Istri Pilihan Pangeran Ningrat

Istri Pilihan Pangeran Ningrat
BAB 91


__ADS_3

“Kurang ajar kau!” pria itu melayangkan tangannya dan hendak menggampar wajah Ei tepat dihadapan semua orang.


Namun, tangan itu dicekal kuat oleh seseorang sebelum sempat menyentuh kulit mulusnya Ei. Dan orang yang mencekal lengan si pria, siapa lagi kalau bukan Hesa. Mata Hesa merah menyala dan ia mengeluarkan pistolnya untuk diarahkan tepat di atas kepala si pria.


“Berani menyentuh wanitaku, kukirim ke neraka sekarang juga!” tandas Hesa.


Suasana semakin tegang saat Hesa benar-benar akan menarik pelatuknya dan hendak menembak kepala suami almarhum Juwita. Pria itupun gemetar dan takut juga dengan Hesa.


“Jangan bunuh dia! Kematian terlalu mudah untuknya. Dia dan selingkuhannya, harus hidup menderita sampai akhir hayatnya,” pinta Ei datar tanpa ekspresi pada kekasihnya. Kalau dalam mode ini, keonengan Ei tak tampak dan itu sempat membuat Hesa kagum sehingga amarahnya mereda.


Hesapun menatap semua orang yang ada disekelilingnya lalu bicara dengan lantang, “Apa ada yang keberatan bila aku menghukum langsung para peselingkuh ini dengan caraku? Majulah jika kalian keberatan dan bersimpati pada mereka berdua!”


Tak ada sahutan, semua orang terdiam. Hanya terdengar beberapa orang yang menangis karena mereka baru tahu kalau selama Juwita hidup, tak pernah merasakan kebahagiaan bersama suaminya. Sebaliknya, Juwita meninggal akibat ulah suami dan sahabatnya sendiri.


Hati wanita mana yang tidak sedih dan sakit hati melihat suami dan sahabat sendiri bermain api dibelakangnya. Namun, Juwita tak bisa berbuat apa-apa sehingga menderita penyakit akut yang merenggut nyawanya.


Meski pada akhirnya perselingkuhan ini terbongkar berkat bantuan si oneng Ei, bukan berarti, para peselingkuh ini bisa aman dan lega setelah massa meluapkan amarah mereka dengan memukuli mereka habis-habisan. Hesa tetap harus memberikan hukuman setimpal walau ia bukan petugas kepolisian. Sebenarnya, sih Hesa tak ingin ikut campur, tapi dia emosi saat si pria bersikap kasar pada Ei.


“Jika kalian diam, artinya … kalian tak keberatan dengan apa yang akan kulakukan.”


“Kami berjanji,” seru seseorang, “kami akan menutup mata, telinga dan mulut kami. Lakukan saja sesukamu. Hukum mereka karena mereka pantas mendapatkannya.”


“Benar!” yang lainnya menyahut dan semua orang akhirnya sepakat mendukung tindakan Hesa.

__ADS_1


Hukum sosial memang jauh lebih kejam dari hukuman apapun. Hesa tersenyum sinis dan menatap wajah datar Ei yang masih melihat lurus pasangan peselingkuh itu.


“Tutup mata dan telingamu Sayang, kau tak perlu melihat dan mendengar semua ini. Tidak baik untuk kesehatanmu,” bisik Hesa pada Ei.


Pria tampan itu mendekap tubuh Ei dan menutup wajah kekasihnya dengan satu tangan serta menyembunyikan wajah Ei di dadanya. Sementara, tangan satunya, Hesa layangkan untuk mengangkat senjatanya dan menembakkan pelurunya tepat di kaki kanan si pria dan satu peluru lagi ia tembakkan di kaki kiri si wanita selingkuhan si pria.


Dor! Dor!


Dua tembakan dari peluru Hesa tepat mengenai sasarannya. Kedua peselingkuh itu mengerang kesakitan begitu timah panas menembus kaki-kaki mereka. Mereka berteriak sambil mengumpati Hesa namun yang diumpati tak peduli begitupula dengan orang-orang yang ada di sini.


Usai menembak, Hesa memanggil Sonia dkk untuk merawat luka dua orang yang baru saja ia tembak. Tujuannya bukan untuk disembuhkan, tapi sengaja kedua orang itu di buat cacat. Kejam sih, tapi itulah hukuman yang pantas untuk orang yang tidak punya hati dan nurani.


Para peselingkuh itu dengan semena-mena membuat hidup seorang Juwita menderita terlalu lama bahkan sampai di detik-detik napas terakhirnya. Hukuman ini, adalah sebagai penebus dosa atas perbuatan mereka sendiri. Selain itu, Hesa juga ingin menunjukkan kepada dunia bahwa berselingkuh, takkan membawa kebahagiaan, melainkan penderitaan dan kesengsaraan.


“Kau sudah bisa membuka matamu Sayang.” Suara Hesa terdengar mesra. Matanya menatap bola mata Ei yang menengadah menatapnya.


“Satu-satunya penjara yang bisa memenjarakanku hanyalah penjara cintamu. Penjara manapun di dunia ini, takkan mempan untukku. Bukannya aku kebal hukum. Tapi … manusia-manusia seperti mereka lebih layak hidup dalam kondisi seperti itu ketimbang dipenjara.”


“Bagaimana jika polisi menangkapmu atas apa yang kau lakukan barusan?”


“Tidak ada saksi dan tidak ada bukti, mereka tidak akan menangkapku. Kau tenang saja.”


Walaupun Hesa sudah bicara seperti itu, tetap saja hati Ei tidak bisa tenang. Negara Amerika ini memang negara liberal. Tapi siapapun yang melanggar hukum sudah pasti mereka harus dihukum.

__ADS_1


Dan benar saja, terdengar suara sirine mobil dan sudah dipastikan, polisi datang untuk mengamankan apa yang terjadi di sini. Suara tembakan tadi pasti terdengar oleh orang diluar lokasi pemakaman sehingga ada yang melaporkan dan polisi langsung datang kemari.


Lucunya, yang datang adalah Corpurny, anggota hacker Hesa dan iapun dengan sangat sopan memborgol tangan Big Hit-nya untuk dibawa ke kantor polisi. Sang gangster tampan itupun digiring masuk ke dalam mobil.


“Aku akan segera kembali, kau pulanglah dengan Sonia! Jangan khawatir, oke! I love you,” seru Hesa sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil polisi dan melesat pergi.


Ei kaget karena ini kali pertama ia melihat Hesa dalam kesulitan. Tapi ada Corpurny, Ei jadi lumayan tenang. Ei sering dengar desas desus kalau polisi Amerika itu sangat tegas dan garang. Ia khawatir kalau Hesa di tekan atas tindakannya mengadili kesalahan seseorang alias main hakim sendiri.


“Jangan panik, ini bukan pertama kalinya si Big Hit ditangkap polisi. Dengan kurangnya bukti, beberapa jam dari sekarang juga pasti dia dibebaskan.” Sonia sangat mengerti kecemasan yang dirasakan Ei.


“Tapi polisi Amerika itu sangar-sangar, mereka bisa membuat orang yang tidak bersalah jadi bersalah atau sebaliknya. Kenapa Hesa bisa cari masalah di sini sih. Tidak ada hukuman lain apa yang tidak menyusahkan dia.”


“Kau sendiri yang bilang padanya kalau kau butuh senjata api.”


“Iya sih, tapi nggak gini juga kali. Aku kan hanya lagi emosi saat itu. Bagaimana ini? Bagaimana kalau wajah tampan Hesa dipukuli polisi?” Ei merasa sangat cemas sampai tubuhnya tidak bisa tenang.


Sedangkan semua orang yang ada di sini juga sudah pada bubar. Orang-orang yang baru saja di tembak Hesa turut di bawa pergi polisi entah ke rumah sakit atau ke mana, Ei tidak tahu.


“Kau buang-buang waktu dengan mencemaskan Big Hit. Dia takkan disiksa karena ada Corpurny di sana. Mereka berdua selalu berakting seperti anak kecil yang sedang main siksa siksaan seolah Hesa sedang disiksa sungguhan di ruang penyiksaan. Padahal aslinya, mereka makan dan minum sambil nonton film.”


“Hah? Yang benar!” Ei tercengang dan sedikit tak percaya.


Sonia mengeluarkan I-phone-nya dan menunjukkan sebuah rekaman video pada Ei yang memperlihatkan aktivitas Hesa selama ada di kantor polisi. Tentu saja, video itu adalah ulah para tim hecker Hesa. Kekhawatiran Ei pada Hesa sama sekali tidak ada gunanya. Dan apa yang dikatakan Sonia memang benar. Masuk ke kantor polisi membuat Hesa bisa bersenang-senang dengan Corpurny.

__ADS_1


BERSAMBUNG


***


__ADS_2