
Hesa meningkatkan laju mobilnya karena ia mendapat pesan dari Angel dan Prety kalau Ei sudah mulai masuk ke bandara untuk check in. Ia melaju dengan kecepatan tinggi layaknya pembalap F1. Semua kendaraan yang melaju di depan Hesa disalipnya dengan cepat, ia tak peduli jika harus salip kiri salip kanan sehingga laju mobilnya melesat cepat secara zig zag.
Beberapa pengendara di jalanan sampai terheran-heran melihat laju kecepatan mobil Hesa. Mereka mengira ada lomba balam mobil atau semacamnya sehingga mereka tanpa sadar menepi dengan sendirinya. Namun setelah tahu, kalau Hesa hanya melesat sendirian, mereka mulau mengumpat.
“Woy! Memangnya jalan ini milik nenek lo apa! Dasar!” seru salah satu pengendara mobol yang disalip Hesa.
Hesa hanya melambaikan tangan saja dan tak peduli dengan umpatan-umpatan mereka. Yang ada dipikiran Hesa hanyalah ingin segera bertemu dengan Ei sebelum istrinya itu pergi ke Amerika.
Akhirnya, dalam tempo singkat sesingkat-singkatnya Hesa pun tiba di bandara, ia mengejar kekasihnya yang langsung pergi tanpa sepatah kata. Hesa memarkir mobilnya sembarangan dan langsung berlari masuk ke bandara. Berkali-kali Hesa menelepon Ei tapi ponsel kekasihnya sudah tidak aktif lagi.
“Sial! Kenapa ponselnya mati sih!” seru Hesa sambil berlari dan menatap sekeliling. Ia mencoba menelepon Angel dan untungnya langsung diangkat.
“Halo,” ujar Anger dari seberang.
“Kau di mana? Bilang pada Ei untuk menungguku sebentar,” seru Hesa. Napasnya ngos-ngosan karena kelelahan berlari.
“Kau terlambat pak asdos, pesawat Ei baru saja berangkat.”
Hesa tertegun, seketika dia langsung terpaku ditempatnya dan tak mendengar lagi suara-suara yang ada diteleponnya atau orang-orang yang berlalu lalang disekitarnya. Cowok itu menghela napas dalam-dalam dan menatap langit-langit di mana sebuah pesawat Amerika melintas didepannya.
“Aku tidak akan pernah melepaskanmu, Ei. Lihat saja nanti,” ujar Hesa dan kembali mengantongi ponselnya. Dengan langkah gontai, ia berjalan menuju pintu keluar bandara. Hatinya kacau dan berkecamuk. Meski ini adalah kesepakatan mereka bersama, harusnya Ei menunggunya, sebab Hesa ingin sekali memeluk kekasihnya sebelum akhirnya Ei pergi ke Amerika.
__ADS_1
Karena tidak fokus, Hesa tak sengaja menabrak seseorang dan ia langsung minta maaf tanpa melihat wajah siapa yang ditabraknya. “Sorry,” ujar Hesa dengan suara lemah.
“No problem,” ujar seorang wanita yang ditabrak Hesa dan seketika itu juga menolah pada wanita tersebut karena ia sangat hafal dengan suaranya.
Senyum merekah ruah langsung menghiasi wajah tampan Hesa dan ia langsung memeluk wanita yang baru saja dipeluknya dengan sangat erat dan tak ingin ia lepaskan. “Ei! Aku kira … kau …”
“Hes .., le-lepaskan aku … aku … tidak bisa bernapas” ucap Ei terbata-bata karena pelukan Hesa membuatnya kesulitan bernapas.
“Oh, maaf, aku terlalu bahagia … aku kira … kau pergi meninggalkanku tanpa pamit dulu padaku. Aku melihat pesawatmu sudah berangkat tadi dan angel juag sudah pergi dari bandara ini.” Hesa memegang kedua bahu istrinya dan menatapnya lekat-lekat. Ia bahagia karena Ei tidak jadi pergi ke Amerika.
“Pesawatku akan berangkat sebentar lagi, aku melihatmu berlari ke sini makanya aku menemuimu,” terang Ei.
Mendengar penjelasan kekasihnya, senyum Hesa langsung hilang. “Maksudmu …kau akan tetap pegi …?” tanyanya sedih.
“Justru akulah yang khawatir kau selingkuh. Astaga aku tak bisa mem bayangkan kau dikelilingi banyak pria bule di sana. Secara kau itu pecinta cogan akut. Dan sloganmu adalah “Cogan Selalu di Depan’. Aku pasti tak bisa tidur memikirkanmu melihat banyak cogan di sana selain aku.”
Ei langsung tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan konyol Hesa walau itu memang benar. Namun, melihat wajah Hesa yang serius dan sedang terbakar api cemburu buta, Eipun berhenti tertawa.
Gadis itu mendekat dan tiba-tiba merebahkan kepalanya di dada Hesa sembari mendengar detak jantung kekasihnya.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Hesa sambil menatap rambut wangi kekasihnya.
__ADS_1
“Aku suka mendengar detak jantungmu kalau kau sedang cemburu. Setidaknya, iramanya sangat berbeda bila dibandingkan ketika kau sedang tidak cemburu.” Ei menatap wajah tampan suaminya karena detak jantung Hesa sudah normal. “Kau tahu … kalau aku sudah memilihmu menjadi tambatan hatiku. Sama halnya sepertimu yang menjadikanku pilihan terkahir hatimu, aku juga menjadikanmu cinta terakhirku. Di manapun aku berada, aku takkan pernah berpaling ke yang lain. Karena di sini, aku punya suami asdos tampan yang digandrungi banyak wanita sedang menungguku kembali.”
Sebuah ciuman manis langsung mendarat di bibir Ei dan gadis itupun langsung membalas ciuman mesra kekasihnya. Keduanya saling menghisap bibir masing-masing untuk melampiaskan hasrat cinta mereka yang menyelimuti seluruh jiwa dan raga mereka.
***
Di pesawat, Ei terus tersenyum mengenang betapa kuat dan dahsyatnya ciuman terkahir dari Hesa sebagai salam perpisahan manis keduanya. Fery yang duduk disebelahnya hanya geleng-geleng kepala melihat sikap somplaknya Ei yang sudah mirip ODGJ.
“Heh, Oneng! Mau sampai kapan kau ketawa ketiwi nggak jelas gitu, ha?” tanya Fery yang langsung keki.
Ei melirik kakak sepupunya dan menatapnya sinis. “Suka-suka aku dong, bilang aja kalau iri aku lagi bahagia,” cetus Ei.
“Terserah kau sajalah! Dasar nggak nggenah!” ledek Fery dan ia langsung memejamkan mata karena perjalanan mereka masih sangat lama.
Sementara di tempat lain, Hesa juga sangat bahagia karena cintanya pada Ei telah terbalas meski keduanya terpaksa harus LDR sekarang. Namun, hal itu bukan halangan besar bagi kisah cinta Hesa dan Ei karena cowok itu punya segudang rencana untuk kekasih hatinya.
Hesa kembali ke kediamannya sambil bersenandung ria. Diatas mobilnya yang sedang melaju ini, pesawat Ei juga melayang di udara sejalan dengan arah mobil Hesa. Sang pangeran ningrat itu kembali tersenyum melihat pesawat kekasihnya sudah berangkat ke Amerika. Di saat yang bersamaan, Hesapun menerima panggilan dari seseorang dan iapun langsung mengangkatnya.
“Iya halo … tentu … kau sudah siapkan semuanya .., oke … aku akan mengurus yang di sini dulu … 1 jam lagi aku berangkat,” ujar Hesa sambil menutup panggilan teleponnya dan ia kembali bersenandung ria yang kebetulan suaranya lumayan merdu didengar.
“Kita akan segera bertemu lagi Ei, cepat … atau lambat,” gumamnya sambil melambaikan tangannya pada pesawat yang membawa Ei dimana pesawat tersebut semakin lama semakin menghilang di balik awan.
__ADS_1
BERSAMBUNG
***