Istri Pilihan Pangeran Ningrat

Istri Pilihan Pangeran Ningrat
BAB 76


__ADS_3

Baru saja Ei merasakan kebahagiaan yang teramat sangat karena akhirnya bertemu dengan Hesa, eh rasa itu langsung hilang dan berganti kekesalan karena sang kekasih minta di tembak di tempat umum besok. Di lapangan Harvard University pula. Nggak main-main, ini diluar negeri loh. Masa iya Ei diminta katakan cinta di negeri orang.


Salah Ei sendiri sih, siapa suruh dia buat janji yang bisa bikin gol bunuh diri. Sudah tahu Hesa itu mahkluk misterius turunan Jelangkung yang bisa datang dan pergi sesuka hati. Ei masih saja meragukannya. Sekarang, si oneng Ei kena imbas ucapannya sendiri. Ibarat kata terperosok kedalam lubang yang dibuat sendiri.


“Sial, kenapa juga aku bikin janji seperti itu? Astaga, bagaimana ini? Apa kabur saja, ya? Balik ke Indonesia,” gumam Ei dan tiba-tiba saja Hesa meneleponnya seolah si asdos tampan itu mendengar apa yang Ei katakana meski ia tidak ada di sini. Bunyi nada dering ponsel Ei langsung mengagetkannya. “Alamak, itu orang apa dukun, ya? Digumamin saja langsung telepon.”


Ei berniat untuk tidak mengangkat panggilan Hesa tapi kekasihnya itu langsung mengirim pesan menohok yang isinya, ‘Angkat teleponku atau aku akan datang ke kamarmu untuk melangsungkan adegan bulan tertusuk ilalang. Kebetulan, bulan sedang terang benderang’. Itulah pesan ambigu yang ditulis Hesa dan sukses membuat pembuluh darah Ei pecah. Nggak pecah beneran sih, hanya perumpamaan saja.


Siapa yang tidak ketar ketir di kirimi pesan menakutkan begitu. Begitu ponsel Ei berbunyi, Ei dengan cepat mengangkat panggilan telepon Hesa daripada ia kenapa-napa. Secara. Hesa jauh lebih menakutkan daripada bandit Amerika.


“Kau sudah keluar dari kamar mandi?” tanyanya dari seberang sana.


“Kenapa?” Ei balik bertanya.


“Tidak apa-apa, aku hanya mengingatkanmu untuk katakan cinta padaku besok. Ingat, jangan coba-coba melarikan diri karena aku langsung bisa menemukanmu di manapun kau bersembunyi. Kalau tidak percaya coba saja.”


“Kau sudah pernah mengatakannya dan sekarang saja sudah ada buktinya. Aku terlalu meremehkanmu. Kau tenang saja, aku tidak akan kabur.”


“Ah, satu lagi,” seru Hesa.


“Apalagi?” tanya Ei kesal.


“Jangan lupa, yang romantis kalau bilang cinta, mau kuajari dulu?”


“Tidak perlu dasar menyebalkan!”

__ADS_1


Ei menutup panggilannya setelah pura-pura tegar agar Hesa tidak meledeknya. Namun, ia langsung merengek karena malu. Belum juga Ei melakukan aksi gol bunuh dirinya sendiri, gadis itu sudah malu setengah mati membayangkan di hadapan semua orang yang ada di seluruh penjuru dunia harus katakan cinta pada Hesa.


Ini adalah universitas Harvard, salah satu universitas paling bergengsi yang diminati oleh semua mahasiswa dari berbagai belahan dunia. Walaupun negara ini merupakan salah satu negara liberal, tetap saja Ei malu. Ia berharap besok tak banyak orang yang mau melihat aksinya dan tetap beraktivitas seperti biasa. Toh, Ei bukan siapa-siapa di sini, jadi tak mungkin ada orang yang mau memerhatikannya.


“Untungnya ini Amerika, bukan warga +82. Orang-orang di sini pada bodo amat dan tidak suka ikut campur urusan orang lain. Sama artis saja mereka cuek, apalagi yang bukan.” Ei meyakinkan dirinya sendiri dan mempersiapkan batinnya untuk menyatakan cinta pada Hesa meski jauh di lubuk hatinya yang terdalam ia menyesal telah membuat janji mematikan itu.


***


Keesokan paginya, Jesica berangkat bersama dengan Ei karena mereka satu asrama dan satu kelas pula. Pagi yang cerah ini diwarnai dengan obrolan mereka sebagai teman yang sudah mulai akrab.


“Kau tahu gossip di kampus nggak?” tanya Jesica mulai mengawali pembicaraan.


“Nggak, aku nggak ada waktu untuk mencari tahu gossip apa yang beredar di kampus,” jawab Ei jujur. Keduanya sudah mulai memasuki pintu gerbang utama kampus.


“Sebentar-sebentar, mana ada hacker kuliah dan biasanya hacker itu tak diketahui identitasnya. Apalagi dia ketua gangster. Kok bisa jadi mahasiswa sini?”


“Hei Ei, apa kau lupa kau ada di mana? Rata-rata penjahat di Amerika malah kebanyakan orang genius semua. Tak sedikit dari mereka bergelar professor doctor. Tak ada yang tak mungkin di negara ini sekalipun ini adalah universitas ternama. Mark Zuckerberg saja juga mantan alumni sini meski ia memutuskan keluar hanya dalam hitungan menit saja.”


Ei manggut-manggut, yang dikatakan Jesica memang benar. Lulusan Harvard rata-rata di atas normal semua pikirannya. Kalau nggak, mana mungkin mereka semua jadi orang-orang besar yang hebat dan menggemparkan dunia. Tak heran jika universitas ini jadi incaran semua anak remaja di dunia yang memiliki kemampuan IQ tinggi di atas rata-rata. Beruntunglah Ei yang akhirnya bisa menjadi salah satu dari mereka meski otaknya kadang-kadang konslet.


“Kenapa dia jadi trending topik? Memang dia habis darimana?” tanya Ei.


“Tidak tahu, ia masuk sini hanya 2 semester saja, setelah itu menghilang setelah mengungkap kasus penyelewengan dana. Semua orang terus menanti kehadirannya dan semalam, baru ada kabar kalau sang gangster telah kembali. dia akan hadir di lapangan terbuka untuk menyapa semuanya. Gila nggak?” seru Jesica semakin antusias.


“Oh … dia hebat dong,” ujar Ei tak tertarik karena ia masih sibuk memikirkan kapan ia harus menyatakan cinta pada sang kekasih di depan umum.

__ADS_1


“Lah hebatlah, dia itu kayak pahlawan super dunia nyata berwujud manusia. Aku saja ingin sekali melihat seperti apa wajahnya, katanya sih dia lumayan tampan. Di forum itu bilang, kalau hari ini adalah hari special untuk si ketua gangster itu dan dia bakal hadir di kampus. Tepatnya di lapangan. Coba lihat, orang-orang pada berlarian menuju lapangan, pasti si gangster sudah ada di sana.”


Ei langsung berhenti berjalan dan matanya berbinar-binar senang karena mulai menyadari sesuatu. “Maksudmu, si ketua gangster itu akan datang ke kampus ini? Sekarang? Hari ini?” tanya Ei memastikan.


“Iya, kok kamu seneng banget? Mau ikut lihat? Ayuk, kayaknya semua jadwal perkuliahan bakal diundur karena sang pahlawan datang.” Jesica malah mengajak Ei menyaksikan seperi apa sosok gangster yang diidolakan di kampus ternama ini. Jesica juga sangat penasaran karena Ei tiba-tiba saja tampak sangat bahagia setelah mendengar kehadiran sang idola kampus.


“Tidak.” Ei langsung menolak dan itu diluar eskpektasinya Jesica.


“Loh kenapa? Bukannya kau senang karena punya kesempatan melihat si ketua gangster yang katanya tampan?”


“Aku tidak bisa ikut melihatnya. Aku tidak tertarik. Kau saja yang pergi sebab aku ada urusan lain. Aku pergi dulu, ya! Kuliahnya di tunda, kam? Ceritakan padaku nanti seperti apa rupanya. Bye!” tanpa banyak bicara Ei langsung berlari sambil melambaikan tangan meninggalkan Jesica yang sedang kebingungan dengan sikap aneh Ei.


Ei bahkan tak memberi Jesica kesempatan bertanya kemanakah ia pergi dan ada urusan apa sampai harus buru-buru begitu. Disaat semua orang-orang berbondong-bondong ingin menyaksikan seperti apa si ketua gangster sekarang, Ei malah pergi ke tempat lain dan bilang tidak tertarik


“Ada apa dengan gadis aneh itu? Diajak lihat pria tampan yang merupakan idola di kampus ini dia malah kabur!” gumam Jesica sambil mengikuti semua orang yang sedang berlarian menuju satu titik kumpul semua orang yang menjadi tempat keberadaan si ketua gangster.


Alasan kenapa Ei teramat sangat bahagia dan menolak ajakan Jesica, karena ini merupakan hari keberuntungannya. Gadis itu pikir, dengan hadirnya si ketua gangster di kampus ini, perhatian penghuni kampus Harvard akan terpusat pada idola kampus mereka. Dengan begitu, takkan ada banyak orang di tempat terbuka yang Ei pilih dan hal itu menjadi kesempatan emas bagi Ei untuk menyatakan cinta pada Hesa.


“Yes! Bagus! Selagi semua orang sibuk menanti kedatangan sang ketua gangster, aku akan menyatakan cinta pada Hesa di tempat ini saja. Ini kan tempat terbuka juga. Kalau di lapangan pasti sudah dipenuhi oleh kehadiran para fans fanatiknya si ketua gangster,” gumam Ei saat ia tiba di sebuah taman terbuka dan amat sangat luas tapi lumayan sepi karena ditinggal penghuninya menyambut idola mereka.


Sebab, seperti yang dikatakan Jesica. Semua orang sedang berbondong-bondong ke lapangan untuk melihat langsung kehadiran si ketua gangster di tengah-tengah mereka.


BERSAMBUNG


***

__ADS_1


__ADS_2