Istri Pilihan Pangeran Ningrat

Istri Pilihan Pangeran Ningrat
BAB 100 Refald vs Hesa


__ADS_3

Wuah … di part sebelumnya ruame banget … karena kedatangan Pak Po dan Refald. Maaf kalau aku baru bisa lanjut sekarang setelah sempat semedi menentukan alur cerita ini, hehe … semedinya nggak kaleng-kaleng loh, semoga Pak Po Pak Po yung lain nggak keberatan kalau salah satu Pak Po yang aku jadikan pasukan Refald aku ubah jadi tampan tapi oneng wkwkwkwk. (Bercanda)


Menyambung dari cerita di bab sebelumnya, untuk part ini masih menceritakan cerita sekitar dunia fantasi. Sekali lagi, kalau Refald dan Pak Po muncul, maka jangan kaget kalau kejadian di luar nalar manusia bisa saja terjadi dalam cerita ini. Ambil sisi positifnya dan abaikan sisi negatifnya. Anggap kisah ini hanya hiburan semata karena nggak ada tujuan lain selain menghibur yang baca.


Bagi yang tidak suka, bisa di skip saja karena aku nggak memaksa agar suka juga dengan cerita fantasi yang nggak masuk akal ini karena aku sadar diri, kadang somplakku kalau kumat suka nggak beraturan.


Waktunya untuk mempertemuakan si oon Pak Po dan si oneng Ei Ei. Bagaimana kelanjutan kisah cinta Hesa dan Ei ini saat datang si raja demit serta anak buahnya? Happy reading ya …


Jangan lupa, like dan komentarnya juga … biar lebih semangat nulis karena di bab sebelumnya komentarnya bisa sampai 70-an meski aku nggak sempat bales semua. Padahal yang like nggak nyampe situ hehehe …


Dilarang tertawa karena aku nggak mau tanggungjawab kalau kalian mengalami sakit perut akut.


***


Kembali ke tempat di mana Hesa dan Ei sedang didatangi ular Phyton besar yang tiba-tiba saja muncul mengagetkan Ei dan Hesa. Sebagai pria sejati dan pajantan tangguh, tentu Hesa melindungi Ei dalam bahaya apapun.


Namun sepertinya si ular besar itu tidak bermaksud melukai Ei ataupun Hesa. Sebaliknya, binatang melata itu hanya bergoyang ke kanan dan ke kiri seolah ingin memberitahu sesuatu.


"Apa ada disko di sini? Kenapa ular itu menari-nari? Aku nggak dengar ada musik? Apa ular bisa pakai headset? Terompet ular ala negeri frindavan juga tidak terdengar."


"Ei Ei Sayaaaaangg, ular itu tidak menari, tapi kesakitan!" ralat Hesa.


Ei langsung manggut-manggut tapi sepertinya otak Ei ini lagi kumat konsletnya. Mungkin karena udara dingin makanya Ei jadi agak miring.


“Ada pedang yang tertancap di leher ular Pyton itu … sepertinya … dia meminta bantuan kita,” ujar Hesa memberi keterangan.


"Lah iya kah?" Eipun memerhatikan pergerakan ular di bagian lehernya.


“Kau jangan mendekat, tetap di sini dan biar aku saja yang mencabut pedang itu.” Hesa mengambil ancang-ancang dan dengan hati-hati, Hesa mendekati si ular Python untuk mencabut pedang yang tertancap dilehernya.


Ular itupun langsung jinak karena tahu ada yang hendak menolongnya. Sayangnya, meski Hesa sudah berusaha keras untuk mencabut pedang tersebut, tetap saja pedang yang tertancap itu tak tercabut juga. Tarikan pertama tidak ada hasil, Hesa mencoba menarik pedang untuk yang kedua, dan hasilnya nihil.


Berulang kali kekasih Ei itu mencoba tapi tetap saja tidak bisa. Hal itu membuat Ei dan Hesa heran, kenapa susah sekali mencabut pedang yang tertancap di leher ular Python padahal kelihatannya mudah untuk dicabut karena ular tak bertulang.


“Minggir!” tiba-tiba saja Ei berteriak kencang sambil membawa balok kayu yang entah ia dapat dari mana dan langsung mengarahkannya pada si ular.


Hesa sangat terkejut begitupula dengan sang ular. Karena takut kepala si ular bocor, binatang melata itupun langsung melesat cepat dan bersembunyi di balik punggung Hesa. Barhubung Ei ini onengnya lagi kumat, maka ia mengejar si ular sampai dapat dan 2 makhluk beda spesies itu tidak sadar kalau mereka sejak tadi kejar-kejaran memutari tubuh Hesa berkali-kali.

__ADS_1


“Woy, Piton! Berhenti nggak! Sini kau! Minta dilepasin nggak itu pedang!” Entah apa yang sedang merasuki otak Ei sehingga gadis itu meneriaki ular yang pastinya tidak akan paham Bahasa manusia.


Ular hanya punya insting, kalau dirinya merasa dalam bahaya pastilah harus melarikan diri atau menghindar sebisa mungkin. Itulah yang dilakukan si Python karena dia merasa Ei bakal mematahkan lehernya kalau sampai terkena balok kayu yang dibawa Ei.


Awalnya, Hesa lumayan kaget dengan aksi Ei yang hendak melepaskan pedang dengan sebilah balok kayu, dipikirnya, kalau pedang yang tertancap di leher sang ular itu bisa mental dan terlepas setelah dihantamkan balok kayu. Tapi Ei mungkin lupa, kalau pedang itu menancap di salah satu makhluk hidup yang bisa bergerak, bukan di benda mati sehingga kalau dihantam mungkin akan lebih susah lepasnya.


Namun, ekspresi Hesa berubah dongkol karena si ular dan sang kekasih malah kejar-kejaran memutari dirinya seolah sedang main petak umpet saja. Sebenarnya hal ini jelas tidak mungkin bisa dilakukan manusia dan binatang sekelas ular. Tapi ini nyata loh, Fey benar-benar mengejar si ular seperti ema-emak yang mau menghukum anaknya karena telah berbuat nakal. Mau heran, tapi ini si oneng Ei dan ular yang sebenarnya adalah jelmaan dari pak Po.


Hesa menangkap tubuh Ei saat melintas didepannya. Seketika, Ei berhenti berlari karena Hesa langsung mendekapnya. Si ular juga berhenti bergerak dan bersembunyi di balik punggung Hesa sambil meringkuk ketakutan. Karena si Pak Po sedang disihir jadi ular, ia hanya bisa melet melet saja tanpa tahu apa yang sedang dikatakan. Mungkin sedang mengumpati Ei.


“Apa yang kau lakukan?” tanya Ei berontak dari pelukan Hesa.


“Harusnya aku yang bertanya Mio Caro. Apa yang kau lakukan?” tanya Hesa. Matanya menatap tajam wajah kesal istrinya.


“Dari tadi kau tidak bisa melepas pedang yang tertancap di leher ular itu. Ya aku bantulah, kali aja pedang itu mau lepas kalau dipukul balok ini,” terang Ei dengan wajah polosnya.


Hesa menggigit bibir mencoba bersabar menghadapi kekasih onengnya ini. “Kau mau gunakan balok kayu ini untuk melepas pedang itu?” tanya Hesa.


“Iya,” jawab Ei santai.


“Bukan pedangnya yang lepas wahai calon istri orang bernama Mahesa Arleon! Tapi kepala ular itu bakal terlepas kalau sampai balok ini kau pukulkan padanya. Astaga … bukan seperti ini cara mengatasi masalah yang dihadapi binatang melata nggak pakai baju ini. Dia bukan manusia atau benda mati, dia binatang nggak punya tangan dan kaki.”


“Terus aku harus bagaimana?” tanya Ei.


“Ya nggak gimana-gimana, kau tak perlu melakukan apa-apa. Duduklah di sini dengan diam dan perhatikan saja!” Hesa menuntun kekasihnya untuk duduk di salah satu anak tangga sementara ia yang akan bertindak. Hesa hendak mendekati ular itu lagi tapi dia balik badan untuk memperingatkan kekasihnya agat tidak melakukan apapun. “Ingat, jangan bergerak. Diam disitu oke. Kalau kau bergerak, ular itu bisa marah dan habislah kita. Kau diam saja, paham!” pinta Hesa dan Ei mengangguk.


Hesa kembali mendekati si ular dan dengan hati-hati lagi, ia mencoba membantu melepas pedang itu untuk kesekian kalinya. Si ularpun mengerti dan ia pasrah pada Hesa. Namun sayang beribu sayang, sekeras apapun usaha Hesa untuk mencabut pedang tersebut, tetap saja pedang itu tidak tercabut juga. Jangankan terlepas, bergeser saja tidak. Berapa kalipun Hesa mencoba tetap hasilnya sama.


“Sial, pedang apa ini? Kenapa tidak bisa kucabut?” tanya Hesa pada sang ular. Ia kasihan karena sepertinya, ular itu tampak sangat kesakitan.


“Pedang itu takkan bisa tercabut!” seru seseorang dari balik punggung Ei. Sosok itu mendadak datang sambil menurunkan seorang wanita.


Tentu saja, Ei dan Hesa bisa langsung mengenali keduanya. Siapa lagi yang datang tengah malam di tempat seperti ini secara tiba-tiba dan tak terduga selain pasangan fenomenal Refald dan Fey.


Pasangan sejoli Hesa dan Ei sih sudah tidak kaget dengan hadirnya Refald di sini karena mereka tahu siapa Refald dan istrinya. Ei dan Hesa juga sudah disumpah Refald untuk tidak membocorkan identitasnya sebagai raja demit.


“Untung kalian datang di saat yang tepat. Mumpung kau ada di sini, bantu aku melepas pedang itu. Kasihan ularnya, dia kesakitan dan hampir saja dihantam orang,” sindir Hesa pada kekasihnya. Yang disindir malah tidak merasa.

__ADS_1


“Aku tidak bisa, istriku juga tidak bisa. Kalau saja Fey masih virgin mungkin bisa, tapi sekarang dia sudah proses mau turun mesin, sudah tidak ori lagi, makanya dia tak bisa mencabut pedang itu. Akupun sama, aku sudah tidak ori,” ujar Refald bangga tapi ia langsung dilirik oleh Fey gara-gara ucapannya.


“Siapa yang bikin aku tidak ori lagi, ha?” sengal Fey.


“Aku, dan yang bikin aku tidak ori juga kau. Sebab itulah kita menikah Honey. Semua yang ada dalam dirimu ini milikku. Begitupula aku yang sudah jadi milikmu, hanya milikmu seorang dan nggak ada siapapun lagi yang bisa memilikiku selain dirimu.” Refald memeluk pinggang istrinya di beri sedikit gombalan agar sang istri tercinta tidak merajuk.


“Astaga mereka kumat lagi,” gumam Ei sambil tepok jidat.


Hesa yang melihat kemesraan si raja demit dengan istrinya hanya tersenyum. Ia berjalan pelan dan langsung memeluk Ei dari belakang. Tak lupa Hesa juga memberikan 1 kecupan di pipi lembut Ei sehingga membuat gadis itu terkejut.


“Apa yang kau lakukan? Malu tahu!” tanya Ei sedikit marah. Ia hendak melepas pelukannya dari Hesa tapi kekasihnya itu malah semakin erat memeluknya.


"Aku sedang memelukmu, mendekapmu dan memberikan kehangatan untukmu. Aku lihat kau kedinginan makanya aku peluk kamu. Biarkan aura kehangatan tubuhku menghangatkan tubuhmu.” Hesa menempelkan keningnya di kening Ei yang hanya melongo melihat tingkah aneh sang kekasih.


Refald cemberut, ia tak mau kalah dari Hesa dan langsung memeluk Fey juga. “Kalian tidak bisa bermesraan di sini. Kalian belum menikah loh. Kalau aku kan sudah.”Refald pamer pelukan erat dan ciuman mesra tanpa malu sedikitpun. "Apapun yang kami lakukan, sudah berlebel 'Halal'. Beda dengan kalian."


“Bagiku, Ei ini adalah istriku, kami hanya perlu pengakuan resmi di mata agama dan hukum. Jiwa kami sudah menjadi satu meski belum dipraktekkan,” ujar Hesa.


“Kami bahkan mau punya anak!” pamer Refald lagi sambil mengelus pelan perut istrinya.


“Kami juga akan bikin setelah hubungan kami diresmikan.” Hesa tidak mau kalah.


Ei dan Fey jadi kesal sendiri dengan pasangan mereka sehingga dua wanita cantik itu memilih meninggalkan pasangan masing-masing dan malah mendekati ular Python yang tampak ngenes sekali melihat ada yang lomba pamer kemesraan.


Dengan kekuatan yang Fey miliki, ular Python, yang tadinya terus saja bergerak, mendadak diam di tempat seolah mendapat bius magic. Melihat ularnya sudah tak bergerak lagi, Fey meminta Ei untuk mencabut pedang tersebut.


“Cabutlah pedangnya,” pinta Fey.


“Tadi Hesa sudah mencobanya tapi gagal terus,” terang Ei.


“Jelas saja, pikiran suamimu itu mesum, makanya dia tak bisa mencabut pedang ini. Kau bisa mencabutnya dengan tangan kosong. Jangan pakai benda apapun .”


Ei ragu, tapi kalau yang bicara seperti itu adalah Fey. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Pelan tapi pasti, Ei mendekati leher ular Python dan memegang gagang pedang. Awalnya, Ei tak merasakan apa-apa, tapi entah kenapa, saat ia memegang gagang tersebut, pedangnya serasa sangat ringan.


Kerena ringan, otomatis pedang tersebut kecabut juga dari leher ular sambil memunculkan sinar cahaya terang benderang. Cahaya tersebut sekaligus berhasil mengakhiri perdebatan masalah kemesraan antara Refald dan Hesa terhadap pasangan mereka masing-masing.


Cahaya itu begitu menyilaukan mata sehingga membuat semua orang yang ada di sini harus menutup mata mereka dengan tangan. Setelah cahaya itu menghilang dan pedang itu tercabut, muncullah sosok makhluk menyerupai manusia berpakaian serba putih.

__ADS_1


BERSAMBUNG


***


__ADS_2