
Hati Ei lega karena ia merasa hawa keberadaan Pak Po sudah menghilang dari sini. Dengan begitu, ia tak perlu dongkol lagi karena si tukang buat darah tinggi sudah pergi. Wajah Ei yang tadinya manyun, kembali semringah apalagi saat ini dirinya sedang digendong oleh Hesa menaiki tangga yang dikenal dengan tangga kematian.
Awalnya, Ei merasa bahagia dengan kesungguhan hati dan cinta Hesa untuknya, tapi lama-kelamaan, gadis itu merasa tak enak hati dan tak tega karena pria yang ia cintai harus bersusah payah berjuang sendirian menaiki tangga bermandikan keringat disekujur tubuhnya.
“Turunkan aku Sayang, aku … bisa jalan sendiri,” pinta Ei berinisiatif ingin meringankan beban Hesa.
“Tidak. Jangan turun … kalau kau turun … artinya aku gagal. Seberat apapun ujian yang bakal kita hadapi di masa depan, ditentukan dari sekarang. Aku percaya … jika aku berhasil membawamu sampai puncak dalam kondisi seperti ini … kita akan terus bisa bersama selamanya.” Napas Hesa tersengal-sengal dan Ei dengan telaten mengusap peluh yang mengucur deras di seluruh wajahnya.
“Jangan terlalu memaksakan diri. Sudah kubilang … kau bukan Refald, kau tidak sama dengannya. Aku mencintaimu apa adanya, apapun cobaan yang mendera, aku hanya akan mencintaimu sampai mati. Aku janji, tidak ada pria manapun di dunia ini bisa menggeser posisimu di hatiku. Sekarang turunkan aku.”
Hesa berhenti berjalan dan menatap wajah sendu Ei tanpa mau menurunkan tubuh kekasihnya. Sebaliknya, Hesa malah mengucapkan kalimat yang membuat Ei langsung tertegun.
“Raja demit itu memang bukan manusia biasa, tapi saat Refald menggendong Fey sampai puncak. Dia tak menggunakan kekuatannya. Aku tahu betul seluk beluk Refald dengan baik, karena kami sering hiking bersama. Di saat Refald menyatu dengan alam, kekuatan supranaturalnya, tidak ia gunakan. Artinya, Refald dalam mode manusia biasa sekarang, sama sepertiku. Kau tahu kenapa dua pasangan itu bisa awet sekalipun mereka pernah terpisah lama, karena cinta Refald sangat kuat untuk Fey. Akupun sama, aku tahu kau mencintaiku sampai mati dan aku juga akan membuktikan bahwa cintaku padamu… sangatlah kuat lebih dari apapun sampai takkan ada yang bisa … memisahkan kita berdua.” Hesa tersenyum, napasnya sudah kembali normal dan ia mulai melanjutkan perjalanannya lagi menaiki puncak tangga.
Sungguh tak bisa diucapkan dengan kata-kata betapa syahdunya kalimat cinta yang keluar dari kata-kata Hesa. Hati Eipun meleleh mengalahkan lelehan eskrim yang mencair. Ia sampai tidak tahu harus berkata apa lagi dan sebagai gantinya, Ei merebahkan kepalanya di bahu Hesa sambil terus membisikkan kata cinta untuk menyemangati sang pujaan hati.
“Aku mencintaimu,” bisik Ei mesra dan Hesa langsung tersenyum.
“Lagi,” pintanya.
“Aku mencintaimu.” Ei menurut, iapun mengucapkan kata cinta lagi.
“Ucapkan lagi,” pinta Hesa mesra dan menatap tajam manik mata Ei.
“Aku mencintaimu. Aku mencintaimu ... Aku mencintaimu.” Ei tersenyum, lama-lama ia malu juga kalau diminta bilang cinta terus sama Hesa.
__ADS_1
“Aku juga mencintaimu, katakan kalimat cinta itu terus sampai aku menuju puncak. Dengan begitu … aku tidak akan merasa lelah,” pinta Hesa.
"Aku malu ...," jujur Ei.
"Tidak ada kata malu dalam hal cinta, aku mohon Sayang ... ucapkan kalimat cinta itu lagi untukku." tatapan mata Hesa sukses membuat hati Ei meleleh. Mana mungkin Ei bisa menolak permintaan kekasihnya.
“Aku mencintaimu.”
Setiap kalimat cinta dari Ei, Hesa melangkahkan satu langkah menaiki tangga dengan penuh semangat 456789.
“Aku mencintaimu, kurang berapa tangga lagi?” tanya Ei.
“Masih banyak, ucapkan lagi saja terus.” Lagi-lagi Hesa tersenyum bahagia. Kapan lagi dapat ucapan cinta banyak-banyak dari seorang Ei yang anti bilang cinta pada siapapun.
“Aku mencintamu,” ujar Ei menurut saja pada permintaan sang kekasih. Sebab, ia tak bisa membantu apapun selain kata cinta.
“Kau jangan ikutan bicara, nanti kau kehabisan napas. Aku saja yang bilang cinta karena hanya itu yang bisa kulakukan untukmu.”
“Oke.” Hesa setuju dan sangat senang sekali. Kata cinta yang Ei keluarkan di setiap tanjakan menjadikan sebuah semangat yang begitu kuat menguasai tubuh Hesa. Secara ajaib, pangeran ningrat itu bisa menanjak dengan cepat seperti Refald.
1 jam kemudian … barulah Hesa sampai di puncak di mana sudah ada Refald dan Ei sedang menunggu kedatangan keduanya. Refald dan Fey sama-sama tersenyum melihat keberhasilan Hesa membawa Ei sampai puncak tangga dalam gendongannya dengan keadaan sehat walafiat tanpa kurang apapun.
“Bagus Hesa. Kau luar biasa,” puji Refald.
Hesa tak menjawab pujian Refald karena ia merasa sudah seharusnya ia melakukannya untuk Ei yang perlahan sudah ia turunkan dan ia genggam erat tangannya seolah enggan Hesa lepaskan lagi.
__ADS_1
Fey yang juga tak bisa berkata-kata, maju ke depan Hesa dan menyerahkan sebuah kota kecil warna merah marun. “Ini yang kau pesan,” ujar Ei dan Hesa langsung menerimanya.
“Terimakasih Fey, maaf merepotkan.”
“Sama-sama. Aku senang bisa membantu kalian.” Usai bicara seperti itu, Fey mundur dan mensejajarkan dirinya di samping Refald.
Disaksikan Raja dan Ratu demit, Hesa berlutut di hadapan Ei dan membuka kotak kecil pemberian Fey yang ternyata berisi cincin berlian yang indah. Tepat di saat matahari mulai menunjukkan sinarnya, Hesa langsung melamar Ei dengan segenap hati dan jiwanya.
“Shreya Fayola Serendinity …" mata Hesa langsung berbinar-binar saat menyebut nama lengkap sang kekasih. "Tujuanku membawamu kemari dan berada di puncak tangga ini … bukan hanya untuk membuktikan kesungguhan cintaku padamu … tapi juga ... aku ingin menjadikanmu milikku selamanya. Di saksikan alam dan perwakilan penguasanya … aku ... Mahesa Arleon Rajasanaghara … ingin menjadikanmu sebagai pendamping hidupku yang akan menenamiku baik suka maupun duka. Bersediakah kau … menikah denganku?” tanya Hesa yang berlutut dengan khidmad di hadapan Ei.
Mata Ei terbelalak seakan tak percaya pada apa yang ia lihat sekarang. Saking terkejutnya, gadis itu sampai menutup mulutnya dengan kedua tangan sambil menepuk pelan pipinya berharap bahwa yang ia dengar barusan bukanlah mimpi belaka. Dan hasilnya, ini bukan mimpi.
Hesa … pria yang amat sangat dicintai Ei, melamarnya tepat di puncak tertinggi yang pernah ia daki disaat matahari bersinar terang seolah cahaya itu meminta Ei untuk menerima lamaran Hesa.
“Jawablah, Ei … jangan biarkan Hesa terlalu lama menunggu. Dia tahu kau itu oneng, dia tahu kau juga suka buat onar, dia mencintaimu lengkap dengan kekuranganmu. Tunggu apa lagi?” desak Fey mendukung penuh aksi Hesa.
Hanya Refald yang menatap momen ini dengan ekspresi datar sedatar permukaan air kolam. Bukan karena iri pada keromantisan Hesa dan Ei sekarang, tapi karena ada sesatu hal yang ia tahu … tapi tidak diketahui oleh siapapun dan itu membuat Refald tidak bisa merasakan kebahagiaan Ei dan Hesa sama seperti yang dirasakan Fey istrinya.
“Dengan disaksikan alam yang ada di seluruh dunia ini,” akhirnya Ei buka suara juga setelah mati-matihan menahan segala emosinya dan juga tangis bahagianya. “Aku … bersedia menikah denganmu dan menjadi bagian dari hidupmu,” ujarnya sambil berlinang air mata.
Mendengar kata 'bersedia' dari sang kekasih, Hesapun langsung menyematkan cincin berlian di jari manis Ei. Hesa berdiri dan langsung memeluk Ei dengan sangat erat sekali.
“Terimakasih Ei. Terimakasih banyak Sayang … dengan begini … aku … bersumpah …” belum juga Hesa melanjutkan ucapannya, tiba-tiba saja … tubuh Hesa merosot dan ia terjatuh ke tanah dalam keadaan pingsan.
Sontak Ei tertegun dan menatap nanar tubuh sang kekasih yang tak ada angin ataupun hujan, mendadak pingsan tepat di depan matanya padahal sedetik sebelumnya, keduanya tengah diselimuti kebahagiaan tak terkira.
__ADS_1
BERSAMBUNG
***