Istri Pilihan Pangeran Ningrat

Istri Pilihan Pangeran Ningrat
BAB 82


__ADS_3

Hesa jelas tak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas langka ini. Kapan lagi dicium Ei sedahsyat ini. Sang Big Hit tanpa malu langsung menggendong Ei menuju lantai paling atas di mana itu adalah letak ruangan pribadi Hesa.


“Kau mau bawa aku mau ke mana?” tanya Ei.


“Ke puncak surga,” jawab Hesa sambil tersenyum. Matanya tak pernah lepas menatap wajah merah meronanya Ei.


“Wuah … apa mereka mau belah duren di sini?” komentar Slava pada rekan-rekannya. “Adaow … kenapa kau mengeplak kepalaku?” bentak Slava pada Sonia.


“Mereka itu sudah menikah kalau saja takdir tidak mempermainkan mereka. Kau pikir apa alasan Hesa ia terjun ke dunia seperti ini kalau tidak untuk wanita yang ia cintai. Sebab itulah aku mau bergabung dalam tim kalian. Aku bisa merasakan betapa besarnya cinta Hesa untuk gadis yang beruntung itu. Kalaupun mereka melakukannya sekarang, itu hal yang wajar. Lagian ini Amerika, bukan kampung halamanmu!” Sonia buang muka dan melirik tajam mata Slava.


Kiril dkk juga pergi meninggalkan temannya yang julid itu. “Makanya, cari pacar sana, biar tahu seperti apa rasanya jatuh cinta,” ledek dua saudara lembarnya, Chepurrry dan Hoodie.


“Memangnya kalian pikir kalian sudah punya pacar? Kalian saja jomblo sok sokan nyuruh orang lain nyari pacar!”


“Heh Monyong! Berkat siapa kita bertiga tidak punya pacar? Muka kita sama, wanita yang kudekati lari karena mengira aku Hoodie yang sedang jalan dengan ceweknya, ceweknya Hoodie salah paham saat melihatmu dipeluk penggemarmu. Dia pikir kau Hoodie. Gara-gara wajah kita bertiga sama, semua wanita menganggap kita buaya!” protes Chepurry.


“Kenapa kau tidak oplas saja!” cetus Slava.


“Kau saja yang oplas sana! Enak saja nyuruh orang! Aku sudah tampan, aku tak mau wajahku jadi semakin tampan lagi, bisa ancur reputasiku kalau dijuluki pria tertampan di dunia!” ujar Hoodie dengan segala kenarsisasannya dan memilih meninggalkan saudara kembarnya.


Yang lain hanya geleng-geleng kepala mendengar pertengkaran si kembar 3 beda profesi itu. Mereka kesulitan menemukan pasangan karena gebetan mereka sering salah paham pada kemiripan wajah mereka. Yang paling parah Cepurry, polisi tampan yang sering kena gampar karena dikira selingkuh dan punya banyak wanita, padahal sebagai polisi, dia jarang dekat wanita.


“Apa rekan-rekanmu selalu saja bertengkar seperti itu? Hanya karena wajah mereka sama?” tanya Ei saat Hesa membawanya masuk ke dalam lift.

__ADS_1


“Begitulah,” jawab Hesa. Dalam sekejap ia yang masih betah menggendong Ei dalam gendongannya tiba di lantai paling atas.


“Kau bisa turunkan aku sekarang, tidak perlu pamer lagi.”


“Aku tak punya cita-cita menurunkanmu di sini. nikmati saja prosesnya.”


“Apa kau tidak tahu? Kalau kita sekarang ini seperti pengantin baru?”


“Tahu, harusnya kau memang sudah jadi istriku kalau saja kau tidak memilih kabur kemari.” Hesa menskakmat Ei sehingga gadis itu tidak berkata-kata lagi.


Pintu ruangan Hesa ini dilengkapi system tercanggih yang pernah ada. Begitu kali Hesa berdiri di depan pintu ruangannya, pintu berlapis baja itupun terbuka dengan sendirinya. Sepertinya, hanya Hesa saja yang bisa masuk ke ruangan ini. Sebab itulah dia tak menurunkan Ei.


Bila ada orang asing yang menginjakkan kakinya di dekat pintu kamar Hesa, secara otomatis orang tersebut akan kehilangan kakinya karena Hesa memprogram ruangan ini dengan system pengaman sedemikian rupa.


Hesa meletakkan Ei di tempat tidur sambil berkata, “Tetap di situ dan jangan bergerak. Kau bisa mati kalau salah bergerak sedikit saja.”


Ei bingung, tapi ia menurut saja. Hesa berjalan beberapa langkah ke belakang dan mengaktifkan sebuah tombol on, di mana computer paling canggih yang pernah Ei lihat ada di depan matanya. Dengan kelincahan jari jemari Hesa, ia memprogram ulang ruangan ini beserta seluruh system keamanannya yang tadinya hanya dia yang aman dan terbebas dari sensor pengaman. Tapi sekarang, ia menambahkan tubuh Ei juga.


“Berdirilah di depan tempat tidur, luruskan kakimu dan rentangkan kedua tanganmu. Hadap padaku!” ujar Hesa yang berdiri membelakangi komputernya dan menatap Ei.


Tanpa bicara, Eipun melakukan apa yang Hesa suruh. Matanya menatap lurus mata Hesa. “Seperti ini?” tanyanya.


“Iyap, tetaplah begitu selama beberapa detik saja.” Hesa balik badan dan mulai mengotak atik komputernya lagi. Di layar besar muncul copyan tubuh Ei yang berdiri seperti yang diminta Hesa. Begitu kata ‘SUKSES’ muncul, Hesa meminta Ei untuk kembali rileks.

__ADS_1


“Kau sudah bisa bebas bergerak sekarang. Ruangan ini takkan bisa digunakan orang lain selain kau dan aku. Nanti ketika kita melangsungkan malam pertama, kita akan melakukannya di sini supaya tidak ada yang mengganggu ini. Ruangan ini juga kedap suara. Jadi kau bisa bebas berteriak di malam pertama seperti yang kata orang-orang bilang.”


“Kau percaya ucapan mereka?” goda Ei sambil tersenyum.


“Tidak sebelum aku mencobanya sendiri? Kau mau melakukannya sekarang. Aku sudah siap!” ganti Hesa yang menggoda Ei sambil merentangkan kedua tangan siap memeluk Ei.


“Tidak terimakasih, aku belum siap. Masih banyak hal yang harus aku lakukan sebelum benar-benar mengabdikan diriku sebagai istrimu. Bukannya aku menolak, aku mencintaimu, kau juga mencintaiku, apalagi ini Amerika, semua pemuda pemudi bebas melakukan hubungan intim dengan pasangannya ataupun bukan. Tapi aku … dan kau … sama-sama dari budaya timur di mana … anu … itu … yang intim-intim gitu …”


“Aku tahu Ei, aku hanya bercanda. Aku akan menjagamu sampai kau menjadi milikku baik secara agama maupun hukum.” Hesa langsung rebahan di atas kasur. “Kemarilah Sayang, aku tidak akan menyentuhmu. Ini bukan kali pertama kita tidur seranjang dan tak terjadi apa-apa. Kali inipun sama. Imanku sangat kuat sekarang. Aku lebih fokus pada hubungan kita yang dimulai dari awal lagi.”


Hesa menopang kepalanya dengan satu tangan dan Ei jadi terharu. Di tambah lagi dia sangat ngantuk sekali sekarang. Iapun rebahan di atas dada Hesa dan sedikit mengobrol sebagai pengantar tidur.


“Tidak kusangka kau sangat luar biasa. Mungkin aku bermimpi memiliki calon suami sepertimu. Aku jadi merasa kecil sekarang, karena aku bukan siapa-siapa dan hanya gadis oneng yang suka bikin masalah,” ujar Ei mulai minder dengan Hesa sang Big Hit multitalenta.


“Sayang sekali kau bicara seperti itu padaku. Andai kau tahu … aku bisa jadi seperti ini berkat kau. Wajahmu yang menggemaskan, membuatku tak bisa berpaling darimu. Ada satu kejutan lagi yang tidak kau tahu Ei. Dan aku tidak yakin apakah kau bisa menerima ini semua.” Hesa menunggu reaksi Ei tapi tidak ada sahutan.


Ternyata, Ei sudah tertidur pulas di atas dada bidang Hesa. Posisi gadis itu bahkan menjadikan Hesa seperti gulingnya.


“Dasar Oneng!” gumam Hesa sambil mencium lembut rambut kekasihnya yang sedang tertidur lelap.


BERSAMBUNG


***

__ADS_1


__ADS_2