
Satu jam telah berlalu, Hesa dan Ei berjalan beriringan bersama-sama. Karena mereka sedang menaiki anak tangga, otomatis tenaga yang dibutuhkan harus ekstra apalagi mereka tak membawa bekal apapun. Ei mulai kehausan, tubuhnya dipenuhi keringat dan mulai lemah, tapi ia tak menampakkannya pada Hesa. Namun Hesa bisa tahu dan merasakan apa yang sedang Ei rasakan, iapun mengajak kekasihnya berhenti berjalan dan menatap sekeliling.
“Duduklah dan selonjorkan kakimu, kau tidak bisa memaksakan diri untuk terus naik,” ujar Hesa dan Ei pun menurut, ia langsung bersandar di dinding pembatas tangga.
Hesa melihat sisi kanan dan kiri Ei. Udara lumayan dingin karena mereka berada di ketinggian. Hesa menari akar belukar yang merambat di luar pagar pembatas dan menariknya dengan paksa lalu menggigit akar belukar itu hingga putus jadi dua.
Ajaibnya, keluar air dari akar belukar itu dan ia meminumkannya pada Ei agar sang kekasih tidak dehidrasi. Tak lupa ia juga meminum air dari akar yang tadi ia gigit secukupnya.
“Bagaimana? Kau sudah baikan?” tanya Hesa.
“Darimana kau tahu kalau di dalam akar ini ada airnya?” tanya Ei jauh lebih baik dari yang tadi.
“Semua tumbuhan hidup menyimpan air. Akar ini merambat di dinding yang tak bertanah, mustahil bisa tumbuh selebat ini kalau tidak menyimpan cadangan air yang banyak, kita tidak perlu khawatir kehausan sekarang. Kita bisa memanfaatkan akar-akar ini sepanjang perjalanan karena akar ini sepertinya merambat di dinding pagar tangga,” terang Hesa dan secara ilmiah memang benar.
“Kau benar, aku anak sains, tapi kenapa aku tidak berpikir kea rah situ. Tempat ini menyediakan banyak hal yang kita perlukan selama menempuh perjalanan menuju tangga.” Ei menetap sekeliling tempatnya berdiri. Di sisi kanan dan kiri terdapat banyak sekali berbagai macam jenis tanaman dan tumbuhan yang bisa di makan. Dengan begitu, baik Ei maupun Hesa tidak akan takut kelaparan ataupun kehausan.
“Kau mau apel itu? Sepertinya ada yang sudah masak,” tawar Hesa menatap pohon apel yang sedang berbuah lebat dari sisi kanan pagar tangga.
“Mau sih, tapi bagaimana cara mengambilnya, kau tidak mungkin turun ke bawah, dan memanjat pohon itu, kan? Pasti sulit untuk bisa naik lagi ke tangga ini.”
“Kan ada kau, kau bisa pegangi tubuhku. Aku akan bergelantungan dan mengambil buah apel itu. Aku akan lompat dan kupercayakan nyawaku padaku.” Tanpa menunggu persetujuan Ei Hesa sungguh melompat turun dan Refleks Ei langsung memegangi kaki sang kekasih.
“Dasar gila! Apa kau tidak bisa kasih aba-aba dulu, bagaimana kalau tadi aku tidak sempat memegangi kakimu bodooh!” teriak Ei kesal karena Hesa mendadak melompat begitu saja.
“Sudah kukatakan aku percayakan nyawaku padamu Sayang. Dapat! Ada banyak buah di sini. Kau mau murbei? Banyak yang hitam! Pasti rasanya enak!” seru Hesa dari bawah.
“Bagaimana kau bisa se-edyan ini, ha? Kau tak takut mati apa?” Ei sekuat tenaga memegang kaki Hesa agar tidak jatuh.
“Itu karena aku cinta kamu. Tarik aku sekarang Sayang!” seru Hesa lagi dan Ei langsung menariknya.
__ADS_1
Di kedua dekapan tangan Hesa ada banyak buah apel dan murbei. Hesa tampak sangat senang dan meletakkannya di anak tangga untuk di makan berdua dengan Ei. Buah yang dipetik langsung dari pohonnya memang tampaklah segar dan menggiurkan, keduanya menikmati makan buah bersama-sama ala pasangan kekasih di zaman dulu.
“Aku baru tahu kalau ada banyak sekali buah di sini. Jika seperti ini kita tidak akan kelaparan dan kehausan lagi.” Ei merasa sangat kenyang dan mulai bertenaga lagi. Rasanya ia bisa melanjutkan perjalanan sampai menuju puncak tangga.
“Tangga ini bukan tangga kematian Ei. Ini adalah tangga perjuangan. Kalau ingin hidup ya harus berjuang bertahan hidup dengan memanfaatkan kekayaan alam yang ada di sini. Ini sama seperti kita lagi hiking di gunung tinggi.”
“Tapi … bagaimana kalau ingin memenuhi panggilan alam? Tidak mungkin kita melakukannya di sini, kan? Tidak ada sungai di sini?”
Ei bingung, perjalanan menaiki tangga ini tidak mungkin sampai hanya dalam waktu sehari 2 hari. Pasti butuh beberapa hari. Dan selama itu, proses metabolisme tubuh juga terus berjalan dan manusia butuh ke ******.
“Kau jangan khawatir, tadu kulihat di bawah tangga ini sebenarnya ada aliran sungai kecil yang mengalir. Airnya bening, dan bisa kita manfaatkan. Aku akan merangkai tali dari akar-akar belukar dan kau bisa prusik kalau kau ingin memenuhi panggilan alam. Semakin tinggi, tali yang akan kita gunakan semakin panjang.”
Ei menatap wajah Hesa lekat-lekat. Hesa pun balas menatap.
“Aku tahu aku tampan, itu sudah dari dulu, kau tak perlu melihatku seolah aku akan lenyap dari muka bumi ini.”
“Bukan begitu, masalahnya, aku … kebelet pengan buang air kecil,” ucap Ei jujur agak malu dan Hesa tersenyum simpul. Padahal tadinya ia ingin beromantis ria tapi Ei malah menggagalkannya.
Yang Hesa lakukan sama seperti kehidupan primitif di zaman kuno. Ia hanya mengandalkan alam. Dan memang hanya dengan cara inilah Hesa bisa menyelamatkan Ei dari hukuman yang dijalaninya saat ini.
“Sudah aman, aku buatkan penutup dari dedaunan. Kau bisa memenuhi panggilan alam tanpa perlu khawatir terlihat, cepatlah, dan tarik tali ini saat kau sudah selesai, aku akan menarikmu ke atas,” ujar Hesa setelah ia naik lagi ke atas setelah memastikan semuanya aman.
Karena Hesa adalah seorang stranger berpengalaman, hal semacam ini bukanlah hal yang sulit untuknya. Seringnya naik gunung bersama Refald membuat pria tampan itu tahu apa yang harus ia lakukan saat ada di tengah alam tanpa bantuan apapun. Hesa juga pernah tersesat dan ia selamat berkat teknik survive nya yang sempurna.
***
Malampun tiba, udara di ketinggian semakin dingin sampai menusuk tulang. Hesa juga sudah mengantisipasi dengan membuat selimut dari serangkaian dedaunan anti air dan menjadikan daun-daun tersebut sebagai alas dan selimut. Tak lupa Hesa mencabuti ranting-ranting kering dari pohon dan mengumpulkannya lalu membuat perapian du tengah2 anak tangga. Dengan begitu, Ei dan Hesa tidak akan terkena hipotermia.
“Ini sudah malam, kita tidak bisa melanjutkan perjalanan, malam ini kita istirahat di sini.” Hesa duduk di samping Ei dan sengaja mendekat agar Ei tetap hangat. Matanya menatap perapian yang lumayan menghangatkan tubuh mereka.
__ADS_1
Ini baru sehari, dan rintangannya sudah seberat ini. Namun, Ei sangat bersyukur karena ada Hesa disisinya sehingga sampai detik ini, gadis itu baik-baik saja.
“Apa jadinya aku tanpamu disisiku, Mahesa …” ucap Ei sambil menyandarkan kepalanya di bahu sang kekasih. Ia merasa sangat aman dekat Hesa. Ia tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi padanya seandainya Hesa tidak ada.
“Apa jadinya aku jika aku tidak bersamamu, Shreya Fayola.” Hesa pun membalas ucapan kekasihnya.
“Kenapa kau mengikuti kata-kataku?” tanya Ei.
“Ya karena aku cinta kamulah, Hidupku takkan sempurna bila kamu tidak ada disisiku.”
Ei ingin tertawa, tapi mencoba menahannya. Ia sungguh bahagia karena segala kesulitan yang ia hadapi jadi mudah kalau ada Hesa. Gadis itu memandang langit-langit malam dan ia senang karena ada banyak bintang bertaburan diatasnya. Bahkan Ei bisa melihat bintang jatuh dan langsung memejamkan mata sambil membuat permintaan.
“Apa yang yang kau lakukan?” tanya Hesa penasaran dengan sikap Ei.
“Aku sedang meminta sesuatu.”
“Kau percaya itu?”
“Awalnya aku tidak percaya, tapi aku pernah membuktikannya.”
“Oh iya? Dalam hal apa?”
“Saat masih SMA dulu, ada teman sekelasku yang mengejar-ngejarku. Di acara 17-an, setiap sekolah pasti mengadakan peringatan hari kemerdekaan dan aku dipasangkan dengan teman yang menyukaiku untuk menjadi pasangan yang memakai baju adat. Aku tidak mau dipasangkan dengannya, bukan karena aku tidak suka padanya, tapi aku punya prinsip tidak mau pacaran selagi aku masih sekolah. Malam harinya aku melihat bintang jatuh dan meminta agar besok ada yang mau menggantikanku menjadi pasangan pria itu. Alhasil terkabul, meski itu mungkin kebetulan, setidaknya manjur. Hehe …”
“Dasar oneng, kau itu ada-ada saja, kenapa kau sering sekali menolak pria. Aku juga penasaran, kenapa kau tidak mau menikah dengan Koga, padahal dia itu sangat tampan. Seorang tentara pula, kurang apa coba? Kau malah memilih kabur dan tinggal sebagai rakyat biasa di Indonesia dan hidup susah di sana. Kenapa kau lakukan itu?”
Ei sudah menduga, kalau pertanyaan itu, pasti bakal Hesa tanyakan juga. Sepertinya, Ei sudah tidak bisa menyembunyikan apapun dari Hesa. Sebagai orang yang dicintai Ei, Hesa berhak tahu segalanya tentangnya.
BERSAMBUNG
__ADS_1
***