
“Salah paham? Apanya yang salah paham?” tanya Hesa.
“Apa kau masih belum sadar? Si oneng Ei bisa saja membantah ataupun melarikan diri lagi bersamamu, tapi … bukan kau yang jadi incaran keluarga Ei, tapi keluargamu. Mereka akan membuat keluargamu menderita seumur hidup bila Ei memilih bersamamu. Dan jika kau memaksakan diri bersamanya, kau harus melalui serangkaian ritual di mana ritual itu bisa saja membunuhmu. Ei tak ingin melukaimu, atupun keluargamu. Ia mengorbankan cinta dan harga dirinya demi melindungimu dan keluargamu di Indonesia sana. Dan teman-temanmu yang ada di atas itu, adalah sandera. Ei harus mengakhiri hubungannya denganmu. Dengan begitu keluarga Ei akan melepaskan mereka tanpa luka sedikitpun. Itulah kenapa ia ingin kau menghargai pengorbanannya.”
“Apa? Kau serius?”
“Dia menentang keluarganya saat dipaksa menikah denganku, dia bahkan tidak takut saat kakeknya meletakkan pistol dikepalanya. Ei rela mati asal bisa bersamamu. Tapi, ia goyah saat melihat orang-orang disekelilingmu akan dihabisi keluarganya tanpa sisa. Kau akan sendiri dan Ei tak mungkin membiarkan itu terjadi …”
“Bagaimana dengan ritualnya? Ritual apa yang harus kujalankan supaya aku bisa bersama dengan Ei.”
Koga menatap tajam mata Hesa. “ Kau yakin kau ingin melakukannya?”
“Walaupun aku harus mati aku tetap akan melakukannya. Apa ritualnya, dan bagaimana aku melakukannya?” tanya Hesa nekat. Asal dirinya bisa bersama dengan Ei ia tak peduli dengan yang lainnya. Bahkan jika hidup Hesa harus berakhir di detik itu juga ia rela.
“Aku tanya kau sekali lagi, apa kau yakin akan melakukan ritual itu?” tanya Koga.
“Aku yakin! Beritahu aku apa yang harus kulakukan?” tandas Hesa tampak sangat yakin dan itu membuat Koga salut akan tekad cinta Hesa.
“Huh, kau benar-benar membuatku iri. Aku saja tidak berani mengambil keputusan seberat itu. Tapi kau dan si oneng itu bisa. Kalian saling melindungi satu sama lain. Ya sudahlah, kata Pat Kai memang inilah cinta, deritanya tiada tara. Ayo ikut aku kalau kau ingin tahu ritualnya.”
“Tunggu! Bukankah kau dan Ei akan menikah?” tanya Hesa bingung karena pria bernama Koga itu malah mengajak Hesa pergi keluar gedung yang dari luar tampak jelek tetapi megah dan mewah di dalam.
“Itu hanya syarat untuk membuatmu mau berpisah dengan Ei. Saat kau setuju berpisah tadi, cctvnya sudah mati. Teman-temanmu juga sudah dilepas pergi. Makanya aku berani bicara padamu.”
“Lalu … Ei … jika dia tidak menikah denganmu … apa yang dia lakukan sekarang?” tanya Hesa cemas. Ia punya firasat yang buruk soal kekasihnya.
“Daripada hidup dengan pria tampan dan keren sepertiku, si oneng itu lebih memilih mati. Itulah kenapa aku memberitahumu semuanya. Aku harap kau bisa menyelamatkan Ei. Kalau bisa, kalian jangan mati bersama. Sia-sia saja aku memberitahumu semuanya kalau pada akhirnya kalian mati.”
Hesa terbujur kaku. Inilah kenapa perasaannya tidak enak. Koga menjelaskan alasan kenapa Ei bersikap seperti itu padanya. Wajah Hesa memucat, tubuhnya langsung lemas setelah tahu apa yang terjadi pada kekasihnya.
__ADS_1
Hesa baru ingat siapa latar belakang Ei sebenarnya. Lambang patung yang sempat dikirim Keem padanya, itu adalah lambang kerajaan di mana Ei berasal. Ei bukannya diculik, tapi dipaksa pulang ke kerajaannya yang sekarang salah satu dari anggota kerajaan itu ada di negara ini.
“Ei … kenapa kau bodooh sekali? Kenapa kau harus menanggung semua ini sendiri?” gumam Hesa dan iapun mengikuti langkah kaki Koga.
***
Hesa sangat terkejut ketika Koga membawanya ke sebuah lapangan luas yang ternyata itu adalah tempat landasan udara. Sebuah helicopter mewah mendarat dan menyebabkan angina bertiup kencang.
“Ayo masuk!” teriak Koga mengajak Hesa duduk di bangku kabin helicopter.
Tak banyak bicara, Hesa pun menurut walau ia tak tahu kenapa harus pakai helicopter segala. Padahal jelas-jelas Hesa melihat Ei masuk ke dalam rumah bukan ke mana-mana.
“Memangnya kita mau ke mana?” tanya Hesa.
“Kau akan tahu setelah kita sampai. Menunduklah, ada anak buah keluarga Ei sedang mengawasiku. Mereka tidak boleh tahu kau ada di dalam helicopter ini bersamaku.”
Hesa menurut, ia menunduk sehingga dari luar tampak Koga saja yang ada di dalam kabin helicopter. Dan benar saja, tak berselang lama, helicopter lain dengan lambang patung sama seperti yang dibilang Keem, ikut terbang juga di susul beberapa helicopter lainnya. Semua helicopter ini terbang menuju ke suatu tempat.
“Ei memilih menjalani hukuman akibat melarikan diri dari pertunangan beberapa tahu silam. Sebenarnya, dia bisa menangguhkan hukuman itu asal mau menikah denganku. Tapi kau tahu sendiri, cintanya padamu begitu kuat sehingga ia memilih untuk dihukum. Tempat yang akan kita tuju adalah tempat sakral leluhur kakek moyang Ei yang berasal dari daerah sini.”
“Maksudmu … keluarga Ei blasteran?”
“Iya, kakek moyang Ei adalah bangsawan Amerika, makanya wajahnya cantik mempesona kan?”
“Aku kira … dia keturunan bangsawan Jawa. Sebab dia hafal semua adat istiadat Jawa serta mitos-mitosnya.”
“Nenek moyang Ei putri dari Jawa, sedangkan kakeknya … bangsawan Amerika.”
“Lalu apa yang Ei dan keluarganya lakukan?”
__ADS_1
“Sudah kukatakan, ia akan menjalani hukuman. Di tengah hutan belantara, ada sebuah tempat sakral keluarga Ei. Tempat itu harusnya menjadi ritualmu jika kau memaksakan diri menikahi Ei. Namun, Ei tak ingin kau memilih jalan itu, jadi … dia sendiri yang memilihnya. Ei si oneng, harus menaiki 1000 tangga yang ada pada pyramid. Jika dia bisa sampai puncak dan masih dalam keadaan hidup, maka ia bisa bebas dari segala aturan dan hukuman. Tapi coba kau pikir, manusia biasa mana yang bisa menaiki 1000 tangga dan sampai puncak dengan selamat. Baru 500 tangga saja udah pasti koaps.”
Hesa ternganga, ia tak percaya Ei melakukan semua itu demi dirinya. Pantas saja si oneng itu ngotot pisah. Rupanya Ei berencana menanggung beban ini seorang diri.
“Bagaimana? Kau mau mundur?” tantang Koga.
“Siapa bilang aku mundur. Jangankan 1000 tangga. Jutaan tanggapun akan kudaki asal aku bisa bersama dengan Ei.” Hesa memantapkan jiwa dan raganya untuk melindungi Ei. Kini ia sangat mengerti seperti apa pengorbanan sang kekasih. Bukan Hesa yang rela berkorban demi cinta, tapi Ei.
“Bagus, aku juga pertaruhkan segalanya membawamu kemari. Kalau aku ketahuan maka aku yang akan mati.”
“Terimaksih, tapi … kenapa kau mau membantuku. Padahal aku membencimu.”
“Wajar kau membenciku, sebab akulah yang akan dinikahkan dengan pacarmu. Kalau aku jadi kau aku juga akan melakukan hal sama. Tapi kata-katamu saat menunggu jandanya Ei sangat membuatku tersinggung. Kau ini pria apaan? Haduh …”
“Memangnya kenapa?” tanya Hesa.
“Hei bayi marmot! Kalau kau bisa menjadi yang pertama untuknya, kenapa kau harus jadi yang kedua dengan menunggu dia janda … aku tak habis pikir dengan pola pikirmu.”
“Siapa bilang aku jadi yang kedua? Sekalipun kalian menikah, akulah orang pertama yang akan menggaulinya. Aku berencana menyelinap ke kamar pengantin kalian dan menjadikan Ei milikku seutuhnya sekalipun suaminya adalah kau, bukan aku.”
“Hah? Apa kau sudah gila!” pekik Koga.
“Tapi tidak jadi karena kau sudah memberitahuku semuanya. Apalagi aku juga takkan biarkan Ei mati sia-sia hanya karena peraturan konyol ini. Jangan panggil aku Hesa kalau aku tidak bisa menaiki 1000 tangga itu!”
“Dasar edyan! Bagaimana bisa ada manusia laknaat sepertimu! Kau berencana menodai pacarmu sendiri di malam pengantinnya? Aku tidak bisa percaya ini.” Koga geleng-geleng kepala karena baru kali ini ia melihat ada manusia aneh bin nyeleneh seperti Hesa.
Terang saja Hesa mau mengakhiri hubungannya dengan Ei, ternyata di balik itu semua, si gengster punya rencana luar biasa gila. Yang namanya gangster tetap saja gangster.
BERSAMBUNG
__ADS_1
***