Istri Pilihan Pangeran Ningrat

Istri Pilihan Pangeran Ningrat
BAB 6 Dia ... Pacarku!


__ADS_3

Hesa tersenyum simpul mendengar jawaban Ei yang mau menerima tantangannya tanpa tahu dibalik tantangan tersebut, ada maksud tersembunyi dari Hesa. Hal itu sudah ia rencanakan sejak pertemuan pertamanya dengan Ei. Siapa sangka, setelah pertemuan pertama itu, Hesa terus dipertemukan dengan Ei lagi dan lagi. Seperti sekarang ini.


“Ei! Kau gila! Apa kau nggak curiga?” tanya Angel sambil mengamati pria tampan yang duduk di sebelah sahabatnya dengan hati-hati.


“Tenang saja, tebakanku nggak akan pernah salah. Lagian dia sendiri yang bilang kalau dia tidak pernah bertemu dengan si asisten ini.,” jawab Ei penuh percaya diri.


“Bagaimana kalau dia berbohong? Dia pernah lihat tapi demi mengecohmu, dia pura-pura tidak tahu. Kalau kau kalah, kau bakal jadi pacarnya, loh.”


Ei terdiam, dan ia baru saja sadar. Tapi dasar karena Ei ini lagi oneng, ia mengentengkan taruhan yang Hesa ajukan sebagai gertak sambal belaka. Di pikiran Ei, mana mungkin, seorang Hesa menjadikan gadis barbar seperti dirinya ini sebagai pacar. Jelas itu tidak mungkin dan amat sangat mustahil.


“Ngel, menurutmu aku cantik nggak?” tanya Ei tiba-tiba sok narsis.


“Enggak! Kau jelek,” jawab Angel cepat. Padahal secara fisik Ei lumayan cantik juga sih, cuma ketutup sama keonengannya.


“Nah, jelas cowok gila itu nggak bakalan mau jadiin aku pacarnya. Itu cuma gertakannya aja supaya aku takut dengannya. Bayangin, cewek jelek sepertiku pacaran sama cowok tampan gila itu? Nggak mungkin kan?” Ei masih kukuh pada pendiriannya kalau taruhan ini, dialah yang menang. Kalaupun kalah juga nggak mungkin Hesa memilihnya jadi pacar sementara di luar sana ada banyak sekali wanita yang jauh lebih cantik darinya dan berlomba-lomba mendapatkan cinta Hesa.


Angel sudah tidak berkomentar apa-apa lagi. Ia menatap sang dosen yang tiba-tiba saja memanggil nama Hesa untuk maju ke depan. Sontak semua netra menatap gerak gerik Hesa yang dengan coolnya memenuhi panggilan sang dosen.


“Untuk apa professor Yohanes manggil cowok gila itu ke depan?” Ei manyun menatap pria yang menurutnya sok cool itu maju ke depan.


“Untuk apalagi, ya buat dijadiin asisten dosennya-lah,” terang Angel sambil menatap kesal sahabatnya yang oonnya sudah mencapai level tingkat dewa.


“Oh.” Ei manggut-manggut tapi matanya langsung melotot setelah menyadari sesuatu. “Kau bilang apa barusan?” tanyanya pada Angel.


“Cowok yang kau katain gila itu, jadi asisten dosennya professor Yohan. Dia tampan dan digilai banyak wanita terutama yang ada di kelas ini. Tidak seperti prasangkamu. Puas kau, ha?” cetus Angel pada Ei. Sudah diingatkan kalau Ei ini dikibulin Hesa, masih saja ngeyel.

__ADS_1


Ei jelas shock, kaget sekaget kagetnya. Matanya mendelik menatap Hesa yang menjabat tangan profesornya diiringi sambutan tepuk tangan meriah dari para fans fanatiknya.


Hesa mulai mengenalkan diri di depan kelas. “Halo semua … perkenalkan. Namaku, Arleon Mahesa Savatinov Rajasanaghara. Aku akan menjadi asisten dosen kalian selagi professor Yohan ke Belanda. Salam kenal dan mohon kerjasamanya,” ujar Hesa dengan perkenalan singkatnya.


“Pak Hesa!” seru seorang wanita yang duduk di kursi paling belakang. Ia mengangkat tangan sambil berdiri.


“Iya!” ujar Hesa dengan tenang.


“Apakah Bapak sudah punya pacar?” tanya wanita itu dan semua seisi kelas langsung heboh. Saking histerisnya, professor Yohan sampai turun tangan meredakan kelas agar kembali aman terkendali.


“Silahkan jawab saja Hesa,” ujar professor mempersilahkan. Hal itu professor lakukan agar tidak menimbulkan huru hara selama kelas berlangsung nanti.


“Sudah! Baru saja,” jawab Hesa blak-blakan sambil menatap kea rah Ei yang mulutnya masih menganga lebar. “Kebetulan dia ada di sini!” tanpa izin, Hesa langsung menunjuk tempat Ei duduk. “Dia … baru saja jadi pacarku.”


“Wuaaaa!” seru semua orang hampir bersamaan dan mereka semua langsung menatap benci Ei yang bingung sekaligus shock.


“Tidak … ini tidak benar! Pasti ada yang salah!” gumamnya, tapi pelajaran mata kuliah Bahasa Indonesia sudah dimulai dan Hesa langsung memberikan materi pertamanya sambil tersenyum bahagia melihat wajah pucat pasi bagai mayat si Ei.


Semua mahasiswi yang ada di kelas ini juga langsung diam seribu bahasa karena masih ada professor Yohanes yang terus mengawasi pergerakan mereka. Barulah setelah professor itu pamit undur diri. Ei langsung digerudug dan diberondong banyak sekali pertanyaan tentang pernyataan Hesa bahwa dia adalah pacarnya sang idola kampus.


“Lu bener ceweknya? Kok bisa?”


“Kau pakai jurus pelet apa?”


“Yang bener saja, muka buluk kayak jurik begitu jadi pacarnya Hesa? Apa pak asisten dosen itu buta?”

__ADS_1


“Heh, Ei. Lu jangan ngimpi bisa jadi cewknya pak Hesa, ngaca dong!”


“Awas ya lu Ei! Liat aja ntr pulang kuliah! Cewek nggak tahu diri!”


Itulah seruan dan umpatan serta cacian yang ditujukan pada Ei seperginya professor Yohan dari kelas. Bahkan Ei sampai diancam mau di bunuh segala sama fans fanatiknya Hesa.


“Hei, kamvret kalian semua! Jangan berani keroyokan gitu, dong! Kalau berani lawan satu-satu!” sengal Angel tak terima sahabatnya di hina dan dicaci maki begitu meski ini semua terjadi karena salah Ei sendiri.


“Diem kau, Ngel! Kau sama saja kayak sahabatmu! Dasar keganjenan! Untung si Leo udah mutusin kamu, kalau nggak! Pasti kau bakal aku ancurin!” ancam salah satu wanita bernama Melinda.


Suasana di kelas semakin tidak kondusif. Angel berdebat dengan banyak teman sekelasnya. Sementara Hesa sendiri mencoba menenangkan kelas dan meminta seluruh mahasiswinya duduk di tempat mereka masing-masing.


“Kelas masih belum selesai, harap kalian semua duduk di kursi kalian masing-masing atau kupastikan kalian tidak akan pernah bisa mengikuti kelasku lagi setelah ini!” ancam Hesa dengan lantang.


Mau tidak mau, semua mahasiswi yang sedang bersitegang dengan Angel itu kembali ke posisi mereka sebelumnya dan dengan terpaksa menuruti ucapan Hesa. Sedangkan Ei jangan ditanya, ia masih tidak percaya, cewek itu terlalu shock karena diserang banyak orang gara-gara ia dinobatkan sebagai pacar dadakannya Hesa.


Ei tak bisa konsentrasi lagi di kelas ini dan memutuskan pergi tanpa pamit saat Hesa melanjutkan persentasi materinya. Berita hubungan Ei dan Hesa, rupanya telah menyebar ke seluruh kampus hanya dalam kurun waktu hitungan detik.


Tadinya Ei pikir, setelah keluar dari kelas, hatinya bisa tenang, tapi ternyata salah. Entah bagaimana bisa semua penghuni kampus ini tahu soal apa yang terjadi di kelas tadi. Tiba-tiba saja dari kejauhan, Ei langsung dilabrak orang sampai ia terjatuh. Tak hanya sampai disitu, dia bahkan dilempari makanan dan minuman.


Umpatan dan cacian tiba-tiba saja dilontarkan semua orang dimanapun kaki Ei melangkah dan gadis itu sudah tidak tahan lagi dengan perlakuan anarkis para wanita yang tergila-gila dengan Hesa.


“Cukup!” teriak Ei dengan sangat lantang ketika untuk kesekian kalinya ia dicaci maki orang-orang yang mengerumuninya.


“Aku bukan pacar Hesa, Leo KW atau siapalah dia!” lanjut Ei menggebu-gebu. “Dia bukan pacarku! Kami hanya taruhan dan aku kalah telak karena aku dibodohi olehnya! Kalian jangan main hakim sendiri di sini! Sekali lagi kalian macam-macam denganku, akan kutuntut kalian semua atas tuduhan perbuatan tidak menyenangkan, pembulian dan bahkan pencemaran nama baik!” bentaknya meluapkan emosi yang amat sangat. “Sekali lagi kutegaskan! Aku bukan pacar Hesa! Jadi … berhentilah menggangguku! Kalian dengar itu!” teriak Ei dan ia langsung berlari kencang pergi meninggalkan kampus.

__ADS_1


BERSAMBUNG


***


__ADS_2