Istri Pilihan Pangeran Ningrat

Istri Pilihan Pangeran Ningrat
BAB 34


__ADS_3

Makan malampun tiba, Hesa dan Ei dipanggil untuk makan malam bersama. Untunglah Ei sudah tahu bagaimana suasana makan di keluarga ningrat suaminya kerena sebelumnya ia pernah makan di rumah Febi.


Semua keluarga Hesa berkumpul. Kalau siang tadi hanya ada 4 orang, kali ini bertambah 7 orang lagi. Dari sini Ei baru tahu kalau Hesa ternyata 4 bersaudara, yaitu Mahendra, Maheri, Mahesa dan Maheswari. Hesa adalah putra ke-3 di keluarga ini. Kedua kakak-kakak Hesa sudah menikah. Tinggal adik bungsu Hesa saja yang belum. Semuanya berparas tampan dan menawan. Istri-istri kakak Hesa juga cantik-cantik.


Kakak ipar Hesa yang pertama adalah seorang artis sinetron ikan terbang yang pernah menjadi putri Indonesia juga. Sedangkan kakak ipar Hesa yang kedua adalah putri keraton dari kerajaan Jawa. Bisa dibayangkan betapa anggunnya putri yang satu itu bila dibandingkan dengan Ei yang oneng dan bar-bar. Sungguh sangat berbeda jauh.


“Akhirnya, kalian datang. Kenalkan, wanita itu ….”


“Namanya Shreya Fayola Serendipity, Ayah. Bukan wanita itu.” Hesa membenarkan.


“Terserah, nama kok susah amat. Wanita itu adalah istri Hesa. Tapi belum resmi seperti Hendra dan Heri. Bisa dibilang dia hanya istri bayangan karena mereka menikah secara diam-diam.” Ayah Hesa sengaja memulai pertikaian. Namun bukan Hesa dan ei kalau keduanya mudah goyah hanya karena kalimat pedas keluar dari mulut Raden Savatinov.


“Bisa kita mulai makan malamnya, Ayah? Aku rasa, kakak-kakakku sudah tahu rumor soal pernikahan kami, tak perlu dijelaskan lagi. Termasuk insiden ular yang hampir saja mencelakai istriku.” sela Hesa terkesan membantah ayahnya. serangan balik yang pas dari Hesa dan sukses membuat ayahnya kicep tak bersuara.


“Hesa, benar Suamiku, ayo makan.” Ibu Hesa yang bijaksana menengahi.


Semua orang menatap sinis Ei yang merupakan satu-satunya orang dari kalangan kaum sudra tapi berhasil masuk ke keluarga ningrat dengan mudahnya. Latar belakang keluarga Ei juga tidak jelas. Hanya adik Hesa saja yang mau menerima Ei dan menyambut Ei dengan baik di keluarga ini.


“Selamat datang di keluarga kami kakak ipar, dan selamat untuk pernikahan kalian,” ucap pria tampan yang bernama Maheswari dan biasa dipanggil Mahes.


“Terimakasih … eee ….” Ei bingung mau panggil adik iparnya dengan sebutan apa. Sebab ini kali pertama mereka bertemu dan ei baru tahu Hesa punya 2 kakak dan seorang adik laki-laki.


“Panggil saja Mahes, Kak. Kalau dipanggil Wari takutnya aku dikira waria,” canda adik Hesa yang ternyata lumayan humoris juga.


Setelah perkenalan singkat Ei dan keluarga besar Hesa. Suasana makan malam di keluarga aristocrat ini begitu sepi dan sunyi. Tak banyak yang bisa Ei lakukan karena ia bingung dengan tata cara makan yang ada di sini.

__ADS_1


Bukan seperti keluarga aristocrat pada umumnya, keluarga Hesa ternyata juga menerapkan budaya modern. Di sisi kanan piringnya Ei, ada pisau kecil yang sejatinya itu adalah pisau khusus yang digunakan untuk memotong makanan yang dihidangkan seperti daging steak dan lain sebagainya. Di sisi kiri ada garpu,. Tapi tidak ada sendok. Di sisi garpu juga ada sumpit. Fungsinya sama seperti garpu.


Semua orang yang ada di sini makan dengan mengunyah sambil menutup mulut rapat-rapat. Tidak ada suara berisik seperti sendok dan garpu yang saling beradu. Suasananya benar-benar sepi seperti kuburan dan semua orang fokus pada makanan mereka masing-masing.


“Makanlah, kenapa kau diam saja?” bisik Hesa pelan.


“Aku tidak tahu bagaimana cara menggunakan pisau garpu ini,” balas Ei berbisik.


“Ehem.” Savatinov berdeham memberi peringatan pada Ei untuk tak membuat gaduh. Ia menatap lekat-lekat wajah menantunya yang terlihat bingung. Semua ini memang sudah diatur oleh ayah Hesa untuk mempermalukan Ei di depan menantu-menantunya yang lain.


“Kenapa kau tidak makan? Kau tidak bisa menggunakan pisau dan garpu itu kan?”


“Tentu saja saya bisa Ayahanda,” ujar Ei pura-pura tenang.


Aduh … gawat, ini gimana cara makannya? Batin Ei dalam hati.


Jelas, Ei merasa sangat tertolong dan membuat sang mertua emosi. Tapi Savatinov juga tak bisa berbuat apa-apa karena sebelumnya Hesa pernah mengatakan kalau ia akan selalu melindungi istrinya dalam keadaan apapun. Terbuktilah sekarang. Hesa, selalu jadi tameng terbesar Ei.


Sayangnya, daging yang dipotongkan Hesa terlalu besar untuk mulutnya Ei. Daripada nanti nggak ketelan, Ei berinisiatif memotongnya lagi menjadi lebih kecil. Tak disangka, potongan daging yang mencoba diiris Ei menggunakan pisau, tak sengaja meloncat kea rah kepala Savatinov yang sedang makan. Tentu saja Ei langsung menutup mulutnya kerena terkejut karena di kepala mertuanya ada potongan dagingnya Ei.


Savatinov meraba kepalanya dan langsung shock melihat ada daging ditangannya. Seketika pria paruh baya itu berteriak sekencang-kencangnya lalu pingsan lagi.


“AaaaaarrrrrgggH!” untuk kedua kalinya, ayah Hesa pingsan. Ini baru sehari, tapi sang Raden sudah tak sadarkan diri dua kali dan itu gara-gara ulahnya Ei.


Ei menjelaskan kalau ia sungguh tidak tahu bagaimana menggunakan pisau yang baik sehingga tak sengaja membuat daging terlempar ke udara dan mendarat mulus di kepala ayah suaminya.

__ADS_1


Sontak semua orang yang ada di ruangan ini mati-matian menahan tawa tapi juga tak berani bersuara kalau tidak ingin dihukum berat.


***


Di dalam kamar, Hesa tak henti-hentinya tertawa lagi. Dan ini sudah yang kedua kali. Pria tampan itu yakin kalau besok saat sarapan bersama pasti bakal terulang lagi kejadian seperti ini.


“Berhentilah tertawa, ini tidak lucu!” cetus Ei kesal, kali ini Ei tidak bisa lepas dari hukumannya atas tindakannya yang kurang sopan.


“Habis kau ini lucu, Ei. Tadi siang belut, sekarang daging steak! Besok apalagi.”


“Lagian aku nggak biasa makan pakai pisau atau garpu atau apalah itu namanya. Mending pakai tangan saja jauh lebih enak. Pokoknya kau yang salah.” Ei malah ganti menyalahkan Hesa.


“Lah kok aku, yang lempar daging itu ke kepala ayahku kan kamu, bukan aku?” tanya Hesa.


“Lihat mulutku, bayi marmot, ukuran daging yang kau potongkan terlalu besar. Mana mungkin muat? Memangnya mulutku ini mulutnya Kudanil apa? Bentak Ei.


Tak disangka, Hesa malah mencium mulut Ei dengan cepat sehingga gadis itu terdiam sambil melotot.


"Aku mengukur mulutmu dengan mulutku. Sepertinya pas." Hesa mengusap bibir bawahnya dengan jari jempol seolah habis merasakan sesuatu.


"Dasar mesuuumm! Kau bangsawan keturunan ningrat! Kenapa mesummu itu gak ketulungan, ha?" teriak Ei sambil menyerang Hesa secara bertubi-bertubi.


Tentu saja Hesa berlarian ke sana-kemari untuk menghindari serangan brutal Ei dan membuat isi kamar berantakan.


BERSAMBUNG

__ADS_1


***


__ADS_2