
“Hei kalian berdua! Apa kalian tidak merasa kalau kalian itu lebay sekali? Aku dan Febi yang pacaran lama tak selebay kalian.” Rangga protes pada Hesa yang main nyosor tanpa permisi pula. Namun, yang di protes hanya senyam senyum saja. Bahkan Hesa sengaja memperlihatkan, betapa bahagia dirinya saat ini.
“Kalian yang ciuman, kenapa jadi aku yang malu sih?” Febi menimpali. Ia melirik pada Rangga karena selama ia menjadi kekasih pria tampan yang duduk di sebelahnya, tak sekalipun Rangga mencium mesra seperti yang dilakukan Hesa.
Ei jadi tidak enak hati pada Febi. Ia tahu persis seperti apa gaya pacaran Rangga dan gadis aristocrat itu. Rangga benar-benar memperlakukan Febi bak seorang putri dan sangat menjaga kepribadian kekasihnya sebagai bangsawan berdarah biru. Apalagi, sejak lahir, Febi dilatih untuk berperilaku santun dimanapun dan dengan siapapun dia berada. Berciuman dengan pria yang bukan suaminya, jelas itu melanggar peraturan. Berbeda dengan Hesa yang suka nyosor kayak soang sekalipun ia juga keturunan ningrat.
Wajar kalau Rangga tidak berani mencium Febi di depan orang lain apalagi di tempat umum seperti yang dilakukan Hesa pada Ei. Kalau sampai itu terjadi, rusaklah citra Febi yang memiliki akhlakul karimah terbaik dikeluarganya.
“Ya sudah, Ei ayo lanjut latihan lagi. Dan kau Hesa, jauh-jauh darinya!” pinta Rangga sedikit mengancam. Mungkin, ia agak iri karena tak bisa bercumbu mesra dengan Febi.
Mata Ei langsung terbelalak, latihan sebelumnya saja sudah banyak menguras tenaganya. Apalagi Ei masih menggigil kedinginan. Sekarang malah disuruh latihan yang lain lagi.
“Tidak bisakah kita istirahat? Pakai high heels kan sudah, menghafal semua peraturan serta sejarah keluarga Hesa juga sudah. Tidak bisakah aku istirahat sebentar? Besok aku masih ada ujian dan harus berangkat pagi-pagi buta,” rengek Ei. Gadis itu juga menguap di depan semua orang saking ngantuk dan lelahnya.
“Nggak bisa! Banyak hal yang harus kau pelajari agar bisa memenangkan sayembara ini. Nggak ada istirahat sampai kau bisa menguasai semuanya,” tandas Rangga. Ia mulai membuka gulungan kertas untuk melihat latihan apa saja yang harus Ei pelajari sekarang.
Namun, gulungan kertas itu disahut oleh Hesa dan dimasukkan ke dalam tas ranselnya. “Biar aku saja yang melatih Ei untuk menghafal semua hal yang dia perlukan. Kalai ilmu filsafat dan fisiologi, Ei sudah menguasai karena itu adalah makanannya sehari-hari. Istriku sudah lelah, dia butuh istirahat. Kalian juga harus istirahat. Dan kamar kalian ada di sebelah sana.” Hesa menunjuk kamar Febi dan Rangga yang berseberangan dengan kamarnya.
“Kok cuma 1 ruang?” tanya Febi. Tidak mungkin ia 1 kamar dengan Rangga karena mereka masih belum resmi menikah.
“Ayolah, ini bukan istana. Kau dan Rangga juga akan segera menikah. Mau melakukannya sekarang atau nanti itu sama saja. Tapi aku tahu Rangga sangat menghormatimu, tidak mungkin dia curi start dulu. Kau bisa atur bagaimana cara kalian tidur. Masa aku yang harus beritahu kalian siapa yang harus tidur di kursi dan siapa yang tidur di kasur?” Hesa berdecak kesal dengan pasangan kolot satu ini.
Gaya pacaran mereka benar-benar sangat bersih sih sih, sama-sama masih virgin dan sama-sama perjaka ting ting. Meski Rangga pernah selingkuh, itu hanya sebatas status saja, tidak lebih dari itu.
__ADS_1
Tak ingin berlama-lama dengan Rangga dan Febi, Hesa menggendong Ei yang kelelahan masuk ke dalam kamar mereka dan mengunci pintu kamar rapat-rapat tanpa peduli dengan tatapan mata tajam dua sejoli yang ada di belakang mereka. Hesa meletakkan tubuh Ei dengan pelan di atas kasur.
“Kau nakal,” komentar Ei tiba-tiba.
“Kenapa?” tanya Hesa pura-pura tidak tahu.
“Apa bedanya kita dengan mereka? Kau dan aku juga belum resmi menikah tapi kita sudah satu ranjang dan satu kamar meskipun kau belum menyentuhku.”
Dengan gerakan cepat, Hesa mendekat ke wajah Ei sehingga membuat gadis itu terkejut. Pria tampan itu menempelkan jari telunjuknya di bibir indah Ei.
“Ssstt! Jangan keras-keras, dinding saja bisa dengar.” Hesa tersenyum manis setelah mengecup pelan bibir manis istrinya.
“Dasar mesum!” komentar Ei lagi tapi ia tidak menolak dikecup Hesa seperti itu.
Meski kecupan Hesa tidak lama, cukup membuat jantung Ei serasa ingin meledak. Seketika, rasa lelah yang Ei rasakan, mendadak hilang berganti dengan rasa bahagia tak terkira. Indahnya bila jatuh cinta, segala hal sulitpun bisa jadi mudah.
“Heh, Pangeran Ningrat!” cetus Ei.
“Iya, calon Putri Ningrat,” jawab Hesa.
“Menyingkir dari atas tubuhku! Kau itu berat!” cetusnya Ei lagi sambil mendorong tubuh Hesa kuat-kuat.
Hesa berguling ke samping sambil tertawa senang. Iapun memeluk Ei dan merebahkan kepalanya di bahu istrinya dengan manja.
__ADS_1
“Aku bahagia Ei, setiap malam aku membayangkan kita akan terus seperti ini selamanya. Senang bisa menjadi suami pura-puramu untuk saat ini. Dan aku sudah tidak sabar, ingin segera menjadi suami sungguhanmu.”
Ei membelai lembut rambut Hesa yang harum. Ei suka shampoo yang digunakan suami palsunya ini. Wangi dan bikin candu. Ei juga suka parfum hesa yang sepetinya tidak ada seorangpun pakai parfum entah apa itu.
Tak dapat dipungkiri, Ei sendiri juga sangat bahagia. Ia tak pernah menyangka, bakal bisa jatuh cinta pada seorang Hesa. Padahal sebelumnya, mati-matian ia lari dari pria ini dan terus saja menghindar.
Ternyata, semakin Ei lari, ia malah semakin jatuh cinta pada pria yang mengejarnya. Bukan karena intimidasi ataupun ancaman Hesa yang membuat Ei terikat padanya, tapi karena ketulusan cinta Hesa yang rela melakukan apa saja supaya bisa memenangkan hati Ei bahkan sampai rela berkorban apa saja. Dan sekarang, giliran Ei yang harus berjuang agar bisa bersama dengan Hesa selamanya.
“Kau sudah tidur? Kenapa diam saja? Apa … kau mau kupijat?” tanya Hesa. Ia mengangkat kepalanya untuk melihat wajah cantik Ei yang sedang melamun. “Ada apa? Kenapa wajahmu seperti itu?” Hesa bangun dan menatap lembut Ei.
“Bagaimana kalau aku gagal. Ayahanda … juga akan melakukan segala macam cara untuk membuatku menyerah. Sekeras apapun aku berlatih, tidak akan bisa menang melawan kekuasaan dan kewenangan ayahanda.”
Hesa menggenggam erat kedua tangan Ei, mencium punggung tangan itu dan memeluk ei dalam dekapannya. Ia sangat paham apa yang dirasakan wanita pujaan hatinya ini.
“Aku tahu, ini sangat berat untukmu. Tapi kau tidak sendirian. Ada aku yang selalu disisimu dan melindungimu. Tak peduli seberapa keras ayahku memisahkan kita, aku takkan pernah meninggalkanmu. Aku janji, apapun hasil sayembara nanti, aku … hanya akan menikahimu sekalipun aku harus melepas gelar kebangsawananku.”
Ei kaget dan langsung melepas pelukan Hesa. Ia menatap cemas wajah suaminya.
“Kau jangan gila? Melepas gelar? Semua orang di dunia ini ingin menjadi bagian dari keluarga bangsawan dan kau malah akan melepas gelarmu hanya demi orang sepertiku? Tidak, kau tidak boleh melakukan itu.”
“Aku akan melakukannya demi dirimu. Kau tidak bisa mencegah atau melarangku. Apa bagusnya dapat gelar bangsawan kalau bukan kau yang jadi istriku. Tapi … aku mungkin akan jatuh miskin. Jadi … kau harus menghidupiku kalau gelarku benar-benar dicopot.” Hesa tertawa sementara mata Ei memelototinya.
“Hah?” ujar Ei lemas lunglai melihat Hesa semakin tertawa keras melihatnya.
__ADS_1
BERSAMBUNG
***