Istri Pilihan Pangeran Ningrat

Istri Pilihan Pangeran Ningrat
BAB 75


__ADS_3

Namun, kekasihnya itu tak kunjung menampakkan batang hidungnya sampai kedua gadis itu memasuki gedung asrama mereka. Jesica masuk dulu ke kamarnya dan Ei masih melanjutkan perjalanan karena letak kamarnya ada di lantai paling atas. Ei tidak fokus saat berjalan dan masih memikirkan kehadiran Hesa.


Sebelumnya, Ei sangat yakin kalau pria berpakaian ala preman tadi itu benar-benar Hesa. Nada suaranya, dan cara pria tampan itu memanggil nama Ei, sama persis seperti yang dilakukan Hesa. Tidak mungkin kalau pria yang datang dan langsung hilang itu bukan Hesa.


“Ada apa ini? Kenapa dia berubah jadi jelangkung dadakan begitu?” gumam Ei dan ia membuka pintu kamar asramanya.


Setelah menutup pintu ruangan, Ei menyalakan lampu dan betapa terkejutnya ia saat ada seseorang sedang berdiri sambil merentangkan tangan kerahnya.


“Astaga, sepertinya otakku bermasalah, di mana-mana aku melihat Hesa,” gumam ei sambil menggeleng-gelengkan kepalanya agar tidak berhalusinasi lagi.


“Ini bukan mimpi Sayang, aku datang. Bukankah kau yang memintaku datang?” tanya suara itu dan Ei kembali menatapnya.


Ei memicingkan mata dan ia benar-benar melihat Hesa di depannya. Hanya saja ada sedikit luka beset di hidungnya. Mungkin akibat berkelahi tadi. Tanpa pikir panjang,k Ei langsung berlari dan memeluk kekasihnya.


Saking kuatnya pelukan Ei, Hesa sampai terhuyung ke belakang dan sigap menahan berat tubuh Ei yang menabrak tubuhnya.


“Benar, kau benar-benar Hesa. Kau bukan imajinasiku,” ujar Ei sambil rebahan di dada kekasihnya dan Hesa hanya tersenyum sambil memeluk erat Ei.


“Sepertinya kau kurang makan, tubuhmu semakin kurus saja,” ujar Hesa.


Ei langsung melepas pelukannya dan menyadari sesuatu. “Bagaimana kau bisa sampai kemari dalam waktu cepat. Bukankah kemarin kau bilang kau sedang ada masalah?” tanya Ei memulai interogasi.


“Aku sudah di Amerika, sehari setelah kau tiba di negeri Paman Sam ini. Masalahnya adalah, aku sangat lelah dan butuh istirahat, tapi aku sangat merindukanmu dan memastikan kalau kau baik-baik saja. Tadinya aku mau menemuimu saat kau baru pulang kuliah, tapi aku lihat ada sekelompok orang terus mengawasimu makanya aku mengamati mereka. Ternyata benar, mereka punya niat jahat pada pacarku,” terang Hesa dan membuat Ei sangat terkejut.

__ADS_1


“Hah? Jadi … saat kutelepon tadi … kau sudah ada di sini?” tanya Ei antara percaya dan tidak percaya.


“Ehem, dan aku menagih janjimu. Besok … di depan semua orang … kau harus menyatakan cinta padaku. Aku pergi dulu.” Hesa mencium kening Ei dan menuju pintu keluar asrama.


“Tunggu! Kau mau ke mana?” tanya Ei. Baru juga Hesa datang sekarang mau pergi lagi.


“Meskipun ini negara Amerika dan membebaskan kita melakukan apa saja, tetap saja aku tak mau menyalahi aturan sebagai pria sejati Ei. Aku mencintaimu, makanya kau harus menjagamu sampai kau benar-benar jadi istriku. Aku datang kemari untuk memeriksa keamanan ruanganmu, aku tambahkan sedikit alarm bahaya kalau kau terdeteksi dalam masalah. Sekarang kau aman. Aku harus membereskan gangster itu agar mereka dan antek-anteknya tak mengganggumu lagi.”


“Tapi lukamu … tunggulah sebentar … akan kuobati lukamu. Masa kau pergi begitu saja.”


Ei menatap nanar Hesa dan pria tampan yang penampilannya berubah drastis 180 derajat itupun luluh. Hesa berjalan mendekati Ei dan duduk di atas kasur agar Ei bisa merawat lukanya.


“Kenapa kau jadi mirip preman begini kalau di Amerika. Aku hampir saja tidak mengenalimu tadi,” aku Ei sambil menempelkan plester di hidup Hesa dan memerban luka di telapak tangan kiri Hesa.


Ei menarik napas dalam-dalam menatap Hesa yang juga menatapnya. Ia tak tahu harus berkata apa, yang jelas Ei sangat merindukan kekasihnya ini.


“Aku tidak tahu seperti apa kehidupanmu di Amerika ini. Tapi aku minta … kau jangan berkelahi lagi. Aku tak mau kau kenapa-napa.”


Hesa terdiam karena ia tak bisa berjanji. Satu hal yang tidak Ei ketahui di negeri paman Sam ini tentang siapakah Hesa sebenarnya, kalau saja Ei tahu. Mungkin kekasihnya ini bakal pingsan.


“Sudah malam, tidurlah. Besok kau ada kuliah.” Hesa berdiri setelah mengecup pelan bibir kekasihnya. Ei baru sadar kalau ada yang berbeda dengan Hesa. Jadi ia berlari dan menahan tubuh pria tampan itu dengan memeluk Hesa dari belakang.


“Kau melepas gelarmu? Untuk apa? Hanya supaya kau bisa menyusulku?” tanya Ei sedih. Ia tak pernah menyangka kalau kekasihnya bakal senekat ini demi dirinya.

__ADS_1


Lagi-lagi Hesa terdiam dan dengan perlahan, ia menurunkan tangan Ei dan balik badan menatap wajah sedih Ei yang mulai berurai air mata. Hesa mengusap sisa bulir air mata itu dengan jari jemarinya.


“Aku akan memakai gelang gelar kebangsawananku … kalau kau sudah menjadi istriku. Seperti yang kau bilang, kita akan memulai hubungan kita dari awal tanpa ada paksaan dan tanpa ada kebohongan. Kebetulan, kau berjanji akan menyatakan cinta padaku di hadapan banyak orang dan aku ingin … kau menyatakannya besok. Tepatnya di lapangan kampus Harvard.” Hesa tersenyum dan tangis Ei langsung berhenti.


“Apa tidak ada kortingan? Bagaimana kalau kunyatakan sekarang?” tawar Ei. Membayangkan ia bilang cinta pada Hesa bikin dirinya merinding disko.


“Tidak, aku tidak jualan. Pokoknya, aku ingin kau menepati janjimu,” tandas Hesa.


“Kalau saja aku tahu kau ada di sini, aku takkan mungkin buat janji itu. Kau menyebalkan.”


Hesa tertawa dan malah memeluk Ei dengan erat. “Jangan malu, aku tampan dan sangat keren. Ini bukan Indonesia. Tidak aka nada yang membencimu saat kau menyatakan cinta padaku. Sebaliknya, orang-orang Harvard malah bodo amat. Enaknya hidup di negeri asing bersistem liberal. Tak ada batasan apapun. Kita bisa melakukan apa saja yang kita inginkan.”


“Pergilah!” Ei mendorong tubuh Hesa karena malu.


“Kok aku jadi nggak mau pergi, ya.”


“Cepat pergi sana! Aku lelah, aku mau tidur. Bukankah kau juga ada urusan?” kali ini Ei sengaja mengusir kekasihnya. Padahal sebelumnya, Ei sengaja menahan Hesa agar tidak pergi.


“Tidak, aku mau melihat wajah malumu sedikit lebih lama,” goda Hesa dan Ei malah pergi ke kamar mandi dan mengunci pintunya.


“Aku tidak mau keluar dari sini sebelum kau pergi!” ancam Ei dari dalam kamar mandi. Hesa hanya tertawa pelan dan langsung keluar dari kamar meninggalkan Ei sendirian dalam rasa malu yang luar biasa.


BERSAMBUNG

__ADS_1


***


__ADS_2