
Posisi Ei sangat tidak menguntungkan. 4 gengster lawan 1 gadis biasa sementara satu teman Ei dijadikan sandera. Kalaupun Ei unggul melawan para gangster ini, tetap saja temannya itu akan dijadikan kelemahan dan habislah Ei saat itu juga. Kesalahannya adalah si oneng Ei ini malah menghubungi Hesa, dan bukannya polisi. Jika saja tadi Ei menghubungi pihak berwajib, mungkin ia masih bisa terselamatkan asal pintar-pintar mengulur waktu sampai polisi datang membantu.
Sial, kenapa aku tadi malah menghubungi Hesa? Buat janji nggak jelas pula. Memangnya dia superman yang bisa datang kemari hanya dalam waktu sekejap mata. Begok banget sih kau ini Ei … Ei! Begok kok dipelihara!
Ei mengumpati dirinya sendiri sambil memikirkan cara agar bisa lolos dari para gangster meresahkan. Gadis itu bisa saja melarikan diri dan tak peduli pada temannya yang disandera, tapi jika ia melakukannya, apa bedanya ei dengan para gangster ini.
Ayo Ei, berpikirlah, gunakan otak cerdasmu, jangan keonenganmu melulu yang kau tunjukkan, batin Ei lagi tapi sayangnya terlambat.
Keempat gangster itu langsung mengepung Ei dan mereka menyerang kekasih Hesa secara bersamaan. Namun, baru juga mereka maju selangkah, tiba-tiba salah satu gangster yang paling dekat dengan Ei tumbang seketika akibat tendangan seseorang yang dilakukan dari belakang. Entah sejak kapan orang itu datang yang jelas, kejadian yang menimpa si gangster malang itu benar-benar tak terduga.
Sosok pria tampan serba berpakaian ala preman berdiri tegak sambil menginjak punggung gangster tersebut tepat di depan mata kepala Ei. Gadis itu langsung menganga menatap pria yang baru saja menyelamatkan nyawanya.
“Kau harus tepati janjimu untuk menyatakan cinta padaku dihadapan banyak orang Ei Ei Mio Caro. Tepat setelah aku menyelesaikan mereka semua,” ujar pria tampan yang tak lain dan tak bukan adalah Hesa. Yah, tidak salah lagi, pria yang baru saja menendang gangster hingga tumbang memanglah Hesa.
Sambil mengedipkan mata melihat ekspresi shocknya Ei, Hesa balik badan dan langsung menendang wajah gangster yang menyerangnya dari belakang. Pukulan gangster itu meleset dan Hesa menyerang balik sampai si gangster terhuyung ke belakang. Mereka saling adu kekuatan tangan dan Hesa dengan sigap dapat menangkis serangan ke tiga gangster secara bersamaan.
Meski 3 lawan 1, Hesa tetap unggul. Gerakannya sangat gesit dan ia sering menggunakan jurus tendangan layang dan tendangan salto. Ia juga bisa memutar kakinya 360 derajat untuk menjegal para gangster sehingga mereka semua tumbang bersamaan. Saat itulah, Hesa menghajar mereka semua hingga babak belur secara bergantian. Hesa menjadikan ke-4 gengster itu bertumpuk menjadi satu dan mengunci tubuh mereka semua sehingga ke-empat-empatnya tak dapat bergerak.
“Siapa diantara kalian yang menyentuh wanitaku?” tanya Hesa seperti orang yang sedang kesurupan.
__ADS_1
Para gangster itu tidak ada yang mengaku sehingga Hesa memelintir pergelangan salah satu gengster yang paling atas. Gengster tersebut langsung menjerit kesakitan dan tubuhnya bereaksi cepat sampai membuat ke-3 rekan yang ditindihnya merasakan sakit teramat sangat.
“Arrrggghhh!” kami belum sempat menyentuhnya! Sungguh, kami hanya merebut ponselnya dan membantingnya, itu saja!” teriak salah satu gangster sambil mengerang kesakitan.
“Benar, kami belum sempat menyentuhnya, sungguh!” tambah yang lain untuk meyakinkan Hesa bahwa mereka tidak bohong.
“Huh, kalian beruntung, padahal aku punya niat mau mematahkan tangan dan kaki kalian kalau sampai diantara kalian ada yang menyentuh wanitaku itu.” Hesa menunjuk Ei yang masih berdiri terpaku melihat betapa keren dan coolnya aksi Hesa. Ia baru tahu kalau kekasihnya itu jago berkelahi.
Tadinya Ei pikir Hesa hanyalah pangeran ningrat yang charming dan kutubuku saja. Gadis itu masih tidak percaya kalau pria pujaan hatinya benar-benar datang menyelamatkannya. Berkali-kali Ei menepuk kedua pipinya dan lumayan sakit juga. Tapi tetap saja, Ei masih menyangka kalau semua yang ia lihat ini hanyalah mimpi.
Ei baru tersadar dari rasa terkejutnya setelah mendengar Jesica berteriak kesakitan. Kekasih Hesa itu menoleh dan langsung berlari menyelamatkan teman barunya yang sedang dalam bahaya karena hendak dibawa pergi dari sini. Eipun mengeluarkan jurus gebuk foto mantan dan jurus tersebut tepat mengenai kepala bagian belakang sang gengster yang hendak menyakiti Jesica. Akibat pukulan Ei yang mantap jaya itu, si gangster langsung pingsan.
“Wuah … amazing!” Jesica langsung takjub pada aksi Ei yang ternyata, sekali pukul bisa bikin pingsan lawan. “Pukulan apa yang baru saja kau lakukan tadi?” tanyanya.
Namun ternyata, sosok yang dicari Ei sudah tidak ada begitu pula dengan para gangster yang baru saja ditumbangkan Hesa. Ei langsung sedih, mulutnya manyun dan ia hampir menangis karena berhalusinasi melihat kekasihnya di sini.
“Ternyata benar … aku hanya berhalusinasi. Mana mungkin bayi marmot itu datang kemari menyelamatkanku,” gumam Ei sambil menunduk.
“Ke mana para gangster itu pergi, ya? Pria tampan tadi juga tidak ada,” ujar Jesica dan Ei langsung menoleh kearahnya.
__ADS_1
“Kau bilang apa barusan?” tanya gadis itu.
“Pria tampan yang tadi menolongmu, dia pergi bersama dengan gangster tadi tapi tidak tahu kemana. Padahal tadi mereka ada di situ.”
Ei kembali tertegun, tapi ia senang karena yang ia lihat ternyata bukan imajinasi. Melainkan Hesa memang benar-benar ada di sini. Gadis itu langsung berlari sekeliling untuk mencari tahu keberadaan kekasihnya tapi hasilnya nihil. Para gangster tadi juga menghilang secara misterius termasuk gengster yang berhasil ditumbangkan Ei. Padahal beberapa menit lalu, gangster yang tergeletak tak berdaya itu ada di dekat Jesica.
“Ke mana gangster yang tadi kupukul? Tadi kan tergeletak di sini?” tanya Ei pada Jesica. Keduanya menatap sekeliling dan suasana mendadak sangat sepi dan sunyi. Hanya bunyi suara binatang kecil saja yang terdengar.
“Entahlah, tadi aku mengikutimu dan menatap sekeliling, aku juga baru tahu kalau orang tadi menghilang tiba-tiba. Sungguh aku tak lihat ada orang yang membawanya pergi. Kalau ada harusnya kita berdua kan bisa melihat mereka,” terang Jesica.
Ei kembali berpikir lagi. “Kok jadi serem gini? Masa iya ada setan yang nyamar jadi Hesa dan membawa para gangster ini beneran pergi ke alam baka?” gumam Ei. Pikirannya sudah mulai kongslet ke mana-mana. Ini negara Amerika tapi Ei menganggap pria yang tadi ia lihat adalah makhluk astral tak kasat mata.
Gadis itu galau lagi tentang kedatangan Hesa yang baru saja muncul dihadapannya, namun secara misterius menghilang tiba-tiba tanpa meninggalkan jejak apapun. Hanya makhluk astral saja yang bisa begitu, manusia biasa mana mungkin bisa.
“Tempatnya ini sangat sepi, apa sebaiknya kita pergi saja sebelum ada gangster-gengster lain datang,” ajak Jesica dan Ei masih tak bergeming dari tempatnya. “Ei … ayo …”
“Kau duluan saja, aku … masih harus pergi ke suatu tempat.”
“Ini sudah malam, bagaimana kalau ada penjahat menyerangmu. Ayo pergi dari sini.” Jesica menyeret paksa tubuh gontai Ei yang enggan meninggalkan tempat sepi ini karena ia masih berharap Hesa muncul lagi di depannya.
__ADS_1
BERSAMBUNG
***