Istri Pilihan Pangeran Ningrat

Istri Pilihan Pangeran Ningrat
BAB 24 Istana


__ADS_3

Yang dikatakan salah satu pengawal ayah Hesa ternyata benar. Di balik bukit ada sebuah helicopter sedang terparkir rapi di halaman terbuka yang biasanya di gunakan para pendaki untuk mendirikan tenda. Halaman terbuka ini memang cukup luas dan sangat pas untuk parkir pesawat.


Alasan kenapa Ei tak pernah mendengar suara helicopter mendekat, rupanya heli itu sudah ada di bukit ini jauh sebelum Hesa dan Ei memulai pertandingan cinta mereka. Entah bagaimana para pengawal itu tahu tentang apa yang dilakukan Hesa dan juga Ei.


“Sepertinya, kau dan aku sudah diikuti. Helikopter itu sudah ada jauh sebelum kita sampai kemari. Ternyata kau benar-benar jadi incaran ayahku.” Hesa bergumam pada Ei sambil berjalan mendekat ke arah helicopter.


“Kenapa ayahmu mengincarku. Aku bahkan tidak pernah tahu seperti apa ayahmu. Keluargamu seperti apa aku juga tidak tahu.”


Hesa mendudukkan Ei di bangku kursi Helikopter bagian belakang. Memakaikan penutup telinga dan juga mengencangkan sabuk pengaman Ei. “Itu karena sebelumnya, aku bilang pada mereka kalau aku akan menikahimu dan menolak semua wanita yang dijodohkan denganku. Makanya ayah mengincarmu. Kau tidak aman sebenarnya. Nyawamu bisa saja melayang kapan saja, tapi karena kini kau sudah jadi istriku. Kau selamat. Tinggal bagaimana caramu mengalahkan para kandidat calon istriku yang lainnya. Jumlah peserta yang mendaftar jadi istriku banyak sekali. Bahkan ada yang sudah daftar sejak aku baru lahir.”


Ei ingin berkata tapi Hesa keburu menyelanya. “Meski aku menikahimu. Keluargaku tidak akan menyerah Ei. Mereka tetap akan mengadakan prosedur pemilihan Putri dan aturannya sangat ketat. Kaupun pasti dipaksa ikut. Jika kau gagal, kau tetap jadi istriku, tapi aku harus menikah lagi dengan pemenang pemilihan putri ini. Karena itulah … kau harus menang Ei. Aku tidak mau menikahi wanita lain selain dirimu.” Mata Hesa menatap tajam mata Ei dengan penuh cinta yang tulus.


Sayangnya, Ei masih belum bisa melihat ketulusan cinta Hesa untuknya. Sebaliknya, si oneng ini malah menggunakan kesempatan emas itu agar bisa lepas dari jeratan Hesa. Dengan penuh semangat, Ei menyatakan setuju dan akan ikut sayembara pemilihan putri dengan catatan, ia akan mengalah dari putri-putri yang lain supaya Hesa tidak jadi menikahinya, melainkan menikahi pemenang sayembara.


Bagus, jadi begitu aturannya. Oke, aku tak perlu susah payah cari cara kabur. Tinggal kalah aja, dan membiarkan yang lainnya menang. Baru aku bisa bebas dari si codot kunyuk ini, yeee. Ei bersorak sorai dari dalam hati tanpa Ei sadari bahwa kalau yang namanya jodoh itu takkan pernah bisa lari kemana-mana.


Sekeras apapun Ei berusaha lari dari Hesa, jika sudah jodoh, mereka berdua pasti bakal bersama entah bagaimanapun caranya. Ei bisa berencana demikian, tapi Yang Maha Kuasalah yang menentukan.


***


Dua jam kemudian, Ei sampai di kediaman mewah Hesa. Begitu pintu gerbang utama di buka, deretan mobil mahal dengan berbagai merek kelas dunia berjajar rapi sepanjang jalan menuju kediaman atau mansion Hesa yang megahnya bak istana raja-raja di Eropa.


Bangunan yang bernuansa putih itupun tampak sangat elegan bergaya campuran. Ada unsur kerajaannya, ada unsur bangunan moderennya. Semua dikemas sangat indah dan rapi. Sangat berkelas seakan menunjukkan kualitas bangunan ala anggota keluarga bangsawan.


“Kau gugup?” tanya Hesa yang duduk di samping Ei.

__ADS_1


“Iya, aku takut bakal dikubur hidup-hidup di halaman rumahmu yang luas itu kalau aku sampai melakukan kesalahan.”


“Keluargaku tak sekejam itu Ei,” bantah Hesa tak setuju dengan pemikiran konyol istri palsunya.


“Aku sudah pernah ke rumah Febi. Dan aku tahu seperti apa suasana di dalam rumah itu. Rumah Febi juga sama megahnya seperti rumahmu ini. Tapi dalamnya lebih menakutkan daripada kuburan. Di mana-mana, yang namanya habis makan itu kenyang. Tapi jika kau makan di rumah Febi, bukan bikin kenyang meski makanannya enak-enak, tapu malah puyeng karena makan aja ada adat idtiadatnya.” Tangan Ei mulai berkeringat dingin. Semakin dekat dengan rumah Hesa, Ei nakah seolah melihat pintu gerbang api neraka dibenaknya.


Saat mobil berhenti, Hesa hendak menggendong tubuh Ei kembali tapi gadis itu menolak. “Aku bisa jalan sendiri,” ujarnya. Ia sangat gugup karena ini kali pertama Ei datang ke rumah mertua tapi berasa datang ke pintu gerbang neraka.


“Kau yakin?” tanya Hesa memastikan dan Ei mengangguk.


Namun, kaki Ei yang terkilir benar-benar sakit sehingga ia kesulitan bergerak. Baru juga berdiri satu kaki, tubuh Ei langsung oleng ketika keluar dari dalam mobil mewah Hesa. Untung Hesa sigap dan lagi-lagi Hesa menangkap tubuhnya Ei dan langsung menggendongnya.


“Apa kubilang, kakimu itu tak bisa dibuat bergerak sementara waktu.” Hesa membawa Ei masuk ke dalam dan disambut semua ART Hesa baik pria maupun wanita.


“Di mana ayah dan Ibu sekarang?” tanya Hesa pada pengawalnya.


“Apa Febi sudah datang?” tanya Hesa pada pengawal ayahnya.


“Masih dalam perjalanan, Pengeran.”


“Aku akan istirahat dikamarku. Panggil aku jika ayah dan ibu sudah datang.” Hesa berjalan masuk dan menaiki sebuah lift di samping tangga.


“Tuan muda Hesa, biarkan nona ini istirahat di kamarnya,” sergah salah satu kepala pelayan keluarga Hesa.


“Siapa yang kau panggil Nona? Dia istriku. Kami sudah menikah. Dia harus istirahat di kamarku karena kakinya terluka. Jika kau masih menghalangi jalanku, jangan salahkan aku kalau kau harus dihukum mati.” Ucapan Hesa begitu serius dan lumayan bikin takut juga.

__ADS_1


Sang ART melihat cincin permata di jari Ei dan langsung memberi hormat diikuti oleh para ART lainnya. Ei sangat terkejut melihat perlakuan para ART Hesa yang tadinya sinis padanya tiba-tiba malah menunduk dan tidak berani melihat Ei yang masih dalam gendongan suami palsunya.


Wuah, kekuatan cincin ini benar-benar luar biasa, batin Ei takjub.


***


Hesa menutup pintu kamarnya yang amat sangat luas. Ukuran kamar Hesa bisa 20 kali lipat ukuran kamar kos Ei yang sudah ia tinggalkan gara-gara kebengekan Hesa juga. Kasur milik si pangeran juga sangat empuk dan hangat. Rasanya Ei ingin langsung tidur saja kalau ada di atas kasur seempuk ini.


Gila, ini bener-bener kamar pangeran kerajaan sungguhan. Eh, Hesa kan pangeran juga ya, enaknya jadi anak sultan … bisa tidur nyenyak di kasur empuk begini setiap hari. batin Ei senang. Sedangkan sang pemilik rumah sudah hilang entah ke mana.


Rupanya, Hesa langsung mandi dan membersihkan diri setelah meletakkan Ei di atas ranjang kebesarannya. Tak berselang lama, cowok itu keluar hanya dengan menggunakan handuk dan sengaja bertelanjang dada. Rambut Hesa masih basah dan itu membuat Ei langsung terpana melihatnya.


Apa aku tidak salah lihat? Kenapa dia jadi tampan kalau rambutnya basah? Batin Ei serasa air liurnya menetes melihat Hesa bertelanjang dada. Wangi tubuhnya bahkan bisa tercium sampai di hidung Ei.


“Kenapa kau melihatku seperti itu? Apa aku seksi?” tanya Hesa setelah tahu Ei sedang memerhatikannya.


“Siapa juga yang ngeliatin kamu. Dasar Ge-Er,” sergah Ei langsung buang muka.


“Aku lihat air liurmu menetes melihatku. Mengaku saja, aku tidak keberatan pamer tubuh asal kau senang.”


Ei menggigit bibirnya sendiri menahan geram pada Hesa yang mulai kumat bengeknya. Namun, ia tak boleh bertindak gegabah kalau Ei ingin selamat. Secara dia sekarang sedang ada di kandang singa.


Sabar Ei, sabar. Jangan terpancing emosi. Bisa gawat kalau kau sampai kenapa-napa di sini gara-gara si bayi marmot itu, batin Ei.


BERSAMBUNG

__ADS_1


***


__ADS_2