Istri Pilihan Pangeran Ningrat

Istri Pilihan Pangeran Ningrat
BAB 73


__ADS_3

Suasana di kantin lumayan ramai. Beberapa orang memandang aneh Ei yang mungkin tergolong baru di sini. namun, Ei tak peduli, ia datang ke kampus bukan untuk jadi selebriti, tapi untuk memperdalam ilmu agar cita-citanya tercapai. Saat ini yang dipikirkan Ei adalah Hesa.


Semalam kekasihnya itu bilang kalau sedang ada masalah. Nomer ponselnya juga tiba-tiba saja tidak bisa dihubungi. Hal itu membuat hati dan pikiran Ei jadi tidak tenang. Beberapa pria bule tampan mengajak berkenalan Ei dengan ramah, tapi Ei langsung tahu maksud dan tujuan mereka jadi dia menolak mereka semua mentah-mentah.


Hal itu semakin membuat Ei terkenal, selain cantik Ei juga pintar walau kalau di negara Indonesia, ia terkenal oneng juga. Namun, di sini, sisi keonengan Ei sedang tertutupi dengan kecerdasannya yang selalu mendapat nilai di setiap mata kuliah yang ia tempuh. Padahal Ei masih tergolong mahasiswi baru tapi keberadaannya di kampus ini menjadi trending topik setelah ia menolak mentah-mentah uluran tangan sang idola kampus.


“Kau menolak semua pria yang mendekatimu, apa kau benar-benar sudah punya kekasih?” tanya Jesica saat mereka berdua pulang kuliah.


Kebetulan mereka ada tambahan jam sehingga pulang terlambat, tidak seperti biasanya. Jessica ternyata satu asrama dengan Ei, makanya mereka bisa pulang dan berangkat bersama mulai sekarang.


“Ehm, aku memnag sudah punya tambatan hati. Makanya aku tak bisa dekat dengan pria manapun, kalau ketahuan, dia bisa marah.”


“Wuah … iya kah? Coba ceritakan padaku, seperti apa kekasihmu?” pinta Jessika sangat penasaran dengan kekasih Ei.


“Dia punya mata besar, hidungnya besar dan bulat, mulutnya lebar dan bibirnya tebal setengah sumbing. Bola matanya julitan, satunya suka memutar ke kanan, satunya suka memutar ke kiri. Kulitnya hitam legam dan perutnya sangat buncit. Saking besarnya kadang ia tak bisa berdiri.” Ei menggambarkan deskripsi Hesa yang jauh berbeda dengan aslinya.


“Kau bohong, mana mungkin kau jatuh cinta pada orang seperti itu? Pria tampan sekelas Clark saja kau tolak apalagi pria mirip badak begitu,” cetus Jesica dan ei langsung tertawa.


“Kenapa kau sangat ingin tahu kekasihku?”


“Bukan apa-apa, aku hanya penasaran orang seperti apa yang bisa mencuri hatimu sampai kau menolak semua pria bule tampan di sini. kalau aku jadi kau, aku takkan menolak mereka. Jika kau menolak dan memilih setia pada pacarmu, pasti orang itu sangat luar biasa.”


Ei manggut-manggut mendengar keterangan teman barunya soal Hesa. “Iya juga ya … kenapa aku baru sadar.” Ei jadi teringat Hesa dan ingin mendengar suaranya. Mendadak, gadis itu jadi rindu suaminya. Ia buru-buru menelepon Hesa tapi ponselnya tidak aktif.

__ADS_1


Saat Ei sedang sibuk berkirim pesan, tiba-tina ada sekelompok berandal tak dikenal datang dan langsung mengepung Ei dan Jesica. Karena keasyikan mengobrol, baik Ei ataupun Jessica tidak sadar kalau mereka berdua telah memasuki zona tidak aman. Istilah lainnya, sih keduanya salah memilih jalan. Apalagi sudah malam dan tak banyak mahasiswa beraktivitas di sini. Pemukiman warga juga lumayan jauh dari wilayah ini sehingga tempat yang dilalui dua wanita itu sering terjadi langganan kriminalitas.


“Ck ck ck … ini yang sudah aku tunggu-tunggu, akhirnya … kalian lewat sini juga dan menjadi mangsaku,” ujar seseorang yang dipenuhi dengan tato. Wajahnya, penuh dengan tindikan dan Ei pernah melihat pria ini.


“Siapa dia?” tanya Ei pada Jessica.


“Dia kumpulan gangster di sini. Entah sejak kapan mereka datang, yang jelas keberadaan mereka sangatlah mengganggu ketentraman. Polisi saja tidak berani melawan mereka. Sebab, mereka punya kekuasaan. Pernah ada satu polisi mati mengenaskan setelah berusaha menangkap mereka. Semenjak itu, tak ada yang berani menangkap mereka.” Jesica menjelaskan detail tentang siapakah sekelompok gangster yang sedang mengepung mereka.


Ei hanya manggut-manggut sambil memikirkan cara untuk lolos dari para gangster sangar dan garang itu. Sepertinya, mereka tidak basa basi lagi. Gangster yang terdiri dari 5 orang itu langsung mendekati Ei dan mencekal kedua lengannya ke belakang,. Hal serupa juga terjadi pada Jesica.


“Lepaskan aku!” seru Ei.


Gadis itu mecoba melawan dengan menendang betis salah satu gangster yang berdiri dibelakangnya sehingga gangster tersebut mengerang kesakitan. Cekalan tangan pria kekar itu terlepas dan Ei menendang gangster yang sedang menyakiti Jesica.


“Jess, Plis, pergi dari sini dan cepat cari bantuan!” seru Ei tapi temannya itu tidak mau pergi meninggalkan Ei yang sedang dikepung.


“Cepat!” bentak Ei tapi salah satu gangster malah mengamankan Jesica agar dia tak bisa pergi ke mana-mana untuk meminta bantuan.


“Tidak semudah itu Ferguso, kalian berdua sudah jadi incaran kami sejak kemarin. Kami takkan pernah melepaskan kalian dengan mudah.”


“Kalian sudah salah memilih tempat. Ini Harvard, jika kalian macam-macam, kalian pasti bakal di hukum berat!” ancam Ei meski ia tidak tahu apakah yang ia ucapkan ini benar atau tidak.


Bukannya takut, para gangster itu malah tertawa terbahak-bahak dan membuat Ei semakin curiga dengan perilaku mereka. Ei baru sadar, yang namanya universitas, tingkat keamanannya itu pasti sangat tinggi. Tidak sembarang orang bisa masuk ke dalam sini apalagi sampai melakukan tindakan kriminalitas seperti ini.

__ADS_1


Namun, para gangster ini dengan mudahnya mencari mangsa di sini dan sekarang giliran Ei yang jadi incaran mereka. Ei curiga, jangan-jangan keberadaan para gangster itu di sini pasti melibatkan orang dalam. Entah apa tujuan mereka yang jelas itu bukanlah sesuatu yang baik. Ei harus hati-hati menghadapi gangster ini.


Mereka tak tampak seperti gangster biasa, mereka seperti sudah sangat lihai dalam bidangnya. Di tambah lagi, ini negara Amerika. Sebuah negara yang memperbolehkan siapa saja melakukan apa saja yang mereka suka. Ei membuka tasnya dan mencoba menghubungi nomer yang semalam dipakai Hesa meneleponnya dan anehnya, langsung diangkat.


“Hai Sayang, tahu saja kalau aku merindukanmu …” ujar Hesa begitu mengangkat panggilan dari kekasihnya.


“Cepat tolong aku!” ujar Ei cepat memotong kata-kata kekasihnya.


“Kenapa?”


“Cepatlah ke sini dan tolong akuh. Hesa … oh Mahesa … bisakah kau datang kemari menolongku, jika kau datang … akan kunyatakan cinta padamu dihadapan banyak orang!” seru Ei dengan lantang dan akhirnya ponselnya Ei langsung direbut ole hang gangster.


“Siapapun ini … jangan ikut campur!” ancam gangster itu pada Hesa melalui sambungan telepon.


“Berani kau menyentuh wanitaku, akan kukirim kau ke alam baka ….”


Belum juga Hesa menyelesaikan kalimatnya di seberang sana, si gangster itu langsung membanting ponsel Ei hingga rusak parah dan menginjak-injaknya.


Ei yang menyaksikan hal itu tahu betul kalau harapan terakhirnya sudah pupus. Kalaupun Hesa datang kemari, mungkin kekasihnya itu sudah terlambat. Jalan satu-satunya yang bisa Ei lakukan adalah bersiap-siap melawan ke empat gangster itu.


BERSAMBUNG


***

__ADS_1


__ADS_2