
Wajah Hesa tampak amat resah dan gelisah saat mengajak Ei pergi ke tempat perlombaan kedua akan berlangsung. Bukan karena Ei hampir digampar oleh Margaret, tapi karena ada hal lain. Yaitu, masalah perlombaan yang akan dihadapi Ei karena beberapa perlombaan itu ada yang belum Ei lakukan untuk latihan.
Ditambah lagi, lokasi tiap olahraga yang dilombakan berbeda tempat dan lumayan jauh. Kemungkinan besar akan berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Dan tentu saja, para peserta sayembara akan ditempatkan dalam satu mobil yang sama sampai di tempat tujuan untuk menghindari kecurangan.
“Ada apa? Kenapa kau gelisah sekali? Tidak biasanya,” tanya Ei saat melihat Hesa berkali-kali mengepalkan kedua tangan. Ia juga melihat arlojinya dan masih ada waktu 30 menit sebelum Ei masuk ke babak ke-2.
“Ayah mengubah system pertandingannya. Ini tidak sesuai dengan ketentuan yang diberikan di sayembara sebelum-sebelumnya. Babak kedua adalah babak asah keterampilan bakat dan kemampuan apa yang kau miliki. Rata-rata adalah di bidang olahraga,” terang Hesa cemas.
“Kau tenang saja, ketahanan fisikku kuat kok. Olahraga macam apapun aku pasti bisa.” Ei sangat percaya diri.
“Ini bukan olahraga biasa seperti yang kau pikirkan Ei. Kalian akan diajak bermain golf, renang, tenis, main catur dan memanah serta lompat tinggi. Siapa yang bisa memenangkan semua perlombaan itu, dialah yang akan jadi pemenang.”
Ei terdiam. Hesa sudah tahu kalau ini akan berat untuk istrinya. Melihat Hesa yang tampak putus asa, Ei jadi tidak tega.
“Sebenarnya, ayahmu mau mencarikanmu istri atau seorang atletik olimpiade sih? Apa hubungannya coba? Semua cabang olahraga itu dengan menjadi istrimu. Begitu menikah yang dilakukan seorang istri adalah melayani suaminya, bukan ikut ajang kompetisi atau olimpiade. Ada-ada saja.”
“Sebelumnya tidak ada Ei. Sayembara hanya berlangsung sehari saja. nggak lama dan seribet sekarang. Kalau ayah membuat peraturan aneh dan melenceng seperti ini. Pasti tujuannya hanya satu. Yaitu menjatuhkanmu supaya kau menyerah.”
“Sudahlah, kau tenang saja, para calon istri-istrimu itu pada lembek semua, apalagi Margareta. Mereka tidak akan bisa mengikuti semua perlombaan itu. Kalau semua nggak bisa kan berarti semua gugur,” ujar Ei menggampangkan dan Hesa hanya tepok jidat.
***
__ADS_1
Diluar dugaan, calon istri Hesa memang bukan sembarang calon. Rupanya mereka memang sudah terlatih sejak dini untuk mengikuti sayembara ini. Buktinya, di lomba memanah saja, mereka pada jago dan handal semua meski sasarannya belum ada yang pas di tengah.
Ei melongo menyaksikan betapa hebatnya para pesaingnya dalam bidang olahraga ini. Semua peserta bisa menunjukkan keterampilan memanah mereka dengan baik dan kini giliran Ei sekarang.
Hesa dan ibundanya menatap Ei dengan harap-harap cemas. Kalau panah Ei keluar dari garis papan lingkaran yang ditentukan, maka ia akan kalah dan langsung tereliminasi saat itu juga. Namun jika masuk, maka ia kan lolos ke cabang olahraga lainnya.
“Hesa, apa kau yakin istrimu bisa memanah?” tanya ibunda Hesa yang sama cemasnya dengan putranya.
Hesa tidak bisa menjawab karena sejauh ia mengenal Ei, ia tak pernah melihat Ei ikut olahraga memanah. “Ini pasti jebakan dari ayah. Para putri-putri keratin itu sudah diberitahu lebih dulu tentang lomba ini dan hanya Ei saja yang tidak diberitahu.”
“Bukankah Febi dan Rangga sudah melatihnya?”
Mendengar hal itu, Ibunda Hesa cemas dan marah. Ia tak suka suaminya bertindak curang seperti ini. Raden Ajeng itupun bangun dari kursinya dan hendak protes pada suaminya, tapi niatnya ia urungkan karena anak panah yang Ei lepaskan melesat tepat mengenai titik tengah papan panah dengan sempurna bila dibandingkan dengan yang lain.
Tepuk tangan meriah langsung menggema di mana-mana dan orang yang paling berbahagia adalah Hesa. Ia lepas kendali dan langsung berlari ke tengah lapangan. Namun, ia berhenti dan balik badan lagi karena sadar ada banyak pasang mata menatapnya.
“Kurang ajar!” gumam ayah Hesa dan sontak di dengar oleh istrinya. Namun, tak banyak yang bisa dilakukan ibu Hesa selain senyuman bangga pada Ei yang ternyata punya keahlian memanah juga. Pantas aja dia tenang-tenang saja saat Hesa mengutarakan kecemasannya.
***
Tak hanya lomba memanah saja yang berhasil dimenangkan Ei. Pertandingan tenis, catur, renang, semuanya Ei yang memenangkan. Bahkan saat bermain golf Ei bisa memasukkan bola golf tepat sasaran hanya dalam sekali pukul. Olah raga yang diikutkan sebagai sayembara pemilihan calon istri Hesa bukan sembarang olahraga. Semuanya merubah akan cabang olahraga kalangan elit.
__ADS_1
Savatinov sengaja memilih olahraga tersebut agar Ei tak bisa menang mengingat Ei hanyalah gadis biasa dari rakyat jelata. Tak disangka, gadis biasa itu ngata luar bisa dan mengalahkan semua kandidat putri yang berdarah biru tulen.
Margaret sangat kesal sekarang karena semua lomba telah dimenangkan oleh Ei. Padahal ia sudah yakin kalau dirinyalah yang akan menang. Ini jelas jauh diluar ekspektasinya. Dari kejauhan, gadis manja itu terlihat merengek di depan orangtunya dan minta perlombaan diulang.
“Tenanglah Sayang, ayah akan pastikan kau menang telak. Bagaimanapun, kau harus menjadi bagian dari keluarga ini agar kita bisa melunasi hutang-hutang kita. Tapi … jangan sampai mertuamu tahu. Bisa runyam kalau niatmu menikahi Hesa hanya untuk uang.” Ayah Margaret mencoba menenangkan dan mengingatkan tujuan pernikahan ini.
“Aku tak peduli dengan uangnya, Bopo, tapi aku butuh Hesa untuk menjadi suamiku. Bukan suami wanita rendahan seperti Ei itu.”
“Dia hanyalah kecoak yang perlu disingkirkan. Kau jangan khawatir, ayah akan melakukan apa aja untukmu. Fokuslah pada perlombaanmu. Kalau masalah lain, biar Bopomu ini yang urus.”
Margaret tidak terima dengan kemenangan mutlak Ei, makanya ia menurut saja pada usaha orangtunya agar bisa masuk ke keluarga Hesa dengan dalih perjodohan dengan strata yang sama. Itulah tujuan utama keluarga Margaret ngebet ingin jadi menantu keluarga Savatinov. Dan sekarang hanya menyisakan 1 perlombaan lagi. Yaitu lompat tinggi jarak 2 m.
Sambil menunggu persiapan, para peserta yang dinyatakan lolos bersiap-siap termasuk Ei sendiri.
“Heh, Ei! Kau jangan bangga dulu, ya? Babak ini adalah babak penentuan untuk bisa lolos ke babak terakhir. Aku bersumpah takkan kalah darimu lagi.” Lagi-lagi Margaret cari gara-gara dengan Ei.
“Kau memang harus mengalahkanku, kalau tidak, kau akan tersisihkan,” balas Ei santai. “Tinggal 3 orang. 2 diantara kita harus bisa lompat tinggi. Kalau aku sih tidak masalah, gagal … poinku masih banyak, aku masih tetap bisa lanjut. Jadi, aku tak khawatir. Tapi jika kau yang gagal, maka kau takkan bisa mengikuti babak berikutnya.” Ei tersenyum sinis. Ia tahu pasti ada rencana buruk menanti Ei di luar sana.
BERSAMBUNG
***
__ADS_1