
Mata Ei dan Hesa saling bertemu, dari sini sudah jelas kalau Ei takkan bisa lari dari sang asdos yang entah bagaimana caranya selalu bisa menemukannya dimanapun ia berada. Kali ini Ei tidak bisa bertindak gegabah. Ia membutuhkan otak yang encer untuk bisa lepas dari bayang-bayang pria tampan agar tak lagi memaksanya untuk terlibat dalam masalahnya.
Bagai terhipnotis, Ei berjalan pelan sambil mententeng bekal makanan kosong milik Hesa. Kebetulan sekali kalau cowok ini hadir di sini tanpa harus ia cari. Dengan begitu, Ei bisa mengembalikan kotak bekal makanan milik Hesa dan mengakhiri hubungan yang bahkan belum mereka mulai.
“Ini tak sengaja terbawa olehku. Maaf,” ujar Ei dengan sikap tenang sambil memberikan kotak bekal tersebut pada Hesa yang berdiri didepannya. “Biar tidak basi, isinya kuhabiskan. Dan rasanya enak. Aku harap kau tidak keberatan.” Mata Ei menatap wajah tampan Hesa yang mengambil kotak bekal miliknya dari tangan Ei.
“Tentu saja tidak, aku senang bila kau menghabiskannya. Ayo masuk, nanti kau terlambat.”
“Tidak perlu, aku akan berangkat dengan temanku. Seperti yang kukatakan semalam. Aku tetap menolak tawaranmu. Silahkan cari wanita lain yang bisa kau jadikan bonekamu.” Ei berjalan mendekat ke depan Hesa agar gadis itu bisa membisikkan sesuatu padanya. “Aku tak perlu bantuanmu untuk mengurus panti asuhan yang kudirikan. Kau tak perlu mengancamku lagi mengatasnamakan mereka. Jangan lagi ikut campur urusanku atau kau bakal tahu akibatnya. Aku serius, tinggalkan aku dan jangan pernah muncul lagi dalam hidupku. Kau paham!” Kini Ei malah berani mengancam Hesa.
Gadis itu belum tahu siapakah pria yang berdiri tegap didepannya. Jangankan diancam, dibunuhpun dia tidak mempan karena Hesa bukanlah manusia sembarangan. Di mata orang Hesa seolah sendirian, tapi disekelilingnya ada banyak sekali pengawal keluarga Ningrat Hesa yang selalu mengawasi dan menjaganya 24 jam.
Pernyataan Ei membuat Hesa tersenyum. Ia mengambil ponselnya dan memutar sebuah video yang langsung membuat Ei tertegun. Sepertinya, keadaan langsung berbalik 180 derajat. Tadinya, Hesalah yang diancam Ei, tapi kini sebaliknya.
“Aku tak perlu menjelaskan video ini, kan? Aku rasa kau paham maskudku. Ada banyak hal yang harus kita bicarakan berdua. Maka dari itu, masuklah, atau kau akan kehilangan mereka selamanya,” ujar Hesa sambil tersenyum manis.
“Ka-kau …” geram Ei semakin marah. Sungguh ia tak pernah berpikir Hesa akan menggunakan anak-anak itu untuk membuatnya tak bisa berkutik lagi. “Kau jahat!”
“Tergantung, harusnya kau menerima tawaranku. Tapi aku terpaksa menggunakan cara ini.” Hesa mempersilahkan Ei masuk ke dalam mobilnya karena gadis itu tidak bisa menolak lagi. “Maaf Nona Angel, kau tak keberatan kalau Ei kuculik sebentar, ada hal yang harus ku bicarakan berdua saja dengannya,” seru Hesa pada Angel.
__ADS_1
Angel bingung harus jawab apa, tapi Ei memberinya kode agar tetap ikut dengannya. angel tidak tahu siapa yang harus ia pilih. Mau menuruti Ei apa asdos tampan itu. Syukurlah Prety datang sambil membawa motor Scoopy. Gadis bertubuh gempal itu turun dari motor dan langsung nyerocos saja melangkah mendekati Angel tanpa tahu kalau ada Hesa di samping mobil Rubicon yang terparkir di depan motor Scoopy Prety.
“Kau ngapain berdiri bengong di situ sih, Ngel? Buruan cepat! Katanya kau suruh aku jemput kau! Mana si oneng Ei itu? Kenapa ponselnya nggak bisa dihubungi? Apa dia belum selesai semedinya? Haish, kenapa aku punya sahabat nggak jelas seperti kalian.”
Angel mengindahkan apa yang dikatakan Prety dan malah bicara pada Hesa. “Kalian bisa berangkat bersama. Aku bisa bareng Prety, bye!” Angel buru-buru berlari menuju ke tempat Prety dan memaksanya pergi meninggalkan Hesa dan Ei.
Ei mau protes tapi Hesa langsung menutup pintu mobilnya lalu berlari kecil menuju seberang dan duduk di balik kursi kemudi. Sedangkan Prety bingung, ia mau bicara tapi mulutnya langsung dibungkam oleh Angel.
“Sssst! Jangan bicara lagi, di depan itu ada pak asdos. Kau mau nilaimu dikurangin gara-gara mulut embermu ini?” bisik Angel pada temannya.
“Tapi Ei di mana? Masa kita ninggalin dia?” Prety baru tahu kalau Hesa ada didepannya, tapi ia tidak melihat Ei yang sudah masuk lebih dulu di dalam mobil Rubicon Hesa.
Mau tak mau si Prety nurut saja daripada dia kena omel Angel terus. Iapun tancap gas menuju kampus karena mereka ada kuliah di jam pertama.
Sementara Hesa juga melajukan mobilnya keluar dari perkomplekan rumah Angel. Di menit pertama, mereka berdua saling diam dan tak saling bicara. Ei sibuk memikirkan cara agar Hesa menjauhinya. Sedangkan Hesa, semakin gencar menjadikan Ei miliknya.
Tanpa di nyana-nyana, Hesa memberikan sebuah kotak yang berisi ponsel baru. Tentu saja Ei sangat terkejut mendapat hadiah tak terduga itu.
“Apa ini?” tanya Ei. Matanya melotot. Sebab hp yang diberikan Hesa termasuk hp mahal.
__ADS_1
“Anggap itu sebagai ganti ponselmu yang kuhilangkan. Didalamnya ada nomer kamu. Aku mencari semalaman ponselmu di sungai itu dan menemukannya, tapi sudah tidak bisa digunakan lagi. Hanya kartunya saja yang terselamatkan, jadi kau tak perlu ganti nomer. Oh iya, disitu juga ada nomerku juga. Nomer itu nomer permanen, kau takkan pernah bisa menghapusnya. Meski kau hapus, secara otomatis nomerku akan tersimpan di gawai itu.” Hesa menerangkan panjang lebar tentang hal yang sama sekali tak pernah Ei duga.
“Kau bilang apa barusan? Mencari ponselku yang jatuh ke dalam sungai? Serius? Itu sungai kan luas banget?” Ei jelas tak percaya. Mencari hp jatuh di dalam sungai sama saja mencari jarum di tumpukan jerami. Jelas itu tidak mungkin dan sangat tidak masuk akal.
“Bukan aku yang mencarinya. Tapi orang lain, tentunya atas permintaanku. Buka saja kalau kau tidak percaya.” Hesa tersenyum melihat wajah terpana Ei saat memeriksa ponselnya.
Kalau kartunya sudah terpasang di I-phone itu, jelas Ei tak bisa menolak ponsel baru pemberian Hesa. Ei melongo antara percaya dan tidak percaya, tapi ini sungguh nyata. Ia jadi penasaran, siapakah Hesa sebenarnya.
Apa dia seorang Spiderman atau Superman? Ah tapi itu tidak mungkin, mana ada orang seperti itu di dunia nyata ini. Tidak, aku tidak boleh menerima ini. Pasti gawai ini ada apa-apanya. batin Ei.
“Jika kau mengembalikan gawai itu, kau harus bayar ganti rugi uang pembeliannya,” ujar Hesa seakan tahu apa yang ada dipikiran Ei. Ia bahkan menyodorkan kwitansi pembelian gawai yang kini ada di tangan Ei.
Gila! Mehong banget! Batin Ei sampai matanya mau melompat keluar.
“Ini aku disuruh bayar?” tanya Ei lagi.
“Jangan dibalikin kalau kau tidak mau bayar,” tandas Hesa, tapi ia tak menatap wajah tegang Ei karena fokus menyetir. Jalanan lumayan macet di jam pagi karena banyak sekali pengendara berangkat kerja ataupun sekolah.
BERSAMBUNG
__ADS_1
***