
Hesa buru-buru memperbaiki ekspresinya meski ia sangat shock dengan pengakuan Ei yang sangat sangat mengejutkannya. Ia menatap wajah tenang Ei dan wajah tercengangnya Fery secara bergantian. Rupanya, inilah kenapa Hesa punya firasat tidak enak sejak tadi. Ei benar-benar kelewatan kalau sudah mengarang cerita.
Dasar oneng! Batin Hesa, ia hanya menutupi mukanya dengan satu tangan karena tak berani menatap wajah Fery karena ekspresinya sudah tidak bisa didefinisikan dengan kata-kata.
Lama juga Fery terdiam, dan ia terus menatap wajah Ei yang juga menatapnya. Kali ini, Fery tak banyak bicara dan langsung bersiap pergi.
“Baiklah, aku paham. Aku akan pergi dan tidak akan kembali lagi. Kau sendiri yang memilih hidup di sini dan meninggalkan kami. Aku tidak menyalahkanmu atas apa yang kau lakukan saat ini. Kalau saja, ayah dan ibuku tidak menjodohkanmu dengan temanku, mungkin kau tidak akan kabur. Selamat atas kehamilanmu, Ei. Aku turut senang.” Fery bangun berdiri dengan tatapan mata lurus.
Ei sendiri langsung diam seribu bahasa dan tak bergeming dari tempatnya saat kakak sepupunya pergi meninggalkannya. Hesa jadi semakin bingung sekarang, tapi ia mengambil langkah tepat dan langsung berlari mengejar Fery.
“Tunggu!” seru Hesa saat Fery menghentikan taksi. Hesa berjalan cepat menuju tempat Very berada. “Maafkan aku, ini pertama kali kita bertemu tapi aku sudah salah paham padamu dan situasinya jadi tak terkendali. Tapi aku janji … jika sudah waktunya tiba, aku akan membawa Ei pulang untuk menemui semua keluarganya.”
“Tidak perlu, kau tak tidak usah repot-repot bawa Ei pulang. Karena akulah yang akan bawa mereka kemari tepat saat usia kandungan Ei sudah 4 bulan dan 7 bulan. Aku akan minta ibuku berada di sini saat Ei melahirkan agar tidak merepotkan keluargamu. Akhirnya, gadis bengal itu sudah dewasa juga. Aku pergi dulu. Tolong jaga Ei baik-baik.” Fery menepuk pelan bahu Hesa yang terbengong-bengong mendengar kalimat perpisahan dari Fery.
Sepupu Ei itu masuk ke dalam taksi dan meninggalkan Hesa yang langsung tepok jidat. Kebohongan soal kehamilan Ei ternyata tak berhenti sampai di sini. Masalah ini jadi berbuntut panjang. Hesa masuk kembali ke dalam kafe dan mengomeli Ei habis-habisan atas keonengannya mengarang cerita.
“Bagus, sepertinya setelah lulus nanti kau bakal jadi penulis drama ikan terbang yang terkenal,” ujar Hesa memulai wejangannya.
“Aku sedang badmood sekarang. Jangan mengajakku bertengkar,” cetus Ei.
“Jadi kau sedang hamil, ha? Anak siapa?”
“Ya mana aku tahu? Kan aku belum pernah melakukannya dengan siapapun. Kemungkinan adalah anakmu karena kau yang jadi suamiku.”
“Ooh, jadi itu anakku! Kalau begitu ayo kita buat!” ajak Hesa langsung bersemangat.
__ADS_1
“Enak saja! Kan kita sedang sandiwara.”
“Sandiwaramu semakin membawa masalah Ei Ei. Kau tahu apa yang dikatakan kakakmu? Dia bilang begitu kehamilanmu jalan 3 bulan, keluargamu akan datang untuk selametan. Begitupula saat usia kandunganmu 7 bulan. Dan jika kau melahirkan, bibimu akan menemanimu dan membawamu merawat bayi yang bahkan belum kita buat. Sekarang beritahu aku? Bagaimana caramu melahirkan kalau kita tidak buat anak sekarang? Kalau buat sekarang waktunya mungkin lebih dari yang kau ucapkan. Jadi, ayo kita buat anak sekarang supaya sandiwaramu ini terlihat natural. Tidak mungkin kau pakai anak orang lain untuk kau jadikan tumbal, kan?”
"Itu ide bagus? Kita cari bayi yang baru lahir di ramah sakit terus mengaku-ngaku anak kita. Nanti akh bakal beli balon kehamilan palsu saat usia kandunganku 3 7 bulan," ujar Ei dengan polosnya.
"Astagah Ei, aku sedang tidak bercanda. Aku serius!" Hesa berdecak kesal. "Kalau kau sungguh ingin punya anak, ayo buat sekarang, lebih cepat baik, ini solusi yang paling tepat untuk sandiwaramu itu."
Ei melongo menatap Hesa. Kekasihnya itu tampak marah sekali padanya, tapi mendengar ajakan Hesa, kok kesannya enak di Hesa nggak enak di Ei, ya.
“Begini saja, sebulan dari sekarang, aku akan hubungi kakakku dan bilang kalau aku keguguran. Gampang, kan? Jadi mereka nggak perlu sudah payah datang kemari. Yang penting mereka sudah tahu aku menikah denganmu. Masalahku dengan keluargaku beres. Mereka tidak akan memaksaku menikah dengan pria lain yang tidak aku cintai. Sekarang, kita pulang dan bereskan masalah keluargamu. Aku hanya perlu memenangkan sayembara ini kan. Akan kupastikan aku menang.” Ei bangun berdiri dari kursi lalu memesan 2 cup minuman.
Hesa hanya bisa geleng-geleng kepala menghadapi istrinya yang entah apalah namanya. Dibilang oneng dia itu pintar, di bilang pintar kok onengnya nggak ketulungan.
“Minumlah, supaya nggak stress.” Ei memberikan 1 cup minuman yang ia pesan untuk Hesa sambil meminum minumannya sendiri. “Kau yang bayar, ya?” Ei tersenyum dan Hesa maju ke tempat kasir lalu mengeluarkan kartu black card-nya. Hesa menutup wajahnya dengan 1 tangan.
"Kenapa aku bisa cinta mati pada wanita sepertimu, Ei. Dan aku ... jadi semakin mencintaimu," ujar Hesa dan Ei malah menatapnya bingung.
***
Setibanya, di rumah Hesa. Ei langsung masuk ke dalam dan ternyata di dalam istana megah itu sudah sangat ramai orang. Yah tidak salah lagi, orang-orang itu adalah tamu agung keluarga Hesa di mana putri-putri dari para tamu tersebut merupakan peserta sayembara selain Ei dan Margareta.
Rupanya, sejak awal Margareta sudah tahu kalau Ei ada hubungan khusus dengan Hesa. Namun, ia sengaja diam karena Margareta yakin, dialah yang akan keluar sebagai pemenangnya karena dapat dukungan dari Savatinov.
“Ei, kau sudah datang. Sini, kemarilah!” Ibu Hesa langsung meminta Ei berbaris rapi bersama dengan calon putri lainnya untuk mengikuti upacara pembukaan sayembara.
__ADS_1
Ei menurut dan terpaksa ia berpisah dengan Hesa. Suaminya itu berjalan maju dan berdiri di samping ayahnya yang sedang berpidato keras mengenai sayembara yang akan segera di mulai hari itu juga. Savatinov menjelaskan apa saja yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan peserta selama sayembara berlangsung.
Dan hari pertama, para calon putri harus melewati tahap seleksi, yaitu cara berjalan, berbicara dan bertata krama lainnya baik saat makan, tidur ataupun bicara dengan orang lain atau anggota keluarga sendiri.
Babak pertama, semua peserta lolos. Hal itu membuat ayah Hesa sedikit kecewa karena menantunya yang ia kira bar bar dan tidak tahu aturan, rupanya tahu tata krama dan adat istiadat di istananya. Bahkan Ei lolos dengan nilai terbaik dibandingkan dengan yang lain. Sungguh ini diluar dugaan Savatinov.
Hesa yang mengetahui hal itu jadi tersenyum senang melihat Ei berhasil melewati seleksi dengan hasil yang sangat memuaskan. Hesa terus menyemangati istrinya untuk maju ke babak selanjutnya.
Saat ini, ada di ruangan khusus peserta. Ei berganti pakaian karena sebentar lagi, babak kedua ini harus memperlihatkan skill dan kemampuan dalam bidang olahraga tertentu seperti memanah, baseball, tenis, dan renang. Ei yang sudah diberitahu Febi dan Rangga sebelumnya juga sudah malai bersiap-siap.
Seseorang masuk ke dalam ruangan Ei, dan mulai mengintimidasi gadis itu. Orang itu, siapa lagi kalau bukan Margareta.
“Kau pikir dengan mendapat nilai terbaik di babak awal, kau bisa menang?” bisik Margaret pada Ei yang sedang bersiap-siap mengikuti babak selanjutnya. “Tidak akan. Kau itu hanya sampah yang dipungut Hesa di pinggir jalan. Sekali jadi sampah, pasti tempatnya bakal kembali ke tempat sampah," ejeknya.
Namun yang diejek hanya tenang-tenang saja, Ei malah mengucir rambutnya jadi kucir kuda.
“Aku tidak merasa menang. Masih banyak yang harus kulakukan dalam sayembara ini dan semua kandidat di sini sangat luar biasa.” Ei menatap lekat wajah Margaret seolah menunjukkan kalau ia tidak takut dengan ancaman apapun dan pada siapapun. "Kalau aku sampah, harusnya kau tak dekat-dekat dengan sampah, kecuali … kalau kau ingin jadi sampah juga! Ah atau jangan-jangan … kau … memang sampah tersampah dari sampah-sampah yang ada di tempat sampah!” sindir Ei dengan senyum sinisnya.
Tentu saja Margareta langsung naik pitam mendengar ucapan kasar dari Ei dan ia hendak menampar wajah Ei tapi dengan cepat tangan wanita larva itu dicekal kuat oleh Hesa yang tiba-tiba saja muncul entah dari mana.
“Jangan sekali-kali kau menyentuh wanita yang kucintai. Bersainglah dengan adil kalau kau memang bukan sampah seperti yang dikatakan Ei. Ingat, aku mengawasi setiap hal yang terjadi pada wanitaku saat sayembara berlangsung. Dan jika kau macam-macam dengannya, kau berurusan langsung denganku.” Usai bicara seperti itu, Hesa menggandeng tangan istrinya mengajak Ei pergi ke tempat lain sebelum babak ke-2 di mulai.
BERSAMBUNG
***
__ADS_1