberapa tahun silam, sangat merindukan wanita cantik berhati malaikat ini. Di usia Ei yang sekarang, kebanyakan wanita menghabiskan masa remajanya untuk bersenang-senang dan menikmati indahnya hidup selagi masih muda.
Namun, berbeda dengan Ei, yang mendedikasikan hidupnya untuk membantu siapa saja yang membutuhkan bantuannya. Sampai akhirnya, Mbok Tarmi memintanya untuk melanjutkan kuliahnya sembari bekerja paruh waktu. Dan memercayakan anak-anak di sini padanya. Inilah asal usul Ei yang sebenarnya sehingga Hesa jatuh hati pada gadis sederhana bak malaikat tak bersayap sesungguhnya.
“Dasar gadis tengik. Kenapa kau kurus sekali, ha? Apa kau tidak pernah makan?” ujar Mbok Tarmi sambil memukul pelan punggung Ei.
Air mata wanita paruh baya itu mengalir karena bisa melihat Ei kembali setelah beberapa waktu lalu, gadis yang sudah ia anggap seperti putrinya sendiri menelepon dan memberitahunya kalau Ei takkan bisa pulang dalam jangka waktu lama.
Hal itu karena Ei terikat kontrak dengan Hesa dan mengira Hesa takkan pernah mengizinkannya menemui semua orang yang ada di sini. Tapi ternyata, dugaan Ei salah besar. Hesa, terlampau jauh mengambil peran penting dalam keberlangsungan kesejahteraan anak-anak di sini meski ia menggunakan mereka untuk menekan Ei agar mau menjadi istri palsunya.
“Ehem,” Hesa berdeham untuk mencairkan suasana yang tiba-tiba saja berubah jadi lautan air mata. “Karena ini sudah malam, bagaimana kalau kita semua masuk ke dalam. Di sini sangat dingin,”ujarnya.
__ADS_1
Semua orang setuju dengan usulan Hesa. Mereka berbondong-bondong masuk ke dalam rumah Ei yang kini tampak megah dan lebih luas dari sebelumnya. Dan semua ini berkat Hesa.
Baik dan yang lainnya saling bercengkerama, saling melepas rindu serta makan malam bersama-sama. Ei lumayan terkejut juga ketika Mbok Tarmi menyiapkan banyak sekali masakan.
“Bibi masak banyak sekali? Apakah … Bibi tahu kalau …”
“Iya … Tuan muda Hesa memberitahuku tadi pagi kalau kalian akan datang setelah ujian." Mbok Tarmi membantu menyiapkan makanan untuk Ei dan Hesa.
"Wauw ... ini kejutan," ujar Ei pada Hesa yang duduk disampingnya dan Hesa hanya memberikan senyuman manisnya.
"Ini masih belum seberapa, aku yakin jika kau tahu semuanya, akan kupastikan kau bakal jatuh cinta padaku," bisik Hesa lembut di telinga Ei.
"Ayo makanlah," ajak Mbok Tarmi, "dan istirahatlah di kamar, aku sudah menyiapkan kamar untuk kalian berdua. Kalian pasti lelah setelah menempuh perjalanan jauh. Besok pagi-pagi buta kalian juga harus ke kampus untuk ujian lagi, kan?”
Ei manggut-manggut karena ia sangat lapar dan merindukan masakan bibi pengasuhnya. Mereka semua makan malam dengan hati riang gembira. Suasana di rumah ini terasa sangat hangat karena bagi Ei, mereka semua yang ada di sini adalah keluarganya.
Berkali-kali Ei mencuri pandang ke arah Hesa yang sedang sibuk bersenda gurau dengan anak-anak lainnya. Jantungnya jadi berdebar kencang setiap kali Hesa juga menatapnya. Sosok pangeran ningrat itu tampak sangat menyayangi anak-anak.
Setelah puas bercuap-cuap, anak-anak panti itupun pamit untuk masuk ke kamar mereka masing-masing karena mereka semua juga harus sekolah dan belajar.
“Maafkan kami Kak Ei, kami tidak bisa begadang dan membicarakan banyak hal dengan Kakak. Kami harus tidur lebih awal karena besok kami harus pergi ke sekolah,” ujar Nita, anak perempuan yang paling tua di sini.
“Tidak apa-apa Sayang. Kakak senang sekali kalian semua disiplin dan sangat konsisten pada jadwal harian kalian. Teruslah semangat sekolah dan raih cita-cita kalian, ya? Kakak akan bantu sampai cita-cita kalian semua terwujud. Kita masih punya banyak waktu untuk bertemu di lain hari.” Ei tersenyum bangga. Tidak sia-sia ia bekerja keras demi anak-anak panti ini dan mereka semua punya semangat tinggi untuk meraih mimpi.
Lagi-lagi, Ei jadi ingin menangis, tapi Hesa meledeknya. “Aku punya bahu untuk kupinjamkan padamu kalau kau mau menangis,” bisiknya pelan tapi terlihat mesra dihadapan semua orang.
“Diam kau! Aku punya banyak sekali pertanyaan untukmu setelah ini,” gumam Ei, tapi ia tersenyum pada anak-anak panti yang satu-persatu pamit untuk undur diri dan masuk ke dalam kamar mereka masing-masing.
“Tidak perlu repot-repot berterimakasih padaku. Nanti kau menyesal kalau aku minta imbalan lebih.”
“Jangan Ge-Er. Aku tahu bagaimana caranya berterimakasih.”Untuk pertama kalinya, Ei tersenyum manis pada Hesa. Biasanya manyun terus.
“Kalian berdua sedang apa? Kalau mau bermesraan sebaiknya di dalam kamar saja. Anak-anak jadi mengintip tingkah kalian di sini,” ujar Mbok Tarmi sambil menunjuk anak-anak panti yang hanya melongokkan kepala mereka di balik dinding. Kepala mereka muncul tegak lurus menyaksikan betapa sweetnya Hesa saat menggoda Ei.
Merasa ketahuan, 10 anak-anak menggemaskan itu berlarian masuk ke dalam kamar mereka masing-masing sambil tertawa cekikikan. Ei jadi salah tingkah dan mendorong tubuh Hesa menjauh darinya. Sebab ia baru sadar kalau suaminya itu duduk sangat dekat disisinya.
“Kami akan ngobrol sebentar di sini, Bi. Kalau lelah, Bibi tidur saja dulu.”
“Loh, ngapain kalian ngobrol di situ? Kan lebih enak kalau di dalam kamar sambil tiduran. Kamar kalian sudah aku siapkan. Itu, di belakang kalian duduk.”
Ei menoleh ke belakang dan hanya ada satu ruang kamar. “Itu kamarnya siapa Bi? Kamar Hesa atau kamarku?” tanya Ei masih oneng sehingga membuat Hesa tepok jidat.
__ADS_1
“Itu kamar kita Sayang. Tak perlu ditutupi lagi, Bi Tarmi dan semua anak-anak di sini, sudah tahu kalau kita sudah menikah.” Hesalah yang akhirnya menjelaskan.
“Hah!” Ei melongo tapi Hesa dengan santai membantu Ei mengatupkan mulutnya.
BERSAMBUNG
***
. ★
. 人
. ( __) 🌙
. ┃口┃. .人.
. ┃口┃. .-:'''"''";-. 人
. ┃口┃(*(*(*|*)*))(__)
. ┃---┃║∩∩∩║.|口||┃
. ┃┃┃┃┃┃┃┃┃┃. |三||┃
- - - - - - - - - - -🎗🎗 - - - - - - - - -
_السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ_
*S𝔢𝔩𝔞𝔪𝔞𝔱 ℌ𝔞𝔯𝔦 ℜ𝔞𝔶𝔞 ℑ𝔡𝔲𝔩 𝔉𝔦𝔱𝔯𝔦*
*1 𝔖𝔶𝔞𝔴𝔞𝔩 1444 ℌ*
*تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ وَتَقَبَّلَ يَاكَرِيْمُ*
“𝑆𝑒𝑚𝑜𝑔𝑎 𝐴𝑙𝑙𝑎ℎ 𝑚𝑒𝑛𝑒𝑟𝑖𝑚𝑎 𝑖𝑏𝑎𝑑𝑎ℎ
𝑘𝑖𝑡𝑎 𝑠𝑒𝑚𝑢𝑎, 𝑡𝑒𝑟𝑖𝑚𝑎𝑙𝑎ℎ 𝑌𝑎𝑎 𝐴𝑙𝑙𝑎ℎ
𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑎ℎ𝑎 𝑚𝑢𝑙𝑖𝑎.
_وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه_
__ADS_1
Leopard & Shena 🤭🤭