
Ei kesal, tapi juga tak tahu harus berbuat apa. Ia tak bisa berkutik kalau Hesa sudah bicara. Sepanjang perjalanan, Ei memilih diam. Ia menunggu apa yang akan dibicarakan Hesa padanya. Namun, sampai di kampuspun Hesa tak banyak bicara. Ia memarkirkan mobilnya di tempat parkir mahasiswa dan melepas sabuk pengamannya.
“Sebenarnya, aku sudah punya pacar!” ujar Ei tiba-tiba saat Hesa membukakan pintu mobilnya.
Untuk sesat Hesa terdiam dan menundukkan kepalanya. Tapi itu hanya sebentar, ia kembali menatap wajah Ei yang masih duduk rileks di dalam kabin mobil Rubiconnya.
“Oh iya? Siapa dia? Kenalkan aku padanya,” tantang Hesa, ia tahu kalau Ei sedang berbohong.
Ei garuk-garuk kepala dan bingung siapakah orang yang tepat untuk ia jadikan pacar bohongan. Tiba-tiba saja ia teringat temannya.
“Martin! Dia anak teknik,” jawab Ei cepat.
Hesa memeriksa arlojinya dan langsung mengajak Ei menemui cowok yang bernama Martin itu. “Oh, si Sumartono,” ujarnya.
“Kok Sumartono? Martin … jauh banget jadi Sumartono,” ralat Ei.
“Iya, anak teknik, kan? Dia temanku juga. Nama aslinya Sumartono, tapi nama bekennya Martin. Setahuku dia sudah punya pacar, tapi bukan kau pacarnya.”
“Dia udah putus, dan langsung pacaran sama aku,” sanggah Ei cepat karena ia nggak mau ketahuan bohong.
“Oh iya? Kok aku nggak tahu?” Hesa mengambil ponselnya dan menelepon orang yang bernama Martin alias Sumartono. “Kau ada di mana? Oh … aku mau menemuimu … nggak ada apa-apa, ayo ketemuan aja … oke, wait me!” Hesa menutup panggilannya. “Ayo kita ke tempatnya sekarang.”
Gawat! Ei mati kutu, mana ia tidak janjian dengan Martin. Ia bahkan baru tahu kalau nama lain dari Martin adalah Sumartono. Astaga, kenapa di kampus ini otak penghuninya pada eror semua, batin Ei.
“Apa kita harus berangkat ke sana sekarang?” tanya Ei antara ingin menyerah.
__ADS_1
“Iya, kan kamu bentar lagi ada kelas, sudah seminggu kamu bolos kuliah, hari ini jangan bolos lagi. Buruan!” Hesa langsung menarik tangan Ei menuju fakultas teknik disaksikan oleh semua penghuni kampus yang mereka berdua lewati bersama.
Ei malu habis sebenarnya, tapi cekalan tangan Hesa sangat kuat sehingga ia tak bisa melepaskan diri. Samar-samar Ei mendengar bisik-bisik tetangga tentang dirinya dan Hesa. Ia pasti bakal jadi trending topik lagi di kampus ini ngalah-ngalahin berita viral artis papan atas.
Sayangnya, mereka yang bergosip tentang Ei dan Hesa tidak bisa mengakses medsos mereka. Bila dipaksakan, gawai mereka semua langsung hang. Jelas itu bukanlah kebetulan. Sebab, hal itu bisa terjadi karena Hesalah biang keladinya. Dengan begitu, ia melindungi Ei agar tidak di bully lagi. Hebat banget si Hesa ini ya? Pantas kalau dia terpilih jadi asisten dosen.
Gawat gawat gawat, bagaimana ini? Pasti langsung katahuan kalau ketemu si Martin Sumartono itu, mana dia oneng pula. Aduh … gimana ini. Ya Gusti tolonglah hambamu ini dari cengkeraman iblis berwujud manusia satu ini, batin Ei dalam hati.
Dari kejauhan, tampak Martin melambaikan tangannya pada Hesa. Ei semakin ketar ketir karena jelas kebohongannya bakalan terbongkar. Ei sudah cari ancang-ancang untuk melarikan diri, tapi tangannya ini masih saja dicekal kuat oleh Ei.
Bodohnya aku, harusnya aku cari pacar bohongan yang nggak dikenal Hesa, tapi siapa? Gini nih, kalau kebanyakan bergaul sama Prety dan Angel, sampai lupa teman cowok. Ei terus bergumam pada dirinya sendiri merutuki kebodohannya.
“Ngapain kau nyari aku?” tanya Martin dan melihat Hesa menggandeng tangan Ei. “Jadi beneran kau pacaran sama si Ei.”
“Hai Martin,” sapa Ei sambil tersenyum manis.
“Nggak pakai jurus apa-apa, malah dia yang maksa aku jadi pacarnya,” jawan Ei jujur. Padahal ia sedang dalam masalah kalau ketahuan dirinya berkata bohong.
“Oh, btw, kalian ngapain kemari? Bukannya harusnya kalian ada kelas, ya?” tanya Martin lagi.
“Aku lagi nyari cowok yang jadi pacarnya Ei, padahal setahuku dia udah punya pacar, kok bisa dia selingkuh, sama Ei pula,” tanya Hesa, padahal orang yang dimaksud adalah Martin sendiri.
“Wuah, siapa cowok itu, minta dihajar dia. Kurang ajar sekali jadiin pacarmu selingkuhannya. Kau nggak perlu khawatir, Hes, biar kubereskan dia. Kau cukup beritahu aku saja siapa namanya.” Cowok bernama Martin itu terlihat geram sambil memukul-mukul kepalan tangannya sendiri.
“Serius kau mau hajar dia?” tanya Hesa.
__ADS_1
“Ya iya dong, beraninya dia jadiin pacarmu selingkuhan sementara dia sendiri sudah punya pacar, kan cari mati dia. Cepet bilang aja, aku bakal jadiin dia nggak punya tulang!” Martin juga memanggil semua rekan-rekan sesame jurusan teknik yang juga kenalan Hesa. Cowok tinggi berambut cepak itu menjelaskan apa yang dialami Hesa dan mereka juga sama emosinya seperti Martin.
“Wuah, nggak bisa dibiarin ini, Hes. Kasih tahu kita-kita supaya kita beresin itu cowok. Dasar cowok maruk kagak mau bagi-bagi ama kita,” seru salah satu teman Hesa yang lainnya.
Hesa manggut-manggut sambil menatap Ei yang sudah menggigit bibir sejak tadi. Dari sini saja ketahuan kalau Ei telah berbohong pada Hesa mengenai siapa pacarnya.
“Namanya Sumartono, kau bereskan dia untukku, ya?” jawab Hesa dan semua teman-teman Hesa langsung terkesima termasuk Martin sendiri.
“Loh, kok aku?” tanya Martin bingung. Semua teman-teman Hesa juga menatap tajam kearahnya seolah dialah orang yang memang sedang dibahas. “Kayaknya ini salah paham deh, siapa bedebaah yang menyebar gossip itu? Aku bukan pacarnya Ei! Itu fitnah!” pekiknya.
Sayangnya, teman-teman Hesa kadung emosi, jadinya mereka menggiring Sumartono untuk diberi pelajaran ramai-ramai.
“Lontong! Eh Tolong! Aku difitnah! Ei tolongin dong … aku kan bukan pacarmu, aku sudah punya pacar! Namanya Arini, bilang sama Hesa, kalau kau bukan pacarku. Huaa … lepasin gaes …,” teriak Martin meronta-ronta. Ia terpaksa harus jadi kambing hitamnya Ei.
Ei sendiri tidak tahu harus berbuat apa, ia juga tak tega kalau Sumartono alias Martin itu jadi korban gara-gara kebohongannya. “Lepasin dia!” pinta Ei pada Hesa dengan ekspresi melas dan cemas.
“Jawab dulu kalau kau mau menikah denganku!”
“Aku tidak mau menikah muda. Apalagi aku nggak suka sama kamu? Pernikahan macam apa yang bakal kita jalani nanti?” pekik Ei masih kukuh pada pendiriannya.
“Cinta bisa dipupuk setelah pernikahan Ei, lagipula kita tidak benar-benar menikah. Itu hanyalah symbol diatas kertas. Aku akan menikahimu secara resmi kalau kau sudah berumur 30 tahun seperti yang kau inginkan. Tapi untuk sementara, kita menikah secara adat dikeluargaku saja. Jika dalam kurun waktu 4 tahun kau masih belum juga mencintaiku, aku akan melepaskanmu.” Hesa menatap mata Ei dengan tatapan mata yang sulit dijelaskan dan terua menanti sebuah jawaban.
Sementara Ei ngeri sendiri mendengar Martin berteriak kencang, entah apa yang sedang mereka lakukan pada cowok itu. Ei bingung sebingungnya karena jelas ia tak punya pilihan lain selain kata 'bersedia'.
BERSAMBUNG
__ADS_1
***