Istri Pilihan Pangeran Ningrat

Istri Pilihan Pangeran Ningrat
BAB 103 Kegalauan Refald vs Tekad Cinta Hesa


__ADS_3

Meskipun oneng dan bloonnya nggak ada obat, sebagai pasukan dari raja demit Refald. Tentu insting pak Po sangatlah kuat. Dia melihat ada kejanggalan mengenai apa yang dilakukan Refald dan Fey saat ini. Tak dapat dipungkiri, ia memang iri saat melihat Hesa dan Refald menggendong pasangan mereka masing-masing. Namun, dibalik tindakan mereka, ada makna tersembunyi dan Pak Po sangat ingin tahu, apa alasan Refald melakukan ini semua.


“Yang mulia,” ujar Pak Po mensejajarkan diri dengan Refald yang terus menaiki tangga sambil menggendong istrinya.


“Ada apa Pak Po. Bukannya kau kusuruh untuk pergi dari sini.” Refald bicara sambil menatap lurus ke depan.


“Apa yang Anda lakukan Yang mulia Raja … Anda bisa melesat dengan cepat untuk sampai ke atas sana. Si Baragola dan Pangeran Hesa juga sudah tahu siapa Anda sebenarnya. Harusnya, tak perlu bersusah payah jaga image dan melakukan ini semua. Anda kan bisa menggunakan kekuatan yang Anda miliki.”


Refald tidak menyahut pertanyaan Pak Po dan lebih fokus pada jalan yang ia daki ini. Bicara dengan Pak Po akan merusak konsentrasinya. Refald harus hati-hati menggendong istrinya yang tengah berbadan dua. Salah pergerakan sedikit saja, bisa fatal.


Sebab itulah si Raja demit tak terlalu mengindahkan pertanyaan salah satu pasukan demitnya. Sebagai gantinya, Fey yang menjawab pertanyaan Pak Po.


“Ada sesuatu hal yang harus kami lakukan sebagai konsekuensi karena telah membantu manusia yang bukan dari anggota keluarga besar Rajamu ini Pak Po. Harusnya … Ei sudah mati. Dan Hesa harus kembali ke kerajaannya untuk mencegah malapetaka yang diciptakannya. Tapi mereka berdua malah ada di sini dan sedang menunjukkan betapa kuatnya cinta mereka berdua.Itu jelas menentang takdir.”


Pak Po terdiam dan menatap Hesa yang jauh dibawah Refald. Pria tampan itu begitu bahagia saat Ei membantu mengusap peluh keringatnya. Hesa tampak tak kelelahan, sebaliknya, ia sangat bersemangat menggendong Ei sampai puncak tangga meski ia tak bisa mengejar Refald yang sudah berjalan jauh didepannya.


“Kasihan mereka, saling mencintai, tapi tak bisa bersama sampai batas waktu yang tidak bisa ditentukan. Cinta Oh Cinta … kenapa deritamu sungguh tiada tara … kasihan pangeran Hesa, sudah dapat pasangan seorang Baragola, eh cintanya pakai diuji pula.” Pak Po malah bersyair nggak jelas dan Ei langsung melirik si Pocong tampan tapi oneng itu dengan tatapan tajam setajam pedang tertajam di dunia.


“Apa kau lihat-lihat wahai kue Mochi! Iri bilang Bos!” sengal Ei sok gaya dan bikin Pak Po langsung Keki.


Ei sengaja semakin mempererat pelukannya pada Hesa dan menyandarkan kepalanya di dada sang pujaan hati untuk membuat Pak Po semakin iri.


“Yeee … siapa juga yang lihatin makhluk betina aneh sepertimu, bikin mataku katarak saja. Aku lagi lihatin pangeran Hesa yang harus terpaksa kelelahan karena diperbudak cinta olehmu.”

__ADS_1


“Heh pocong mata karatan! Memangnya kau sendiri nggak bucin apa? Jangan menolak lupa pas kau merengek minta dikawinkan sama Divani. Aku aja yang lihat pengen lemparin kau sandal waktu itu karena kau mengganggu semua pasangan yang sedang berduaan!” Ei membongkar masa lalu Pak Po dan muka pocong tampan itu langsung merah padam. Sementara Hesa hanya bisa siap-siap jadi wasit kalau-kalau keduanya akan perang dunia ke-7


Tak ingin lebih dongkol lagi melawan Ei, akhirnya Pak Po pun melesat cepat kembali ke tempat Refald dan Fey yang sudah mendekati puncak tangga untuk mengadu lagi.


“Yang Mulia … kasihan Pangeran Hesa. Dia tampak lelah menggendong si Baragola itu sampai kemari. Tidak ada cara lainkah?” Pak Po berkata seolah dirinya tidak ikhlas dengan apa yang dilakukan Hesa pada Ei. Menurutnya Hesa terlalu sempurna untuk gadis badas seperti Ei.


“Kalau kau kemari hanya untuk protes, sebaiknya kau pergi saja Pak Po. Kau sendiri yang bilang kalau tidak akan mengganggu kami. Lagipula, kau tidak bisa menilai orang hanya satu sisi saja,” sengal Refald kesal.


“Maafkan saya Yang Mulia, hamba hanya tidak tega. Kisah mereka begitu nyesek di dada. Saya sudah tidak kuat lagi melihat para manusia-manusia bucin itu. Saya mohon diri.” Pak Po menundukkan kepalanya dan meminta izin pada Refald untuk pamit pergi.


“Tunggu Pak Po. Leluhur Hesa … sedang marah di alam sana, bisakah kau hibur mereka? Setidaknya … sampai Hesa kembali memakai gelang kebangsawanannya.”


“Apa yang harus saya lakukan untuk menghibur para leluhur Pangeran Hesa Yang Mulia?” tanya Pak Po bingung karena ia merasa dirinya bukan pelawak atau comedian.


"Benarkah Raja!" mata Pak Po berbinar-binar senang.


"Tentu saja, pergilah ke tempat mereka," perintah Refald lagi.


Di puji Raja demit, tentu saja Pak Po yang oneng itu merasa bangga. Iapun menyanggupi perintah Rajanya dan langsung menghilang menuju tempat yang diperintahkan Refald barusan.


“Aku tidak yakin, Pak Po bisa menghibur para leluhur Hesa. Apa kau yakin dia tidak bikin kacau di sana?” tanya Fey ragu akan kemampuan Pak Po dalam menghibur orang. Sebab, kalau sudah berhadapan dengan Pak Po, bukannya terhibur, malah bikin gula darah naik drastis.


“Mau bikin kacau atau tidak ... setidaknya untuk saat ini … para leluhur Hesa punya kesibukan karena masalah yang ditimbulkan Pak Po.” Refald terkekeh dan kini, ia sudah sampai di puncak tangga paling tinggi di dunia.

__ADS_1


Dari puncak sini, Refald bisa melihat betapa luasnya hutan yang ada di Amerika serta gunung-gunung tinggi di sekitarnya. Suatu pemandangan yang indah dan mempesona sebenarnya. Sayangnya, tempat seindah ini harus menjadi tempat penghilang nyawa karena medan yang ditempuh begitu berat.


Refald menurunkan istrinya dengan pelan dan mendudukkan Fey di sebuah batu besar. Raja demit itu melihat sekeliling untuk mengawasi keadaan. Ada banyak sekali makhluk astral tak kasat mata diluar anak buahnya berseliweran ke sana kemari tapi tak satupun dari mereka berani menyerang atau macam-macam dengan Refald. Sebaliknya, para makhluk astral itu malah memberikan hormat dan salam pada Refald dan Fey.


“Apa Hesa masih lama? Aku lapar,” ujar Fey setelah sempat memakan buah murbei yang ia dapat dari Ei.


Refald tersenyum dan memahami keinginan istrinya. Dengan rentangan 1 tangan, Refald bisa memunculkan makanan kesukaan Fey dan langsung memberikannya pada wanita bumil ini.


“Ini, makanlah ...,” ujar Refald pelan tapi Fey langsung menatapnya setengah marah.


“Kalau kau bisa mendatangkan apapun yang kuinginkan dengan kekuatanmu, kenapa saat aku ngidam buah murbei kau menyuruh si oneng Pak Po untuk mengambilnya? Apa maksudnya semua ini Refald? Kau ini menyebalkan sekali dan suka membuat anak buahmu itu berulah.”


Refald terdiam dan menunjukkan wajah suram. Fey sangat hafal dengan ciri khas suaminya ini. Kalau sudah begini, artinya sesuatu yang menyedihkan bakal terjadi.


“Jangan bilang … kau sengaja menghadirkan Pak Po untuk mengurangi ketegangan? Apakah … Hesa dan Ei harus benar-benar berpisah? Kau … sudah … memberitahu Ei soal … apa yang akan menimpa keluara Hesa akibat tindakannya yang melepas gelar sembarangan?” tebak Fey dan Refald mengangguk.


“Cinta sejati penuh dengan ujian Honey. Seperti kau dan aku yang dulu juga sering terpisah namun pada akhirnya tetap bisa bersama. Hal serupa juga bisa terjadi pada Ei dan Hesa. Untuk kesekian kalinya, cinta mereka akan diuji dengan perpisahan. Kita tidak bisa berbuat apa-apa kecuali jika mereka bisa mengatasi semua masalah ini dengan ikhlas. Yang Maha Kuasa pasti akan memberikan jalan terbaik untuk keduanya.”


Refald berdiri tegap menatap ke arah bawah, di mana Hesa dengan tekad cintanya yang membawa terus berusaha menaiki tangga di mana Refald dan Fey berada.


“Kalian berdua … bisa menyelesaikan ujian cinta yang melanda, dengan atau tanpa bantuan orang lain,” gumam Refald.


BERSAMBUNG

__ADS_1


***


__ADS_2