
Hesa terkejut mendengar pernyataan Ei yang mengatakan bahwa neneknya adalah nenek yang pernah ditolong Ei. “Kau bilang apa?” tanyanya lagi.
Hesa lumayan kaget juga. Ini suatu kejutan yang mengejutkan bagi Hesa sampai ia tidak tahu apakah ia harus bahagia atau bagaimana.
Entah ini kebetulan atau apa, Hesa tak pernah menyangka kalau nenek yang diceritakan Ei padanya, ternyata adalah neneknya sendiri. Meski masih bingung dengan hubungan Ei dan neneknya, Hesa lega karena setidaknya, strata tertinggi dikeluarganya, kenal betul siapa istrinya ini. Tak heran bila Ei menang, rupanya, ini semua berkat neneknya.
Ei sendiri tidak langsung menjawab pertanyaan Hesa dan malah menatap wajah nenek suaminya yang tersenyum tipis pada Ei. Sepertinya, sang nenek juga merindukan Ei tapi sengaja tak ia tunjukkan agar kemenangan yang Ei raih sekarang, tak dianggap curang. Tanpa bicara sepatah katapun, sang Gusti Kahiyang Ayu masuk ke dalam ruangan khusus para bangsawan.
Melihat hal itu, air mata Ei mengalir lagi karena ia sangat ingin memeluk nenek yang selama ini ia cari-cari dan tak disangka, malah bertemu di sini. Ei tidak mengerti, kenapa nenek Hesa tak mau bicara padanya walau hanya sedetik saja. Padahal Ei yakin nenek Hesa mengingat dirinya.
“Nenek,” gumam Ei sambil mengusap sisa bulir air matanya karena suara teriakan yang meneriaki namanya, terus terdengar di mana-mana terutama suara Angel dan Prety yang tak pernah berhenti menyemangati Ei.
Sayangnya, Ei tak bisa mendekati mereka karena dirinya langsung dikawal ketat oleh pengawal keluarga Hesa. Sedangkan sang nenek yang diharapkan Ei sudah pergi tak menampakkan diri lagi. Tak dapat dipungkiri, walau Ei telah memenangkan sayembara sebagai calon istri Hesa yang sah, hatinya terasa amat sedih.
“Pangeran Hesa, silahkan ikut kami ke ruang pertemuan keluarga,” ujar salah satu pengawal yang berdiri di belakang punggung Hesa.
__ADS_1
Hesa sendiri tak bergeming dari tempatnya dan masih menatap Ei yang melihat kearah lain sambil menangis. “Ei, lihat aku,” pinta Hesa pada istrinya yang langsung menoleh padanya. Suaminya itu membantu mengusap air mata Ei seolah tahu apa yang sedang gadis itu rasakan. “Kau menang sekarang, kau memenangkan sayembara ini. Kau berhasil. Tidakkah kau bahagia? Kau tidak boleh menangis seperti ini. Mulai sekarang, kau harus terus tersenyum demi aku … aku sudah jadi milikmu. Dan kau jadi milikku.”
Gestur Hesa menandakan kalau ia sudah tidak sabar memeluk Ei, tapi sengaja ia tahan karena tak enak dilihat banyak orang termasuk keluarganya sendiri. Sebagai gantinya, pemuda tampan itu hanya meraih kedua tangan Ei dan mencium punggung tangan teresebut.
Mata sang pengeran ningrat dipenuhi dengan cinta yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Dan Ei, saat ini … ia tak punya kata-kata untuk diungkapkan karena hatinya sedang kalut akan keberadaan sang nenek Hesa di depan matanya tapi tak dapat direngkuhnya.
“Jangan khawatirkan apapun. Nenek pasti punya alasan kenapa hingga sekarang dia masih belum menyapamu. Setelah ini kau akan dibawa ke suatu ruang sebelum kau dinikahkan denganku. Aku … harus pergi menemui keluargaku dan menyiapkan pernikahan kita yang sesungguhnya. Sebentar lagi, kita sudah bukan suami istri palsu lagi, tapi suami istri sungguhan.” Hesa tampak senang ketika dirinya menyebut kata ‘suami istri’.
Pada akhirnya, pernikahan palsunya dengan Ei bakal menjadi pernikahan yang sesungguhnya. Namun, entah kenapa, Ei tidak sebahagia Hesa.
“Ei, sebelum aku pergi, aku ingin dengar suaramu. Aku … jadi tidak tenang kalau kau terus seperti ini,” ujar Hesa. Matanya tak berhenti menatap wajah sedih calon istrinya.
“Maaf, aku terlalu shock. Dalam satu waktu yang sama, ada begitu banyak kejutan sampai aku tak tahu harus berkata apa. Pergilah, aku sudah tidak apa-apa, aku … bisa minta teman-temanku dan kakak sepupuku menemaniku selagi kau tidak ada di sisiku.” Akhirnya Ei buka suara meski tidak ada semangat dalam dirinya. Ei berusaha keras untuk tetap tersenyum agar Hesa tidak mencemaskannya.
“Ya sudah, kau cantik kalau tersenyum, makanya aku suka. Bunga-bunga yang ada di sini kalah indah dengan senyumanmu. Tetaplah tersenyum seperti ini, oke. Biar aku semakin jatuh cinta padamu setiap waktu.” Hesa membenturkan keningnya di kening Ei sambil tersenyum bahagia.
__ADS_1
“Dasar tukang gombal! Cepat pergi sana!” Ei mendorong tubuh Hesa yang langsung pergi sambil tertawa. Sekalipun tak diungkapkan, wajah suami tampan Ei itu begitu semringah apalagi senyum merekah ruah terus saja menghiasi sudut bibir manisnya karena Ei memenangkan sayembara.
Berbeda dengan Ei yang langsung sedih ketika Hesa sudah menghilang dari pandangannya. Iapun segera dituntun masuk ke ruang lain dan menunggu informasi selanjutnya dari keluarga Hesa. Istilah lainnya sih, Ei langsung dipingit. Begitu ruangan tertutup, Ei terduduk lemas memikirkan ekspresi nenek Hesa yang sangat berbeda dari terakhir kali Ei lihat dulu.
“Menikah? Apa maksudnya … aku akan benar-benar menikah dengan Hesa? Sekarang? Tidak … aku belum siap. Cita-citaku tidak menikah muda. Ini salah, dan kenapa aku baru sadar?” gumam Ei pada dirinya sendiri. Hal inilah yang menjadi kegalauan hatinya.
Kalau wanita normal, pasti sekarang Ei loncat-loncat bahagia. Wanita yang tak ingin menjadi istri Hesa dan secara otomatis mendapat gelar seorang putri pula. Berhubung yang Ei pikirkan sekarang hanya nenek Hesa, maka hati Ei jadi kalut. Masalah kisah cintanya dengan Hesa jadi terabaikan.
“Hentikan semua ini Ei,” ujar seseorang yang suaranya amat dikenal Ei.
Pria itu sedang berdiri tepat di depan Ei duduk. Tentu saja pemilik suara tersebut adalah sepupunya Ei sendiri, si Fery yang ternyata belum pergi dari kota ini.
BERSAMBUNG
***
__ADS_1