Istri Pilihan Pangeran Ningrat

Istri Pilihan Pangeran Ningrat
BAB 88


__ADS_3

Karena luka di kepala Ei lumayan parah juga, ia terpaksa dirawat inap sementara di rumah sakit sampai kondisinya kembali seperti semula. Mau tidak mau, Hesa pun harus menemani Ei sepanjang hari di rumah sakit sambil bekerja secara online. Eipun juga mengikuti kuliah online sama seperti kekasihnya. Hanya saja, yang membedakan adalah, Hesa sebagai dosen dan Ei adalah mahasiswa Hesa sendiri.


Semua teman-teman Ei hadir diruang kelas tempat di mana Hesa memberikan materinya melalui zoom. Namun kali ini, Hesa menampakkan dirinya melalui layar proyektor yang sudah tersedia seolah ia ada di kelas padahal aslinya dia ada di rumah sakit dengan Ei. Di saat yang sama, Eipun juga ikut kuliah Hesa dengan latar tempat yang sama. Awalnya, teman-teman Ei tidak curiga, tapi lama-lama, mereka merasa ada yang aneh dengan Hesa dan Ei yang tiba-tiba saja sama-sama memilih online.


“Pak Dosen!” salah satu teman sekelas Ei mengangkat tangannya karena ia ingin mengajukan pertanyaan pada Hesa.


“Iya, ada apa?” jawab Hesa melalui zoomnya.


“Bapak ada di rumah sakit mana? Kok latarnya kayak sama dengan Srheya?”


Hesa tak langsung menjawab, matanya langsung menatap Ei yang bersandar di dinding ranjang Kasur rumah sakit dengan menghadap laptopnya. Terang saja latar Ei dan Hesa hampir sama, orang mereka saling berhadap-hadapan sekarang. Bedanya, Hesa duduk di kursi panjang tepat di depan tempat tidur Ei.


Ei langsung memberi kode keras pada Hesa agar tidak memberitahu keberadaan mereka. Namun, dasarnya Hesa ini kan memang suka sekali bikin darah tinggi Ei. Makanya, ia langsung berdiri dan berjalan pelan menuju tempat tidur kekasihnya lalu duduk di sampingnya sehingga tampaklah wajah Hesa di tempat Ei yang sedang melakukan zoom. Dan wajah keduanya langsung dilihat serentak oleh teman-teman Ei yang juga merupakan murid Hesa.


“Kami memang satu ruangan. Kekasihku sedang sakit dan tidak ada yang menjaganya. Sebagai pacar yang baik, tentu aku harus menjaganya sambil bekerja mengisi mata kuliah kalian. Apa ada yang keberatan?” terang Hesa setelah sukses bikin heboh karena wajah Hesa yang tadinya ada di layar podium proyektor depan kelas, kini berpindah ke layar Ei.


“Wuah … benar … mereka satu ruangan! Aaahhhh aku iriii! Aku juga mau punya pacar kayak pak dosen! Lagi sakit aja dijagain! OMG! Aku sungguh iri! Pak dosen punya berapa saudara, Pak? Bungkusin 1 dong, Pak! Ada nggak sih di kampus ini yang seperti pak dosen!” seru semua mahasiswi Hesa dengan kata-kata yang hampir sama.


Ei sudah tidak punya muka lagi sekarang, ia menundukkan kepalanya dan menghilang dari layar zoom seketika. Karena kekasihnya lagi ngambek, Hesapun terpaksa mengakhiri kuliahnya tanpa peduli pada mahasiswanya yang sedang HeRi alias heboh sendiri di sana.


“Apa yang kau lakukan? Kan aku udah kasih kode keras jangan beritahu mereka kalau kita ada di ruangan yang sama. Sekarang harus gimana? Mau ditaruh di mana mukaku? Pasti mereka mikirnya yang bukan-bukan!” protes Ei setelah keduanya sama-sama mematikan zoom mereka.

__ADS_1


Wajah Hesa malah semringah melihat Ei pasang raut muka cemberut padanya. Si gangster tampan itu kembali duduk dan menatap lembut wajah Ei.


“Ei, ayolah … ini Amerika, siapa yang peduli pada pikiran mereka. Tidak ada yang perlu ditutupi, my Darling. Semua orang sudah tahu hubungan kita. Tak perlu disembunyikan lagi. Aku belajar dari pengalaman kita sebelumnya, menyembunyikan status kita, tak membuat kita bahagia. Lebih baik seperti ini. Tak peduli apapun komentar mereka, aku tetap bahagia bersamamu.”


Ei hanya menghela napas panjang menatap wajah tampan kekasihnya. Namun, tetap saja Ei tidak nyaman. Ia bahagia menjadi wanita yang dicintai seorang Hesa sampai sedalam ini, tapi … tetap saja, kesempurnaan Hesa tak menjamin hidup Ei aman dan tenteram.


“Aku ingin jalan-jalan keluar. Kuliahku sudah selesai hari ini. Aku merasa pengap ada di sini sepanjang hari tanpa melakukan apapun. Kenapa dokter tidak memperbolehkan aku pulang saja, sih?” Ei mengalihkan pembicaraan karena tak ingin berdebat dengan Hesa.


“Ayo, aku temani.”


“Tidak,” tolak Ei mentah-mentah. Tujuannya adalah menghindar dari Hesa, masa iya malah mau ditemani. “Aku mau jalan-jalan sendiri. Bukankah kau masih ada kelas lagi yang harus kau isi. Hanya sebentar, dan ingat, aku juga sudah siap siaga kalau-kalau mau diculik lagi. Jadi kau tak perlu khawatir.” Ei turun dari ranjang diiringi tawa kecil Hesa.


Sejak kasus penculikan Ei, Hesa menyuruh seluruh pasukan gengsternya untuk memperketat penjagaan di rumah sakit tanpa diketahui oleh siapapun. Bahkan tim penembak jitu juga siap 24 jam dengan system shif shifan yang diatur Hesa untuk menjaga Ei agar kasus sama tidak terjadi lagi.


“Ya sudah, hati-hati. Aku akan keluar sebentar dan akan kembali saat kau sudah kembali jalan-jalan. Jangan diculik lagi oke. Sebab, kali ini … aku takkan mengampuni siapapun orang yang menculikmu.” Hesa mencium kening Ei dengan lembut dan malah pergi keluar dulu meninggalkan Ei.


“Lah, yang mau keluar cari udara segar kan aku, kenapa dia duluan yang keluar sih! Terus Apa gunanya aku keluar dari sini kalau dia pergi! Dasar sawo matang!” Ei jadi semakin cemberut dengan sikap Hesa yang selalu saja membuatnya kesal.


***


Akhirnya, Ei memutuskan keluar ruangan juga. Ia jalan-jalan di taman rumah sakit yang kebetulan sedang ditumbuhi banyak sekali bunga berwarna wari dari berbagai macam tumbuhan. Pemandangan tamannya lumayan indah dan menenangkan ditambah ada air mancur indah di tengah taman. Udaranya juga sangat segar. Sangat cocok dipakai untuk menghilangkan penatnya ada di rumah sakit.

__ADS_1


Apalagi fasilitas taman di sini dilengkapi dengan banyaknya kursi panjang yang sepertinya sengaja disediakan bagi orang-orang yang ingin menikmati indahnya taman. Entah untuk sekedar mencari udara segar atau untuk menenangkan perasaan. Taman ini jelas punya banyak sekali manfaat bagi pengunjung rumah sakit.


“Wuah, tamannya lumayan indah juga. Amerika memang bukan negara kaleng-kaleng.” Ei memilih duduk di salah satu kursi panjang dekat dengan air mancur berukuran besar.


Dari seberang, ia melihat ada seorang wanita berseragam pasien seperti dirinya sedang menangis sesenggukan. Karena ini Amerika, tak satupun orang yang ada di sekitar sini memerhatikan wanita tersebut. Mereka yang berlalu lalang cenderung cuek dan masa bodo.


Wanita yang dilihat Ei terus menangis sehingga membuat gadis itu jadi tergerak untuk mendekatinya. Sebenarnya, Ei ini baperan juga, makanya dia tak tega jika melihat ada orang lain menangis didepannya meskipun ia tak kenal.


“Ada yang bisa saya bantu Miss? Kenapa Anda menangis?” tanya Ei ramah pada wanita itu.


Wanita yang di sapa Ei langsung mengusap air matanya, tapi ia bingung dan Ei langsung memberikan saputangannya. “Terimakasih,” ujarnya pelan.


Wanita itu tampak sedikit malu, tapi Ei berusaha untuk membuatnya senyaman mungkin dengannya. Dari pembicaraan mereka, rupanya wanita yang bernama Juwita berasal dari Indonesia dan memang sedang dalam masalah serius.


Tentu saja Ei senang sekali karena bertemu dengan warga negara yang sama dengannya. Ia jadi merasa tidak di negeri asing lagi. Dalam waktu singkat keduanya sama-sama langsung akrab karena berasal dari negara sama. Eipun menjadi teman dekat wanita itu dan tanpa ragu, wanita tersebut menceritakan semua keluh kesahnya.


“Hidupku sudah tidak lama lagi. Namun, bukan kematianku yang kusesali. Tapi … aku tidak akan pernah tenang di alam baka bila melihat orang-orang yang menyakitiku bahagia.” Juwita menangis saat menceritakan masalahnya pada Ei.


Ei sendiri tak bisa berkata-kata karena ia juga tak tahu apa yang harus dia lakukan.


BERSAMBUNG

__ADS_1


***


__ADS_2