
Ei sangat kesulitan untuk mandi. Karena cipratan air yang keluar dengan deras. Kaki Ei yang dibalut perban ikut tersiram juga. Perban yang membalutnya juga ikutan basah. Akibatnya, Ei merasakan nyeri yang amat sangat sehingga ia kembali tak bisa bergerak lagi.
“Sial, kakiku mulai merasa keram dan sakit lagi. Bagaimana ini?” gumam Ei bingung.
Rupanya ini alasan Febi melarangnya agar tidak mandi terlebih dulu sampai obat tradisional yang Febi oleskan merasuk ked alam kulit dan menghilangkan rasa sakit. Namun, jika terkena air akan luntur, akibatnya, Ei mengalami keram akibat urat sarafnya sempat tergeser.
“Bagaimana aku minta tolong pada Hesa, aku kan sudah mengusirnya. Astagah Ei, kenapa kau begook sekali. Sudah oneng, norak, begok pula.” Ei merutuki dirinya sendiri. Ia terduduk di samping bak mandi sambil bersandar di pinggiran bak meratapi nasibnya.
Merasa ada yang aneh, Hesa yang ada di luar kamar mandi, mengetuk pintu kamar mandi untuk memastikan Ei aman ataukah tidak.
Tok tok tok!
“Ei!” panggil Hesa dari luar. Kepala Ei langsung mendongak menatap ke arah pintu. “Kau tidak apa-apa?” tanyanya.
“Tidak! Aku tidak baik-baik saja!” rengek Ei menahan sakit karena perbannya basah dan ramuan pemberian Febi luntur.
“Kau bisa buka pintunya!” seru Hesa lagi dan lumayan cemas juga.
“Tidak bisa! Aku sungguh tidak bisa bergerak. Huaaa.” Ei menangis. Bukan karena merasakan sakit yang amat sangat dikakinya, tapi karena ia begitu bodoh dan oneng sehingga baru beberapa jam di rumah Hesa sudah menyebabkan masalah dan merepotkan si asdos tampan itu.
“Aku akan mendobraknya, kalau kau tidak pakai baju, gunakan handuk apapun yang bisa menutupi tubuhmu! Akan kumulai!” seru Hesa mulai mengambil ancang-ancang untuk mendobrak pintu kamar mandinya sendiri yang dikunci Ei dari dalam.
Namun, ada yang aneh dengan ucapan Hesa barusan. Di saat genting begitu, bisa-bisanya pangeran ningrat itu memikirkan apakah Ei pakai baju atau tidak. Benar-benar mesum.
Karena tidak ada jawaban, Hesa langsung menabrakkan tubuhnya ke pintu sampai terdengar bunyi ‘brak!’. Sayangnya, pintu mewah itu tidak berhasil Hesa dobrak. Pria tampan itupun kembali mengambil ancang-ancang dan bersiap mendobrak lagi. Kali ini, ia tidak menggunakan tubuhnya, melainkan kakinya.
Brak!
Satu tendangan kuat dari kaki Hesa, akhirnya bisa mendobrak pintu hingga daun pintu yang tak berdosa itu pun terlepas dari engselnya dan rusak parah. Mata Hesa menatap sosok wanita yang meringkuk di bawah bak mandi besar sambil berlinang air mata.
Dengan langkah tenang dan sok coolnya, Hesa menyahut sebuah handuk yang terpajang di tiang gantungan sambil menatap lurus Ei yang juga menatapnya dan sedang sibuk menutupi tubuh bagian dadanya karena hanya terbalut handuk putih. Dalam diam, Hesa menutupi seluruh tubuh Ei dengan handuk kering yang jauh lebih lebar dan panjang daripada handuknya Ei sendiri.
Hesa juga langsung mengangkat tubuh istrinya lalu mendudukkannya di atas tempat duduk dekat bak mandi sambil memeriksa kaki Ei yang sakit. “Obatnya luntur,” ujar Hesa sambil membuka perban di kaki Ei dengan hati-hati.
__ADS_1
Ei hanya diam sambil terisak. Ia sungguh malu semalu-malunya. Untungnya Hesa tidak menatapnya lagi dan fokus pada kakinya. Kalau Hesa sampai menatapnya lagi, mau ditaruh di mana muka gadis itu.
“Kau sudah terlanjur basah. Bisa masuk angin kalau tidak mandi sekalian. Febi sudah menceritakan semuanya padaku. Kau bisa mengandalkanku Ei,” ujar Hesa dan berdiri menatap wajah sedih Ei.
“Bagaimana kalau kau mengambil kesempatan? Kau kan mesum,” tanya Ei sambil terisak tapi tak berani menatap Hesa.
“Kalau aku macam-macam denganmu, harusnya sudah kulakukan sejak kita naik gunung bersama. Jika aku punya niat buruk padamu, begitu kita berdua tiba di kamar ini, kau pasti sudah kuapa-apakan. Nyatanya, hingga detik ini, aku tak melakukan apapun padamu sekalipun aku mau. Aku menahannya Ei, aku akan menunggu … sampai kau benar-benar mencintaiku.” Hesa menyalakan keran dan mengisi air dalam bak mandi. Lalu menaburkan sabun supaya Ei bisa berendam di dalamnya.
Selama menunggu airnya cukup, baik Hesa dan Ei saling diam. Hesa menatap air dalam bak mandi sedangkan Ei memerhatikan wajah tampan Hesa yang sedang melamun itu.
Dari sini Ei mulai berpikir, kalau Hesa bisa sopan juga dan tahu bagaimana cara memperlakukan wanita yang sedang dalam keadaan terdesak. Tak heran bila Hesa sengaja tak menatap Ei lagi. Itu pasti karena dia memang berasal dari keluarga aristokrat yang sudah ditanamkan bagaimana beretika yang baik. Dan pastinya, tahu betul sopan santun ketika dihadapkan dalam situasi seperti ini.
“Airnya sudah siap. Aku akan menutup mataku dan kau bisa pegangan padaku untuk masuk ke dalam bak mandi. Jangan lupa lepas handuknya. Beritahu aku kalau tubuhmu sudah terendam air dan tertutup busa.”
“Kau tidak akan mengintip, kan?” tanya Ei penuh waspada.
“Tidak akan, aku janji.”
“Awas kalau kau sampai ngintip, matamu bisa bintitan!” cetus Ei hati-hati.
“Apa bedanya dengan mengintip!”
“Aku bercanda. Cepat masuklah, nanti kau masuk angin. Aku sih tidak keberatan jika harus memelukmu sepanjang waktu untuk menghangatkan tubuhmu …”
“Stop! Sudah hentikan! Kau mulai ngelantur ke mana-mana. Tutup matamu saja sekarang,” sela Ei cepat dan meraih kedua tangan pria tampan yang berdiri di depannya.
Ei menatap waspada mata Hesa yang terpejam. Berhati-hati jangan sampai Hesa mengintip atau membuka matanya disaat Ei melepas handuk.
Dengan susah payah dan dibantu Hesa, Ei masuk ke dalam bak mandi dan melepas handuknya serta handuk yang diberikan Hesa lalu meletakkannya di pinggiran bak mandi. Meski serasa amat sakit, Ei menjadi rileks ketika ia berendam di air hangat yang penuh busa ini. Seketika wajahnya berubah semringah karena ia bisa bermain-main dengan busa yang menutupi seluruh bagian tubuhnya dan hanya menyisakan kepala saja.
“Sudah?” tanya Hesa yang berdiri di belakang kepala Ei dengan mata terpejam.
“Iya, sudah,” jawab Ei sambil meniup busa-busa yang ada di atas kedua telapak tangannya.
__ADS_1
Hesa membuka mata dan tanpa izin ia langsung melepas kunciran rambut Ei sehingga rambut indah itu terurai. Tentu saja Ei kaget dan langsung menengok ke arah Hesa.
“Apa yang kau lakukan?” bentak Ei.
“Aku akan membantu mencuci rambutmu dan membilasnya di sini,” jawab Hesa dengan muka datar-datarnya. Ia mengambil kursi dan duduk tepat di samping keran air sambil memegang salah satu selang yang digunakan untuk membilas. “Kau bisa membersihkan tubuhmu, aku akan membantu membersihkan rambutmu. Percayalah Ei. Aku tidak punya niat lain. Aku memang mesum, tapi … aku tahu kapan waktunya untuk mesum dan tidak. Mesumku ini hanya muncul saat berada didekatmu saja. Dan sekarang, Aku hanya membantumu mandi sesuai titah Febi padaku.”
Ei tidal menyahut dan malah menatap tajam mata Hesa. Ia masih belum bisa percaya sepenuhnya pada suaminya ini.
“Kemarilah,” pinta Hesa dengan tenang. Matanya menandakan kalau ia tidak berbohong.
Ei kembali ke posisinya semula dan membiarkan Hesa membersihkan rambutnya. Ei merasa seperti ada di salon kecantikan. Tapi ia tetap waspada takut kalau Hesa khilaf.
“Rambutmu sangat indah,” ujar Hesa.
“Terimakasih, tapi aku tidak punya uang receh untuk membayar pujianmu padaku.”
“Kau bayar aku dengan cintamu saja, itu sudah lebih dari cukup.”
“Kumat,” gumam Ei dan Hesa langsung tertawa.
Hampir satu jam lamanya, Hesa menemani Ei mandi. Tentu saja ia tetap bersikap sopan dan sangat menghormati Ei sebagai wanita. Kalau Hesa mau, ia bisa membuat Ei menjadi miliknya seutuhnya tapi Hesa punya prinsip sebagai pria sejati dan tidak akan pernah merusak wanita yang ia cintai.
Seusai mandi, Hesa menggendong Ei ke luar kamar mandi. Matanya kembali terpejam saat Ei berganti pakaian bersih dan rapi. Tangan gadis itu berpegangan di bahu Hesa yang berdiri membelakangi Ei. Setelah Selesai, Hesa mendudukkan istrinya di atas kursi panjang. Membantu mengoleskan obat tradisional dari Febi dan kembali membalut perban di kakinya Ei yang membengkak.
“Bagaimana? Kau sudah baikan?” tanya Hesa setelah selesai merawat Ei.
“Iya, obatnya langsung bekerja dengan cepat. Sekarang lebih baik. Terimakasih,” ujar Ei sambil menatap Hesa. “Sebaiknya, kau ganti baju juga, karena pakaianmu basah.” Ei mengingatkan.
Sialnya, peringatan Ei malah membuat Hesa langsung membuka kemejanya tepat di depan Ei yang langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Kenapa tutup mata begitu? Kau kuperbolehkan melihat tubuh bagian atasku. Tapi jangan bagian bawah. Nanti imronmu nggak kuat, hehe …” kekeh Hesa sok pamer dada bidang mulus.
“Dasar mesum! Pergi sana! Ganti bajunya jangan di sini dasar bayi marmot!” teriak Ei kesal pada Hesa. Ia sadar kalai telah salah ucap. Harusnya tadi Ei tidak perlu mengingatkan kalau tahunya begini.
__ADS_1
BERSAMBUNG
***