Istri Pilihan Pangeran Ningrat

Istri Pilihan Pangeran Ningrat
BAB 59 Perjanjian : Cinta atau Nyawa


__ADS_3

Sementara di tempat perlombaan lompat tinggi, kegaduhan dan pro kontra tentang penghentian sayembara terus bergulir. Savatinov sibuk menjelaskan apa yang terjadi pada semua orang termasuk pihak keluarga calon putri yang mengikuti sayembara ini. Namun, usahanya gagal karena massa bersikeras untuk diadakan kompetisi yang adil dan tanpa ada campur tangan dari pihak istana lagi.


Di tengah-tengah keramaian itu, Hesa datang seorang diri dan langsung menghadap ayahnya. Tatapan mata pangeran ningrat itu begitu tajam sehingga semua orang yang melihatnya terdiam.


“Hentikan kecurangan ini Ayahanda,” ujar Hesa sambil berbisik pelan pada ayahnya dan memang lebih terkesan menantang.


“Apa maksudmu? Kau sudah mulai berani padaku? Apa kau tahu siapa kau dan posisimu?” tanya Savatinov.


“Jika Ayah masih saja berusaha mencelakai dia, aku tak segan mencopot gelarku sebagai pangeran dan hanya akan menjadi rakyat jelata sama sepertinya. Dengan begitu, sayembara ini akan batal karena sudah tak ada lagi pengeran yang akan disayembarakan.”


Mendengar ancaman Hesa, bukannya hati Savatinov luluh, ia malah tertawa terbahak-bahak hingga suara tawanya terdengar menggema di seluruh area lomba. “Buahahaaha … kau bilang apa? Tidak ada pangeran yang disayembarakan? Huh … kau pikir yang jadi pangeran hanya kau seorang? Ada Adikmu, Maheswari. Dialah yang akan menggantikanmu jika kau turun dari gelarmu.” Savatinov malah balik menantang putranya sendiri.


Hesa yang sudah nekatpun juga membulatkan tekadnya dengan memilih tak lagi jadi pangeran. Walau keputusannya ini akan mengorbankan adiknya, tapi Hesa tak punya pilihan lain lagi. Atas nama cinta, Hesa mengesampingkan semuanya. Ia pun membuka kancing kemejanya dan hendak mencopot gelang kebangsawanan Hesa yang harus ia kenakan di acara besar kerajaan sebagai tanda bukti bahwa ia adalah seorang pangeran.


Melihat hal itu, ibu Hesa langsung berteriak kencang, “Jangan Hesaaaa! Jangan lakukan itu anakku! Ibu mohon padamu!” seru ibu Hesa sambil berurai air mata.


Semua mata yang memandang Hesa kuga was was. Bukan karena tubuh kurus tapi atletis itu di perlihatkan di depan umum, tapi suami Ei itu memilih membuang semua gelar bangsawan yang menempel dimana dan tubuhnya.


“Maafkan ananda Ibunda tercinta … tidak ada gunanya ananda menjadi pangeran jika harus terus melihat ada banyak sekali ketidak adilan di sini. Jika memang ananda harus memiliki pendamping seorang putri, maka dia harus bisa mengikuti sayembara ini dengan seadil-adilnya sesuai kemampuannya yang mumpuni sebagai calon putri. Jika sayembara ini hanya sebagai ajang penyiksaan dan kecurangan, biarlah ananda mundur daripada ada banyak korba-korban lain seperti yang menimpa salah satu kandidat calon putri Shreya.”


Penjelasan Hesa yang panjang lebar itu langsung membuat semua orang yang pro dengan Ei naik pitam. Mereka mulai meneriaki Savatinov untuk menghentikan sayembara ini dan melakukan sayembara dengan adil tanpa ada kecurangan lagi. Tentu saja pihak Savatinov menentang aksi protes mereka sehingga terjadi adu mulut di mana-mana.

__ADS_1


Saat kegaduhan itulah, mendadak, muncul seseorang paling anggun dan bijaksana, memasuki area keramaian dan menjadi pusat perhatian banyak orang. Mulut mereka bahkan menganga lebar begitu tahu siapakah orang yang baru saja datang itu.


Orang tersebut, berjalan pelan diikuti oleh para abdi dayang kepercayaannya. Abdi dayang itu bukanlah abdi dayang biasa. Mereka memiliki senjata lengkap dan senjata itu adalah senjata modern tercanggih yang pernah ada di negara Indonesia.


Jika abdinya saja kece badai begitu, pastilah orang yang dikawal juga bukan orang biasa. Dia adalah seorang wanita paruh baya yang tak lain dan tak bukan merupakan nenek Hesa alias Gusti Raden Ayu Kahiyang Harana Lakeswara.


“Yang mulia Gusti Raden Ayu Kahiyang Harana Lakeswara telah tiba!” seru salah satu abdi nenek Hesa dengan lantang sehingga semua orang langsung diam di tempat dan sebagai bangsawan yang tahu betul aturan dan tata tertib kerajaan, mereka semua langsung bersimpuh tanda memberi hormat pada nenek Hesa selaku strata tertinggi diantara mereka semua.


Ayah Hesa sudah ketar ketir melihat ibundanya telah tiba tanpa ada pemberitahuan terlebih dulu. Apalagi mata sang Raden Ayu tampak sangat murka pada apa yang terjadi pada acara sayembara hari ini. Ditambah dengan kegaduhan yang terjadi, sungguh sikap semua orang yang ada di sini, sama sekali tak mencerminkan sikap seorang bangsawan.


Sang permaisuri maju ke depan dan memegang mike agar suaranya bisa di dengar banyak orang. “Kalian mungkin bertanya-tanya kenapa aku muncul di tengah kegaduhan yang kalian buat. Akulah yang akan mengambil alih sayembara pemilihan putri cucuku mulai dari sekarang,” seru sang Nenek Hesa dengan lantang sehingga suaranya yang keras terdengar sampai-sampai membuat bulu kuduk siapa saja yang mendengar seakan bergetar. Pernyataannyapun juga sangat mengejutkan kubu Savatinov.


“Apabila ada yang keberatan tentang keputusanku … ," lanjut nenek Hesa, "maka orang itu … harus berhadapan denganku. Aku kecewa ada yang hampir celaka dan ini mencoreng nama baikku sebagai strata tertinggi kerajaan kita. Aku tidak bisa membiarkan ini terjadi, maka … sayembara calon putri, akan diulang!” tandasnya dan semua orang langsung menyerukan nama sang permaisuri akan kebijakan yang baru saja ia ambil.


“Kenakan kembali kemejamu, Pangeran. Tak baik kau pamer sebagian tubuh bagian depanmu selain pada calon istrimu nanti,” ujar permaisuri sambil tersenyum pada cucu kesayangannya.


Sementara ibu Hesa, langsung terduduk lunglai sambil menangis bahagia karena putranya tak jadi mencopot gelarnya. Tak bisa dibayangkan apa yang akan terjadi pada Hesa bila gelar kebangsawanannya benar-benar hilang. Mungkin, hidup Hesa yang serba mewah dan berkecukupan akan berubah drastis dan jauh mengerikan.


Hesa tak memberi tanggapan akan titah neneknya dan hanya tersenyum sambil mengancingkan kembali kemejanya dan menutupi gelang gelar kebangsawanannya yang baru saja ia perlihatkan. Kalau diamati, Hesa tampak gagah dan tangguh jika memakai gelang-gelang tersebut di lengannya. Ia jadi mirip seperti pengeran di zaman dahulu kala.


“Baiklah, untuk sekarang … semua peserta sayembara dan keluarganya, dipersilahkan kembali ke pavilion kalian masing-masing. Pelaksanaan sayembara yang sebenarnya, akan dilakukan setelah diumumkan. Sebelum waktu itu tiba, para peserta dilarang meninggalkan pavilion. Semua kebutuhan kalian akan dilengkapi di sana jadi kalian tidak perlu keluar. Bila ada yang melanggar, maka detik itu juga, kalian akan didiskualifikasi. Setiap pavilion akan dijaga dengan sangat ketat demi menghindari kecurangan termasuk peserta yang sekarang ini masih ada di rumah sakit.” Seorang asisten kepercayaan nenek Hesa menghimbau semua orang agar bubar jalan dan meninggalkan lokasi.

__ADS_1


Semuanya tampak puas setelah mendengar pengumuman itu tapi tidak dengan Margaret dan keluarganya. Mereka ingin sekali protes tapi tidak bisa kerena tak punya hak apapun. Raden sekelas Savatinov saja tidak bisa berkutik di hadapan nenek Hesa apalagi bangsawan biasa lainnya.


Inilah yang dimaksud Hesa dengan kekuasaan dibalas dengan kekuasaan pula. Fakta pepatah bahwa di atas langit, masih ada langit memang benar adanya. Hesa tak bisa melawan ayahnya ataupun menentangnya, tapi ia bisa meminta bantuan neneknya agar mau berpihak padanya dan itu tidak mudah.


Ada perjanjian tertulis yang harus dilakukan Hesa agar neneknya mau ikut campur dalam urusan sayembara ini dimana aturan lama, tak memperbolehkan siapapun ikut campur pemilihan calon putri kecuali keluarga pangeran yang bersangkutan. Namun, Hesa mempertaruhkan segalanya agar Ei selamat dari bahaya dan jebakan ayahnya dengan meyakinkan neneknya agar mau ikut andil dalam menyelesaikan masalah ini.


“Jika nenek ingin memiliki cucu menantu yang baik di kerajaan ini, bukankah nenek harus menilai sendiri apakah gadis itu layak atau tidak menjadi putri? Setidaknya … ia harus tahu apa yang tidak diketahui wanita lain di luar sana mengenai seluk beluk kerajaan di zaman dahulu kala. Putri zaman sekarang, tak begitu tahu bagaimana sejarah kerajaan kita ini berdiri. Bagaimana kalau nenek … menguji semua kandidat putri dengan cara nenek? Bukan dengan caya ayahanda?”


"Imbalan apa yang bakal kau berikan padaku, jika aku menuruti permintaanmu?" tanya nenek Hesa.


Hesa tidak menjawab, dia malah memberikan sebuah lembaran kertas yang isinya hanya diketahui oleh Hesa sendiri dan neneknya.


"Kupertaruhkan nyawaku, demi seorang wanita yang menjadi belahan jiwaku." Hesa memberikan gelang kebangsawanannya dan meletakkan gelang tersebut tepat di depan meja neneknya.


"Dimana kalungmu?" tanya nenek Hesa terkejut. Sebab, baru kali ini cucu kesayangannya tidak memakai kalung.


"Baru saja kuberikan untuk melindungi wanita yang kucintai. Sebab, dia dalam bahaya besar. Wanita ini sedang berjuang untuk menjadi pendamping hidupku. Dan aku memilihnya sebagai istriku, Nek. Aku tak ingin dia celaka, makanya kuberikan kalung pelindungku padanya."


Itulah kata yang diucapkan Hesa pada neneknya sehingga sang permaisuri menuruti permintaan cucunya. Namun, ada satu hal yang tidak Hesa tahu bahwa neneknya punya alasan lain kenapa ia mau ikut campur soal.sayembara yang diadakan ayah Hesa.


BERSAMBUNG

__ADS_1


***


__ADS_2