Istri Pilihan Pangeran Ningrat

Istri Pilihan Pangeran Ningrat
BAB 19 Jalur Cinta Hesa dan Ei


__ADS_3

Pertandingan cinta Hesa dan Eipun dimulai. Live streaming mereka juga sangat ramai dilihat banyak netizen. Mereka bahkan memberikan ragam komentar ketika Hesa memperlihatkan bagaimana dirinya dan Ei sama-sama naik gunung. Ei tak ingin terekspose wajahnya dan ia benar-benar manyun sepanjang jalan akibat ulah bengek Hesa.


Sesekali gadis itu menendang batu dan kayu yang menghalangi langkahnya sebagai bentuk pelampiasan dan Hesa hanya memerhatikan Ei sambil tertawa tanpa suara. Hesa juga berbisik-bisik tetangga pada netizen yang menyaksikan pertandingan mereka berdua tentang semua hal yang dilakukan Ei sehingga pertandingan yang disaksikan live ini jadi sangat ramai.


“Kok aku ngeliatnya mereka bukan bertanding, ya? Tapi lagi kencan,” tulis salah satu netizen di kolom komentar.


“Lah kan si pak asdos habis turun gunung langsung nikah Say, wajarlah kalau mereka kencan duluan. Kali ini kencannya nggak di restoran atau hotel atau tempat indah manapun. Melainkan di gunung, kan si Oneng Ei mang suka naik gunung,” jawab salah satu netizen lainnya dan semakin ramailah komentar-komentar pro kontra mereka mengiringi perjalanan Ei dan Hesa.


Di jam pertama, perjalanan dua sejoli itu lancar jaya tanpa ada hambatan. Keduanya masih disuguhkan dengan hutan rimba dan pemandangan alam di sekitarnya. Barulah memasuki jam ke dua waktu pendakian, Ei mulai lelah dan mengeluarkan banyak keringat, tapi suhu semakin dingin. Berhenti sejenak saja bisa membuat tubuh Ei kedinginan sehingga ia harus terus bergerak agar suhu badannya tetap panas.


Kalau orang awam yang tidak tahu bagaimana tata cara hiking, mungkin mereka sudah terkena hipotermia karena cuacanya memang sangat dingin. Berhubung Ei sudah pro, ia bisa dengan cepat mengatasi hal itu.


Di tambah lagi, jalanan semakin menanjak dan terjal. Gadis itu bolak-balik membungkukkan badan untuk mengatur napasnya yang mulai ngos-ngosan. Ei sangat heran dengan rivalnya yang malah tampak sangat eksis dengan para netizen. Hesa bahkan terlihat santai dan rileks, sama sekali tak terlihat kelelahan seperti dirinya. Padahal jalanannya sudah menanjak.


“Kok dia nggak apa-apa, ya? Padahal kan pemula?” gumam Ei heran seheran-herannya. Tadinya Ei pikir si asdos tampan itu bakalan nyerah di jam pertama pendakian, tak disangka fisik Hesa begitu kuat sehingga sampai detik ini ia tak mengalami kesulitan apapun.


“Oke Gaes, sepertinya, sinyal di sini sudah mulai buruk, kita bakal ketemu lagi nanti setelah sinyal kembali. Jangan khawatir soal pertandingannya karena aku bakal rekam seluruh kegiatan kita berdua dan kalian nanti bisa cek di postingan akun ini, oke. See you letter all …bye!” Hesa menutup live nya karena sinyal di sini sudah mulai menghilang.


Cowok itu menoleh ke arah Ei dan langsung buang muka begitu Hesa melihatnya. Anehnya, rasa kesal Ei yang tadinya menyerang, tiba-tiba saja menghilang. Ia baru sadar kalau di gunung yang lumayan banyak demitnya ini, hanya ada dirinya dan Hesa saja. kalau Hesa adalah orang jahat, pria itu pasti sudah mengambil kesempatan dalam kesempitan.

__ADS_1


Tapi sepertinya, pria tampan itu tak punya pikiran kotor. Gunung adalah tempat yang sakral, jika ada seseorang berpikiran yang bukan-bukan, sudah dipastikan dia akan celaka dalam berbagai cara. Sejauh ini Hesa tampak sangat baik-baik saja, mungkin karena niatnya baik. Hesa hanya ingin menunjukkan pada Ei, bahwa dirinyalah yang terbaik untuk gadis bar bar itu.


“Kita istirahat saja di sini. Sepertinya kau lelah,” ujar Hesa dan ia meletakkan curriernya lalu mengeluarkan beberapa bekal makanan untuk di makan. “Duduklah di dekatku, makanlah ini sambil menikmati pemandangan indah,” tawar Hesa.


Tapi Ei yang posisinya berada di atas Hesa, tidak bergerak sedikitpun. Ini merupakan kesempatannya untuk mengalahkan si kunyuk itu mumpung Hesa lengah.


Bagus Ei, dia lengah. Ini kesempatanmu untuk meninggalkannya dan buat dia kalah, batin Ei dan tanpa dinyana-nyana, Ei malah berlari ke atas meninggalkan Hesa sendirian.


Bukannya mengejar calon istri yang kabur lagi. Hesa malah santai sesantai-santainya menikmati pemandangan indah yang disuguhkan alam di sekitarnya sambil menikmati bekalnya. Alasan Hesa tak khawatir Ei mengalahkannya, karena di atas sana adalah jantung momen pertandingan ini.


Seperti yang diberitahukan Iwan sebelumnya pada Hesa, Ei belum pernah melewati jalur ekstrem ini dan gadis itu tidak tahu bahwa jalur yang mereka pilih adalah jalur lembah kematian, di mana jalur tersebut sudah banyak juga memakan korban. Mungkin saja arwah-arwah mereka sedang berkeliaran di lembah itu.


“Kau tidak akan bisa mengalahkanku di sini Ei, karena jalur yang kupilih ini, adalah jalur cinta yang kupersembahkan khusus untukmu.” Hesa bicara pada dirinya sendiri sambil merapikan semuanya dan kembali mengangkat curriernya di belakang punggung bersiap mengejar Ei yang sudah berjalan lebih dulu.


Si Oneng Ei memang berhasil jauh meninggalkan Hesa. Tapi akhirnya ia kelelahan. Berlari, sangat menguras banyak sekali energi. Gadis itu duduk berselonjor sambil bersandar di sebuah pohon besar. Setelah mengatur napas dan meminum air secukupnya, Ei kembali berjalan, meski tidak lagi berlari seperti tadi.


“Bagus, akhirnya aku bisa meninggalkannya. Yes! Akulah pemenangnya. Huh dasar anak mama, baru 2 jam perjalanan saja manja.” Ei benar-benar senang karena yakin telah mengalahkan Hesa yang tertinggal jauh di bawah sana.


Namun, mata Ei langsung melotot ketika ia sampai di sebuah tempat di mana tepat dihadapannya terdapat tebing tinggi menjulang dan ditumbuhi dengan pepohonan lebat disepanjang dinding tebing tersebut. Kemiringan tebing yang ada dihadapan Ei saat ini adalah hampir membentuk sudut siku-siku yakni 90°. Untuk memanjat tebing ini dibutuhkan teknik khusus yang pastinya tidak bisa dilakukan dengan buru-buru.

__ADS_1


Jika ingin sampai ke atas, Ei harus memanjat batang pohon satu ke pohon lainnya dan bila salah pijak, maka sudah dipastikan, nyawa Ei bakal melayang karena kini ia sudah ada di setengah badan gunung. Bisa dibayangkan apa yang akan terjadi bila terjatuh dari sini.


“A-apa ini?” tanya Ei melongo sambil menatap ke atas tebing dengan wajah ngeri.


“Ini namanya lembah kematian!” seru Hesa dari belakang punggung Ei. Rupanya cowok yang dibilang Ei manja itu berhasil menyusul Ei dengan cepat. Bahkan ia tampak sangat senang.


“Aku tidak pernah melihat tebing ini?” ujar Ei masih sangat shock.


“Kenapa kau terkejut begitu? Bukankah kau membantu Langen dan Fani yang bukan anak pecinta alam memenangkan pertandingan melawan pacar-pacar mereka lewat jalur ekstrim? Disaat Bimbim dan Ray serta Rangga berlari lewat jalur pendakian normal karena mengkhawatirkan cewek-cewek mereka. Kau, Iwan, Theo dan Yulianto serta lainnya membantu Langen dan Fani mendaki gunung ini lewat jalur tebing yabg jauh lebih curam bika dibandingkan di sini. Kau tahu resikonya sangat besar tapi kau tetap melakukannya.”


Hesa meletakkan curriernya dan berjalan mendekat ke arah wajah shocknya Ei karena ia mengetahui aalah satu rahasia besar Ei. Ei langsung bungkam seribu bahasa tidak tahu harua berkata apa karena ia sangat terkejut mendengar kalimat panjang lebar Hesa barusan.


“Yang kau lihat di sini tidak ada apa-apanya Ei,” lanjut Hesa bicara tepat di manik mata Ei. “Ini hanya tebing biasa dengan ketinggian 15 m. Namanya adalah lembah kematian sekaligus jalur cinta kita berdua.”


Ei tertegun, bukan karena jalur cinta yang dikatakan Hesa barusan, tapi semua hal yang pernah Ei lakukan pada teman-temannya, ternyata diketahui juga oleh Hesa. Momen itu harusnya hanya diketahui oleh anak-anak pecinta alam dan yang bersangkutan saja, di luar itu, tidak ada seorangpun yang tahu.


“Ba-bagaimana kau mengenal mereka semua? Siapa yang memberitahumu?” tanya Ei sambil memicingkan mata menatap Hesa yang jauh lebih tinggi darinya.


BERSAMBUNG

__ADS_1


***


__ADS_2