Istri Pilihan Pangeran Ningrat

Istri Pilihan Pangeran Ningrat
BAB 92


__ADS_3

Dengan bantuan tim Hacker Hesa. Di ruang interogasi, Hesa tampak diintimidasi oleh Corpurny, padahal aslinya, Hesa dan rekannya sedang asyik makan dan minum enak sambil melihat pertandingan sepak bola. Mereka berteriak histeris sehingga rekan-rekan Corpurny yang di luar ruangan jadi saling pandang sendiri. Pangkat Corpurny lumayan tinggi, makanya ia bebas melakukan apa saja, termasuk bersenang-senang dengan Hesa.


“Sering-seringlah masuk penjara, jadi aku tidak bosan bekerja.”


“Ada wanita yang harus kujaga, aku tak bisa sering-sering datang kemari. Makanya, cari pacar, supaya kau tak bosan,” jawab Hesa sok romantis.


“Itu berat, tidak ada wanita yang menarik dimataku. Kalau kau kenal wanita oneng selain pacarmu, kenalkan padaku.”


Hesa tertawa, “Satu-satunya wanita oneng di dunia ini yang sempurna hanyalah Ei seorang. Kau takkan pernah menemukan wanita lain seperti wanitaku di belahan bumi manapun. Cari saja yang sepadan denganmu. Bukankah polwan di sini lumayan menarik?”


“Aku tidak suka pacaran dengan rekan se-profesi! Sudahlah, jangan bahas wanita. Kau mau keluar jam berapa?”


“Ehmmm … Hesa berpikir. Nanti malam saja, aku ingin Ei Ei mio caroku mengkhawatirkanku. Mungkin sekarang dia sedang panik.” Hesa cekikikan membayangkan wajah cemas Ei karena Hesa dipenjara di kantor polisi.


“Kau salah, Sonia sudah memberitahu semuanya pada Mio Caromu. Percuma kau di sini lama-lama, nggak ada guna.” Corpurypun berdiri dan keluar ruangan interogasi meninggalkan Hesa sorang diri.


“Haih sial, kenapa kalian biarkan Sonia memberitahunya. Aku kan ingin pacarku mencemaskanku! Benar-benar kalian tim nggak ada akhlak!” seru Hesa, padahal yang nggak ada akhlak duluan kan dia, tapi malah menyalahkan timnya.


***


Malampun tiba, dan Hesa dibebaskan dari penjara dengan alasan kurangnya bukti atas kasus penembakan yang ia lakukan. Yah jelas Hesa bisa langsung bebas, orang semua saksi mengatakan kalau mereka tak melihat Hesa menembak. Mau dituntut kayak apa juga nggak akan bisa, karena tak ada satupun saksi mata yang menjerumuskan Hesa.


Saat keluar dari pintu kantor polisi, Hesa langsung di sambut Sonia dan beberapa rekan timnya. Wajah-wajah mereka tampak cemas.


“Ada apa dengan ekspresi kalian? Dimana Ei?” tanya Hesa heran.


“Big … pacarmu … di culik!” jawab Sonia.


Hesa langsung tertawa, “Kalian jangan bercanda, aku takkan tertipu oleh tipu muslihat kalian. Ei yang minta kalian berakting untuk balas dendam padaku, kan? Itu tidak akan mempan.”


“Serius, pacarmu di culik. Ini buktinya.” Sonia menunjukkan rekaman cctv proses penculikan Ei yang terjadi begitu cepat saat Sonia dan Ei pergi ke pusat perbelanjaan.


Mata Hesa langsung melotot dan ia mulai emosi lagi. Hesa memejamkan mata untuk menahan amarahnya agar tetap tenang saat menyaksikan video penculikan Ei yang dikatakan Sonia barusan. Dalam hati Hesa, sedang bergejolak-gejolak, kedua tangannya sampai mengepal kuat-kuat dan ia takkan pernah bisa memaafkan siapapun orang yang berani menculik Ei lagi.

__ADS_1


“Kalian sudah cari tahu plat nomernya?” tanya Hesa dan ia berjalan cepat menuju mobilnya.


“Sudah, tapi di tengah jalan, plat nomer itu diganti dengan plat lain berlambang patung kesatria dan sepertinya, mereka menuju pelabuhan yang ada di California.” Keem memberikan penjelasan melalui headsed yang saling terhubungan antar sesama anggota tim hacker Hesa.


Mendadak, Hesa berhenti melangkah dan memegang telinganya berharap ia tak salah dengar. “Kau bilang apa? Plat berlambang kesatria?” tanya Hesa ulang.


“Iya, sudah kukirim contoh lambangnya.”


Hesa langsung memeriksa ponselanya dan matanya seketika itu juga terbelalak. “Tidak mungkin," ujarnya sedikit tegang.


“Ada apa Big Hit? Apa ada masalah?” tanya Keem dari seberang sana dan teman-teman Hesa baik yang ada didekatnya maupun tidak, hanya diam menyimak. Bahkan Corpurny yang ada di kantor polisipun ikut mendengarkan.


“Gawat! Yang menculik Ei bukan sembarangan orang. Lambang itu adalah lambang sebuah kerajaan.”


“Darimana kau tahu?”


“Aku juga salah satu darah biru, tentu saja aku tahu. Tapi … kenapa lambang kerajaan Indonesia bisa sampai ke mari?” Hesa bergegas menyalakan mesin mobil dan langsung meluncur ke lokasi tempat Ei berada saat ini.


“Apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Sonia yang satu mobil dengan Hesa. Di belakang kemudi, juga ada Slava dan Hodsey.


Sesampainya di pelabuhan, Hesa meminta teman-temannya berpencar agar lebih cepat untuk menemukan di mana Ei saat ini. Bagaimana keadaannya dan apakah dia baik-baik saja, Hesa sungguh tidak tahu. Pria tampan itu terus menggeledah pelabuahn yang teramat sangat luas demi bisa menemukan keberadaan sang kekasih.


Namun, tak satupun dari teman-teman Hesa berhasil menemukan lokasi Ei ataupun tanda-tanda keberadaan si penculik. Pelabuhan ini begitu sepi dan sunyi. Tak ada aktivitas apapun di sini.


“Sial! Di mana kau Ei!” geram Hesa setelah ia berlari ke sana kemari mencari sang pujaan hati tetapi yang di cari tak kunjung ketemu juga.


“Angkat tanganmu!” perintah seseorang tak dikenal dari belakang punggung Hesa. Pria itu juga menodongkan senjata api tepat di kepala Hesa.


Hesa tak bergerak dan hanya melirik sekeliling. Hal serupa juga sedang dialami ke-3 teman-teman Hesa. Mereka semua ditodong senjata api dari balik kepala mereka oleh pria-pria kekar memakai penutup wajah berwarna hitam ala ninja.


“Siapa kalian?” tanya Hesa dengan tenang. Dari seberang sana, Keem dan anggota hacker serta aliansi kelompok gengstermya Hesa bersiap untuk menyelamatkan sang big bos mereka.


“Harusnya kami yang bertanya? Kenapa kalian datang kemari? Ini jelas bukan ranah kalian,” ujar pria kekar itu.

__ADS_1


Seolah tak kenal rasa takut, Hesa mengkode teman-temannya untuk segera bertindak begitu ia memberikan aba-aba. Tanpa diduga, dengan gerakan super duper cepat, Hesa menarik senjata api yang ditodongkan kepadanya dengan kuat sehingga tubuh pria yang memegang senjata tersebut ketarik ke depan dan langsung dipiting Hesa hingga pria tersebut kesulitan bernapas. Senjata api pun berhasil Hesa rebut begitupula dengan ke-3 teman-temannya yang secara bersamaan bisa merebut balik pistol dari para pria bertopeng itu.


Baik Hesa dan yang lainnya saling berkumpul dan menempelkan punggung satu sama lain. Mereka semua siap menembakkan senjata bila para pria kekar yang mengelilingi mereka berani macam-macam. Keadaan berbalik begitu cepat. Kini, gantian para pria kekar itu yang mengangkat kedua tangan mereka.


“Aku tidak akan basa-basi lagi. Di mana pacarku?” tanya Hesa dan para pria itu saling pandang.


“Pacar?” tanya mereka bersamaan.


“Aku tahu kalian menculiknya dan membawanya kemari. Jika kalian masih sayang nyawa, tunjukkan saja, di mana pacarku berada.”


Dor!


Hesa sengaja menembak langit-langit untuk mengagetkan para pria kekar yang ada didepannya kalau dirinya tidak main-main dengan ancamannya.


“Aku tak punya banyak waktu untuk menunggu jawaban kalian. Cepat beritahu aku di mana pacarku!” bentak Hesa.


Namun, di luar dugaan, bukannya takut akan ancaman Hesa. Para pria kekar yang tadinya mengangkat tangan. Kini malah menurunkan tangannya dan berdiri dengan santai.


Dor!


Kali ini, Hesa menembak bagian lantai dan hampir mengenai kaki salah satu pria kekar itu. Sayangnya, intimidasi dari Hesa sama sekali tidak mempan. Para pria kekar itu malah saling tertawa dan menertawakan aksi Hesa.


“Apa kau percaya? Si oneng punya pacar,” ujar salah satu pria kekar pada pria kekar lainnya.


“Pacarnya tampan pula, entah jampi-jampi apa yang si Oneng itu pakai untuk memikat pria setampan ini,” imbuh yang lainnya.


“Dia bukan pria sembarangan loh, kepalanya dihargai 100 juta dollar,” tambah pria yang paling dekat dengan Hesa sehingga membuat Hesa dan semua teman-temannya bingung sendiri mendengar percakapan para pria kekar ini.


“Wuah, benarkah … apakah … dia … adalah Big Hit yang dicari-cari itu?” timpal yang lainnya sedikit kagum dengan Hesa.


“Sepertinya sih begitu, untuk lebih jelasnya, kita bawa saja mereka bertemu dengan si Oneng!” tukas si pria kekar dan iapun maju mendekat ke arah Hesa yang menatapnya dengan waspada.


Tanpa di nyana-nyana … pria kekar itupun menyemprotkan sebuah cairan yang membuat Hesa dan ke-3 teman-temannya langsung pingsan seketika. Hesa tergeletak di lantai begitu saja dan headset yang ia kenakan lepas sehingga Keem dan yang lainnya kehilangan kontak.

__ADS_1


BERSAMBUNG


***


__ADS_2