Istri Pilihan Pangeran Ningrat

Istri Pilihan Pangeran Ningrat
BAB 29 Tantangan Pertama


__ADS_3

Ayah Hesa tak bisa lagi mendebat istrinya yang menginginkan Ei tetap tinggal di istana megahnya ini meski ia sangat membenci Ei karena gadis itu jauh dari kriteria menantu keluarga bangsawannya. Dari segi penampilan saja, Ei tidak ada anggun-anggunnya dan terkenal tomboy bahkan sangat urakan. Sangat jauh bila dibandingkan dengan kepribadian putri asli keluarga ningrat yang sederajat dengan keluarga Hesa karena etika dan moral sudah ditanamkan sejak masih dalam kandungan.


Namun Di mata Raden Ajeng alias ibunda Hesa, begitulah gelar ningrat ibu Hesa, Ei adalah menantu yang sudah dinikahi putranya meski belum secara resmi. Seperti apa kepribadian Ei, bukan masalah baginya. Toh Hesa sepertinya juga cinta mati sama wanita unik yang satu ini. Tugas sang ibunda Hesa hanya meresmikan pernikahan Hesa dan Ei tanpa harus melanggar aturan yang sudah diturunkan secara turun temurun.


Sayangnya, sang ibunda tercinta Hesa tidak bisa langsung mengakui Ei sebagai menantu karena terbentur aturan dan adat istiadat keluarga di mana sang pangeran tetap harus mengadakan sayembara resmi pemilihan calon istri sekalipun Hesa telah melanggar peraturan tersebut dengan mencuri start terlebih dulu.


Tidak ada yang tahu kalau pernikahan Hesa dan Ei adalah pernikahan palsu. Dan untuk step pertama, Hesa dan Ei bisa melaluinya dengan baik. Sekarang, memasuki step berikutnya, yaitu membuat Ei terlibat dalam pemilihan istri Hesa sebagai kandidat.


“Baiklah Ei, dengarkan aku.” Ibu Hesa membacakan keputusannya dalam persoalan Hesa dan Ei. “Tidak ada alasan bagi kami untuk menentang pernikahan kalian. Namun, peraturan tetaplah peraturan. Mulai sekarang kau adalah salah satu kandidat dari peserta sayembara pemilihan calon istri Hesa yang sah sesuai aturan dan adat istiadat keluarga kami. Sekalipun kau sudah menikah dengan Hesa, kau tetap harus mengikuti sayembara itu sekaligus buktikan kalau kau memang layak menjadi istri Hesa. Apa pendapatmu, Ei?” tanyanya menatap lurus wajah bingung menantunya.


Ei tak bisa langsung menjawab, ia melirik Hesa yang langsung memberi kode agar menyetujui apa yang dikatakan ibunda Hesa.


Ya gusti … sepertinya aku … memang tidak punya pilihan lain lagi selain harus terjebak di dalam istana yang menyeramkan ini, batin Ei.


“Eeee … Hamba … akan … melakukan yang terbaik, Yang mulia …” ujar Ei gugup karena tak tahu apa sebutan ibu mertuanya kalau dalam situasi formal seperti ini.


“Panggil saja Ibunda, sama seperti Hesa memanggilku. Jangan takut begitu, Ei. Aku tidak akan menggigitmu. Kau terlalu manis untuk di gigit. Tak Heran bila Hesa kukuh ingin menikahimu. Sebab, kau sangat cantik.”


“Te-terimakasih … I-ibunda ...,” ujar Ei masih saja gugup. Ia jadi malu karena dipuji ibu mertua.

__ADS_1


Tapi tetap saja ada yang membuat Ei heran, kenapa ayah Hesa menatapnya terus tanpa bicara. Tatapan mata itu, seperti beruang yang ingin menerkam mangsanya hidup-hidup.


“Sayembara ini akan diadakan bulan depan. Bersiaplah mulai dari sekarang dan kau harus mengikuti pelatihan dasar. Kendati demikian, kau tetap harus melayani Hesa sebagai suamimu sampai hari pemilihan itu tiba. Jadi kau akan tinggal di sini dan belajar banyak hal agar kau bisa menang.”


“Hah?” mulut Ei langsung menganga lebar setelah mendengar ucapan ibu mertuanya yang secara tidak langsung memintanya tinggal di istana ini dan pastinya bakal sekamar dengan Hesa.


Ei ingin memberontak dan menolak tinggal dengan pria yang sebenarnya bukan mahramnya. Bisa gawat kalau ia dan Hesa harus tinggal satu kamar layaknya pasangan suami istri sedangkan pernikahan mereka adalah pernikahan sandiwara, bukan sungguhan.


“Ibunda …” Sepertinya Hesa juga kebaratan, “sebentar lagi, Ei akan ada ujian semester.”


“Lah, terus?” tanya ibu Hesa.


“Tidak bisa!” seru ayah Hesa tiba-tiba dengan suara lantangnya. “Kau yang membawa wanita nggak jelas itu masuk ke dalam istana ini. Artinya, ia tak boleh keluar lagi kecuali bila … dia memutusakan berpisah denganmu. Masalah ujian, kalian bisa berangkat dan pulang bersama dan belajar bersama-sama. Namun, gadis itu harus tetap menjalani serangkaian aktivitas calon pendamping yang baik untukmu Hesa. Ei akan tetap tinggal di sini sampai pemenang sayembara diumumkan.”


Raden Savatinov tidak main-main dengan ucapannya. Segala hal yang ia ucapkan, adalah perintah mutlak yang tak bisa dibantah oleh siapapun.


“Tapi ayahanda …” Hesa masih membela Ei agar ia diizinkan keluar dari istana ini untuk sementara.


“Tidak ada tapi-tapian Hesa. Kau tahu kalau aku tidak suka dibantah. Tetap di sini dan menjalani serangkaian peraturan di rumah ini, atau pergi meninggalkanmu untuk selamanya. Cuma itu pilihan yang harus diambil istrimu. Masih belum terlambat untuk memilih tinggal atau pergi.”

__ADS_1


Lagi-lagi, Ei dihadapkan dengan pilihan yang sulit. Kalau dia mau ia lebih memilih mundur dan pergi dari istana ini. Dengan begitu ia bisa bebas dan melakukan apa saja yang dia inginkan tanpa harus dikekang seperti sekarang.


Hesa sendiri sudah tidak menoleh lagi pada Ei seolah suami palsunya itu memberikan kesempatan padanya untuk mengambil sendiri, pilihan apa yang gadis itu pilih. Ei yang sangat menyukai kebebasan tentu saja lebih memilih pergi karena ini merupakan kesempatan emas baginya yang tak mungkin datang 2 kali.


Artinya, Ei lebih memilih mengkhianati Hesa dan pergi dari kehidupannya selamanya. Awalnya gadis itu berjalan mundur dan hendak keluar pintu ruangan. Tentu saja pilihan Ei sangat mengejutkan Hesa dan ibundanya.


Namun, baru juga beberapa langkah Ei berjalan, ia teringat akan kebaikan-kebaikan yang Hesa lakukan. Sejauh ini cowok itu tidak pernah menyakitinya meski selalu bersikap menyebalkan. Hesa juga menghargainya sebagai wanita. Rasanya aneh bila Ei harus pergi dari sini begitu saja dan meninggalkan semua yang sudah Ei alami sejauh ini.


Tidak, aku tidak boleh pergi seperti ini. Sia-sia saja aku melakukan banyak hal mulai dari pagi hingga malam. Aku harus menyelesaikan apa yang aku mulai. Kau pasti bisa Ei. Kau juga butuh uang untuk membantu perekonomian anak-anak asuhmu di panti asuhan. Batin Ei menguatkan.


Alhasil. Hati nurani Eilah yang menang setelah sempat terjadi perang batin. Ei balik badan dan kembali menghadap ayah dan ibu Hesa sambil berlutut. Kedua tangan Ei terkatup dan sengaja ia angkat di atas ubun-ubun.


Dengan lantang Ei berkata, “Hamba bersedia menjadi kandidat calon istri pangeran Hesa Yang Mulia. Hamba akan melaksanakan semua yang Anda berdua titahkan. Terimalah permohonan maaf Hamba selama berada di istana ini. Saya akan berusaha menjadi yang terbaik,” tandas Ei tanpa ragu dan langsung membuat Hesa kagum pada Ei.


Padahal sebelumnya, Hesa sempat kecewa karena mengira Ei memilih meninggalkannya. Tak disangka, Ei menerima tantangan misi ini. Ibu Hesa pun tak kalah senang. Ia datang dan membantu Ei berdiri lalu memeluknya sebagai bentuk penyambutan sederhana kedatangan Ei sebagai menantu di keluarga ini.


“Selamat atas pernikahan kalian berdua. Aku turut senang,” ujar ibu Hesa pada menantu dan putranya.


BERSAMBUNG

__ADS_1


***


__ADS_2