Istri Pilihan Pangeran Ningrat

Istri Pilihan Pangeran Ningrat
BAB 99 Berjuang Atas Nama Cinta


__ADS_3

Sebelumnya, author permisi minta maaf karena di part ini harus menghadirkan sebagian kecil kehidupan raja demit Refald (tokoh protagonis pria utama dalam novelku ‘PUTRA RAJA’) dan Fey sebagai cameo di novel Hesa. Dalam kisah ini, Fey dan Refald baru saja beberapa bulan menikah dan Fey juga sedang hamil muda Pak Po juga baru saja kembali jadi makhluk astral lagi setelah sempat merasakan menjadi manusia di zaman modern.


Yang sudah baca novelnya Refald di Putra Raja season 1 dan 2 pasti sudah tahu kalau novel tersebut bergenre fantasi. Tidak semua pembaca menyukai cerita fantasi. Tapi … kisah ini hanyalah hiburan semata. Fantasi yang aku tulis ini juga fantasi romansa hasil dari imajinasiku yang konsletnya tiada tara.


Semoga siapapun yang membaca kisah Hesa ini, tidak keberatan jika menghadirkan Refald di part ini. Kalau ada Refald, sudah pasti ada unsur fantasinya. Jangan kaget dan harap maklum. Yang nggak suka mohon di skip saja partnya.


Dan teruntuk Refald lovers, part ini special untuk kalian yang kangen berat sama Refald dan keonengan pak Po. Dan dalam part ini, kali pertama kupertemukan si oneng Ei dan si Oon pak Po.


Selamat membaca ya … dan jangan lupa beri like, vote, rate dan komentar kalian. Komentar-komentar dari kalian selalu aku baca dan menjadi penyemangatku dalam melanjutkan cerita meski tidak semua komentar bisa aku balas. Sebab, aku juga ada pekerjaan lain di RL.


Jadi … bantu ramaikan novel ini ya … dan novel baruku yang satunya. Yaitu novel Nagata, karena di novel itu juga ada Refald dan Fey juga. Bahkan babang Leopard dan Shena juga ada.


HAPPY READING!


***


...Satu jam sebelum ular Python datang mengganggu keromantisan Hesa dan Ei …...


Di tempat lain, tepatnya di kediaman Ei dan Fey, Fey sedang merasakan sesuatu yang membuatnya ingin sekali pergi ke hutan. Refald yang mengetahui gerak gerik istrinya mencoba menanyakan apa yang terjadi.


Semenjak hamil, Refald kesulitan membaca pikiran Fey entah karena apa. Bisa jadi karena si jabang bayi melawan kekuatan Refald agar apapun yang dirasakan ibunya tak diketahui oleh ayahnya.


“Ada apa Honey, kau gelisah sekali?” tanya Refald pada Fey.


“Entahlah Refald, tiba-tiba saja … aku ingin buah murbei,” jawab Fey.


Refaldpun memejamkan mata memanggil pasukan kesayangannya. Siapa lagi kalau bukan si oneng pak Po. Dalam hitungan detik, pocong tampan itupun datang dan menghadap raja serta ratunya.


“Ada apa Yang mulia, Kenapa memanggil hamba?” tanya pak Po dengan khidmad sambil menundukkan kepalanya penuh hormat.


“Pergilah ke hutan dan ambilkan buah murbei untuk istriku pak Po.”


“Baik Yang mulia, saya akan ambilkan buah murbeinya,” ujar pak Po dan iapun menghilang tanpa berkata apa-apa lagi.


“Kenapa kau menyuruh pak Po? Apa tidak ada demit lainnya?”


“Yang lain pada sibuk Honey, hanya pak Po saja yang kurang kerjaan?” jawab Refald santai sambil membuat desain gampar jembatan layang tol laut yang menghubungkan benua Afrika dan Eropa.


“Memangnya demitmu itu sibuk apa? Ngantor? Jadi CEO atau presdir? Sampai nggak bisa diganggu gugat begitu.”


“Mereka sibuk menangkap hantu gentayangan yang menakuti manusia, kalau aku menyuruh Pak Po. Hantu gentayangan itu bukannya tertangkap malah Pak Po yang ditangkap oleh mereka. Jangan lupa kasus terakhir saat dia dan teman-temannya ditangkap para pengikut pengabdi setan di desa tempat Kemala dan Richard berada. Aku tak mau kejadian itu terulang lagi, Honey. Maknya Pak Po kurumahkan.” Refald tersenyum sendiri saat mengingat betapa bodohnya Pak Po yang bisa ditangkap manusia padahal dia adalah sosok makhluk astral tak kasat mata. Saking apanya coba?

__ADS_1


“Gaya banget sih, pakai acara dirumahkan segala. Memangnya Pak Po itu pegawai pabrik apa. Eh, tapi Refald, apa anak buahmu itu tahu seperti apa buah murbei itu? Dan di mana dia bisa mendapatkannya? Hutan itu luas loh,” tanya Fey dan Refald langsung berhenti bekerja lalu menatap Fey lekat-lekat.


“Kau benar Honey, tapi sudah terlambat, tuh … si Pak Po sudah kembali.” Refald menunjuk Pak Po yang datang dengan tampilan acak-acakan dan bentuknya tidak karuan. Banyak sampah plastik berserakan di mana-mana dan Pak Po sangat sangat kotor sekali.


“Ada apa denganmu Pak Po? Kenapa kau berantakan begitu? Apa yang terjadi padamu?” tanya Fey penasaran. Ingin tertawa tapi tidak tega.


Dengan wajah melas, si Pak Po meletakkan buah leci yang ada di kedua tangannya tepat di atas meja dan mata Fey semakin terbelalak. Sejak awal Fey sudah menduga kalau hal semacam ini bakal terjadi. Disuruh memetik murbei malah dibawain leci.


“Hamba tadi memetik buah murbei ini di atas pohon Yang mulia Ratu," jawab Pak Po tanpa dosa.


"Kau bilang itu buah apa?" tanya Fey.


"Buah murbei," jawab Pak Po polos.


"Itu bukan murbei Solahudin Wahid!" cetus Fey kesal


"Nama saya kan Ezi Ratu, bukan Sol Sol apa tadi ... ya gitulah."


"Sama aja dudul! Astaga ... ya sudahlah, lupakan masalah murbei dan leci ini. Yang menjadi pertanyaanku, kenapa kau berantakan begitu? kau habis tidur dengan babi?"


"Iya ratu tapi nggak sengaja, semua itu gara-gara para manusia laknatullah Ratu. Saya di bully, huaaa," rengek Pak Po dan Fei langsung melongo.


"Sebentar-sebentar, gimana ceritanya pocong sepertimu itu bisa dibully, dan siapa yang membullymu, ha?"


"Jadi gini ceritanya Ratu, saya kan melihat buah murbei ...."


"Leci! Bukan murbei!" ralat Fey kesal.


"Iya, itu maksud saya Ratu, eh tapi ternyata semua pemilik rumah buah murbei ini ... eh leci ini adalah orang indigo semua. Alhasil saya dilempari perabot rumah tangga sehingga membangunkan seluruh warga disekitar mereka. Akhirnya saya terkepung dan dihajar habis-habisan oleh mereka, lah saya kabur lah ... nggak tahunya kesandung dan jatuh di kandang babi belakang rumah salah satu warga Ratu, hiks hiks, Hamba apes banget Ratu,” ujar pak Po curhat dan Fey langsung tepok jidat sementara Refald hanya mengigit bibirnya menahan geram dan tawa.


“Pak Po? Kau itu kan setan? Bagaimana bisa kau digebukin warga? Apa kau sedang bercanda?” sengal Fey pada anak buah suaminya yang oneng ini.


“Lah itulah masalahnya Ratu, kok bisa saya kena lemparan dan pukulan mereka Ratu?” tanya Pak Po malah bingung sendiri.


“Itu karena kau membiarkan mereka melihat dan menyentuhmu Pak Po. Kau tak menggunakan kekuatan hantumu dan malah menggunakan sisi manusiamu yang belum sepenuhnya hilang akibat ritual waktu itu. Tak heran bila wujudmu dapat dilihat oleh manusia-manusia lainnya. Makanya mereka bisa menindasmu.Tapi Pak Po ... apa kau tidak bisa melawan mereka? Kau itu hantu loh, di mana harga dirimu sebagai setan paling fenomenal di negara ini?” Kali ini Refald yang menerangkan. “Lagian, siapa yang menyuruhmu memetik buah leci, ha? Aku bilang buah murbei, bukan leci!”


“Lah ini kan murbei, Raja.” Pak Po masih ngeyel padahal Fey sudah memberitahu.


“Murbei itu warna buahnya hitam kalau sudah masak dan merah kalau belum masak. Ukurannya jauh lebih kecil dari si leci ini. Dan buahnya itu rata-rata adanya itu di hutan karena tak banyak yang membudidayakan buah itu. Siapa yang menyuruhmu mencuri di rumah warga, ha? Kembali ke hutan dan ambil buah murbeinya. Yang hitam, jangan yang merah!” sengal Refald.


“Baik Raja … saya permisi dulu.” Pak Po pun menghilang lagi.

__ADS_1


Fey tak bisa percaya pada pak Po setelah apa yang menimpanya dan iapun bermaksud mengikuti anak buah onengnya itu. Namun, lagi-lagi, Refald mencegah kepergian istrinya.


“Kau tunggu di sini saja Honey. Biar aku yang pantau dia.”


“Tidak, aku ikut denganmu.” Fey berdiri di depan Refald dan minta digendong di depan. “Ayo cepat sebelum anak buahmu bikin onar.”


Refald tak punya pilihan, iapun menggendong Fey dan bersiap berangkat mengejar Pak Po. Namun, belum juga Refald melangkah keluar, tiba-tiba saja sebuah panah melesat cepat ke arah Refald dan sang raja demit itupun menangkap anak panah tersebut dengan giginya.


“Ambil surat yang ada di pucuk anak panah ini Honey,” pinta Refald sok mesra pada istrinya.


“Kau kan bisa baca sendiri.”


“Aku sibuk menggendongmu, kau saja yang baca.”


Fey mendengus kesal. Padahal suaminya itu bisa meletakkan tubuhnya dulu baru baca surat panah yang entah dikirim oleh siapa. Tapi dasarnya Refald aneh, makanya ia lebih memilih tetap menggendong Fey dan meminta istrinya mengambil anak panah dari mulutnya untuk dibacakan apa isi surat panah tersebut.


Pocong tampanmu sedang kusandera, kalau kau tak segera menyelamatkannya, maka ia akan kujadikan ular dan kukirim jauh dari tempat ini.


Itulah isi pesan dari anak panah tersebut. Fey mengernyitkan alis tanda tidak mengerti. Ia sudah menduganya kalau sekali Pak Po keluar rumah, selalu saja ada hal yang menimpanya. Barusan saja si poci pocicu dikeroyok massa hanya karena mencuri buah leci milik seseorang dan sekarang malah ditangkap siluman.


“Apa itu …”Fey tak berani melanjutkan kata-katanya.


“Iya … dia menjadikan pak Po sebagai sandera untuk membuat kita datang menemuinya.”


“Lalu bagaimana? Apa kita akan menyelamatkan Pak Po?”


“Ini jebakan Honey. Ratu ular itu mengincarmu. Jangan terpancing hanya karena hal sepele seperti ini.”


“Tapi Pak Po ….”


“Biarkan saja dia jadi ular. Siapa suruh dia oneng! Makhluk astral lain bisa dengan mudah memperdayanya kalau si Pak Po onengnya nggak sembuh-sembuh,” Refald menurunkan istrinya karena sepertinya, ia tak perlu lagi menyusul Pak Po.


Sebab, saat ini Pak Po sedang dijadikan sandera lagi dan kalau Refald tak segera datang, maka Pak Po akan dijadikan ular.


“Kau jangan kejam-kejam dengan Pak Po Refald, bagaimanapun, dia itu anak buah kesayanganmu. Kita harus menyelamatkannya.”


“Pak Po bisa jaga diri Honey. Aku tahu tempat di mana Pak Po akan dibuang. Ayo kita tunggu saja di sana dan mencari buah murbei paling enak di dunia. Lagipula, ayo kita menemui pasangan sejoli lain yang sedang berjuang atas nama cinta,” ajak Refald pada Fey dan tanpa menunggu persetujuan istrinya. Refald langsung membawa Fey menghilang dan menuju suatu tempat yanga amat sangat jauh hanya dalam waktu sekejap.


BERSAMBUNG


***

__ADS_1


__ADS_2