Istri Pilihan Pangeran Ningrat

Istri Pilihan Pangeran Ningrat
BAB 58 Hubungan Cinta


__ADS_3

Pria bertudung jaket hitam itu langsung mengangkat tubuh Ei yang tak sadarkan diri pergi meninggalkan arena perlombaan tanpa bicara sepatah katapun. Tidak ada yang mengenali siapa pria itu karena wajahnya tertutup dengan jaket.


Namun, bukan kehadiran pria itu yang menjadi permasalahan. Semua mata menatap cemas keadaan Ei yang terjatuh dari ketinggian tanpa pengaman. Beruntung pria berjaket hitam itu menangkap tubuh Ei tepat waktu. Jika tidak, mungkin Ei sudah pindah alam.


Banyak orang yang menyangsikan perlombaan ini dan menuduh ada indikasi kecurangan sehingga perlombaan lompat tinggi terpaksa dihentikan karena banyak yang protes dan tidak terima setelah insiden dadakan yang menimpa Ei. Tak sedikit pula dari orang-orang yang menyaksikan perlombaan, meminta menghilangkan saja lomba lompat tinggi karena bisa membahayakan nyawa.


Di saat suasana menjadi sangat tegang, pria bertudung hitam tak memedulikan mereka semua. Dia terus berjalan lurus dan membawa Ei ke rumah sakit untuk segera mendapat perawatan.


Sebab, pria yang tak lain adalah Hesa ini, tahu kalau bahu Ei bermasalah. Sejak tadi ia sudah mengamati kondisi istrinya dari kejauhan saat ia menyamar menjadi orang biasa dan bukannya pangeran Hesa.


“Apa yang terjadi pada istrimu, kenapa bisa cedera bahu begini?” tanya Febi alias sepupu Hesa yang berprofesi sebagai dokter.


“Dia melakukan atraksi jungkir balik saat Margaret menjegal kakinya. Mungkin posisi tangannya tidak tepat saat bertumpu sehingga bahunya keseleo. Selain itu, ada yang menukar tongkat galahnya sehingga tongkat milik Ei patah,” terang Hesa yang ternyata tahu betul apa yang terjadi pada istrinya. Rupanya, kepergian Hesa bukan untuk meninggalkan Ei berjuang sendiri melawan kekuasaan ayahnya, tapi untuk melindungi Ei dari jarak dekat.


Jika Hesa mamakai seragam kebesarannya sebagai pangeran ningrat, maka ia wajib ada di samping ayah dan ibunya dan tak bisa melindungi Ei dari dekat. Tapi … jika Hesa menyamar sebagai rakyat jelata, ia bisa mengamati gerak gerik Ei dan siap sedia bila Ei dalam bahaya seperti apa yang terjadi pada istrinya saat ini.


“Ini masih belum apa-apa. Kau tahu, Kanjeng Romo takkan pernah mengalah ataupun menyerah. Kalian sedang perang dingin sekarang dan Kanjeng Romo punya kekuasaan mutlak yang tak bisa kau bantah. Ei bisa saja tewas dalam sayembara ini jika saja kau tak sigap mengambil tindakan tepat untuk melindunginya,” ujar Febi memeriksa bahu Ei.


“Aku sudah memikirkannya, jika kekuasaan menjadi penghalang utama bagi hubungan kami, maka … harus dilawan dengan kekuasaan juga. Kau pasti tahu, kalau di atas langit, masih ada langit kan.” Sepertinya Hesa sudah memiliki cara untuk mengalahkan ayahnya dan melindungi Ei agar terhindar dari bahaya.

__ADS_1


Febi menatap Hesa dengan penuh tanda tanya. Tapi ia tidak heran karena Hesa adalah tipe orang yang bertanggungjawab dalam segala hal termasuk pada wanita yang ia pilih sebagai istrinya. Febi sendiri sangat mendukung hubungan asmara sepupu dengan temannya ini. Meski tidak tahu apa rencana Hesa, Febi tersenyum manis dan kembali fokus mengobati luka Ei.


“Bantu aku memegangi tangan istrimu,” pinta Febi pada Hesa.


“Apa lukanya parah?” tanya Hesa cemas.


“Tidak, seperti yang kau bilang, dia keseleo dan ototnya harus segera diluruskan,” terang Febi dan melihat Hesa sudah melakukan apa yang ia minta.


Dengan hati-hati, Febi mengembalikan otot Ei dengan satu kali gerakan sehingga sampai terdengar bunyi ‘klek’ dari tulang bahunya. Kalau saja Ei tidak dalam keadaan pingsan, mungkin gadis itu sudah berteriak kesakitan, untung saja istri Hesa ini belum sadarkan diri. Setelah membenarkan posisi otot dan tulang persendian Ei, Febi mengolesi obat tradisional buatannya agar Ei segera pulih seperti sedia kala.


Lagipula, ini bukan pertama kalinya Ei keseleo, sebelumnya, kakinya juga pernah keseleo dan hal itu semakin mengeratkan hubungan Ei dengan Hesa sampai benih-benih cinta tumbuh diantara keduanya. Hesa duduk di samping istrinya dan menggenggam erat tangan Ei sementara Febi membalut bahu Ei dengan perban. Dari tatapan mata Hesa saja sudah tampak sangat jelas kalau Hesa begitu mencintai istrinya.


“Ada yang ingin kutanyakan padamu dan kau harus menjawabku dengan jujur,” ujar Febi tiba-tiba.


“Ya sudah, terserah kau saja.”


“Tolong jaga Ei untukku Feb, aku harus pergi sebentar.”Hesa melihat Ei sudah tidak pucat lagi yang artinya, wanitanya ini baik-baik saja sekarang.


“Kau mau ke mana lagi? Bagaimana kalau Ei menanyakanmu?” tanya Febi.

__ADS_1


“Bilang saja aku akan segera menemuinya. Semuanya akan baik-baik saja mulai dari sekarang.” Hesa menyunggingkan senyumnya dan mencium kening Ei dengan lembut sebelum ia pergi. “Mulai sekarang,” ujarnya pada Ei, “kau aman Sayang. Takkan ada yang bisa mengganggu ataupun mencelakaimu lagi. Sayembara ini akan kubuat adil seadil-adilnya. Dan kau akan menang sesuai dengan kemampuanmu.”


“Bagaimana kau bisa seyakin itu? Saingan Ei tak kalah keren bila dibandingkan dengan istrimu?” tanya Febi yang sempat kepo pada semua calon kandidat istri sepupunya sampai kekasih Rangga itu memeriksa CV mereka masing-masing di mana mereka semua ternyata bukan hanya gadis biasa. Melainkan calon putri yang sudah dilatih sejak dini.


“Entahlah, hatiku berkata, Ei adalah wanita yang memang ditakdirkan untukku. Tak ada yang tidak ia bisa makanya aku mempertaruhkan segalanya demi dia.”


“Kau memberikan kalung pemberian nenek padanya … bukankah itu …”mata Febi ternyata jeli juga. Ia melihat kalung dj leher dan Febi langsung tahu kalung punya siapa itu.


“Separuh hidupku … Ei sama berartinya dengan kalung itu,” sahut Hesa sebelum Febi melanjutkan kalimatnya seolah Hesa memang mantap dengan pilihannya.


“Kau gila … nenek … bisa murka …”


“Tidak jika dia tahu … seperti apa kemampuan Ei. Aku juga sangat penasaran, siapakah Ei sebenarnya. Makanya … di babak berikutnya, kita akan tahu … siapakah jati diri istri pilihan dari seorang pangeran ningrat sepertiku. Akan kubuktikan pada semua orang kalau aku tidak salah pilih.” Hesa menatap mata Febi yang menatapnya dengan tatapan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.


“Jangan-jangan … kau …”


“Iya …," lagi-lagi Hesa memotong ucapan Febi, "ayah memang berkuasa dalam sayembara ini, tapi nenek … di jauh lebih tinggi kedudukannya bila dibandingkan dengan ayahku.” Hesa menyunggingkan senyumnya.


Menghadapai Savatinov, memang tidak bisa dengan kekuasaan, tapi harus dengan strategi aturan kerajaan yang berlaku di keluarga bangsawan Hesa dimana pemegang kekuasaan tertinggi adalah nenek Hesa selaku ayah dari Raden Savatinov.

__ADS_1


BERSAMBUNG


***


__ADS_2