
Keesokan paginya, seluruh keluarga Hesa berkumpul bersama untuk sarapan. Kedua kakak Hesa sudah siap berangkat bekerja begitupula dengan menantu pertama keluarga Savatinov yang sedang sibuk syuting untuk film sinetron barunya.
Semua orang lumayan terkejut saat melihat Savatinov memakai pelindung kepala yang terbuat dari besi dan baja seperti baju besi pasukan perang ala zaman kerajaan. Bukan hanya anak dan menantunya yang terkejut, istrinya juga kaget melihat suaminya tiba-tiba bersikap aneh seperti itu.
“Suamiku, kenapa Anda memakai penutup kepala aneh begitu? Apa … kita akan berperang? Dengan siapa? Tidak ada penjahat di rumah ini?” tanya Ibu Hesa heran seheran-herannya. Tidak biasanya suaminya itu bersikap beda dari sebelumnya.
“Ada satu penjahat kelas kakap di rumah ini. Aku tidak mau kejadian kemarin terulang lagi. Makanya aku harus sedia payung sebelum hujan, bagaimana kalau setelah ini penjahat itu melempariku panci?” cetus Savatinov dan semua langsung tahu siapakah orang yang dimaksud.
Tidak ada yang berani bersuara daripada kena imbas semua. Mereka hanya bisa menahan napas dalam-dalam karena sejak kedatangan Ei di keluarga ini, semuanya menjadi kacau meski tak dapat dipungkiri, mereka merasa terhibur dengan kecerobohan yang dilakukan istri Hesa. Entah mereka sadar atau tidak, istana yang tadinya sepi bak kuburan, tiba-tiba rame dan penuh warna.
“Sudah jam segini, kenapa mereka berdua belum turun juga,” gumam ibu Hesa dan ia memanggil abdi yang semalam sempat mencuri dengar kamar Hesa. Abdi itupun membisikkan sesuatu yang membuat wajah ibu Hesa langsung bersinar senang.
Tanpa banyak bicara, sang Nyonya rumah langsung bangun dari kursinya dan menuju kamar Hesa diikuti oleh para abdi setianya.
***
Sementara di dalam kamar, Ei mulai terjaga dan ia tak sengaja meraba-raba wajah Hesa yang tidur disampingnya. Kaki Ei bahkan tumpang tindih dengan kaki Hesa. Merasa ada yang aneh, Ei membuka mata dan betapa terkejutnya ia ketika melihat Hesa sudah ada dalam pelukannya.
“Aaaaaaarrggh!” teriak Ei seketika dan langsung membangunkan Hesa.
“Ada apa? Apa ada ular?” tanya Hesa gelagapan.
“Kau … kau … bagaimana kau …. Bisa ada di sini?” tanya Ei kesal dan ia melihat gelas yang ia isi air semalam ada di atas meja dalam keadaan kosong. “Kau apakan gelas itu? Kenapa bisa ada di situ?” tunjuk Ei pada gelas kosong.
__ADS_1
Pertanyaan gadis itu terdengar lucu bagi Hesa. Bukannya menanyakan apa yang terjadi diantara mereka berdua semalam, Ei malah menanyakan soal gelas.
“Aku haus, jadi kuhabiskan saja airnya,” jawab Hesa enteng dan ia hendak bangun berdiri. Sayangnya, kakinya tersangkut kaki Ei sehingga ia terjatuh dan menimpa tubuh Ei. Mereka berdua saling tumpang tindih dengan posisi Hesa ada di atas tubuh istrinya.
Bertepatan dengan itu, pintu kamar Hesa terbuka lebar dan ibunda tercinta masuk ke dalam kamar menyaksikan putra dan menantunya sedang bercumbu ria. Mata Ei dan Hesa sama-sama melotot karena ibu Hesa datang di saat yang tidak tepat.
Tadinya, istri Savatinov alias ibu Hesa sempat terkejut ketika mendengar suara teriakan Ei yang terdengar lantang dari luar. Iapun buru-buru menuju kamar putranya dan tanpa permisi membuka kamar tersebut untuk mengetahui apa yang sedang terjadi.
Ternyata eh ternyata, putra dan menantunya sedang sibuk berindehoi ria meski yang terjadi sebenarnya tidak seperi apa yang dilihat ibu Hesa. Bukan hanya Ei dan Hesa saja yang kaget bukan kepalang saat melihat kedatangan Nyonya Savatinov, para abdi yang ada di belakang ibu Hesa juga terkejut melihat Hesa sedang ada di atas Ei.
Di tambah lagi, kamar Hesa benar-benar berantakan seolah semalam tengah terjadi pertempuran panjang. Padahal aslinya, Ei dan Hesa sama-sama tertidur lelap karena keduanya sama-sama kelelahan sehabis kejar-kejaran ala Tom and Jerry.
“Hesa, kau lupa ini sudah jam berapa? Kenapa kau memaksa istrimu ngadon melulu, ha? Cepatlah kalian bersiap-siap dan berangkatlah kuliah. Bukankah, hari ini adalah hari pertama kalian ujian?” seru ibu Hesa merasa sangat senang karena sebentar lagi ia akan mendapat cucu.
Pasangan suami istri palsu itupun jadi salah tingkah tak karuan. Ei langsung turun begitu Hesa bangun dari atas tubuhnya. Gadis itu mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi tapi Hesa melarangnya. Alhasil, Ei hanya memberi hormat terlebih dulu dihadapan ibu mertuanya sebelum berlari ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
“Kenapa Ibunda masuk ke kamarku tanpa izin begitu?” tanya Hesa sambil memeluk ibunda tercintanya.
“Aku hanya mempraktekkan apa yang kau lakukan saat masuk ke dalam kamar ayah dan ibumu semalam. Lumayan seru juga. Dasar anak nakal. Anak orang kau apakan saja semalam, ha? Lihat kamarmu ini. Berantakan sekali? Apa kau sehebat itu di ranjang? Siapa yang mengajarimu, ha?” tanya Ibu Hesa blak-blakan langsung los dol tanpa rem mengulik kehidupan ranjang putranya.
Ei yang mendengar pertanyaan ibu mertuanya dari dalam kamar mandi jadi ngeri sendiri. Ia sungguh tidak punya muka untuk keluar bertemu dengan ibu mertuanya. Meski tidak terjadi apa-apa antara dirinya dan Hesa, tetap saja semua orang sudah salah paham akan situasi yang terjadi barusan.
Hesa sialan, awas saja kau nanti! Rutuk Ei dan ia melanjutkan membersihkan diri.
__ADS_1
“Tidak ada yang mengajariku Ibu, aku kuat sejak lahir dan aku memang ahli kalau soal mengadonkan cucu untuk Ibu. Sekarang Ibu sudah lihat kami, kan? Biarkan Ei tenang mandi di dalam. Kalau Ibu terus ada di sini, aku khawatir dia tidak mau keluar.” Hesa tertawa dan memang yang ia katakan benar. Walau sudah selesai mandi, Ei enggan keluar dari tempat persembunyiannya karena malu habis dengan ibu mertuanya.
“Ya sudah, cepatlah turun, kami semua sedang menunggumu sarapan bersama. Jangan lama-lama. Nanti kau bisa terlambat.” Ibu hesa mengacak-acak rambut putra kesayangannya.
Rasanya baru kemarin Hesa ada digendongannya dan ia timang-timang setiap hari. Tapi sekarang, Hesa sudah punya istri dan bahkan sedang proses bikin cucu pula. Sungguh betapa bahagianya hati sang Raden Ajeng melihat putranya yang tampak bahagia bersama dengan Ei. Meski Hesa tak banyak bicara mengenai kehidupan pribadinya, dari mata Hesa saja sudah jelas kalau Ei adalah kehidupan dan masa depan Hesa.
Begitu Nyonya Savatinov keluar ruangan putranya, barulah Ei membuka pintu dalam keadaan rapi dengan rambut basah. Hesa langsung terpaku melihat Ei lebih cantik kalau sehabis mandi. Mata sang pangeran tak henti-hentinya menatap Ei dari ujung rambut hingga ujung kaki.
“Seandainya kau benar-benar jadi istriku, mungkin pagi ini adalah pagi yang indah sepanjang sejarah hidupku,” gumam Hesa yang sedang terpesona oleh kecantikan Ei.
“Kau bilang apa?” tanya Ei mendengar suaminya bergumam walau tak jelas apa isinya.
“Aku akan mandi, kita akan berangkat dan sarapan bersama.”
“Tidak sempat, kita sudah sangat terlambat dan semua ini gara-gara kau. Aku akan berangkat lebih dulu! Ah satu lagi, jika di kampus nanti, tolong … usahakan kita tidak saling kenal.”
“Mana bisa? Seluruh kampus sudah tahu kalau kau pacarku?” ujar Hesa bangga.
“Mereka hanya tahu kalau kau punya pacar. Tidak ada yang tahu wajah pacarmu itu seperti apa. Pokoknya, kalau di kampus, berpura-puralah kita tidak saling kenal, oke. Hanya teman sekelasku saja yang tahu hubungan kita dan aku sudah mengatasinya. Jangan bocor! Awas kalau sampai mereka tahu statusku. Akan kucincang kau!” ancam Ei.
Ei berlari ke depan cermin menyisir rambut ala kadarnya dan memakai krim seadanya, Gadis itu hanya mengoleskan lipbalm dibibirnya. Meski hanya riasan sederhana, Ei tetap terlihat cantik karena dari sononya memang sudah cantik alami. Bibirnya tetap merah delima meskipun tidak memakai lipstick apapun. Definisi makhluk ciptaan Tuhan yang sesungguhnya, meski tanpa make up berlebih. Ei tampak cantik jelita wangi sepanjang masa tiada tara.
BERSAMBUNG
__ADS_1
***