
Tadinya, Ei pikir, Hesa bakal mengajaknya makan di restoran atau tempat yang sepi dan tak banyak orang. Tak disangka, suaminya itu malah mengajaknya makan di tempat yang ramai dan tempat ini adalah tempat biasanya Ei dan teman-temannya nongkrong.
“Hesa, apa tidak salah? Kenapa malah datang ke sini? Ini tempat tongkrongan para Mahasiswa.”
“Memangnya kenapa? Kau dan aku kan sama-sama mahasiswa yang baru saja menyelesaikan ujian. Ayo …” ajak Hesa hendak menggandeng tangan Ei tapi gadis itu malah menjauh. “ada apa?” tanyanya.
“Akan mencurigakan kalau kita datang berdua, aku akan pergi duluan lalu kau ikuti aku dari belakang.” Ei hendak berjalan lebih dulu, tapi tangannya di cegah oleh Hesa.
“Kita masuk sama-sama,” ajak Hesa.
“Apa kau sudah gila? Kita bisa ketahuan!” tolak Ei mentah-mentah saat tangannya hendak digandeng Hesa. Ia memerhatikan sekeliling dan untungnya tak ada yang memerhatikan mereka di sini.
“Aku tidak peduli, aku tidak akan melepaskan genggaman tangan ini. Bodo amat mereka tahu hubungan kita apa nggak. Aku sudah lelah dengan semua wanita yang mengaku-ngaku sebagai pacarku.” Lagi-lagi Hesa memaksa menggandeng tangan Ei. Inilah alasan kenapa wajah Hesa sedikit suram saat ada di mobil tadi.
“Ya sudah, ayo kita pergi saja dari sini.” Ei menyeret tangan Hesa menjauh dari keramaian dan hendak menuju mobil Hesa yang terparkir.
“Kenapa harus pergi? Tidakkah kau ingin merayakan selesainya ujian kita di hari terkahir ini. Sama seperti yang lainnya? Aku tidak mau kau stress gara-gara sayembara ini Ei. Kau masih bisa membaur dengan teman-temanmu. Harusnya kau tak menolak ajakan Angel dan Prety. Aku tidak mau mengikatmu.”
Ei berhenti berjalan dan menatap sendu wajah suaminya. “Justru aku melakukan ini agar aku bisa terus bersamamu. Aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatanku berlatih karena besok sayembara akan dimulai dan aku sama sekali tidak tahu apakah aku bisa melaluinya atau tidak. Aku harus menang, demi dirimu, demi janjiku pada Febi. Bagaimanapun aku harus menang. Biarkan saja semua wanita di sini mengaku sebagai pacarmu, toh yang kau cintai tetap aku, kan? Apa aku salah?” tanya Ei.
Hesa menunduk, ingin rasanya ia memeluk Ei dengan erat tapi ini adalah tempat umum dan ia tak mau jadi pusat perhatian. Siapa yang menyangka tekad apinya Ei benar-benar kuat. Ia bahkan tak ingin membuang waktu seditikpun untuk tidak latihan latihan dan latihan. Tak salah jika Hesa menjadikan Ei sebagai hidupnya karena dari sini saja Ei sudah terlihat kalau dia bukanlah gadis yang mudah menyerah. Alhasil Hesa hanya memegang kedua tangan Ei dan hendak menciumnya tapi tidak jadi karena tiba-tiba saja Margaret datang memergoki Ei dan Hesa mojok.
“Hooo … jadi … dialah kekasihmu yang kau sembunyikan itu?” tanya Margaret menatap wajah tegang Ei. Sedangkan Hesa, tampak tenang-tenang saja karena ia memang berniat go public dengan Ei.
Ei hendak menjelaskan pada Margaret kalau ia sudah salah paham tapi, belum juga ia buka suara, mendadak ada orang yang memanggil namanya dengan sangat lantang.
“Eiii!” teriak seseorang dari kejauhan.
Spontan, Ei langsung menepis kasar tangan Hesa dan refleks mendorong tubuh suaminya sampai Hesa terjengkang ke belakang. Sebisa mungkin Ei jaga jarak dengan Hesa agar tidak ada yang curiga meski Margaret sudah memergokinya. Gadis itu menoleh ke arah sumber suara tersebut dan betapa terkejutnya Ei setelah ia melihat siapa yang memanggilnya.
Orang yang memanggil Ei adalah seorang pria, tinggi, kekar dan juga tampan. Ia baru saja turun dari taksi dan langsung berlari ke arah Ei yang berdiri tak jauh di sebelah Hesa dan Margaret. Tepat di depan mata suaminya, mendadak cowok tinggi nan tampan itu memeluk Ei dengan sangat erat.
__ADS_1
“Akhirnya, kita bertemu lagi Ei! Aku senang akhirnya aku bisa menemukanmu,” ujar pria itu senang dan sukses membuat Ei terbujur kaku karena dirinya dipeluk tiba-tiba.
Ekspresi Hesa jangan ditanya, ia sangat kaget sekaget-kagetnya. Tangan asdos tampan itu sampai mengepal kuat dan giginya bergeretak karena tak terima melihat istrinya dipeluk pria lain sembarangan.
Laki-laki mana tidak yang terkejut melihat kekasih hatinya dipeluk pria asing tepat dihadapannya tanpa izin dulu pula. Tapi semua teman-teman kampus Ei yang ada di sini juga ikut terkejut melihat kejadian tak terduga itu dan mereka semua malah mengira kalau pria yang memeluk Ei adalah kekasihnya Ei sendiri.
Insiden ini sekaligus menangkal gossip antara Hesa dan Ei yang mulai hangat mereka bicarakan. Banyak yang sudah mengira kalau Ei dan Hesa ada hubungan khusus, tapi sekarang, sepertinya asumsi itu terpatahkan dengan hadirnya pria asing tak dikenal diantara Hesa dan Ei.
Sadar kalau situasinya sedang buruk, Ei buru-buru meraih tangan pria asing itu dan membawanya pergi dari hadapan Hesa serta orang-orang yang menyaksikan kehadiran Ei dan pria asing itu di sini.
“Siapa pria itu?” tanya Margaret, “Apa kau mengenalnya?”
Bak cacing kepanasan, Hesa pergi meninggalkan Margaret tanpa bicara sepatah kata. Ia masuk ke dalam mobilnya dan cabut begitu saja dengan penuh emosi yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
***
“Apa yang kau lakukan di sini, ha?” pekik Ei marah pada pria tampan yang ada didepannya. Mereka ada di sebuah kafe kecil yang ada di pinggir jalan dan jauh dari keramaian.
“Kau dibayar berapa untuk menemukanku?” tanya Ei memulai interogasi.
“Banyak. Bisa kubuat tinggal di Amerika sampai 5 tahun ke depan, ah tidak … mungkin 10 tahun kalau aku tidak foya-foya. Dan aku bakal dapat bonus kalau aku bisa membawamu pulang kembali ke rumah.”
“Begini saja, aku akan bayar 2 kali lipat dari yang mereka tawarkan padamu asal kau pergi meninggalkanku selamanya dan biarkan aku hidup damai di sini. Bagaimana?” tawar Ei. Sepertinya ia tidak main-main dengan apa yang baru saja ia bicarakan.
“Kau sungguh tidak ingin pulang? Sepertinya, orang yang ada di sini tidak ada yang tahu siapa dirimu. Kecuali aku. Iya, kan?” tanya pria itu mulai pasang wajah serius.
“Tidak, apapun yang kulakukan di sini bukan urusanmu. Aku sudah punya rumah dan aku aman tenteram di sini. Pergilah dan jangan pernah kembali lagi kemari. Aku akan transfer ke rekeningmu kalau kau sudah meninggalkan tempat ini.”
Baru saja pria tampan itu mau buka suara, mendadak, Hesa masuk ke dalam kafe dan langsung mencengkeram kuat kerah baju pria yang duduk di depan Ei. Hesa hendak melayangkan tinjunya ke wajah pria tampan tersebut tapi aksinya langsung dihentikan oleh Ei.
“Hesa! Jangan!” larang Ei dengan lantang sebelum pria itu dapat bogem mentah dari Hesa.
__ADS_1
Sebaliknya, pria tampan yang sedang dipelototi Hesa malah santai-santai saja. “Apa karena dia, kau menolak kembali bersamaku?”
Ei terdiam, ia ragu apakah harus memberitahu pria ini atau tidak soal yang ia alami di sini bersama dengan Hesa. Termasuk dirinya yang akan mengikuti sayembara serta kepura-puraannya menjadi istri Hesa.
“Jangan ikut campur Ei!” ujar Hesa dengan kilatan api kemarahan. Hesa kalau lagi cemburu bisa berubah jadi menakutkan. “Dia sudah kurang ajar padamu. Beraninya dia memelukmu tepat didepanku!” Hesa sudah menyiapkan tinjunya lagi tapi Ei langsung mencekal kuat lengan suaminya dan mendorong Hesa menyingkir dari pria tampan yang mengajaknya pulang.
Tentu saja aksi Ei, membuat Hesa tercengang-cengang karena istrinya malah melindungi pria lain.
“Benar,” ujar Ei lirih matanya menatap kesal pada Hesa. Gadis itu sengaja menjawab pertanyaan pria yang ia lindungi dari pukulan Hesa. “Aku jatuh cinta padanya dan ingin menjadi istrinya. Jadi, pergilah dari sini, karena disinilah seharusnya aku berada.”Ei balik badan dan berdiri di depan Hesa. Semakin heran dan bingunglah Hesa saat ini.
Bukannya pergi, pria tampan itu malah merangkul bahu Ei tepat di depan Hesa dan tentu saja membuat Hesa salah paham lagi akan aksi pria asing ini. Napas Hesa sudah naik turun melihat adegan panas didepannya dan ia hendak menghajar pria yang berani menyentuh istrinya.
“Hesa! aku bilang jangan!” seru Ei menghalangi tubuh suaminya yang terus melangkah maju.
“Minggir Ei! Aku tak ingin menyakitimu.”
“Dia kakakku!” seru Ei dan Hesa langsung tertegun.
“Apa?” tanya Hesa berharap ia tidak salah dengar.
“Dia kakak sepupuku, namanya Fery. Agysta Fahreinheid Bramastya. Dia baru pulang dari Amerika dan langsung menemuiku. Dia bukan pria asing, dia putra ke-2 dari bibiku.”
Hesa mengerutkan alisnya antara percaya dan tidak percaya. Ia memerhatikan wajah Ei dan pria yang bernama Fery itu dengan seksama dan nggak ada mirip-miripnya.
“Kenapa … aku baru tahu … kalau kau punya sepupu?” tanya Hesa.
“Itu karena si oneng Ei ini sudah kabur dari rumah sejak dia masih duduk di bangku SMA." Pria bernama Fery yang menjawab, "Ia menggunakan kecerdasannya dengan membawa semua surat-surat berharga untuk hidup sendiri di tempat ini. Ah … ceritanya sangat panjang. Kau saja yang ceritakan pada pacarmu ini Ei. Karena aku sudah di sini. tidak mungkin aku pulang, kan? Aku harus menginap di tempatmu. Katakana, kau tinggal di mana?” tanya Fery dan Ei langsung kalang kabut dan bingung.
BERSAMBUNG
***
__ADS_1