Istri Pilihan Pangeran Ningrat

Istri Pilihan Pangeran Ningrat
BAB 11 Kata 'Oh'


__ADS_3

“Oh.” Itulah reaksi pertama yang di berikan Hesa saat Ei meluapkan seluruh amarahnya.


Sebenarnya ini di luar rencana Hesa. Tujuannya datang menemui Ei karena ia sangat khawatir kenapa gadis yang diakuinya sebagai pacar tidak masuk kuliah sampai seminggu. Hesa terpaksa mencuri dengar semua yang dibicarakan teman-teman Ei mengenai kondisinya saat ini secara diam-diam.


Dan tentu saja, asdos itu sangat terkejut karena buntut dari pengakuannya telah membuat Ei disudutkan banyak pihak baik di dunia nyata maupun dunia maya sehingga menimbulkan Ei tak lagi menampakkan batang hidungnya. Sebab itulah Hesa memutuskan melakukan sesuatu sebelum semuanya jadi bertambah runyam.


Sebelum datang ke tempat kosnya Ei, sang pangeran ningrat datang ke pusat informasi kampus dan mulai mengacak-ngacak beberapa alat teknisi mereka sehingga forum media sosial kampus yang sedang gencar membicarakan hubungan Hesa dan Ei langsung mengalami eror massal. Kabar trending topik yang membahas dan menyudutkan Ei langsung hilang seketika dan tidak meninggalkan jejak digital sama sekali.


Video amatir yang merekam penamparan Hesa saat di kantin juga menghilang secara misterius dari semua laman dan gallery semua pengguna gawai yang menyimpan video tersebut. Bahkan, Hesa mengubah settingan akses situs forum kampusnya sehingga semua penghuni kampus hanya bisa berinteraksi bila topik yang dibicarakan seputar dunia perkuliahan. Diluar itu, mereka tidak bisa mengoperasikan situs forum dan alat komunikasi mereka dengan baik atau langsung eror bila sistem mendeteksi ada yang membicarakan hal diluar konteks perkuliahan karena Hesa sengaja menyetingnya sedemikian rupa.


Setelah membereskan masalah Ei, barulah Hesa menuju kosan kekasihnya. Namun, yang terjadi malah diluar ekspektasinya. Niat hati hanya menggoda, malah berujung petaka. Hesa jadi geli sendiri melihat situasi yang dihadapi Ei saat ini. Ditambah lagi, dia tidak sengaja menjatuhkan ponsel Ei sehingga luapan amarah gadis itu mulai meledak-ledak.


“Kau bilang apa barusan? Oh?” pekik Ei tak percaya. “Dari serentetan kejadian yang kualami karenamu, kau hanya bilang ‘oh’? Wuah … hebat. Pantas kau jadi idola kampus. Kau pintar sekali menghancurkan hidup orang.” Ei sangat marah dan kesal tapi tak tahu harus berbuat apa.


“Terimakasih atas pujianmu, aku tersanjung.” Hesa tersenyum sambil menundukkan kepalanya.


“Siapa yang memujimu?” bentak Ei semakin dongkol melihat ekspresi Hesa yang semakin menjengkelkan.


“Aku akan bertanggungjawab penuh, aku serius. Aku ingin kau mau jadi istriku. Semua akan beres ditanganku. Jadi, kau tenang saja. Ayo ikut denganku!” ajak Hesa masih tampak sangat tenang menghadapi amukan Ei. Ia menarik lengan gadis itu tapi langsung ditepis kasar oleh Ei.


“Lepaskan aku! Jangan coba-coba menyentuhku. Sebaiknya kau pergi dari hidupku sekarang juga!” bentaknya.

__ADS_1


“Tidak bisa!” tandas Hesa. Ekspresinya masih datar-datar saja. Ia sangat santai melihat Ei marah-marah.


“Kenapa tidak bisa?” tanya Ei heran.


“Karena kau tanggung jawabku sekarang, kau calon istriku. Masalahmu adalah masalahku juga. Ini bukan soal cinta. Akan mudah bagimu bercerai denganku 4 tahun dari sekarang jika kau tetap tidak jatuh cinta padaku,” jawab Hesa sambil tersenyum. Sebab ia yakin, hal itu tidak akan pernah terjadi karena Hesa akan membuat Ei jatuh cinta padanya.


Sepertinya Ei sudah kehabisan kata-kata. Marah-marahpun juga percuma, malah bikin dia mengalami gagal ginjal saja. Gadis itu menarik napas dalam-dalam dan ia sudah mengambil keputusan mengenai tawaran Hesa sebelumnya.


“Okeh, fine. Kau ingin mendengar jawabanku soal tawaran menikah denganmu, kan? Akan kuberikan sekarang. Jawabannya adalah … T I D A K! Tidak! No way, never! Aku tidak akan pernah mau menikah denganmu. Sekalipun kau makhluk paling terkahir di muka bumi ini. Aku tidak mau bersamamu. Kau adalah mimpi buruk dalam hidupku.”


“Wuah, kau memujiku terlalu dalam. Aku jadi sungkan, tapi tidak apa-apa, aku akan menunggumu besok, jadi pikirkan lagi jawabanmu.” Wajah Hesa tampak sangat sumringah.


"Kau itu makhluk planet mana sih? Bagian mana yang kau bilang pujian? Bisa bahasa manusia nggak sih?"


“Begini saja,” ujar Ei geregetan juga melihat Hesa. “Aku akan melupakan semua kejadian ini sebagai bentuk rasa bersalahku karena aku sudah menggampar wajahmu dan mencuri burgermu meski kedua hal itu tidak sengaja kulakukan. Mulai sekarang jangan pernah mencariku lagi. Kita impas. Aku takkan memperkarakan ini dan aku mohon, jangan menampakkan batang hidungmu di depanku. Kau mengerti!” mata Ei menatap tajam manik mata Hesa. Ia benar-benar serius dengan ucapannya.


Di luar dugaan. Hesa melangkah maju dan tanpa izin meraih tubuh Ei lalu langsung mendekatkan tubuh mungil itu mendekat ketubuhnya.


“Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku atau aku akan teriak!” ancam Ei. Ia menoleh ke segala arah berharap tidak ada yang melihat mereka berdua saling berpelukan seperti ini. Gadis itu jadu malu habis sekarang takut diliatin banyak orang dan jadinya salah paham.


“Teriak saja, inilah yang kuinginkan. Dengan begitu, kita berdua akan segera digiring ke KUA untuk dinikahkan. Ayo teriak.” Hesa balas menantang Ei.

__ADS_1


“Kenapa kau lakukan ini padaku? Tidak bisakah kau tidak menggangguku?”


“Aku tidak mengganggumu. Kaulah yang muncul dalam hidupku seperti secercah cahaya terang menerangi hariku. Kau akan tetap jadi istriku, Ei. Jika kau menolakku hari ini, akan kunyatakan lagi besok. Jika kau menolak besok, maka akan kunyatakan lagi lusa dan begitulah seterusnya sampai kau bersedia menikah denganku. Jangan tanya alasan kenapa aku memilihmu, karena aku juga tidak tahu.”


Ei hanya bisa menelan salivanya dalam-dalam mendengar tekad Hesa untuk mendapatkan dirinya. Kalau sudah begini, Ei sungguh tak tahu harus berkata apa. Ia bahkan tidak bisa berpikir dengan jernih sekarang. Masalah bertubi-tubi datang tanpa peringatan dalam rentang waktu berurutan sehingga membuat Ei puyeng tujuh turunan tujuh tanjakan tujuh tikungan tujuh belokan dan tujuh pertigaan.


“Ah, satu lagi …,” lanjut Hesa. “Kau akan jadi milikku Ei, bagaimanapun caranya. Aku terkejut karena di dunia fana ini, masih ada wanita berhati mulia sepertimu. Anak-anak panti itu sungguh membutuhkanmu dan hanya akulah yang bisa membantumu. Ku tunggu jawaban darimu besok, dan jawaban itu harus iya. Kau mengerti.” Hesa mengedipkan satu matanya menggoda Ei. Ia juga memajukan wajahnya sampai Ei terpaksa memejamkan mata dan memalingkan wajahnya karena takut dicium Hesa.


Tapi ternyata, dugaan Ei salah besar. Hesa memang mendekatkan wajahnya tepat di atas wajah Ei yang matanya terpejam. Namun, bukan untuk dicium, tapi ia mengambil bulu mata Ei yang rontok.


“Ada bulu mata di pipimu,” ujarnya sambil menyimpan bulu mata Ei dirambutnya dan melepaskan tubuh Ei yang gemetar atas aksinya tadi.


Ei membuka mata dan heran melihat Hesa tersenyum manis padanya seolah sedang tebar pesona. Gadis itu langsung menjauh dan memilih pergi meninggalkan Hesa daripada ia kenapa-napa bila terus ada di dekat pria tampan ini. Gadis itu langsung menghentikan taksi pertama yang lewat di depan Ei. Anehnya, Hesa tidak mengejar dan malah menatap tajam kepergian kekasihnya.


“Berbaliklah padaku Ei, jika kau berbalik … artinya kau menyukaiku,” gumam Hesa saat melihat Ei membuka pintu mobil taksi. Dan benar saja, Ei menatap Hesa penuh benci dan langsung masuk ke dalam setelah buang muka.


Tentu saja Hesa tertawa, ia balik badan untuk meluapkan betapa bahagianya ia saat ini. Pria tampan itu menikmati pemandangan malam di atas jembatan karena ia tahu, seperti apa perasaan Ei sekarang. Padahal itu hanyalah sugestinya sendiri.


“Dasar orang gila? Apa dia bipolar, ya? Ketawa-ketiwi nggak jelas begitu? Dasar aneh!” gumam Ei saat ia ada di dalam taksi.


BERSAMBUNG

__ADS_1


***


__ADS_2