
Terlepas dari semua kejadian ini, satu hal yang membuat nenek Hesa bahagia. Akhirnya, di penghujung akhir hidupnya yang entah sampai kapan, ia diberi kesempatan untuk mewujudkan amanah terakhir yang diberikan oleh almarhum suaminya. Tentu saja yang tahu amanah tersebut hanyalah dirinya dan almarhum suaminya serta Yang Maha Kuasa.
“Kalung yang kau berikan pada cucumu, sudah kembali pada pemiliknya, suamiku. Kau pasti sudah lihat dari atas sana. Inilah yang dinamakan definisi kalau sudah jodoh, tidak akan lari ke mana.” Nenek Hesa menatap langit-langit yang bersinar terang di gelapnya malam.
Sungguh indah pemandangan malam ini sampai ada bintang jatuh melesat cepat dan semakin membuat hati tampak tenang mamandangi langit-langit bertaburan bintang meski tanpa bulan. Nenek Hesa mulai teringat akan kedatangan Hesa beberapa waktu lalu. Hesa menunjukkan semua foto-foto calon putri dalam sayembara dan menunjuk wajah Ei sebagai wanita yang ia akui sebagai istri.
Awalnya nenek Hesa tak tertarik untuk ikut campur urusan keluarga anak-anaknya, tapi saat wanita paruh baya itu melihat wajah Ei, ia pun langsung sedia membantu cucunya dengan pura-pura bersedia menuruti perjanjian yang dijanjikan Hesa.
***
Di tempat lain, suasana penuh romansa, terjadi di tempat Ei berada. Gadis itu mulai sadar dari pingsannya dan masih merasakan sedikit nyeri dibahunya meski tidak sesakit sebelumnya. Ketika Ei membuka mata, orang pertama yang ia lihat adalah Hesa.
Kekasih sekaligus suami palsunya ini menggenggam erat tangan Ei dan membelai lembut rambutnya begitu melihat Ei membuka matanya. “Kau sudah sadar?” tanya Hesa pelan.
Ei tidak langsung menjawab, ia menatap sekeliling ruangan dan menyadari ada di mana dia sekarang. Bila melihat dari jendela luar, saat ini pasti sudah malam.
“Jam berapa sekarang? Bagaimana dengan sayembaranya? Apa … poinku aman? Atau aku guhur” tanya Ei cemas.
“Ini jam 10 malam, kau pingsan seharian dan membuatku sangat khawatir. Sebab, Febi bilang kalau kau tidak sadarkan diri sampai besok, kau akan dipindahkan ke ruang ICU. Syukurlah kau sudah sadar sekarang.”
“Lalu … sayembaranya?” Ei mencoba bangun dan duduk, tapi Hesa melarangnya dan membiarkan Ei untuk berbaring saja.
“Batal,” jawab Hesa singkat, padat, dan jelas.
__ADS_1
“Apa? Kok bisa? Terus … siapa yang jadi istrimu?” tanya Ei sangat sangat terkejut. Kepalanya bahkan langsung pening membayangkan apa yang sudah ia lakukan selama ini ternyata sia-sia jika benar sayembaranya sungguh dibatalkan.
Hesa membenturkan kepalanya pelan di dahi Ei sambil berkata, “Tentu saja kaulah yang jadi istriku Ei Ei. Sekarang, dan untuk selamanya sampai akhir hayat kita. Sekarang, tidak ada wanita lain lagi dalam hidupku selain dirimu.”
Ei mendorong tubuh suaminya dan mencoba untuk duduk agar bisa menatap wajah Hesa lekat-lekat. Hesa sendiri membantu istrinya meletakkan bantal di balik punggung Ei untuk dijadikan sandaran.
“Apa maksdumu? Apa artinya … aku … yang menang? Tapi kan … masih ada satu babak lagi dan belum sampai di sayembara inti? Lagian tidak mungkin aku memang dengan semudah itu?” tanya Ei bingung sebingung-bingungnya.
“Benar, kau memang tidak akan menang semudah itu, kau masih harus berjuang dan membuktikan kepada semua bangsawan yang ada di seluruh dunia ini, bahwa kaulah satu-satunya wanita yang layak menjadi permaisuri hatiku.”
“Loh, gimana sih? Katanya sayembaranya batal? Kok aku harus berjuang lagi?”
“Memang batal, tapi akan diulang. Kali ini diambil alih oleh nenekku. Bukan ayahku, sayembara yang diulang ini akan dilakukan secara adil seadil adilnya dan tidak akan ada kecurangan ini. Semua peserta bahkan sedang diisolasi di pavilion mereka dan tidak diperbolehkan keluar sampai pengumuman sayembara ulang, diumumkan.”
"Kok bisa diulang?" gumam Ei tidak mengerti apa yang terjadi dengan keluarga ini.
“Aku rasa, sayembara akan diumumkan begitu kau sembuh total dari cederamu. Harusnya, kau tak paksakan diri seperti ini Ei. Apa jadinya dirimu jika saat itu aku tidak ada didekatmu … mungkin aku bakal kehilanganmu dan mungkin juga aku akan ikut mati bersamamu. Lain kali … ”
“Wuah!” seru Ei tiba-tiba tidak peduli pada apa yang dikatakan Hesa. Wajahnya yang tadinya bingung berubah ceria dan menunjuk-nunjuk ke arah jendela. “Aku melihat ada bintang jatuh.”
Ei langsung turun dari ranjang dan melepas paksa selang infusnya sampai punggung tangannya berdarah karena jarum selang insfusnya dicabut begitu saja.
Namun, Ei tidak peduli dengan rasa sakit ditangannya dan darah yang menetes itu. Hati Ei sangat tenang melihat bintang diluar sana dan malah membuka jendela malam sambil menghirup udara segar. Langit malam saat ini tampak begitu indah dan menakjubkan bagi Ei.
__ADS_1
Hesa yang geram dengan tingkah istrinya mengambil kapas yang sudah ia olesi alcohol untuk dibalutkan ke punggung tangan Ei yang masih berdarah akibat jarum infusnya dilepas paksa. Dalam diam dia meraih punggung tangan istrinya agar darah Ei tidak berceceran lagi.
“Hei Oneng, kau pikir selang infus yang kau pakai ini mirip sinetron yang bila dilepas tak terjadi apa-apa. Ini kehidupan kisah nyata, buka drama ikan terbang. Meski kau kegirangan melihat bintang jatuh, tak seharusnya kau melepas selang insfusmu? Lihat, pembuluh darahmu robek. Bagaimana kalau kau infeksi ha?” bentak Hesa sambil memplaster punggung tangan Ei dan menghentikan darah Ei agar tidak mengalir lagi.
Eipun tersadar dan ia kaget juga sebenarnya. Karena terlalu senang ia sampai lupa kalau tangannya masih diinfus. Tiba-tiba saja … mata Ei berkaca-kaca dan memeluk tubuh tinggi suaminya. Ei menangis di dada Hesa yang langsung tertegun melihat istri tangguhnya, mendadak jadi mellow.
Hesa terdiam dan setia menunggu Ei menangis ampai kemeja yang cowok tampan itu kenakan basah dipenuhi air mata istrinya, bahkan jas hitam Hesa dijadikan lap ingus Ei saat ia menangis sesenggukan di dada bidang suaminya. Mentang-mentang punya suami yang sayang banget sama Ei segala macam yang dikenakan Hesa jadi alat untuk mengusap ingus Ei yang entah kenapa menangis sesenggukan begitu.
“Sudah, jangan menangis lagi, jas dan kemejaku basah karena air mata dan ingusmu. Lagian kau ini kenapa Ei Ei Sayang … aku tidak putus hubungan denganmu, aku bahkan menyatakan cinta dan menjadikanmu milikku. Kenapa kau malah menangis hanya karena aku memarahimu karena kecerobohanmu melepas infus sembarangan. Aku janji, tidak akan marah lagi, silahkan lakukan apa saja yang kau suka tapi jangan menangis lagi seperti ini?” pinta Hesa sambil melepas jas dan kemejanya yang basah semua gara-gara air mata dan ingus istrinya.
Ei langsung buang muka melihat Hesa telanjang dada didepannya. “Kenapa kau buka baju didepanku?”
“Masa kau suruh aku pakai baju basah yang penuh dengan ingus dan air matamu? Kalau aku masuk angin gimana?" Hesa malah balik bertanya. "Lagian, kenapa kau menangis? Tidak biasanya."
Ei masih sesenggukan. "Saat aku melihat bintang, aku teringat pada seorang nenek, yang pernah kutemui dijalan. Nenek itu adalah nenek yang baik. Karena tak ingin merepotkan banyak orang, ia menolak bantuan siapapun saat ia hendak menyeberang jalan. Aku tak tega melihatnya, jadi kuputuskan untuk membantunya menyeberang dengan cara yang lain. Nenek itu paham niatku, dan bersikap baik padaku. Dia juga yang memberiku banyak sekali uang yang entah ia dapat darimana sehingga aku bisa membangun rumah panti asuhan dan melanjutkan pendidikanku. Sayanya, nenek itu menghilang tanpa jejak dan aku merindukannya karena dia sangat menyukai bintang jatuh. Aku berharap, aku bisa bertemu dengannya lagi."
Ei bercerita panjang lebar soal seorang nenek yang amat berjasa dalam hidup Ei. Hesa menjadi pendengar yang baik tapi pikirannya, dipenuhi sejuta tanda tanya.
"Kapan kau bertemu dengan nenek itu?" tanya Hesa.
"Beberapa tahun yang lalu. Saat aku bingung apakah aku bisa melanjutkan kuliah atau tidak," jawab Ei.
BERSAMBUNG
__ADS_1
***